
Pagi hari, Devita lebih memilih untuk berenang Sinar matahari pagi begini menyejukkan. Hembusan angin begitu menenangkan kulitnya. Devita memang jarang berenang, dia tidak terlalu hebat dalam berenang. Tidak seperti Laretta dan Olivia, dua wanita itu sangat hebat.
Tiga puluh menit kemudian setelah Devita puas berenang dia langsung naik dan duduk di tepi kolam. Pelayan datang menghampirinya membawakan Devita orange juice dan sandwich daging.
"Apa kau melihat Laretta?" tanya Devita pada pelayan yang membawakannya sarapan.
"Nona Laretta sedang berada di studio lukisnya Nyonya." jawab pelayan itu.
Devita mengangguk, "Terima kasih."
"Sama - sama, Nyonya. Kalau begitu saya permisi." pelayan itu menundukkan kepalanya lalu undur diri dari hadapan Devita.
Kemarin ketika Laretta menceritakan pertemuannya dengan keluarga Angkasa, jujur saja Devita merasa tidak enak. Laretta memang mengatakan jika dia mengerti dengan semuanya, tapi Devita tahu hati Laretta pasti sakit. Devita sangat mengenal Alena, adik Angkasa itu terkenal tidak dewasa.
Devita juga tahu, kenapa alasan Alena bersikap tidak ramah pada Laretta. Dulu ketika Devita masih menunggu Angkasa, Devita pernah berbicara pada Alena jika dirinya akan menunggu Angkasa. Dan Devita mengatakan kepada Alena, jika di masa depan dirinya akan menikah dengan Angkasa. Perkataan itu pasti masih ada di benak Alena. Padahal Alena harusnya tidak lagi mengingat itu. Terlebih Devita yakin, Alena mengetahui dirinya sudah menikah dengan Brayen.
Namun, tiba - tiba Devita mengingat satu hal. Devita langsung menyambar ponselnya, dia langsung mencari nomor ponsel milik Alena. Seingat Devita dia masih memiliki nomor ponsel milik Alena. Senyum di bibir Devita terukir, menatap ke layar setelah dia berhasil mendapatkan nomor ponsel Alena dengan cepat Devita langsung menghubungi Alena.
"Alena?" sapa Devita saat panggilannya terhubung.
"Devita? Ini Devita bukan?"suara Alena berseru dari sebrang telepon.
"Ya Alena. Ini aku Devita. Apa aku menganggumu?"
"Tidak, tentu saja tidak Devita. Aku sangat merindukanmu, Devita."
"Aku juga merindukanmu, Alena. Apa kau memiliki waktu hari ini? Jika kau tidak sibuk, aku ingin mengajakmu untuk makan siang bersama."
"Tentu saja aku tidak sibuk. Aku sebenarnya ingin menghubungimu terlebih dulu ketika kau tiba di kota B. Tapi karena kemarin aku sibuk, aku belum menghubungimu, Devita."
"Tidak apa-apa, Alena. Jadi kau setuju untuk makan siang bersama denganku hari ini?"
Aku tidak mungkin menolakmu, Devita. Aku sungguh sangat merindukanmu."
"Baiklah, aku akan segera mengirimkan pesan
padamu alamat restoran tempat kita bertemu."
"Ya Devita, aku menunggunya."
"Oke, kalau begitu sampai nanti."
Panggilan terputus, Devita beranjak berdiri dan mengambil kimono untuk menutupi tubuhnya yang masih terbalut dengan pakaian renang. Ini adalah jalan satu - satunya, Devita harus bertemu dan berbicara dengan Alena. Devita tidak ingin jika Laretta terus terluka dengan apa yang di ucapkan oleh Alena. Karena bagaimanapun, Laretta adalah wanita yang terlalu baik. Devita tidak ingin jika adik Iparnya itu terluka hanya karena masa lalu dirinya.
Devita berjalan menuju ke arah kamar, dia ingin segera bersiap - siap. Namun, ketika Devita hendak masuk kedalam lift, langkah Devita terhenti ketika melihat Laretta baru saja keluar dari studio lukis.
"Devita? Kau baru saja selesai berenang?" tanya Laretta yang kini melangkah mendekat ke arah Devita.
"Iya, aku baru saja selesai berenang." jawab Devita. "Kau sendiri apa sudah selesai untuk melukis?"
"Sudah? Rencananya setelah ini aku ingin bersantai di taman. Apa kau ingin pergi keluar, Devita?" tanya Laretta lagi.
Devita mengangguk. "Aku ingin pergi keluar sebentar. Ingin bertemu dengan teman lama."
Dengan terpaksa Devita tidak memberitahu Laretta, jika dirinya ingin bertemu dengan Alena. Devita tidak ingin Laretta terluka, lebih baik Devita memilih untuk menutupi ini dari Laretta.
"Apa nanti kau akan pulang terlambat? Aku hanya takut jika Kak Brayen akan menghubungiku dan kau tidak ada di rumah. Kau tahu bukan? Sifat Kakakku itu begitu overprotektif padamu?"
"Kau tenang saja Laretta, aku tidak akan lama. jam tiga atau jam empat sore aku sudah tiba di rumah."
"Baiklah kalau begitu, aku ingin ke taman dulu. Selamat bersenang-senang, Devita."
Devita tersenyum, dia langsung melanjutkan langkahnya lagi masuk ke dalam lift. Dia ingin segera bertemu dengan Alena. Devita berharap kali ini, Alena akan mengerti dengan kenyataan yang ada.
Sky Restorante, adalah sebuah restoran Italian di kota B yang cukup terkenal. Restoran ini yang di pilih oleh Devita untuk bertemu dengan Alena. Kini mobil Devita sudah tiba di Sky Restorante. Seperti biasa, Devita tentu bersama dengan sopir. Devita sudah tidak berani lagi melanggar aturan suaminya itu. Devita takut jika Devita kembali melanggar aturan dari Brayen, dia tidak akan di perbolehkan untuk keluar rumah.
Devita turun dari mobil, dia melangkah masuk kedalam restoran. Devita mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Alena. Namun, kini pandangan Devita menatap sosok wanita cantik dengan balutan gaun berwarna merah yang sangat seksi. Devita tersenyum, melihat Alena yang sudah lebih dulu tiba. Kemudian Devita melangkah mendekat ke arah Alena.
"Maaf, karena sudah membuatmu menunggu lama Alena," ucap Devita ketika dia sudah di hadapan Alena.
Alena tersenyum, dia langsung beranjak dari tempat duduknya. Alena langsung memeluk erat tubuh Devita, sudah lama sekali Alena tidak bertemu dengan Devita.
"Aku juga baru datang, Devita." jawab Alena. "Kau sekarang bertambah lebih cantik. Dan
terlihat lebih berisi dari sebelumnya."
"Kau juga sangat cantik, Alena." balas Devita.
Devita dan Alena duduk lalu memanggil pelayan untuk membawakan menu. Saat membaca menu makanan, Devita memesan Beef Carpaccio, Classic Tiramisu dan lemon tea untuk dirinya sedangkan Alena, dia lebih memilih Rack of Lamb dan mango juice. Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan makanan yang telah mereka pesan itu.
"Devita, aku dengar sebentar lagi kau akan lulus?" tanya Alena terlebih dahulu yang memulai percakapan setelah pelayan itu pergi.
"Ya, aku sedang menunggu hari kelulusanku," jawab Devita. "Bagaimana denganmu, Alena?"
"Aku sedikit terlambat, Devita. Kemungkinan aku lulus baru tahun depan," balas Alena.
"Tidak masalah, Alena. Kau masih muda, aku yakin kuliahmu akan segera selesai." ujar Devita dengan senyuman hangat di wajahnya.
"Devita, ada hal yang ingin aku tanyakan padamu." ucap Alena sambil menatap serius Devita yang duduk di hadapannya.
"Katakan Alena, karena aku juga ada yang ingin aku bicarakan padamu," balas Devita.
"Apa benar kau sudah menikah dengan Brayen Adams Mahendra? Aku sudah membaca berita tentang dirimu. Hanya saja aku ingin langsung mendengarnya darimu, Devita." kata Alena. Tatapannya masih terus menatap lekat manik mata Devita.
Devita tersenyum. "Kau benar, aku sudah menikah dengan Brayen Adams Mahendra."
"Kenapa Devita? Kau lebih memilih Brayen daripada Kakakku? Apa karena Brayen jauh lebih kaya dan hebat? Bukankah kau sudah berjanji padaku, akan menikah dengan Kak Angkasa?" wajah Alena berubah menunjukkan kekecewaan besar, tatapannya sendu menatap Devita, menuntut Devita untuk menjelaskan semua ini.
"Alena, ini bukan karena Brayen lebih kaya atau lebih hebat. Tapi ini semua karena aku tidak bisa mengubah takdirku. Aku dan Angkasa di takdirkan memang tidak untuk bersama. Pada akhirnya kami telah menemukan kebahagiaan kami masing-masing. Aku sudah menikah dengan Brayen, tentu aku sangat bahagia dan mencintai suamiku. Begitu pun dengan Angkasa yang sudah menemukan kebahagiaannya dengan Laretta," Devita menjelaskan dengan suara yang tenang.
"Tapi aku tidak suka dengan Laretta! Dia adik dari Brayen bukan? Pria yang telah merebut mu dari Kakakku? Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan Kakakku menikah dengan Laretta!" Seru Alena dengan tegas.
"Kau tidak menyukai Laretta hanya karena dia adik dari Brayen? Begitu maksudmu, Alena?" Devita menaikkan sebelah alisnya. Menatap Alena tak percaya. "Aku rasa, sangat tidak adil, jika kau tidak menyukai Laretta hanya karena dia adalah adik dari Brayen."
"Tidak hanya karena dia adik dari Brayen!" Sela Alena cepat. "Tapi karena aku hanya ingin kau yang menjadi Kakak Iparku. Dan aku tidak ingin wanita lain yang menjadi Kakak Iparku."
Devita mendesah pelan, "Alena, kau tidak bisa seperti ini. Aku akan tetap menjadi temanmu. Aku tidak akan melupakanmu, hanya karena aku bukan Kakak Iparmu. Percayalah Alena, Laretta adalah wanita yang sangat baik. Aku yakin, kau akan sangat menyukai Laretta."
"Wanita baik?"Alena tersenyum miring. "Tidak ada seorang wanita yang baik hamil di luar nikah! Aku sangat yakin, Laretta sudah menjebak Kakakku. Atau bisa saja, anak yang ada di kandungnya Laretta bukanlah anak dari Kakakku. Laretta hanya meminta pertanggung jawaban saja pada Kakakku! Tapi kenyataannya wanita itu bukan mengandung anak Kak Angkasa."
"Alena Nakamura!" Seru Devita
...******"...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.