Love And Contract

Love And Contract
Siapa Veronica?



Terima kasih banyak untuk para reader yang masih setia membaca cerita ini. Love u all so much❤❤❤ kalian yang terbaik.... Terima kasih karena sudah membuat cerita yang biasa ini menjadi sesuatu yang istimewa. Dan mohon maaf yang sebesar - besarnya bagi para reader yang tidak puas dengan novel ini, karena saya juga masih dalam tahap menulis cerita. Oleh karena itu masih banyaaakkk banget kekurangnya. Tapi makasih banyak loh udah mau mampir❤


Happy Reading semuanya....🤗


"Nona, maaf baju yang di pakai istriku itu tidak murah. Kau hanya akan membebani diri mu jika mengganti rugi baju Istriku," tukas pria itu sarkas.


Devita mencoba menahan kekesalannya. Apa dia tidak bisa melihat pakaian yang menempel di tubuh Devita bukanlah barang murah. Hingga kemudian dia menjawab dengan tegas. " Tuan, katakan saja nominalnya aku pasti mampu mengganti baju Istrimu,"


Kemudian pria itu menatap penampilan Devita, "Harusnya dari penampilanmu kau terlihat mampu untuk mengganti baju Istriku,"


"Devita?" panggil Brayen yang kini sudah berjalan mendekat ke arah Devita.


"Ada apa, Devita?" tanya Brayen.


Devita langsung menoleh menatap suaminya. "Brayen, aku tidak sengaja menumpahkan minuman di baju Nona ini. Aku ingin mengganti rugi tapi Nona ini menolak."


"B.. Brayen?" wanita yang ada di hadapan Devita, tampak begitu terkejut saat melihat Brayen.


Brayen mengalihkan perhatiannya dan menatap dingin wanita yang menyapanya itu.


"Brayen kau mengenalnya?" tanya Devita, mengerutkan keningnya ketika wanita itu menyapa Brayen.


"Ya, dia satu kuliah denganku," tukas Brayen dingin.


"Sayang, kau mengenal mereka?" tanya suami dari wanita itu.


"Tristan, ini Brayen. Dia temanku saat aku kuliah. Brayen ini Tristan suamiku," ucap wanita itu yang memperkenalkan suaminya pada Brayen.


Brayen mengangguk singkat. " Ini Devita, Istriku."


"K..Kau sudah menikah?" tanya wanita itu yang terkejut, saat Brayen memperkenalkan Devita sebagai Istrinya.


"Ya, aku sudah menikah. Maaf, aku harus pergi." Brayen menarik tangan Devita dan hendak berjalan meninggalkan tempat itu.


"Brayen tunggu, aku harus mengganti baju Nona ini," Devita menahan lengan Brayen, membuat langkah suaminya itu terhenti.


Devita menoleh ke arah wanita yang tadi dia tabrak. " Maaf, apa aku boleh tahu siapa namamu?"


"Aku Veronica, salam kenal Devita," jawab wanita yang bernama Veronica itu dengan senyuman ramah


"Salam kenal Veronica. Aku tetap harus mengganti bajumu. Aku tidak akan tenang jika tidak mengganti rugi bajumu," balas Devita dengan nada yang memaksa.


Veronica mengulas senyuman hangat di wajahnya. " Tidak apa-apa Devita. Tidak perlu kau ganti,"


"Aku mohon jangan menolaknya Veronica, aku hanya tidak ingin memiliki hutang. Dimana hotelmu, Veronica? " tanya Devita, dia tidak akan tenang, jika belum mengganti baju Veronica yang kotor akibat ulahnya yang sudah menumpahkan minuman ke baju Veronica.


"Four Season Hotel di Sultanahmet." jawab Veronica.


Devita mengangguk paham. " Besok pagi jam sepuluh aku akan menunggu di lobby hotelmu,"


"Baiklah Devita, sampai bertemu besok." Veronica kembali tersenyum.


"Kalau begitu, kami harus pergi. Sampai jumpa Veronica," pamit Devita. Kemudian Brayen langsung memeluk pinggang Devita meninggalkan tempat itu.


...***...


Brayen dan juga Devita sudah tiba di hotel. Mereka sudah membersihkan diri dan mengganti pakaian mereka. Sejak tadi Brayen lebih banyak diam. Bahkan Devita bertanya siapa Veronica namun Brayen hanya menjawab dengan dingin.


Brayen duduk di ranjang sambil membaca email di iPadnya. Devita yang baru saja memoles wajahnya dengan skincare dia langsung mendekat ke arah ranjang dan duduk di samping suaminya.


"Brayen," panggil Devita.


"Hem," Brayen masih menatap iPadnya. Dia tidak menoleh sedikitpun ke arah Devita.


"Tadi kenapa kau tidak bersikap ramah pada temanmu?" tanya Devita yang sedikit kesal dengan sikap Brayen.


"Besok, kau tidak perlu datang di hotel mereka. Kau minta saja Ruby untuk membelikan baju untuk dia," tukas Brayen dingin, tanpa menjawab pertanyaannya Devita.


Devita mengerutkan dahinya, " Jangan seperti itu. Aku ingin mengantarkan langsung padanya."


"Tidak perlu Devita, kenapa kau harus menyusahkan dirimu. Aku membawa asisten agar membuatmu nyaman dan tidak perlu kesusahan," jawab Brayen dengan nada penuh penekanan.


"Ini bukan masalah aku merasa kesusahan. Aku tidak pernah merasakan itu. Kau yang selalu memanjakanku dengan segalanya. Aku hanya ingin bertanggung jawab dengan apa yang aku perbuat," jelas Devita


"Kau menumpahkan minuman di bajunya tidak sengaja. Jadi tidak perlu di perpanjang. Minta Ruby untuk membelikan baju untuknya," balas Brayen datar.


"Katakan padaku, Brayen Adams Mahendra siapa Veronica? Kenapa kau bersikap dingin dan tidak ramah padanya?" tukas Devita kesal.


"Kau sudah mengetahui nama itu. Aku sudah pernah bercerita padamu," jawab Brayen dingin.


Devita mengerutkan dahinya. Mencoba mencerna apa yang di katakan oleh Brayen. Sudah menceritakan padanya? Devita berusaha mengingat semua cerita Brayen. Namun, tiba - tiba Devita mengingat satu nama.


"Don't tell me Veronica is your ex?" ucap Devita ketika mengingat nama yang pernah di sebutkan oleh Brayen.


Brayen mengangguk singkat.


"Astaga, dia mantan kekasihmu dulu yang kau ceritakan kepadaku?" tanya Devita memastikan. Bahkan di Turkey saja bisa bertemu dengan mantan kekasih Brayen. Betapa sempitnya dunia ini.


"Ya, dia yang pernah aku ceritakan padamu,"


"M..Maaf aku tidak tahu Brayen," ucap Devita dengan suara pelan. Bagaimanapun dia itu adalah mantan kekasih yang pernah melukai hati Brayen.


"Tidak perlu meminta maaf. Aku sudah tidak memiliki perasaan padanya," jawab Brayen datar.


Devita meletakkan kepalanya di bahu suaminya. " Brayen, kau harus memaafkannya, mungkin ini sulit bagimu. Tapi kalian adalah masa lalu. Setidaknya sekarang dia sudah memiliki kehidupan. Dia sudah menikah, kau juga sudah menikah,".


Brayen, membawa Devita masuk ke dalam dekapannya. " Kau benar, aku dengannya sudah berakhir lama. Tapi aku hanya ingin kau tidak kelelahan. Aku tidak suka, jika kau harus mengurusi hal kecil. Aku membawa Ruby untuk membantu segala yang kau butuhkan."


Devita tersenyum lalu memeluk erat Brayen. "Aku tahu, tapi biarkan aku sendiri yang mengantarnya. Aku hanya ingin bertanggung jawab,"


"Baiklah, jika kau memang seperti itu. Tapi ingat, kau tidak boleh sampai kelelahan. Kau ingin aku yang mengantarmu atau kau pergi dengan sopir?" tanya Brayen sambil mencium hidung Devita.


"Aku pergi dengan sopir saja," jawab Devita cepat.


"Jangan pulang terlambat," Brayen mengelus lembut pipi Devita, dia memberikan kecupan di bibir Istrinya itu.


"Iya, aku akan pulang tepat waktu," balas Devita.


"Lebih baik kita tidur sekarang," kata Brayen dan Devita pun mengangguk. Kemudian mereka membaringkan tubuhnya di ranjang. Devita masuk kedalam dekapan Brayen. Tidur di dekapan Brayen adalah hal yang ternyaman bagi Devita.


...****...


"Brayen, aku berangkat sekarang," pamit Devita sambil mengecup bibir Brayen.


"Ya, ingat jangan pulang terlambat." Brayen mengelus lembut pipi Devita.


"Iya Brayen,"


"Hari ini aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Kemarin Albert mengirimkan dokumen yang harus aku baca," ujar Brayen.


Devita pun mengangguk. " Baiklah, kalau begitu aku berangkat," Devita kembali mengecup bibir Brayen. Lalu keluar dari kamar hotel. Shopping bag yang berisi dua pasang dress merk Gucci sudah di bawa oleh Devita. Dress ini untuk menggantikan baju Veronica.


Di lobby, Devita sudah di jemput oleh sopirnya. Dia berjalan ke arah mobil dan masuk kedalam mobil. Hari ini Devita tidak di temani oleh Ruby. Devita hanya di temani oleh Ruby jika dirinya pergi untuk berbelanja. Lagi pula Devita tidak suka jika harus di ikuti.


"Where you want to go Miss?" tanya sopir pada Devita.


"For Season Hotel at Sultanahmet please," jawab Devita.


"Alright,"


Kini mobil yang sudah membawa Devita sudah berjalan meninggalkan hotel. Devita masih menatap keluar, pemandangan Turkey memang sangat mengagumkan.


...***...


Devita turun dari mobil, dia sudah tiba di tempat Veronica menginap. Dia melirik arlojinya kini sudah pukul sepuluh pagi. Ia datang tepat waktu. Devita masuk kedalam lobby.



"Devita," panggil suara seorang wanita yang membuat Devita menoleh ke arah sumber suara itu.


"Veronica?" sapa Devita ketika melihat Veronica mendekat ke arahnya.


"Hi Devita, kau sangat cantik sekali hari ini," puji Veronica.


Devita tersenyum, " Kau juga sangat cantik, Veronica."


"Lebih baik kita duduk dulu," ajak Veronica dan Devita mengangguk.


Devita lebih memilih duduk tepat di hadapan Veronica, lalu menyerahkan shopping bag yang dia bawa pada Veronica. " Ini untuk mengganti bajumu. Maafkan aku karena telah membuat bajumu kotor,"


"Seharusnya kau tidak perlu membelikanku, Devita" jawab Veronica yang merasa tidak enak ketika menerima shopping bag itu.


"Jangan menolak Veronica, aku hanya ingin bertanggung jawab. Terimalah," kata Devita dengan memaksa.


Devita mendesah pelan. "Baiklah, terima kasih Devita,"


Devita mengangguk, "Sama - sama Veronica."


"Hem. Devita bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"


"Silahkan, apa yang ingin kau tanyakan?"


"Kau sudah lama menikah dengan Brayen?"


"Tidak, belum sampai satu tahun," jawab Devita. " Aku dengar kau teman lama Brayen, saat Brayen kuliah?"


Veronica mengangguk, "Tapi aku rasa dia sekarang sangat membenciku,"


"Boleh aku tahu apa alasannya?"


"Aku pernah melukainya. Tapi itu adalah masa lalu. Lagi pula dia sudah menikah dan aku pun sudah menikah," jelas Veronica.


Devita tersenyum, " Kau benar, masa lalu hanya masa lalu. Aku rasa Brayen pasti sudah melupakannya. Kalian sudah memiliki kehidupan masing - masing."


"Aku pernah melakukan kesalahan dalam hidupku. Padahal Brayen adalah pria yang sempurna," ucap Veronica dengan penuh penyesalan. Terlihat wajah Veronica yang begitu muram ketika mengatakan itu.


"Aku sudah pernah datang ke Milan. Ketika dia tinggal di Milan. Meminta maaf padanya, tapi dia tidak ingin bertemu denganku. Dia selalu mengatakan aku ini wanita menjijikkan. Aku sungguh itu di luar keinginanku. Saat itu aku mabuk, lalu saat aku bangun aku sudah tidur dengan sahabat Brayen. Aku terus marah pada diriku sendiri. Aku merasa bersalah, tapi Brayen tidak pernah memaafkanku," Veronica tampak begitu sedih setelah mengatakan itu.


"Veronica, aku pastikan Brayen telah memaafkanmu. Kau sudah memiliki kehidupanmu dengan suamimu. Brayen juga sudah memiliki kehidupannya denganku. Dia sudah tidak alasan untuk membencimu. Lupakan Veronica, jangan membuat itu menjadi beban di hidupmu," Devita mengulas senyuman hangat di wajahnya, dia menyentuh tangan Veronica dan mengelus pelan tangan wanita itu.


Veronica tersenyum. " Kau benar Devita, salamkan aku untuk Brayen."


"Devita, kau terlihat sangat muda. Bolehkah aku tahu berapa usiamu?" tanya Veronica.


"Wajahku, memang tidak bisa menutupi usiaku, ya?" kekeh Devita pelan. " Aku 20 tahun. Aku masih kuliah."


"Kau masih kuliah," Veronica menatap lekat Devita yang duduk di hadapannya.


Devita mengangguk.


"Lalu kalian tinggal di Turkey atau sedang berbulan madu?" tanya Veronica kembali.


"Kami sedang berbulan madu. Kami tinggal di Indonesia, bagaimana denganmu?" Devita balik bertanya.


"Aku dan suamiku tinggal di New York. Aku ke Turkey untuk menemani suamiku perjalanan bisnis,"


"Baiklah kalau begitu Veronica, aku harus pergi sekarang. Brayen pasti akan sangat marah jika aku pulang terlambat."


Veronica tersenyum. " Sepertinya Brayen sangat mencintaimu, Devita,"


"Aku juga sangat mencintai Brayen. Kalau begitu aku pergi, senang berkenalan denganmu Veronica,"


"Aku juga senang berkenalan denganmu, Devita,"


Devita bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan meninggalkan Veronica. Sedangkan Veronica masih duduk dan tidak bergeming dari tempatnya, dia menatap punggung Devita yang mulai menghilang dari pandangannya.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.