Love And Contract

Love And Contract
Masakan Devita



"Apa kau masih ingat, ada pria yang menggangu Devita di Las Vegas?" tanya Olivia.


"Ya aku mengingatnya. Karena kau sudah bercerita padaku sebelumnya," jawab Felix.


"Raymond itu adalah pria yang menganggu Devita di Las Vegas. Beberapa minggu yang lalu, aku dan Devita bertemu lagi dengan Raymond tanpa di sengaja. Aku dan Devita bertemu dengannya saat Devita membeli hadiah untuk Brayen. Aku sendiri tidak menyangka, jika Raymond adalah pemilik toko jam ternama itu."


"Tidak hanya itu, tapi Raymond juga lulusan dari universitas yang sama dengan kami. Waktu dosen memintaku dan Devita datang ke kampus, Raymond juga berada di sana. Seperti biasa, Raymond kembali mengganggu Devita. Dan kejadian di pertunangan Davin, aku yakin ini pasti karena ulah Raymond mengganggu Devita. Beruntung ada Brayen. Jadi paling tidak, Brayen memberikan pelajaran untuknya."


Olivia pun mendengus kesal, jika mengingat tentang Raymond, benar - benar ingin menghajar pria itu. Meski Brayen sudah memberikan pelajaran pada Raymond, tapi Olivia masih merasa belum puas.


"Aku yakin, Brayen tidak akan hanya diam saja. Brayen pasti akan segera memberikan pelajaran untuknya. Kau tidak perlu khawatir," balas Felix.


Olivia mengangguk, "Ya, kau benar.Aku yakin Brayen tidak akan tinggal diam saja."


"Olivia, sebentar lagi kau akan lulus. Apa kau benar akan bekerja di kantorku?" tanya Felix.


"Aku tidak mungkin menyia - nyiakan kesempatan yang kau berikan padaku, Felix. Aku tentu mau bekerja di perusahaanmu." jawab Olivia antusias. "Tapi kau harus ingat, kau itu harus menggajiku tinggi. Karena tagihan kartu kredtiku banyak, jadi aku tidak ingin kau menggajiku kecil."


Felix menyentil kening Olivia. "Tagihan kartu kreditmu aku yang membayarnya, kau tidak lupa ingatan bukan?"


Olivia tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya. "Aku ingat, sayang. Tapi aku tetap tidak ingin di gaji kecil."


"Aku tahu dirimu Olivia Roberto! Mana mungkin kau mau dengan gaji kecil." balas Felix dengan kekehan pelan.


Olivia memeluk lengan Felix, "Ya sudah, lebih baik kita masuk kedalam, aku ingin menonton film bersamamu."


"Tapi aku tidak mau film drama romantis, Olivia. Kita nonton film action saja!" Tukas Felix yang mengingatkan. Dia selalu di ajak Olivia untuk menonton film drama romantis. Benar - benar membosankan.


Olivia mendengus. "Tapi aku tidak suka Felix! Aku tidak mau menonton film action!"


"Kau pasti suka! Kali ini, kau itu harus menjadi gadis yang penurut." Felix bangkit berdiri, dia mengulurkan tangannya membantu Olivia untuk berdiri. Kemudian mereka melangkah masuk kedalam rumah.


...***...


"Brayen, hari ini aku akan memasak untukmu." ujar Devita ketika mereka baru saja tiba di mansion.


"Memasak?" Brayen mengerutkan keningnya. "Bukannya kau itu tidak bisa memasak? Jangan menyusahkan dirimu sendiri. Biarkan Chef di rumah kita yang memasak untuk kita."


Devita mendengus kesal. "Kau itu meremehkan istrimu sendiri! Aku bisa meski tidak hebat, tapi aku cukup bisa untuk memasak! Karena Ibuku pernah mengajariku memasak."


Brayen mengulum senyumannya. "Baik, aku juga ingin mencoba masakan istriku."


Devita tersenyum, dia memeluk lengan Brayen. Mereka melangkah masuk kedalam rumah. Devita membawa Brayen menuju ke arah dapur, kali ini Devita khusus ingin memasak untuk suaminya. Selama ini Devita selalu meminta Brayen memasak untuk dirinya.


Saat di dapur, Devita langsung mengikat asal rambutnya. Dia langsung meletakkan tasnya di atas meja. Sedangkan Brayen duduk dengan menyilangkan kaki sembari menatap Devita yang tengah mengambil bahan - bahan yang ada di dalam kulkas. Senyum di bibir Brayen terukir, ketika melihat Devita memakai apron. Tidak pernah Brayen melihat istrinya itu menggunakan apron.


Devita memilih mengambil daging, kentang dan beberapa bumbu yang di butuhkan. Devita pun masih mengingat yang ibunya itu ajarkan padanya. Meski jarang memasak, tetapi Devita selalu mengingat apa yang di ajarkan oleh Nadia, Ibunya.


Brayen terus menatap istrinya. Tatapannya itu tidak hentinya menatap istrinya, yang tengah mengolah bahan makanan. Jika seperti ini, Brayen menyadari gadis kecil yang dulunya mencari masalah dengannya, sekarang sudah menjadi seorang istri. Brayen menatap pemandangan yang begitu indah, ketika melihat istrinya tengah memasak.


Tidak lama kemudian, Devita melangkah ke arah Brayen sembari membawa piring yang sudah terisi Roasted Potato dan Sirloin steak. Dan Devita langsung memberikannya kepada Brayen.


"Kau harus makan yang banyak suamiku, sayang." ucap Devita saat memberikan makanan itu.


Brayen mengangguk. "Ya. Semoga saja rasanya tidak mengecewakan. Karena kau sudah membuat suamimu ini menunggu lama."


Devita mencebik. "Suami macam apa kau Brayen! Istri memasak untukmu, tapi kau malah mengatakan seperti itu! Aku banyak menonton di film drama, di film itu istrinya tidak bisa memasak. Tapi dia selalu mencoba memasak untuk suaminya, meskipun masakannya sang istri itu tidak enak, suaminya akan tetap memuji istrinya! Tapi kenapa kau tidak bisa seperti itu, Brayen?!"


Brayen membuang napas kasar. " Jangan banyak menonton drama, Devita. Itu hanya akan menganggu pikiranmu saja! Lebih baik kau itu menonton film lain!"


Devita mengerutkan bibirnya kesal. "Menyebalkan sekali! Kenapa kau ini tidak ada romantisnya sama sekali!"


"Brayen, kenapa kau masih diam saja? Bagaimana rasanya?" tanya Devita yang sejak tadi penasaran, tapi suaminya itu hanya diam.


"Tidak enak!" Tukas Brayen.


Devita mengerutkan keningnya menatap kesal Brayen."Kalau tidak enak, kenapa masih di makan?!"


Dengan cepat Devita langsung mengambil alih makanan yang sedang di makan oleh Brayen.


"Apa kau ini tidak melihat, kalau aku sedang makan? Kenapa di ambil!" Seru Brayen.


"Tapi tadi kau bilang itu tidak enak!" Devita mengerutkan bibirnya.


"Jika tidak enak, makananmu itu dari tadi tidak akan aku makan sebanyak itu." Brayen menarik kembali piring yang ada di tangan Devita, dia melanjutkan kembali menikmati makanan yang di buatkan oleh istrinya itu.


"Jadi maksudmu makananku itu enak?" Devita tersenyum bahagia menatap Brayen dengan tatapan bangga atas dirinya.


"Ya," jawab Brayen singkat.


Devita beranjak dari tempat duduknya, dia langsung menangkup pipi Brayen dan memberikan kecupan bertubi-tubi di pipi suaminya itu. Brayen mengulum senyumannya mendapatkan ciuman dari istrinya.


"Kita ke kamar sekarang. Aku ingin mandi dan beristirahat." kata Brayen yang telah menyelesaikan makanannya.


Devita mengangguk, kemudian mereka berjalan meninggalkan ruang makan. Namun, saat Devita dan juga Brayen baru keluar dari ruangan makan, mereka berpapasan dengan Laretta yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Laretta, kau sudah pulang?" tanya Devita yang kini berada di hadapan Laretta.


"Ya, aku sudah pulang." jawab Laretta.


"Kau tadi di antar Angkasa, kan?"


"Ya, aku di antar oleh Angkasa. Tapi dia sudah langsung pulang. Lagi pula ini sudah malam."


Devita menatap Laretta, terlihat jelas wajah sedih Laretta. Pandangan Devita melirik ke arah Brayen, dia ingin sekali bertanya tapi dia tidak ingin bertanya di depan Brayen.


"Laretta, ini sudah malam. Cepat kau langsung masuk kedalam kamarmu, dan istirahat." tukas Brayen.


Laretta menggangguk patuh. "Iya Kak, aku masuk ke kamar sekarang. Devita aku duluan ya."


"Ya, selamat beristirahat Laretta." balas Devita.


Laretta tersenyum. "Kau juga selamat beristirahat."


Laretta berjalan meninggalkan Devita dan juga Brayen. Melihat Laretta sudah pergi, Brayen dan Devita melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.