Love And Contract

Love And Contract
Peringatan Dari Edgar



Brayen tersenyum sinis. "Well, tentu saja aku tidak mempercayainya. Tidak mungkin kau hanya datang untuk menyapaku. Jadi katakan apa tujuanmu datang kesini? Karena aku tidak memiliki banyak waktu."


"Maaf, kalau kedatanganku menganggumu." tukas Brayen.


"Katakan padaku, untuk apa kau datang ke perusahaanku?" tanya Brayen dingin.


"Aku tahu, kemarin kau mendatangi Ibuku." jawab Edgar, pandangannya terus menatap lekat Brayen.


Brayen menyandarkan punggungnya di kursi, dia menopang tangannya di atas meja. "Jika aku datang menemui Ibumu apa masalahnya denganmu?"


Edgar tersenyum tipis. " Ternyata benar apa yang selama ini aku dengar. Seorang Brayen Adams Mahendra yang sangat arrogant, dan ya, kau memang pantas mendapatkan itu karena posisimu bisa membuat orang tidak berani untuk melawan dirimu."


"Aku rasa aku tidak suka berbasa - basi denganmu, katakan apa tujuanmu." tukas Brayen dingin.


"Kemarin aku menemui istrimu Devita di kampusnya. Dia sangat cantik anggun dan juga baik meski dari tatapannya dia begitu membenciku. Ternyata kau sungguh beruntung memiliki istri selembut dan sebaik Devita." balas Edgar yang sengaja menyindir Brayen.


"Kau bertemu dengan istriku?" kini Brayen menajamkan matanya pada Edgar. " Untuk apa kau bertemu dengan Istriku?"


"Calm down, aku tidak berniat untuk merebut istrimu. Meski aku harus mengakui dirinya sangat cantik. Tapi aku tidak mungkin merebutnya bukan? Yang aku dengar, dia adalah saudara satu Ayah denganku. Jadi, aku tidak mungkin mengambilnya darimu, jika dia sungguh adikku?" ujar Edgar dengan santai. Ia tahu kini pria yang ada di hadapannya terlihat sangat marah.


"Maka hilangkan pikiranmu ketika kau memikirkan Istriku! Atau aku akan membuatmu tidak bisa lagi memikirkan posisi mu saat ini!" Peringat Brayen tajam.


Edgar menggeleng pelan dan tersenyum tenang. " Tenanglah Brayen, bukankah aku sudah mengatakan? Meski aku tidak mempercayai sepenuhnya Devita adalah adikku, tapi aku memang tidak berniat untuk mengambil istrimu."


"Aku ingatkan padamu, meski kau berniat mengambil istriku. Kau tidak memiliki kemampuan untuk itu!" Tukas Brayen dengan penuh penekanan.


Edgar menganggukan kepalanya, seolah membenarkan perkataan Brayen. "Alright, lupakan tentang istrimu. Aku datang kesini untuk membahas tentang kemarin kau datang ke perusahaan Ibuku, sepertinya kau tengah mengancam Ibuku?"


Brayen tersenyum sinis. " Memangnya ibumu mengatakan padamu jika aku datang mengancamnya?"


"Ibuku memang tidak memberitahukan apapun. Tapi sejak kau mendatanginya, ibuku sangat berbeda." balas Edgar dengan tatapan penuh selidik pada Brayen.


"Ya memang sudah seharusnya Ibumu takut saat aku datang, mengingat aku tidak suka ada orang yang bermain api denganku." tukas Brayen.


Edgar terdiam sebentar, dia terus menatap Brayen yang duduk di hadapannya ini. Dia berusaha untuk mencerna setiap maksud dari perkataan Brayen. Edgar juga tagu, tidak mungkin Brayen mengatakan semuanya pada dirinya. Pasti akan ada yang di sembunyikan oleh Brayen. Hingga akhirnya, Edgar menatap lekat mata Brayen. "Rupanya kau memberikan sebuah peringatan pada Ibuku? Benar maksudmu Brayen Adams Mahendra?"


Brayen menaikkan sebelah alisnya. "Bisa di bilang begitu?"


"Baiklah aku mengerti dan aku tidak akan bertanya lebih tentang pembicaraanmu dan Ibuku. Tapi kemarin, aku mendapatkan laporan dari anak buahku, asistenmu mengawasi pergerakan ku dan juga Lucia. Bisa kau katakan padaku apa maksudmu dengan mengawasi pergerakanku dan juga adikku?" suara Edgar terdengar begitu tenang namun tajam.


Brayen tersenyum sinis, dia menatap Edgar yang ada di hadapannya. Brayen tahu, pria itu tengah mencari tahu alasan dirinya mengawasi pergerakan Edgar dan juga Lucia. Sayangnya, Brayen sangat cerdas untuk menutupi semua ini. Brayen tidak akan mengungkapkan apapun di depan Edgar.


"Well, sudah ku katakan padamu bukan? Aku itu selalu waspada. Lagi pula hal yang berhubungan dengan istriku sudah menjadi urusanku. Dan aku hanya mengawasi kalian, bukan melukai kalian?" jawab Brayen dengan seringai di wajahnya.


"But let me tell you one thing Brayen Adams Mahendra. I know who you are but if u hurt my sister, i kill you." peringat Edgar tajam, menusuk.


Brayen menyeringai mendengar perkataan dari pria yang kini masih berada di hadapannya. "Should i scared? Listen to me. If your mother and also your sister doesn't do anything. I will not hurt them." balas Brayen dengan penuh ancaman. Tatapannya terus menatap tajam Edgar yang duduk di hadapannya.


Edgar tersenyum, lalu dia beranjak dari tempat duduknya dan membalas tatapan Brayen. "Aku harus memberitahumu satu hal, aku tidak pernah menginginkan menjadi anak dari seorang Edwin Smith. Aku juga pastikan Ibuku dan juga Adikku tidak akan pernah menganggu keluargamu. Tapi ingat Brayen, jangan pernah mencoba melukai mereka."


"Maka aku tegaskan lagi padamu. Aku tidak akan melukai siapapun jika mereka tidak memulainya." tukas Brayen dingin.


Brayen terus menatap Edgar yang menghilang dari pandangannya. Saat pria itu, sudah tidak lagi di lihatnya. Brayen menyeringai, rupanya Edgar tidak menyukai dirinya menjadi anak dari Edwin Smith. Brayen menekan tombol interkom dia meminta Albert untuk datang keruangannya.


"Tuan," sapa Albert, menundukkan kepalanya saat masuk ke dalam ruang kerja Brayen.


"Apa kau melakukan sebuah kesalahan?" suara Brayen terdengar begitu dingin, hingga membuat Albert terus menunduk, tidak berani menatap Brayen.


"T-Tidak, Tuan. Saya tidak melakukan kesalahan." jawab Albert gugup.


Brayen membuang napas kasar, " Bukannya aku sudah mengatakannya padamu? Ketika kau mengawasi pergerakan anak dari Gelisa Wilson. Tidak ada yang boleh melihatmu. Aku tidak ingin dia mencurigai pergerakanmu."


"Tuan, apa maksud tuan kedatangan Edgar Rylan Wilson memberitahu tentang saya yang mengawasi pergerakan mereka?" Albert memberanikan diri bertanya dengan hati - hati.


"Ya, dia mengatakan anak buahnya melaporkan padanya kau mengawasi pergerakan mereka." tukas Brayen dingin.


"Tuan, sungguh saya sudah sangat berhati - hati. Kalau dia bisa tahu saya mengawasi pergerakan mereka itu artinya, mereka juga mengawasi pergerakan anda, Tuan" kata Albert yang berusaha menjelaskan. Dia tahu, kini raut wajah dari Brayen begitu marah.


Brayen terdiam saat mendengar ucapan dari Albert, dia tersenyum sinis. Rupanya pria itu telah berusaha mengawasi pergerakannya. Dan benar saja, tidak mungkin mereka tahu Albert mengawasi mereka jika mereka tidak mengawasi dirinya.


"Ambilkan aku wine," tukas Brayen.


Brayen mengangguk patuh, lalu dia berjalan menuju kedalam lemari minuman dan mengambil botol wine dan satu sebuah gelas sloki. Albert menuangkan wine itu pada gelas sloki dan memberikannya untuk Brayen.


Brayen mengambil gelas sloki yang berisikan wine, dia menyesap wine di tangannya. Pandangannya mengingat semua perkataan Edgar. Brayen menggerakkan gelas sloki berirama, ternyata Edgar sangat waspada.


"Albert, apa menurutmu mereka tahu kau melakukan Tes DNA?" tanya Brayen, ia terus menyesap wine yang ada di tangannya.


"Tidak Tuan, saya yakin mereka tidak tahu. Saya mendapatkan sample itu di siang hari. Dan memeriksanya di malam hari, Tuan." jawab Albert dengan sangat yakin.


"Good, lain kali kau jauh harus lebih berhati-hati." peringat Brayen.


"Baik Tuan, kedepannya saya akan lebih berhati-hati." balas Albert.


"Maaf Tuan, apa Tuan akan segera memberitahukan kepada Tuan Edwin?" tanya Albert memastikan.


"Ya, aku kan memberitahu secepatnya. Aku ingin lihat, apa yang di inginkan oleh Gelisa Wilson." tukas Brayen dengan seringai di wajahnya.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.