
"Brayen, aku sudah mendengar tadi pagi, jika Edgar sudah meninggalkan rumah sakit. Dan apa kau tahu? Dia langsung ke bandara meninggalkan Indonesia. Aku rasa dia ingin memulai kehidupan barunya di tempat lain." ujar Felix.
"Dia memang akan memulai kehidupan barunya di tempat lain. Lebih bagus dia itu pergi meninggalkan Indonesia. Karena aku juga tidak ingin melihat seseorang yang berkaitan dengan Gelisa Wilson." Tukas Brayen dingin.
"Kabar terakhir yang aku dengar, Gelisa Wilson mengalami gangguan jiwa sejak berita kematian Edgar. Di tambah dengan berita Lucia yang sudah masuk dalam penjara." balas Felix memberitahu kabar tentang Gelisa Wilson yang sudah dia dengar.
"Wanita itu pantas mendapatkannya. Karena dendam membuat kehidupannya hancur. Dia sendiri yang merusak kehidupannya." Brayen bahkan tidak memperdulikan jika sampai Gelisa harus mati. Melihat penderitaan Gelisa saat ini, membuat Brayen tersenyum puas.
"Kau benar, wanita itu memang pantas mendapat balasan dari segala hal yang telah mereka lakukan. Aku harap semua ini akan segera berakhir. Tidak ada lagi masalah yang menganggu ketenangan hidupmu." Felix membenarkan perkataan Brayen. Meski demikian dengan segala hal yang terjadi, Felix tidak akan pernah sekalipun menyalahkan Devita. Bagi Felix, Devita bukan hanya sekedar sebagai Kakak Iparnya. Tetapi Devita sudah di anggap menjadi saudaranya sendiri. Kebaikan dan kelemahan lembutan dari Devita membuat Felix sangat menyukai sifat istri dari sepupunya itu.
...***...
Felix melangkah masuk kedalam ruang rawat Olivia. Dia harus segera berbicara dengan Caroline. Setidaknya Felix masih bersyukur, jika Brayen masih mau untuk mentoleransi tindakan Caroline. Jika saja terjadi sesuatu hal buruk pada Devita, Felix pun sudah sangat yakin jika Brayen akan memberikan pelajaran pada Caroline. Dan sebelum itu terjadi, Felix harus segera mencegah itu. Karena bagaimanapun Caroline adalah Ibu dari wanita yang di cintai.
Felix menatap Caroline dan juga Randy tengah duduk di sofa, dia pun langsung mendekat ke arah orang tua Olivia.
"Paman, Bibi, maaf sudah menganggu kalian?" Felix menyapa Caroline dan juga Randy yang kini berada di hadapannya.
Caroline mendesah pelan, dia menatap lekat Felix. "Ada apa? Apa kau datang untuk memberikan peringatan kepadaku?"
" Maaf, tapi apa kita bisa bicara di luar saja, Bibi?" pinta Felix dengan suara yang tenang.
Randy mengerutkan dahinya, "Ada apa ini, Felix?"
"Kau ingin memberitahuku tentang jangan mengatakan apapun pada Devita? Tapi kenyataannya aku sudah memberitahunya. Aku menyayangi Devita, kau salah jika menilaiku membenci Devita. Aku hanya ingin tahu, Devita mengetahui keadaan Olivia, Felix?" jawab Caroline menegaskan.
"Tunggu, ada apa ini, Ma? Bisakah kalian jelaskan padaku?" tanya Randy menatap lekat Caroline sambil meminta penjelasan.
"Lebih baik kita bicara di luar saja, Paman. Aku tidak ingin mengaggu Olivia." jawab Felix yang melirik ke arah Olivia.
Randy pun mengangguk singkat, "Kita bicara di luar?"
Kemudian mereka berjalan keluar meninggalkan Olivia. Sebenarnya Felix hanya ingin berbicara dengan Caroline tapi pada kenyataannya Randy, Ayah dari Olivia juga berada di sana.
"Sebenarnya ada apa ini, Felix? Bisa jelaskan padaku?" tanya Randy yang kini sudah berada di depan ruang rawat Olivia.
"Maaf Paman, Sebelumnya aku ingin mengatakan ini pada Bibi. Saat Devita tahu keadaan Olivia, kemarin dia pingsan dan Dokter memang mengatakan, jika Devita tidak boleh di bebani pikiran yang berat." jawab Felix. "Aku tidak bermaksud untuk menyalahkan mu, Bibi. Aku tahu, kau tidak ada bermaksud jahat atau berniatan untuk melukai Devita. Tapi aku memohon Bibi, jangan membenani Devita dengan banyak pikiran. Brayen saat ini masih mentoleransi atas apa yang telah Bibi lakukan. Namun, aku tidak bisa menjamin kedepannya jika Bibi masih membebani Devita dengan banyak pikiran."
"Brayen adalah orang yang keras dan tegas. Dia tidak suka jika ada orang yang menganggu istrinya. Percayalah, Bi. Brayen tidak hanya diam dengan kondisi Olivia. Dua Dokter dari Rusia dan Spain ada karena atas perintah Brayen. Sepupuku pasti akan melakukan yang terbaik demi Olivia yang telah menyelamatkan Devita, istrinya. Aku harap Bibi bisa mengerti. Aku mencintai Olivia sepenuh hatiku. Tapi aku juga menyayangi Devita sebagai Kakak Iparku. Saat ini kondisi Devita masih belum pulih. Devita masih dalam masa pemulihan dan Dokter tidak memperbolehkan Devita untuk memikirkan hal yang berat. Itu semua akan berdampak ke janin yang di kandungannya."
"Tunggu, Ma. Bisa jelaskan apa maksud ini?" Randy menatap tajam Caroline yang terlihat begitu pucat.
Caroline menundukkan kepalanya. "Mama datang menemui Devita. Tujuan Mama datang karena Mama ingin Devita tahu, bagaimana keadaan Olivia kita, Pa. Mama tidak bisa melihat Olivia seperti ini. Tapi bukan berarti Mama membenci Devita. Bagaimana pun Olivia adalah teman masa kecilnya Devita. Terlebih Mama juga sudah menganggap Devita seperti anak sendiri. Mama ingin Devita tahu semuanya. Mama tidak setuju dengan orang-orang yang menutupi keadaan Olivia, Pa!"
Randy menajamkan pandangannya pada Istrinya. "Kau sendiri sudah tahu bukan kondisi Devita! Bahkan kita sudah bicara pada Edwin dan juga Nadia! Kenapa kau masih mengatakan ini juga pada Devita? Kalau sampai terjadi sesuatu pada Devita, bagaimana?! Kenapa kau bertindak tidak di pikir terlebih dulu! Edwin dan Nadia pasti akan sangat kecewa pada kita, Ma!" Seru Randy meninggikan suaranya.
Sebelumnya Edwin dan Nadia sudah mendatangi orang tua Olivia. Edwin meminta kepada Randy untuk menyembunyikan keadaan Olivia sementara. Karena memang keadaan Devita yang belum memungkinkan. Tapi ini, Caroline sudah memberitahu pada Devita tentang keadaan Olivia yang sebenarnya.
"Tapi Mama cuma hanya ingin tahu, agar Devita tahu keadaan Olivia yang sebenarnya, Pa!" Isak tangis Caroline, air matanya mulai membasahi pipinya.
"Tapi tidak dengan seperti ini! Kau tahu kondisi Devita belum pulih! Apa yang harus aku katakan pada Edwin nanti!" Randy mengatakan dengan tegas dan melayangkan tatapan tajam pada Caroline, Istrinya.
"Maaf Paman, Bibi. Aku datang kesini bukan bermaksud untuk membuat kalian berdua bertengkar. Saat ini kondisi Devita sudah mulai membaik. Tidak perlu di permasalahkan lagi. Aku hanya ingin kedepannya Bibi bisa mengerti dengan kesehatan Devita yang belum sepenuhnya pulih." ucap Felix yang berusaha untuk menengahi perdebatan antara Randy dan juga Caroline.
"Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Sampaikan maafku untuk Brayen." balas Randy yang merasa tidak enak karena perbuatan dari istrinya.
Felix mengangguk, "Kalau begitu, aku harus permisi Paman, Bibi. Nanti, aku akan melihat Olivia lagi."
"Ya, Felix. Terima kasih."
Kemudian Felix berjalan meninggalkan Caroline dan juga Randy. Paling tidak saat ini, Felix sudah jauh lebih tenang. Karena jika Felix tidak mengatakan ini, dia takut Caroline akan kembali mengatakan hal yang tidak - tidak pada Devita. Dan itu akan benar - benar membuat Brayen tidak mungkin hanya diam saja.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.