Love And Contract

Love And Contract
White Lies



Seketika Devita terdiam mendengar pengakuan dari Brayen. Jika saja, Brayen bisa mengendalikan emosinya tadi, Devita tidak mungkin membohonginya. Namun, hati Devita begitu tersentuh, ketika suaminya itu mengakui kesalahannya.


Devita berusaha bangun. Brayen langsung membantu Devita ketika melihat istrinya itu ingin duduk. Devita menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Dia membawa tangannya mengelus rahang Brayen. Beberapa luka lebam suaminya belum di obati. "Aku harus mengobati luka lebammu. Besok kau bekerja, tidak mungkin dengan luka lebam ini." kata Devita.


Brayen menyentuh tangan Devita. Mendekat ke bibirnya lalu mengecup punggung tangan Istrinya itu. "Nanti aku bisa mengobatinya sendiri. Ini hanya luka kecil. Dia tidak mungkin mampu untuk melawanku."


Devita mendesah pelan. "Kenapa kau begitu membenci Angkasa? Aku tahu, Alena memang bersalah. Tapi aku mohon jangan libatkan Angkasa. Bagaimanapun Laretta sedang hamil. Kau tahu bukan? Ketika wanita hamil dia harus dekat dengan Ayah dari bayi dalam kandungannya. Jika kau seperti ini, kau membuat beban di pikiran Laretta. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Laretta."


"Jangan pernah membela pria sialan itu Devita!" Jawab Brayen penuh dengan peringatan.


Devita mendekatkan tubuhnya pada tubuh Brayen, kemudian dia menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. "Aku tidak akan pernah membela pria lain sayang. Meski kau salah sekalipun, aku akan tetap membelamu di hadapan banyak orang. Tapi sebagai seorang istri aku hanya ingin mengingatkanmu. Aku ingin menemanimu di setiap langkahmu."


"Aku tahu, Alena membuatmu sangat marah. Tapi aku hanya memikirkan Laretta. Aku menyayangi Laretta sama seperti aku menyayangi saudara perempuanku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Laretta. Kau suka atau tidak suka, kenyataannya Angkasa adalah Ayah dari bayi yang di kandung Laretta saat ini. Dan itu artinya Laretta sangat membutuhkan Angkasa untuk selalu berada di sisinya."


Devita mengatakannya dengan suara yang pelan dan juga lembut. Devita berusaha memberikan pengertian kepada Brayen. Meski Devita tidak tahu, Brayen akan mendengarkannya atau tidak. Namun, setidaknya Devita telah berusaha untuk membujuk Brayen. Devita sangat memahami perasaan Laretta. Adik iparnya itu pasti sangat membutuhkan Angkasa.


"Jangan membahasnya Devita. Aku tidak ingin mendengar tentangnya." Brayen mengusap rambut Devita. "Jika dia sangat bersungguh-sungguh untuk mendapatkan adikku, dia akan terus berjuang mendapatkankannya. Biarkan dia menunjukkan semua itu."


Devita menatap Brayen penuh harap. "Apa kau ingin memberikan kesempatan untuk Angkasa? Paling tidak aku mohon, berikan dia kesempatan. Lakukan ini semua demi bayi yang ada di kandungan Laretta."


"Aku memang membenci Angkasa yang tidak mampu melindungi adikku. Bagiku, seharusnya Angkasa bisa mencari tahu sejak awal. Kejadian dimana adikku itu di permalukan, tidak akan pernah bisa aku maafkan," ujar Brayen. "Tapi, aku akan melihat kesungguhan dari Angkasa. Jika pria itu mampu membuktikan kesungguhannya. Aku akan kembali memikirkannya."


Devita tersenyum, dia langsung memeluk erat Brayen. "Aku sangat mencintaimu. Aku tahu, kau pasti akan melakukan itu."


Terdengar suara ketukan pintu, Devita mengurai pelukannya. Kini Devita Brayen mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu. Brayen membuang napas kasar, padahal dia sudah mengatakan sebelumnya untuk tidak ada yang mengganggu dirinya dan juga istrinya. Hingga kemudian Brayen menginterupsi untuk masuk.


"Kakak? Devita? Apa aku sudah menganggu kalian?" Laretta masuk ke dalam kamar.


"Ada apa?" tanya Brayen dingin.


"A-Aku hanya ingin melihat keadaan Devita, Kak," jawab Laretta sedikit menundukkan kepalanya.


"Laretta, masuklah. Dan duduk di sini." Devita menepuk pelan ranjangnya, meminta Laretta agar duduk di sampingnya.


Laretta menggangguk kemudian mendekat ke arah Devita. Namun, ketika Laretta mendekat, Brayen langsung bangkit dan berdiri. Dia mengecup kening Devita dan pergi meninggalkan Devita dan juga Laretta.


Sedangkan Laretta dia menatap sendu ke arah Brayen yang mengabaikan dirinya. Devita menghela nafas dalam. Dia langsung menarik tangan Laretta untuk duduk di sampingnya.


"Brayen hanya sedikit kesal. Nanti dia akan jauh lebih baik," ujar Devita. "Berikan dia sedikit waktu. Percayalah, dia itu sebenarnya terlalu menyayangimu, Laretta."


Laretta tersenyum. "Ya, Devita. Aku mengenal Kakakku. Aku berusaha mengertinya.


"Apa Angkasa sudah pulang? Bagaimana dengan keadaannya?" tanya Devita yang sejak tadi mencemaskan keadaan Angkasa. Pasalnya, luka di wajah Angkasa cukup parah.


"Laretta...." Devita menyentuh tangan Laretta dan meremasnya pelan. "Sebagai seorang pria, tidak mungkin Angkasa akan menyerah. Aku yakin, dengan segala usaha yang telah di lakukan oleh Angkasa nantinya akan membuat Brayen luluh. Kita pernah membuktikan ini sebelumnya, ketika Brayen akhirnya menyetujui hubunganmu dengan Angkasa. Hanya membutuhkan sedikit waktu saja. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin, kau dan Angkasa akan kembali bersatu."


"Tapi apa mungkin, Kakakku itu akan mau menerima Angkasa kembali?" kata Laretta lirih. "Aku melihat kebencian yang begitu dalam di mata Kakakku pada Angkasa. Meski terkadang aku selalu meyakinkan diriku, jika suatu saat Kakakku itu akan menerima Angkasa, tapi ketika aku melihat Kakakku itu begitu membenci Angkasa, membuatku ingin menyerah dengan semua ini."


"Jangan mengatakan itu Laretta." Devita memeluk erat Laretta, memberikan ketenangan pada adik iparnya itu. "Kau dan Angkasa akan hidup bahagia. Sama seperti aku dan juga Brayen. Kau sangat tahu, jika Brayen sangat membenci orang yang mudah menyerah bukan?"


Laretta mengurai pelukannya. "Kau benar Devita. Sejak dulu Kakakku itu sangat membenci orang yang mudah menyerah. Aku akan terus berjuang."


Devita terseyum, dia mengelus pipi Laretta. "Ya, itu baru adik iparku. Kau memang tidak boleh menyerah. Hadapi semuanya. Jika Brayen terus melarangmu dan mempersulit hubunganmu dengan Angkasa, maka aku akan berdiri di sampingmu, membela dan membantumu."


"Terima kasih Devita." jawab Laretta dengan tatapan haru. Aku juga berterima kasih untukmu karena sudah mau berpura-pura seperti tadi. Aku sungguh sangat berterima kasih padamu. Jika saja tadi kau tidak berpura - pura, mungkin sekarang Angkasa sudah terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit."


Devita mengulum senyumannya. "Aku melakukan itu, karena aku tidak ingin melihatmu dan Olivia harus pingsan karena pasangan kalian sudah di pukuli oleh suamiku. Aku tahu, membohongi suamiku tidak baik. Tapi, aku tidak memiliki pilihan lain. Berpura-pura sakit adalah cara yang terbaik untuk menyelamatkan Angkasa dan juga Felix."


"Aku rasa berpura-pura demi kebaikan tidak masalah." kekeh Laretta. "Berbohong demi kebaikan, sering di sebut dengan white lies. Jadi tidak masalah. Karena denganmu berpura-pura seperti tadi, kau telah menyelamatkan nyawa dua orang sekaligus."


Devita tertawa pelan. "Ya, tapi aku harap aku tidak lagi berpura-pura. Aku tidak ingin membuat kemarahan Brayen semakin bertambah. Kau sangat tahu seperti apa suamiku itu."


"Aku yakin, Kakakku juga pernah berbohong demi kebaikanmu," balas Laretta dengan yakin. "Anggap saja jadi kalian sama - sama pernah berbohong demi kebaikan."


Devita mengangguk setuju. "Aku berharap setelah ini, Brayen bisa segera menerima Angkasa. Aku ingin melihatmu dan Angkasa bahagia. Kalian memang sudah di takdirkan bersama."


"Aku juga berharap seperti itu Devita," jawab Laretta dengan senyuman di wajahnya.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.