
Kemudian Olivia menjentikkan jarinya, memberi isyarat pada para pelayan untuk memberikan wine. Richard dan Olivia sudah memegang gelas sloki, sedangkan Devita mengambilnya dengan ragu - ragu. Olivia melirik ke arah Devita, dia tahu jika Devita pasti takut. Karena memang Devita tidak bisa minum alkohol.
"Devita kau jangan takut. Khusus untukmu aku memberikan wine tanpa alkohol," bisik Olivia di telinga Devita. Dia sudah melihat wajah sahabatnya yang begitu tegang.
Devita langsung bernafas dengan lega, ternyata Olivia sudah menyiapkan untuknya. Ya, Olivia memang sahabat Devita yang terbaik.
"Aku tidak ingin kau malu, karena hanya kau di sini yang tidak minum alkohol. Makanya aku menyiapkan wine tanpa alkohol," bisik Olivia kembali di telinga Devita dan Devita pun mengangguk.
"Baiklah, kita bersulang, " Richard, Olivia dan Devita Mengangkat gelas sloki di tangannya.
Ting.
Dentingan gelas mereka.
"Cheers," sahut ketiganya, lalu mereka meneguk minuman yang berada di tangan mereka.
Devita dan Olivia tengah mengobrol dan tertawa bersama. Terlebih Richard yang ternyata sangat lucu. Mereka pun tertawa bersama, namun mata Olivia tertuju pada pasangan pria dan wanita yang sedang memasuki klub malam. Pria yang sangat tampan dan perempuan yang sangat cantik.
Olivia menyenggol lengan Devita, "Devita, itu bukannya-"
Devita kini telah menatap yang di tunjuk oleh Olivia, Olivia menunjuk pasangan pria dan wanita itu dengan tatapan mata. Seketika, tubuh Devita menegang melihat pasangan itu. Terlihat sang wanita memeluk erat pria tampan itu Dan mereka begitu mesra.
"Devita," bisik Olivia.
" Ya, Brayen dengan kekasih cantiknya datang," jawab Devita dingin.
"B....Bagaimana bisa?" Olivia mulai gugup, dia mulai memikirkan bagaimana perasaan sahabatnya.
Devita mengalihkan pandangannya, dia mengulas senyuman tipis. " Biarkan saja Olivia. Ketika dia telah menemukan kebahagiaannya. Maka aku juga pantas menemukan kebahagiaanku,"
Di sisi lain, tepat bersebrangan dengan Devita. Brayen masih belum menyadari Devita berada di klub malam itu. Brayen hanya melihat Felix sedang bersama dengan seorang wanita yang tidak dia kenal. Brayen memilih duduk dan bergabung dengan Felix.
"Kau datang bersama dengan Elena?" tukas Felix dingin.
"Ya," jawab Brayen singkat.
"Hi, Felix. Apa kabar?" sapa Elena dengan senyumannya.
"Seperti yang kau lihat aku baik. Bagaimana denganmu?" tanya Felix.
"Aku juga baik," Elena mengambil Vodka yang di pesan tadi. Lalu menyesap vodka yang ada di tangannya.
"Sayang, apa kau tidak ingin menari bersamaku?" kata Elena sambil mengelus dada bidang Brayen.
"Tidak, aku sedang tidak berniat," jawab Brayen dingin.
"Jika seperti itu, aku akan membuatmu berniat menari denganku," bisik Elena dia beranjak dari tempat duduknya, lalu naik ke atas pangkuan Brayen. Elena mencium dan ******* bibir Brayen. Namun, Brayen hanya diam tidak membalas ciuman Elena.
Felix menggeleng pelan, melihat Elena dan juga Brayen.
Devita berusaha untuk tidak menatap Brayen. Tapi tidak bisa! Dia tidak bisa untuk tidak menatap. Air matanya ingin jatuh tapi sekeras mungkin dia berusaha untuk tidak menangis. Dia tidak mungkin menangis, dia langsung mengambil wine milik Olivia dan meneguknya.
"Devita, are you oke?" tanya Olivia. Dia khawatir pada sahabatnya. Dia melihat Brayen tengah berciuman dengan Elena.
"Aku sangat baik, aku tidak pernah merasakan sebaik ini," tukas Devita sinis.
Devita berjalan menghampiri Richard. "Sepertinya menari tidak buruk bukan?" kata Devita dengan senyuman manisnya.
"Of course not. Aku sangat senang bisa menari bersama dengan gadis tercantik di sini," jawab Richard. Dia mengulurkan tangannya pada Devita. Dengan senang hati Devita menyambut uluran tangan Richard.
Richard menarik tangan Devita menuju ke lantai dansa. Musik slow motion membuat pasangan dansa di lantai dansa terlihat begitu romantis. Richard meletakkan tangannya di pinggang Devita. Dan Devita mengalungkan tangannya di leher Richard. Mereka begitu dekat dan sangat romantis. Gerakan mereka memperlihatkan mereka adalah pasangan yang sempurna.
"Kau sangat cantik Devita," bisik Richard di telinga Devita.
Devita hanya tersenyum mendengar pujian dari Richard.
Brayen menurunkan Elena dari pangkuannya, entah kenapa dia tidak menginginkannya. Dia tidak menginginkan ciuman Elena, hanya saja, Brayen tidak mungkin menolak kekasihnya.
"Brayen, kenapa kau menghentikanku?" seru Elena.
"Tidak di sini Elena, aku ingin minum." Brayen mengambil gelas sloki yang berisi wine, lalu meneguk winenya.
"Devita tidak mungkin ke klub malam tidak memberitahuku," tukas Brayen dingin.
"But look, wanita itu seperti Devita. Lihatlah," seru Felix yang begitu yakin jika gadis itu adalah Devita.
Brayen mengalihkan pandangannya, dia menatap perempuan memakai gaun berwarna silver. Wanita itu sangat cantik, meskipun tubuhnya kurus, tapi dia memiliki lekukan tubuh yang sangat indah. Terlihat rambut pirang tergerai sangat menawan. Brayen kembali memperhatikan wanita itu, lalu matanya tertuju pada pria yang bersama dengan wanita itu. Seketika rahangnya mengeras, dia mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Beraninya kau Devita!" Geram Brayen. Dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan cepat menuju ke arah lantai dansa. Emosinya meluap ketika melihat pria itu memeluk pinggang Devita, bukan hanya itu Devita juga memeluk pria itu, terlihat sangat jelas pria itu adalah Richard.
Brayen menarik tangan Devita dengan kasar. Tidak menunggu lama Brayen menarik kerah baju Richard. Dia melayangkan banyak pukulan di pelipis Richard.
BUGH.
BUGH.
BUGH.
"Bastard! Kau berani memeluk Istriku! Apa kau ingin kehilangan tanganmu!" Bentak Brayen. Dia terus memukul pelipis, hidung dan bibir Richard hingga berdarah.
"Astaga! Brayen, apa kau sudah gila!" Teriak Devita kencang. Saat Devita ingin mendekat ke arah Richard, Brayen menarik tangan Devita untuk tetap di belakangnya.
BUGH.
Richard membalas pukulannya ke wajah Brayen, mengenai pelipis Brayen. Pukulan kedua dari Richard berhasil di tangkis oleh Brayen. Amarah memuncak Brayen kembali menghajar Richard hingga membuat wajah pria itu di penuhi oleh darah.
"Brayen! Hentikan!" Teriak Devita kencang, tapi Brayen tidak mendengarkannya.
Felix dan Elena berlari menuju ke lantai dansa. Mereka melihat Brayen tengah memukul seorang pria. Felix menarik Brayen, tapi Brayen mendorong keras tubuh Felix.
"Jangan ikut campur! Atau aku akan menghajarmu di sini!" Desis Brayen menatap tajam.
"Hentikan Brayen! Kau seperti orang yang kehilangan akal sehatmu!" Teriak Felix dengan kencang.
"Brayen Adams Mahendra! Jangan kau berpikir kau begitu berkuasa aku hanya diam. Kau lihatlah, kau bersama dengan wanita lain. Kenapa Devita tidak boleh bersama denganku?" seru Richard dengan menatap tajam Brayen.
"Aku akan membunuhmu detik ini!" Seru Brayen. Dia hendak menyerang Richard, namun terhenti Devita sudah berlari ke depan Brayen.
Devita melebarkan kedua tangannya menghalangi Brayen. " Jika kau ingin membunuhnya, maka kau harus melangkahiku!" Tukas Devita, dingin. Tatapannya, menatap tajam Brayen.
"Beraninya kau Devita!" Geram Brayen, rahangnya mengetat ketika Devita membela Brayen.
"Kita pulang sekarang!" Brayen menarik paksa Devita.
"Tidak. Aku bisa pulang sendiri! Kau pulanglah dengan wanitamu!" Tukas Devita sinis.
"Brayen, jangan tinggalkan aku." Elena hendak meraih tangan Brayen namun ternyata Olivia sudah lebih dulu menahan Elena.
"Maafkan aku Elena, ada hal yang harus aku selesaikan pada Istriku!" Jawab Brayen dingin.
"Aku tidak mau bastard! Sudah ku katakan kau pergi saja dengan wanitamu. Aku akan pulang sendiri!" Bentak Devita dengan kencang.
Tanpa memperdulikan ucapan Devita, Brayen membopong tubuh Devita ke bahunya seperti karung beras. Dia tidak memperdulikan teriakan Devita. Bahkan Brayen tidak memperdulikan orang - orang yang kini tengah menatap mereka.
"Brayen! Kau benar - benar kehilangan akal sehatmu! Turunkan aku!" Teriak Devita. Dia memukul punggung Brayen dengan keras. Namun Brayen tidak menghiraukan teriakan Devita.
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.