
Hembusan angin begitu menyejukkan Devita, Olivia dan juga Laretta yang sedang duduk di taman sembari minum teh yang baru saja di antar oleh pelayan. Mereka duduk sambil menikmati bunga yang tumbuh begitu indah.
"Olivia, apa Felix sudah pulang?" tanya Laretta sambil melihat Olivia yang duduk di sampingnya.
"Aku rasa dia telah menemukan wanita lain di Madrid," balas Olivia dengan nada yang seolah tidak pernah peduli.
"Olivia Roberto! Kau ini benar-benar!" Seru Devita kesal mendengar ucapan dari Olivia.
Laretta menggeleng pelan dan tersenyum. "Olivia, Felix bukanlah seseorang yang mudah berpaling dengan pasangannya. Aku yakin, Felix hanya sedang sibuk bekerja saja. Nanti, dia pasti akan kembali. Kau sendiri sangat tahu, Felix itu tidak mudah mendapatkanmu. Tentu saja Felix tidak mungkin menyia - nyiakan sesuatu yang sulit dia dapatkan.
Olivia menghela nafas dalam. "Terakhir aku berdebat dengannya. Felix selalu membahas tentang pernikahan. Aku tidak suka jika Felix membahas tentang itu. Aku ingin lulus kuliah dulu, setelah itu baru aku memikirkan untuk menikah. Aku ingin menikmati waktu sendiriku sebelum menikah dan menjadi seorang istri."
"Aku sudah mengingatkanmu Olivia. Felix itu sudah terlalu lama menunggumu. Bahkan kau sering menolaknya saja, dia tetap tidak perduli. Jadi jangan membuat Felix menunggu lama," ujar Devita memberikan nasihat pada sahabatnya itu.
"Apa yang di katakan oleh Devita itu benar Olivia. Aku mengerti alasanmu belum ingin menikah. Tapi, tidak ada salahnya bukan menikah di usia yang muda? Lagi pula kau dan juga Devita akan lulus kuliah. Jangan terlalu lama membuat Felix menunggu. Segala sesuatu yang di tunda itu tidak baik, Olivia." sambung Laretta yang menyetujui perkataan Devita.
"Sudahlah, jangan membahas itu sekarang. Lebih baik kita membicarakan yang lain." Olivia sengaja memilih untuk tidak membahas dirinya. Karena saat ini, Olivia belum bisa mengambil keputusan apapun.
"Oh ya, Laretta apa kau juga akan membawa Angkasa ke pesta?" tanya Olivia yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
Laretta mengangguk, "Ya aku akan membawanya."
"Menurutmu, apa nanti keluarga Angkasa juga akan datang? Maksudku, apa keluarga Angkasa juga di undang di pertunangan Davin nanti?" tanya Olivia lagi.
"Untuk yang itu aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu apakah Davin mengenal keluarga Nakamura atau tidak? Karena seingatku, Davin cukup mengenal beberapa perusahaan ternama di kota B," ujar Laretta.
"Laretta, apa kau mengenal siapa itu Davin? Aku seperti mengingat nama itu, tapi dimana aku benar - benar lupa?" kata Olivia yang berusaha untuk mengingat nama Davin. Tapi dia tetap tidak mengingatnya sama sekali.
"Aku juga tidak mengenalnya, karena suamiku hanya mengatakan jika Davin adalah temannya," sambung Devita. Dia sendiri tidak mengenal Davin. Namun sama seperti Olivia, Devita juga seperti pernah mendengar nama itu."
"Ah, kalian berdua pasti sudah lupa ya! Davin itu pemilik toko jam itu. Maksudku, toko jam terbaik yang sudah menjadi langganan Kak Brayen." balas Laretta.
Seketika wajah Devita dan Olivia terkejut mendengar ucapan dari Laretta. Terutama Devita, dia sama sekali tidak menyangka jika Davin yang di maksud adalah pemilik toko jam yang waktu itu dia datangi.
"Devita, kini aku mengingatnya. Bukankah Davin adalah adik dari pria menyebalkan yang selalu menganggumu itu." seru Olivia
"Menganggu Devita?" Laretta menautkan alisnya menatap bingung Olivia. "Astaga, benar. Terakhir saat aku ke toko jam bersama dengan Devita ada pria yang waktu itu kita bertemu di Las Vegas yang sudah menganggu Devita."
"Sudah jangan membahasnya. Aku yakin, dia tidak akan berani mengangguku setelah ini. Terlebih di acara nanti aku membawa Brayen." kata Devita dengan yakin. Dia tahu, tidak mungkin pria itu menganggunya. Karena di pesta nanti dirinya akan bersama dengan suaminya.
"Aku rasa kau benar Devita. Tidak mungkin dai berani menganggumu ketika kau bersama dengan Kak Brayen," balas Laretta yang menyetujui perkataan Devita.
Olivia mendesah pelan, "Semoga saja itu benar. Karena jika itu tidak benar, maka aku yang akan menghajar pria yang menyebalkan itu. Aku tidak peduli jika pestanya harus rusak. Karena dia sendiri yang sudah mencari masalah. Kenapa dia berani mendekati Devita."
Laretta terkekeh pelan. "Aku rasa, Kakakku tidak perlu memberikan pengawal untuk Devita. Karena kau sudah terlihat begitu tangguh Olivia."
Devita menggeleng pelan dan tersenyum. "Olivia memang sekarang sudah seperti pengawalku."
Olivia mendengus kesal mendengar ucapan dari Devita.
Tidak lama kemudian, setelah mereka selesai bersantai di taman. Olivia berpamitan untuk pulang. Sedang Laretta berjalan menuju ke studio lukisnya. Melihat Olivia dan juga Laretta sudah pergi, Devita lebih memilih untuk kembali ke kamar.
...***...
Olivia membelokkan mobilnya memasuki halaman parkir mansion, kemudian dia turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam rumah. Kening Olivia berkerut dalam, ketika melihat Bugatti Veyron berwarna biru ada di halaman parkir mansionnya.
"Mobil siapa ini? Papa sudah pasti tidak akan membeli mobil yang semahal ini," gumam Olivia yang terus menatap mobil itu.
Tidak ingin terlalu banyak berpikir, Olivia melangkah masuk kedalam rumah. Namun, seketika Olivia tersentak melihat sosok pria yang belakangan ini tidak menghubunginya, kini berada di hadapannya.
"Felix? Kau di sini?" Olivia menatap tak percaya pada Felix yang berada di hadapannya.
Felix melangkah mendekat, dia langsung memeluk pinggang Olivia. "Apa begini, caramu menyambut kekasihmu? Aku baru saja kembali dari Madrid, dan kau menyambut ku tidak dengan kata - kata manis."
Olivia memukul sedikit keras lengan Felix. "Kau ini! Menyambut manis darimana? Kau saja menyebalkan sekali! Kau juga tidak memberikan kabar padaku! Brayen saja sudah pulang, dan kau masih berada di Madrid, kau ini sebenarnya bekerja atau sedang mencari wanita, hah?"
Felix mengulum senyumannya. "Di Madrid tidak ada wanita Indonesia yang galak sayang, hanya dirimu saja. Jadi, aku tidak mungkin menyukai wanita yang lain. Sangat jarang ada wanita yang sepertimu."
"Kau ini sebenarnya sedang memuji atau sedangkan menghinaku?" seru Olivia yang tidak terima. "Jadi maksudmu itu aku galak? Begitu kan maksudmu?"
"Tidak, kau itu tidak galak. Hanya sedikit keras kepala saja, sayang." ucap Felix yang langsung memeluk dan mengelus dengan lembut lengan Olivia. "Oh ya, tadi aku memasak untukmu. Lebih baik kita makan bersama."
"Sejak kapan kau bisa memasak?" tanya Olivia sambil memincingkan matanya, menatap Felix penuh selidik.
"Aku bukan Brayen, dulu saat aku kuliah aku sering memasak untuk sendiri." Felix memeluk bahu Olivia. "Lebih baik kita makan sekarang, sayang. Karena aku sudah sangat lapar."
Kemudian Felix dan Olivia masuk kedalam ruang makan. Olivia menatap banyak menu makanan yang sudah terhidang di atas meja. Olivia pun menggeleng tak percaya jika Felix bisa memasak semua ini.
"Apa benar kau yang memasak? Atau kau yang sudah meminta pelayanku untuk memasak semua ini?" tanya Olivia yang masih tidak percaya.
"Aku yang memasak, sayang." jawab Felix, lalu menyeret kursi dia langsung duduk. Begitupun dengan Olivia yang duduk di hadapan Felix.
"Makan ini," Felix memberikan piring yang sudah terisi dengan chicken grill dan mashed potato.
"Terima kasih," Olivia kemudian mengambil piring itu, dia langsung mencoba makanan yang di buat oleh Felix.
"Ini sungguh enak," komentar Olivia saat mencoba masakan dari Felix.
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.