Love And Contract

Love And Contract
Devita Pingsan



"Kapan Angkasa dan Laretta pulang Devita?" tanya Brayen sambil menatap istrinya yang tengah berbicara dengan Sean.


"Aku tidak tahu Brayen, Laretta tidak memberitahuku." jawab Devita.


"Sepertinya besok atau nanti malam mereka baru pulang. Tadi pagi aku sempat menghubungi Angkasa," sambung Felix. Brayen mengangguk singkat.


"Paman Felix, hari ini Paman ingin membawaku kemana?" tanya Sean sambil menatap Felix yang duduk di seberangnya.


"Ke taman bermain. Apa kau sudah selesai makan? Jika sudah, kita berangkat sekarang." jawab Felix dengan tatapan lembut pada Sean.


"Sudah Paman, aku sudah selesai." Seru Sean antusias. "Mommy... Daddy.... aku ingin pergi dengan Paman Felix dan Bibi Olivia."


"Ya, kau harus menurut pada Paman dan juga Bibimu." ucap Brayen mengingatkan putranya itu.


Sean mengangguk patuh. " Iya Daddy..."


"Ingat Sean, di taman bermain nanti, kau jangan berlari kencang. Mommy tidak ingin kau terjatuh, mengerti?" Devita mengelus lembut pipi Sean.


Felix beranjak dari tempat duduknya, dia menghampiri Sean lalu mengulurkan tangannya dan langsung menggendong Sean. "Brayen, Devita, kami berangkat."


"Hati - hati Felix, aku titip Sean." jawab Devita dengan senyuman di wajahnya. Sedangkan Felix membalas anggukan singkat di kepalanya.


"Brayen, apa hari ini kau akan sibuk?" tanya Devita saat Felix dan Olivia sudah meninggalkan ruang makan.


"Tidak, mungkin hari ini aku hanya membaca email yang di kirimkan oleh Albert." jawab Brayen sambil menyesap kopi di tangannya. "Apa hari ini kau ingin pergi? Kalau kau ingin pergi aku akan menemanimu?"


"Aku ingin pergi berbelanja sepatu? Dan membelikan oleh-oleh untuk keluarga yang ada di kota B." balas Devita sambil memeluk lengan suaminya.


"Alright..." Brayen mengangguk, lalu mengecup bibir Devita. Kemudian, dia dan Devita beranjak dari tempat duduknya berjalan meninggalkan ruang makan dan bersiap untuk pergi berbelanja.


...***...


Kini Devita dan Brayen sudah tiba di Galleria Emanuela Mall. Tatapan Devita langsung berbinar, melihat butik - butik brand ternama yang selalu menjadi salah satu kesukaannya. Tanpa menunggu lama, Devita langsung memeluk lengan Brayen. Ini pertama kali Devita mengujungi butik pakaian. Ketika sampai di butik pakaian Devita langsung memilih banyak baju untuknya, dan juga oleh - oleh untuk keluarganya. Beruntung, hari ini Devita bersama dengan Brayen. Karena jika dia sendiri dia pasti akan bingung memilih gaun untuknya.


Setelah selesai memilih berbagai jenis dres, Devita membawa Brayen mengujungi salah satu butik tas dengan brand ternama dunia. Terlihat Devita yang begitu bahagia, melihat banyaknya tas kelurahan terbaru. Tanpa menunggu lama Devita langsung mengambil semua koleksi keluaran terbaru dari butik itu. Tidak tanggung-tanggung, puluhan tas dengan harga fantastis yang di pilih oleh Devita.


Seketika Brayen sedikit terkejut, tidak biasanya sang istri membeli barang dengan sangat banyak. Ini bukan tentang uang, Brayen sama sekali tidak memperdulikan berapapun uang yang di keluarkan. Hanya saja, tidak biasanya sang istri berbelanja dengan begitu banyak. Sebelum meninggalkan butik, Brayen menyuruh anak buahnya untuk membawa seluruh belanjaan sang istri.


"Brayen, aku mau ke butik itu..." tunjuk Devita pada salah satu butik dengan brand ternama yang tidak jauh darinya.


Namun saat Brayen dan juga Devita hendak melangkah menuju ke arah butik itu mereka berpapasan dengan Alvaro Samudera dan Marsha yang berada di Galeria Emanuella Mall.


"Alvaro? Marsha? Kalian di sini?" sapa Brayen saat melihat Alvaro dan Marsha berada di hadapannya.


"Kak Brayen? Devita, kebetulan sekali kita bertemu di sini." seru Alvaro.


"Devita? Apa kau ingin berbelanja?" tanya Marsha sambil menatap Devita.


Devita mengangguk. "Aku tadi sudah berbelanja, pakaian dan tas. Dan aku ingin berbelanja sepatu?"


"Bagaimana kalau kita berbelanja bersama? Aku juga ingin berbelanja sepatu," ujar Marsha menawarkan.


"Baiklah, kalau begitu biarkan suami kita menunggu saja." balas Devita, dan Marsha mengangguk setuju.


Devita mengalihkan pandangannya menatap Brayen. "Sayang, kau dan Alvaro duduk saja di cafe terdekat, nanti aku dan Marsha akan menyusul kalian jika sudah selesai berbelanja.


Brayen mengangguk singkat. "Ya, hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu.


Devita mencium rahang suaminya. Kemudian Devita dan juga Marsha pergi meninggalkan Brayen dan Alvaro, menuju butik yang tidak jauh dari mereka. Tepat di saat Devita dan Marsha pergi, Brayen dan Alvaro menuju ke cafe dekat dengan butik yang di pilih Devita dan Marsha.


...***...


"Aku suka warna mustard, tapi aku juga menyukai maroon. Terkadang aku lebih mengutamakan model dari pada warna." ujar Devita seraya memilih semua koleksi sepatu terbaru yang ada di butik itu.


"Devita, kau ingin membeli oleh-oleh untuk keluargamu?" Marsha bertanya saat melihat sepatu yang di pilih Devita begitu banyak.


"Sebagian untukku dan sebagian untuk keluargaku." jawab Devita.


Marsha mengangguk. "Baiklah, kita kesana. Sepertinya itu model terbaru." tunjuk Marsha pada sepatu - sepatu yang tertawa begitu manis di ujung kiri.


"Alright," Devita langsung berjalan mengikuti Marsha, ke tempat sepatu yang Marsha tunjuk sebelumnya.


"Ini cantik sekali...." Devita mengambil sebuah high heels dengan warna maroon. High heels ini tampak begitu seksi dengan cepat, Devita langsung membalikkan tubuhnya memanggil pelayan. Namun, seketika kepala Devita memberat. Tubuhnya terasa begitu lemah. Pandangannya mulai buram. Tepat di saat tubuh Devita ambruk, terjatuh di lantai. Marsha langsung berteriak dan langsung berlari menghampiri Devita, wajahnya berubah menjadi panik dan cemas melihat Devita tidak sadarkan diri.


...***...


"Kak Brayen, aku dengar dari Felix kau sedang mendirikan sekolah Alfaro Internasional School khusus putramu?" ujar Alvaro seraya menyesap kopi di tangannya.


Brayen mengangguk singkat. "Ya, aku sengaja membangun Alfaro Internasional School untuk Sean. Aku ingin mendapatkan yang terbaik untuk putraku nanti." jawab Brayen.


"Kau sungguh hebat Kak Brayen." balas Alvaro. "Kapan sekolah itu rencananya akan di buka?"


"Kemungkinan tahun depan," jawab Brayen. "Kau sendiri, kenapa berada di negara M?" tanya Brayen balik.


"Aku sedang melakukan perjalanan bisnis." jawab Alvaro.


Kemudian, suara dering ponsel terdengar, Alvaro yang tengah berbincang dengan Brayen, langsung mengalihkan pandangannya pada ponsel milknya yang terus berdering itu. Kemudian dia mengambil ponselnya, menatap ke layar. Kening Alvaro berkerut saat melihat nomor Marsha, istrinya yang menghubunginya. Tanpa menunggu lama, dia menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan sebelum kemudian meletakkan di telinganya.


"Ya, apa kau sudah selesai berbelanja?" jawab Alvaro saat panggilan terhubung.


"Jangan bercanda Marsha!"


Seketika Alvaro mematung, dia begitu terkejut. Mendengar apa yang di katakan oleh Marsha. Wajah Alvaro terlihat panik. Sedangkan Brayen yang duduk di hadapan Alvaro dia mengerutkan keningnya, melihat perubahan wajah ekspresi dari Alvaro.


"Ada apa?" tanya Brayen seraya menatap Alvaro.


"Istrimu pingsan, Kak." jawab Alvaro dengan wajah panik.


Brayen tersentak, dia langsung beranjak dari tempat duduknya, dan meninggalkan cafe itu


bersama dengan Alvaro yang menyusulnya


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.