
"Raymond, namaku Raymond. Aku rasa, kau tidak lupa bukan? Aku hanya ingin menyapa juniorku saja." balas Raymond.
"Hei! Lebih baik kau itu pergi dari hadapan kami! Atau kami akan memanggil security untuk mengusirmu!" Seru Olivia dengan tatapan tajam mengarah ke arah Raymond yang begitu berani duduk di samping Devita.
"Kenapa kalian berdua tidak pernah ramah denganku? Padahal, aku hanya ingin berkenalan saja," jawab Raymond.
"Tuan Raymond, lebih baik kau pergi. Aku sedang tidak ingin di ganggu. Satu lagi, tanpa harus berkenalan kau sudah mencari tahu tentang diriku, bukan? Jadi, tidak perlu berkenalan." Devita beranjak dari tempat duduknya, dia langsung melangkah keluar. Namun saat Devita hendak keluar, tangan Devita di tahan oleh pria yang duduk di sampingnya itu.
Dengan cepat Devita menghentakkan tangannya. "Beraninya kau menyentuh tanganku! Jaga sopanmu atau aku akan memberikan pelajaran padamu!"
Raymond tersenyum. "Rupanya kau wanita yang begitu setia pada suamimu. Aku sungguh sangat iri karena Brayen Adams Mahendra mendapatkanmu. Harusnya kita itu mengenal lebih awal, pasti aku akan menjadikanmu istriku."
"Kau tidak waras!" Tukas Olivia. Dia langsung menarik tangan Devita dan berlindung di belakang tubuhnya. "Dengarkan aku baik - baik, dan aku harap telingamu itu tidak rusak.Kau tidak tahu siapa Brayen? Lebih baik kau itu pergi sekarang dan jangan mencari masalah. Jika kau masih mencari masalah dan menganggu sahabatku maka jangan salahkan aku, aku akan mengatakan ini semua kepada Brayen. Dan kau akan menerima akibatnya karena telah mengaggu istri dari Brayen!"
Olivia mengatakannya dengan tegas. tatapannya kini menajam pada pria yang kini berada di hadapannya. Napasnya memburu ketika telah selesai mengatakan itu. Rasa kesabarannya sudah tidak ada lagi. Pria yang bernama Raymond ini selalu mengusik kehidupan Devita. Dan Olivia tidak akan tinggal diam. Jika pria itu masih menganggu, maka Olivia sendiri yang akan turun tangan.
"Kau itu sungguh sahabat Devita yang sangat baik. Tidak, bukan hanya baik tapi kau juga sangat cantik." Raymond tersenyum miring. "Seharusnya kau itu senang jika ada orang yang ingin berkenalan denganmu. Karena itu artinya kau bisa memiliki banyak teman."
Olivia mendesah kasar. "Kami tidak membutuhkan teman baru! Lebih baik kau pergi sekarang! Aku tidak ingin kau menganggu sahabatku lagi!"
Raymond memilih untuk tidak menjawab ucapan dari Olivia. Namun pandangan Raymond melirik ke arah Devita. "Apa kau tidak ingin mengatakan apapun padaku Nyonya Devita Mahendra?"
"Ada, dan hal ingin aku katakan adalah kau pergi dan jangan menggangguku lagi!" Tukas Devita menekankan.
Raymond mengedikkan bahunya acuh. "Allright, aku akan pergi sekarang. Tapi aku tidak berjanji jika kita akan bertemu lagi."
"Tidak waras!" Tukas Olivia.
Raymond tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya, kemudian dia membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan Olivia dan juga Devita.
Melihat Raymond sudah pergi, Olivia dan Devita duduk kembali di tempat mereka. Devita menggelengkan kepalanya, dia kembali bertemu dengan pria itu lagi.
"Devita, kenapa kau tidak memberitahu Brayen saja?" tanya Olivia yang mulai kesal dengan sikap pria tadi.
"Kau tahu Brayen itu terlalu berlebihan. Terakhir saja dia mendiamkanku. Aku tidak mau itu terjadi lagi." balas Devita. "Lagi pula, dia nanti akan lelah sendiri. Jadi tidak perlu di ambil pusing. Aku juga tidak ingin memikirkannya."
"Ya, terserah kau saja. Tapi, kalau pria itu kembali menganggumu, maka aku yang akan menghajarnya!" Seru Olivia.
Devita terkekeh pelan. "Kau ini seperti bodyguard ku saja."
"Jangan meledekku Devita!" Olivia mencebik kesal. Namun, pandangan Olivia kini menoleh ke arah ice creamnya. "****! Ice creamku jadi mencair karena pria sialan itu!"
"Kau beli saja sepuasnya, nanti aku yang akan membayarnya," balas Devita. Sama seperti Olivia, ice cream miliknya juga mencair.
Olivia mendengus. "Harusnya pria tadi aku lempar saja dengan ice creamku!"
Dengan kesal, Olivia beranjak dan berjalan menuju ke arah toko ice cream yang jaraknya tidak jauh darinya.
...****...
Laretta mematut cermin, kini tubuhnya sudah terbalut dengan gaun yang berwarna navy dengan model bagian atas x- straps. Perutnya sudah semakin membuncit. Semua orang yang melihat tentu saja tahu, jika dirinya tengah mengandung. Hingga di detik ini, Laretta masih belum bertanya. Apakah keluarga Angkasa sudah tahu, kalau dirinya tengah mengandung. Mengingat keluarga Angkasa yang tinggal di Jepang dan Angkasa yang juga sangat sibuk. Laretta yakin, Angkasa pasti masih belum memberitahu keluarga pria itu.
Suara dering ponsel, memecahkan keheningan. Laretta mengalihkan pandangannya ke pada ponsel, kemudian mengambil ponselnya yang berada di meja rias dan menatap ke layar. Tertera nama Angkasa mengirimkan pesan padanya. Tanpa menunggu lama, Laretta membuka pesan dari Angkasa.
Aku sudah berada di depan rumahmu, keluarlah. - Angkasa
Sebelum meninggalkan kamar. Laretta kembali menatap cermin, memastikan penampilannya. Kemudian, Laretta berjalan meninggalkan kamar menuju ke arah mobil Angkasa yang sudah terparkir di depan.
Saat Laretta tiba di depan, dia sudah melihat Angkasa yang tengah berdiri menyandarkan tubuhnya pada mobil pria itu. Laretta tersenyum dan melangkah mendekat ke arah Angkasa.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu lama." ucap Laretta ketika dia sudah berada berhadapan dengan Angkasa.
Angkasa terus melihat Laretta, wanita yang ada di hadapannya ini terlihat sangat cantik. Tidak hanya itu, semenjak Laretta hamil, wanita itu terlihat jauh lebih berisi. Kulitnya nampak lebih cerah dan tubuhnya pun semakin seksi.
"Angkasa?" panggil Laretta, dia menatap bingung Angkasa yang sejak tadi hanya diam.
"Ah, maaf." Angkasa menghentikan lamunannya. "Kau sangat cantik hari ini, Laretta?"
Laretta tersenyum, "Jadi, kemarin - kemarin aku ini tidak cantik?"
"Sejak dulu, bahkan di pertemuan pertama kita. Kau itu memang sudah sangat cantik. Tapi semenjak kau hamil, kecantikanmu jauh lebih bertambah." Angkasa mengelus lembut pipi Laretta.
Mendengar ucapan Angkasa membuat pipi Laretta merona. "Sudahlah, jangan merayuku. Lebih baik, kita itu berangkat sekarang."
Angkasa mengangguk setuju. "Ya, kita berangkat sekarang."
Namun, saat Laretta hendak masuk kedalam mobil, Angkasa menatap shopping bag yang ada di tangan Laretta. "Kau membawa apa, Laretta?" tanya Angkasa sambil mengerutkan keningnya.
"Aku membelikan sesuatu untuk kedua orang tuamu dan juga adikmu,"jawab Laretta sambil memasukkan shopping bag di tangannya ke dalam mobil.
"Harusnya tidak perlu, Laretta. Aku tidak ingin merepotkanmu." balas Angkasa.
"Tidak merepotkan Angkasa. Karena ini hanya hadiah kecil saja," Laretta lebih dulu masuk kedalam mobil. Kemudian Angkasa juga masuk kedalam mobil.
Angkasa menghidupkan mesin mobil, menginjak gas lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman parkir itu.
"Angkasa, aku juga membelikan mu sesuatu. Kau harus memakainya," Laretta mengeluarkan sebuah kotak di dalam tasnya, lalu memberikannya pada Angkasa
"Laretta, barang - barang yang kau beli pasti selalu mahal. Aku tidak ingin kau membuang uangmu. Aku lebih suka jika kau menggunakannya untuk keperluan dirimu saja."
Laretta mendesah pelan. "Saat di Las Vegas, apakah kau tidak melihat tagihan kartu kreditmu yang aku pakai berbelanja? itu sangat banyak bukan? Dalam sebuah hubungan tidak selamanya pria yang menanggung. Aku tahu, itu memang tanggung jawabmu. Dan aku tidak akan mengambil alih tanggung jawabmu setelah kita menikah nanti, hanya saja aku ingin menunjukkan perasaanku dengan memberimu barang - barang."
"Hubungan itu jauh lebih indah jika kita take and give Angkasa. Tidak selamanya kau hanya memberikanku barang - barang mewah karena aku juga ingin memberikan barang - barang untuk dirimu ataupun keluargamu," lanjut Laretta menjelaskan.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.