Love And Contract

Love And Contract
Bersyukur Karena Telah Memilikimu



Sesaat, Angkasa dan juga Laretta saling menatap satu sama lain. Angkasa tersenyum ke arah Laretta, kini dia melangkah mendekat ke arah Laretta dan duduk di samping wanita itu.


"Sudah lama tidak melihatmu. Kau sangat cantik dengan perutmu yang sudah membuncit." Angkasa menyentuh tangan Laretta, dan mengecup punggung tangannya.


Laretta mendesah pelan. "Angkasa, kenapa kau ingin menikahi ku Minggu depan? Bukankah itu terlalu cepat Angkasa?"


Angkasa membawa tangannya mengelus lembut perut Laretta yang membuncit. "Aku malah ingin menikahimu hari ini. Aku tidak ingin Kakakmu yang arrogant itu membatalkan keputusannya."


Laretta mengulum senyumannya. "Jangan menghina Kakakku, dia melakukan itu karena melindungiku."


Angkasa tidak langsung menjawab perkataan Laretta, dia menarik tangan Laretta membawanya kedalam pelukannya. "Harus aku akui, aku sungguh sangat berterima kasih pada Kakakmu. Karena akhirnya dia mau menyetujui pernikahan kita."


Laretta tersenyum, dia membalas setiap pelukan dari Angkasa. "Aku juga berterima kasih padamu, karena aku tidak pernah menyerah."


...***...


Devita mengikuti Brayen, masuk kedalam kamar suaminya itu, sejenak Devita masih tidak mengatakan apapun. Hingga kemudian, ketika mereka sudah tiba di dalam kamar, Devita langsung memeluk Brayen dari belakang. Dia membenamkan wajahnya di punggung suaminya. Menghirup aroma parfum maskulin yang begitu menjadi candu bagi dirinya.


Merasakan Devita memeluk dirinya dari belakang, Brayen langsung menarik tangan Istrinya ke hadapannya dan langsung memeluk erat istrinya. "Aku lebih menyukaimu memelukku dari depan. Karena aku bisa melihat wajah cantikmu."


Devita mendongakkan wajahnya dari dalam pelukan Brayen dan menatap lekat wajah suaminya. "Aku sangat bangga padamu Brayen. Kau begitu menyayangi adikmu. Aku tidak hentinya bersyukur karena telah memilikimu di hidupku."


Brayen tersenyum, dia menangkup kedua pipi Devita, memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir istrinya itu. "Kau salah sayang. Aku yang harusnya begitu beruntung memilikimu. Jika bukan karenamu berada di sisiku, aku tidak mungkin membiarkan pria itu menikahi adikku."


Devita mengeratkan pelukannya, dia berjinjit dan memberikan kecupan di rahang Brayen. "Kau itu selalu menutupi kebaikanmu di depan semua orang. Kenyataannya kau selalu memikirkan kebahagiaan untuk adikmu. Aku suka caramu melindungi Laretta. Aku yakin, kelak jika kita memiliki seorang putri, kau pasti akan sangat menjaganya."


Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* bibir istrinya itu. "Tidak hanya putriku tapi juga putraku. Aku tidak akan pernah membiarkan mereka menikah dengan orang sembarangan. Anak - anakku, akan menjadi orang yang hebat."


Devita mengulum senyumannya. "Kau begitu posesif, bagaimana jika putra kita jatuh cinta pada gadis biasa?"


"Aku sudah mengatakan padamu, sayang." Brayen mengecupi puncak kepala istrinya. "Anak - anak kita nanti, akan aku jodohkan pada anak dari rekan bisnisku. Aku tidak ingin mereka mengalami sepertiku. Aku pernah salah memilih pasangan di masa lalu. Dan aku tidak akan membiarkannya lagi."


"Bagaimana jika anak - anak kita nanti membuat perjanjian pada pasangan mereka seperti kita dulu?" kata Devita yang sengaja menggoda suaminya.


"Tidak akan! Mereka tidak bisa menipuku! Aku tidak akan memberikan mereka hartaku, jika berani menipuku!" Tukas Brayen menekankan.


"Kau begitu egois, Daddy!" Devita terkekeh pelan.


Brayen tidak menjawab, dia menyambar bibir istrinya itu. ******* dengan lembut bibir ranum istrinya itu. Tidak hanya diam, Devita juga memejamkan matanya dan membalas pagutan yang di berikan oleh suaminya itu.


...***...


Di mata Devita, Brayen adalah sosok suami yang sempurna. Brayen begitu mencintai keluarganya. Tidak hanya itu, tapi Brayen juga selalu berusaha untuk selalu membahagiakannya. Kebahagiaan Devita pun kini sudah lengkap. Laretta, juga bisa merasakan kebahagiaannya dengan Angkasa. Hanya tinggal menghitung hari, Laretta dan Angkasa akan menikah. Ya, walaupun Devita sedikit bersedih karena nantinya Laretta tidak akan tinggal bersama dengannya, membuat Devita terbiasa dengan kehadiran Laretta. Namun, meski demikian Devita jauh lebih bahagia karena pada akhirnya Angkasa dan Laretta bisa bersatu.


Kini Devita mematut cermin, dia memoles wajahnya dengan make up. Dia menata rambutnya di gulung ke atas hingga memperlihatkan leher jenjang indahnya. Kali ini Devita tidak mungkin memakai kebaya. Bukannya tidak ingin, tapi karena perut Devita yang sudah membuncit, sedangkan kebaya adalah pakaian yang sangat pas di tubuhnya.Itu akan membuat Devita merasa tidak nyaman. Sejak perutnya kian membuncit. Devita selalu memakai pakaian yang longgar di bagian perut.


Brayen yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, dia menatap istrinya yang tengah berias. Kemudian Brayen melangkah mendekat ke arah Devita dan memeluk istrinya dari belakang. Mengecupi ceruk leher istrinya yang terlihat begitu indah. Tangan Brayen mengusap perut Devita yang sudah membuncit itu.


Devita tersenyum, dia menarik tangan Brayen agar memeluknya lebih erat. Jika sebelumnya dia terkejut, jika ada yang memeluknya dari belakang. Kini, sudah tidak lagi. Karena tentu yang memeluk dirinya adalah suaminya.


"Kenapa kau itu cantik sekali, hm?" bisik Brayen di belakang telinga Devita, dia menggigit kecil daun telinga istrinya hingga membuat Devita memekik.


"B-Brayen, kita harus berangkat sekarang!"Devita berusaha untuk melepaskan pelukannya, namun Brayen semakin mengeratkan pelukannya.


"Sebentar sayang... aku masih ingin bersama denganmu. Menikmati keindahan istriku." bisik Brayen. Dia terus mengecupi ceruk leher Devita. Tubuh Devita meremang saat merasakan helaan nafas Brayen menyentuh kulit lehernya.


"Brayen, nanti aku terlambat akh-" perkataan Devita terpotong, ketika Brayen kembali menggigit kecil ceruk leher Devita.


Hingga kemudian Brayen membalikkan tubuh Devita menghadap dirinya. Dia mengelus lembut pipi istrinya. "Rasanya aku ingin mengurungmu di sini. Jika bukan karena ini hari kelulusanmu. Aku lebih menginginkan mengurungmu di kamar, sayang."


Devita mencebik. "Kau ini! Lebih baik kita berangkat sekarang. Aku tidak ingin terlambat. Olivia pasti sudah menungguku."


Brayen menangkup kedua pipi Devita, memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir istrinya itu. "Alright Mrs. Mahendra, kita berangkat sekarang."


Devita tersenyum, dia langsung memeluk lengan Brayen dan berjalan meninggalkan kamar menuju ke arah mobil.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.