
Brayen membaca berkas yang di berikan oleh Albert. Brayen ingin mencari asisten pribadi untuk Devita, meski istrinya menolak tapi dia akan tetap mencarinya. Kali ini Brayen tidak memberikan sepenuhnya pada Albert.
Brayen meminta Albert untuk mencari seseorang yang berkualifikasi tinggi menjadi asisten pribadi istrinya. Brayen akan menyaring asisten untuk Istrinya dengan baik. Ia tidak akan pernah membiarkan kesalahan terjadi untuk kedua kalinya. Bahkan ini pertama kalinya, Brayen tidak menyerahkan sepenuhnya pada Albert. Kejadian Ruby membuat Brayen jauh lebih waspada.
Saat Brayen tengah membaca berkas, yang di berikan oleh Albert, terdengar interkom masuk dari sektretarisnya. Brayen menekan tombol dan berkata dengan suara dingin." Ada apa Raisa?"
"Tuan Brayen, maaf menganggu. Tapi ada Tuan Angkasa Nakamura yang datang menemui anda." ucap Raisa.
Brayen membuang napas kasar, ia sudah tahu pasti Angkasa akan datang untuk menemuinya. "Persilahkan dia masuk," jawab Brayen dingin. Lalu ia menekan tombol memutuskan panggilannya.
Tidak lama kemudian, Angkasa melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen. Kini Brayen dan juga Angkasa saling beradu pandang. Angkasa melangkah mendekat dan ia duduk di hadapan Brayen.
"Apa kau tidak mau menyapa ketika calon adik iparmu ini datang mengunjungimu?" tanya Angkasa. Ia menaikkan sebelah alisnya dan menatap Brayen yang ada di hadapannya.
"Untuk apa kau datang? Aku rasa aku tidak mengundangmu untuk datang ke perusahaan ku," tukas Brayen dingin.
"Aku datang karena ingin berbincang denganmu, anggap saja sedang pendekatan dengan kakak Iparku sendiri. Itu terdengar tidak buruk bukan?" balas Angkasa.
"Sejak kapan kau menjadi adik iparku?" seru Brayen.
"Lebih tepatnya setelah aku tahu, kau sudah membantuku. Aku rasa kau sudah meloloskan aku di persyaratan kedua?" ujar Angkasa dengan santai. Namun, matanya tetap menatap lekat pada Brayen.
"Jangan terlalu banyak bermimpi. Aku tidak berniat membantumu sama sekali," tukas Brayen tajam.
"Angkasa mengangguk - anggukan kepalanya. "Jadi, apa tujuanmu menjadi investor di perusahaan ku Brayen?"
"Apa kau tidak membaca dokumen yang di berikan oleh asistenmu? Di situ tertera nama Laretta Gissel Mahendra, berarti investor itu bukanlah aku." balas Brayen dingin.
Angkasa tersenyum sinis. " Tapi sayangnya, adikmu itu tidak memiliki kekuasaan untuk mencairkan uang sejumlah dua milyar dollar. Benar bukan?"
Brayen menatap lekat Angkasa, jarinya mengetuk pelan meja kerjanya. " Well, kau benar. Hanya aku yang memiliki kekuasaan untuk mencairkan dana besar, terlebih masalah investasi."
"Lalu, apa sebenarnya tujuanmu Brayen Adams Mahendra?" suara Angksa bertanya begitu dingin.
"Mudah sekali, tujuanku hanya menginginkan adikku agar belajar dari perusahaanmu. Dan aku juga akan memberikan kesempatan kepadamu untuk mengembangkan perusahaanmu dengan baik," ujar Brayen. Lalu, ia menyeringai. " Pelajari setiap proyek yang kau dapat dengan baik. Aku memberikan dana itu tujuannya tentu untuk melihat kemampuanmu."
"So, Brayen Adam Mahendra i say thank you for all your kindness?" tukas Angkasa dengan senyuman di wajahnya.
Brayen tersenyum miring. " No need, aku tidak membutuhkanmu untuk mengucapkan perkataan bodoh mu itu. Aku hanya membutuhkan kau untuk membuktikan dirimu. Waktumu tidak banyak Angkasa. Ingat, berpikir dengan baik, sebelum kau mengambil keputusan. Karena mungkin, ini bisa menjadi kesempatan terakhir bagimu untuk membuktikan dirimu. Dan aku ingin melihat bagaimana kau mengambil sebuah keputusan dengan tepat."
"Alright, aku mengerti," Angkasa beranjak dari tempat duduknya dan langsung menatap lekat mata Brayen.
"Aku akan membuktikannya padamu dan aku pastikan kali ini, aku tidak akan gagal," tukas Angkasa, lalu ia berjalan meninggalkan ruang kerja Brayen.
Brayen tersenyum sinis, mendengar ucapan Angkasa. Tujuannya memang hanya ingin melihat kerja keras dari Angkasa. Brayen sangat tidak suka, jika ada orang yang gagal, jika bukan karena Laretta adalah adiknya maka dia tidak akan pernah mau untuk memberikan kesempatan kedua kepada Angkasa.
...***...
Devita melangkah masuk kedalam lobby perusahaan. Setelah menyelesaikan kuliahnya, Devita langsung menuju ke perusahaan Brayen. Ia memang harus segera meminta maaf. Jika menunggu Brayen pulang pun percuma sama saja. Karena belakangan ini, Brayen selalu pulang larut malam. Saat Brayen pulang, pasti Devita sudah tertidur pulas. Dan di pagi harinya Brayen sudah berangkat lebih awal. Itu sebabnya yang membuat Devita sangat kesal pada suaminya itu.
"Devita," sapa Angkasa.
"Hi Angkasa," sapa Devita.
"Kau ingin bertemu dengan Brayen?" tanya Angkasa.
Devita mengangguk, " Ya, aku ingin bertemu dengannya."
"Hem Devita, bisa kita berbicara sebentar. Ada yang ingin aku katakan padamu. Tapi jika itu kau tidak keberatan untuk meluangkan waktu sebentar." ujar Angkasa.
Devita tersenyum, " Di sekitar sini ada kafe terdekat, kita bicara saja di sana.
"Terima kasih, Devita." balas Angkasa kemudian mereka berjalan meninggalkan perusahaan menuju ke salah satu kafe terdekat.
Saat tiba di kafe, Angkasa memesan kopi espresso untuknya dan hot chocolate untuk Devita. Angkasa masih mengingat, jika Devita sangat menyukai hot chocolate tidak hanya itu, Devita juga menyukai cake.
"Apa yang ingin kau katakan, Angkasa?" tanya Devita.
"Apa kau tahu, jika Brayen sudah menginvestasikan uangnya ke perusahaanku?" ujar Angkasa.
"Awalnya aku belum tahu, tetapi tadi pagi Laretta sudah memberitahuku," jawab Devita.
"Angkasa, aku memang tidak tahu apa tujuan Brayen. Tapi aku yakin, jika Brayen memiliki hubungan yang baik. Aku percaya padanya," ucap Devita menjelaskan. Ia pun tidak ingin Angkasa menilai buruk sikap Brayen.
Angkasa tersenyum. " Aku tidak pernah berpikiran buruk tentang suamimu itu, Devita."
"Aku senang mendengarnya, aku hanya tidak enak, kau tahu Brayen itu sering bersikap keras. Maaf, jika dia juga sering bersikap angkuh," balas Devita.
"Menurutku, Brayen memang pantas memiliki sifat yang seperti itu. Pria yang sudah berada di puncak tertinggi dan dia juga sudah menikah dengan seorang wanita yang sempurna. Jadi, aku rasa dia pantas seperti itu." ujar Angkasa.
"Kau terlalu berlebihan Angkasa, aku tidak seperti itu." ucap Devita.
"Tapi kenyataannya memang seperti itu, Devita." balas Angkasa.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.