Love And Contract

Love And Contract
Ini Bukan Salahmu



Tiga Minggu Kemudian.....


Devita duduk di tepi ranjang, dia menatap nanar layar ponselnya. Sudah tiga minggu Brayen tidak pulang. Tidak hanya itu, pesan dan telepon darinya juga di abaikan. Devita hanya mengetahui kabar Brayen dari Albert. Devita ingin sekali pergi ke kantor Brayen, tapi dia masih tidak berani. Terakhir Devita mendapatkan kabar dari Albert, jika Brayen tidak dalam emosi yang baik. Devita membiarkan sementara Brayen untuk menenangkan diri. Meski itu sangat menyiksa dirinya, tapi Devita berusaha untuk mengerti.


Hari demi hari, Devita lewati tanpa adanya Brayen di sampingnya. Devita tahu, suaminya itu sangat kecewa pada dirinya. Terlebih selama ini dirinya sudah keras kepala, dan selalu memaksakan kehendak dirinya sendiri. Tidak hanya Devita yang merasakan hari yang begitu berat, tapi Laretta juga merasakan hal yang sama. Laretta tidak di perbolehkan keluar rumah. Brayen telah memperketat penjagaan di mansion. Devita juga tidak bisa dengan mudah keluar dari rumah. Nagita, sang asisten selalu melaporkan aktivitas Devita pada Brayen.


Saat ini yang Devita pikirkan bukan hanya dirinya, tapi Angkasa dan juga Laretta. Pernikahan Laretta terancam batal, sebelumnya Devita sudah mendengar kabar jika Laretta dan Angkasa akan menikah satu bulan lagi. Tapi kini, sejak adanya masalah Laretta tidak bisa lagi berhubungan dengan Angkasa. Seluruh akses untuk bertemu dengan Angkasa sudah di tutup oleh Brayen. Bahkan, jika Laretta berani mengangkat telepon dari Angkasa, Brayen mengancam akan merusak perusahaan milik Angkasa. Mendengar ancaman dari Brayen tentu membuat Laretta tidak mampu berkutik.


Terdengar suara ketukan pintu, membuat Devita menghentikkan lamunannya. Devita mengalihkan pandangannya menatap ke arah pintu. Tanpa menunggu, dia langsung menginterupsi untuk masuk ke dalam.


Tidak lama kemudian, Devita langsung menatap Laretta melangkah masuk kedalam kamarnya. Terlihat jelas raut wajah Laretta yang begitu muram.


"Devita, apa aku menganggumu?" suara Laretta terdengar begitu parau, dia melangkah mendekat ke arah Devita.


Devita menggeleng pelan, "Masuklah Laretta, aku merindukanmu....."


Laretta mendekat, dia duduk di samping Devita. "Apa Kakakku sudah menghubungimu, Devita?"


"Belum," jawab Devita. "Aku hanya tahu kabar Brayen dari Albert. Dia masih belum mau bicara denganku."


"Maafkan aku Devita," kata Laretta lirih. Dia sungguh sangat menyesal dengan semua ini. Andai, dia tidak melarang Devita berbicara pada Brayen sejak awal, maka ini tidak akan pernah terjadi. Sejak hari itu, Laretta tidak henti menyalahkan dirinya sendiri.


Devita tersenyum, dia mengelus lengan Laretta. Menenangkan adik iparnya itu. "Kau tidak salah Laretta, semua ini terjadi juga karena diriku. Kau terjebak di dalam masa laluku. Aku minta maaf padamu, Laretta. Jika saja dulu aku tidak berjanji pada Alena, ini pasti tidak akan pernah terjadi. Kau dan Angkasa harusnya segera menikah, tapi sekarang semakin rumit. Aku minta maaf karena tidak mampu untuk membujuk Brayen."


"Tidak Devita, ini bukan salahmu. Semua ini terjadi karena memang aku masuk kedalam bagian masa lalumu. Sungguh, aku tidak ingin kau menyalahkan dirimu Devita." Laretta menggenggam tangan Devita dan meremas pelan. "Kakakku Brayen begitu menyayangiku, aku pun mengerti alasan dia sangat marah. Aku bahkan sudah menerima ini Devita. Di sisi lain, aku sangat ingin menikah dengan Angkasa. Memilki kehidupan yang bahagia dengan Angkasa. Tapi, jika takdir tidak menyatukanku dengan Angkasa, maka aku akan menerima ini. Aku akan membesarkan anakku nanti sendiri. Tidak masalah bagiku, aku pasti bisa membesarkan anakku sendiri."


Laretta mengatakan dengan suara yang tenang, namun terlihat jelas raut kesedihan di wajahnya. Devita menggeleng tak setuju dengan apa yang di katakan oleh Laretta. Devita tidak akan mungkin membiarkan Laretta membesarkan anaknya seorang diri.


"Laretta, kau jangan bicara seperti itu." balas Devita. "Aku yakin, kau akan menikah dan memiliki kehidupan yang bahagia dengan Angkasa. Aku berjanji, aku akan membantumu. Aku tidak akan membiarkanmu membesarkan anakmu seorang diri Laretta."


Mata Laretta berkaca - kaca, air matanya berlinang membasahi pipinya. Devita langsung memeluk erat tubuh Laretta, mengelus lembut punggung adik iparnya itu.


"Aku yakin, kau akan segera menikah dengan Angkasa. Percayalah padaku Laretta." ujar Devita. "Setiap masalah akan mengajarkan kita untuk jauh lebih kuat dari sebelumnya."


Devita mengurai pelukannya, dia menghapus air mata Laretta dengan jemarinya. "Aku akan berbicara dengan Brayen. Kau jangan khawatir Laretta."


"Tapi Kakakku masih marah denganmu, Devita. Bagaimana bisa kau bicara dengannya?" Laretta menatap lirih Devita.


"Aku adalah istrinya. Tidak mungkin Brayen akan terus mendiamkan aku. Aku akan berusaha meminta maaf padanya." jawab Devita. "Aku tidak akan bertemu dengannya saat ini. Aku masih memberikan sedikit waktu untuknya menenangkan diri. Percayalah Laretta, semua akan berjalan baik - baik saja."


Laretta menggangguk pelan. "Terima kasih Devita, sejak dulu kau itu selalu membantuku."


"Aku menyayangimu Laretta. Aku akan selalu membantumu," balas Devita


"Jangan berterima kasih, ini memang sudah menjadi tanggung jawabku." jawab Devita.


Laretta kembali mengulas senyuman hangat di wajahnya, dia memang begitu bersyukur memiliki Kakak Ipar seperti Devita. Selama ini Devita selalu membantu dirinya, bahkan Devita selalu berada di sisinya ketika semua orang menyalahkannya.


"Devita?"


"Hm?"


"Sebentar lagi hari kelulusanmu bukan?"


"Ya, dalam beberapa hari lagi memang hari kelulusanku. Dan aku berharap, masalah ini selesai sebelum hari kelulusanku."


"Apa rencanamu, Devita?"


"Aku akan menemui Brayen tapi tidak sekarang. Aku akan membiarkan ruang untuk. Brayen. Aku tahu, saat ini Brayen masih butuh waktu untuk sendiri."


"Kau benar Devita, aku sungguh berharap hubunganmu dengan Kak Brayen bisa membaik."


"Jangan mengkhawatirkan ku. Bagaimana dengan Angkasa? Apa kau tahu kabar terbaru tentang Angkasa?"


"Satu minggu yang lalu aku menjawab telepon dari Angkasa. Dia hanya mengatakan padaku, untuk menunggunya. Angkasa selalu meyakinkanku jika aku dan dirinya akan tetap menikah. Meski banyak yang menghalangi kami. Jujur saat itu memang aku sudah menyerah, aku tidak mungkin bisa melawan Kakakku. Tapi di sisi lain, aku masih memiliki harapan bisa bersatu dengan Angkasa."


Laretta mengatakan ini dengan suara yang tenang, tatapan lembut Laretta menatap Devita. Seolah mengatakan jika dirinya itu baik - baik saja, Laretta memang berusaha untuk kuat dengan semua masalah ini.


"Kau dan Angkasa akan tetap bersama. Jangan terlalu banyak berpikir, karena kau sedang hamil." balas Devita.


"Devita, apa menurutmu Kak Brayen benar - benar akan menghancurkan perusahaan milik Angkasa? Aku hanya takut, jika ancaman Kak Brayen akan menghancurkan perusahaan Angkasa benar-benar terjadi, jika aku masih berhubungan dengan Angkasa." kata Laretta yang cemas.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.