
Devita terdiam, dia membiarkan Brayen mencium bibirnya sesuka hati suaminya itu. Sebelum akhirnya dia menjawab. "Aku tidak ingin melarang, setiap apa yang telah menjadi keputusanmu. Tapi sebagai seorang istri aku hanya ingin memberikan pendapatku. Aku mencintaimu Brayen, aku tidak ingin orang lain membencimu. Terutama adikmu sendiri. Aku tahu, apa yang kau lakukan karena kau terlalu menyayangi Laretta dan selalu ingin melindungi Laretta. Aku sangat tahu, semua itu kau lakukan karena kau ingin melakukan hal yang terbaik untuk adikmu. Kenyataannya, apa yang kau lakukan itu belum tentu sesuai dengan keinginannya."
"Banyak hal yang aku pelajari ketika takdir tidak pernah sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Dulu, aku tidak pernah berpikir akan menikah denganmu. Takdir membawa Laretta harus terjebak dengan seorang pria. Apa kau tidak menyadari? Pria itu memang sudah di takdirkan untuk Laretta. Sama sepertiku yang sudah di takdirkan untukmu."
"Aku mengerti, kau begitu membenci apa yang telah di lakukan oleh Alena. Apa yang telah di lakukan oleh Alena memang sungguh keterlaluan. Sangat pantas jika kau marah dengan Alena. Tapi aku mohon, jangan melibatkan Angkasa. Bukan aku membelanya, aku melakukan ini demi Laretta. Selama ini Angkasa sudah menunjukkan segala kesungguhannya pada Laretta. Dia telah menuruti setiap keinginanmu. Aku yakin, kau bisa melihat segala usaha Angkasa."
"Aku mengatakan ini padamu, karena aku ingin Laretta sama sepertiku. Selama aku hamil, aku ingin selalu berada di dekatmu Brayen. Aku menginginkan segala sentuhan dan kasih sayangmu. Aku tidak pernah bisa, kalau kau tidak mengusap perutku. Aku selalu ingin bermanja padamu. Aku juga ingin membagikan apa saja yang aku lakukan seharian ini. Hidupku begitu sempurna karena telah memilikimu Brayen."
"Dan aku tidak melihat itu dari Laretta. Meski Laretta memilikimu, tapi dia tidak merasakan apa yang aku rasakan Brayen. Segala keinginan Laretta, dia selalu pendam karena rasa takutnya padamu. Apa kau tidak ingin melihat adikmu, bersanding dengan seorang pria? Ya, aku paham kau membenci pria itu. Tapi pria yang kau benci itu adalah pria yang Laretta inginkan. Terlebih pria itu telah menunjukkan segala keseriusannya padamu."
"Brayen, jika kau berat melakukan ini untuk Laretta, bisakah kau melakukan ini untuk diriku? Aku mohon padamu, lakukan ini demi diriku. Jika kau berpikir aku membela Angkasa, jawabannya tidak. Aku hanya menginginkan kebahagiaan adik iparku. Aku menyayangi Laretta sama seperti aku menyayangi saudara perempuanku. Aku menginginkan yang terbaik di hidup Laretta. Aku mohon padamu Brayen....."
Devita mengatakannya dengan suara yang lembut dan tenang. Tatapannya menatap seksama pada Brayen. Dia mengelus rahang Brayen dan memberikan kecupan di sana. Devita sengaja mengatakan ini, dia tidak ingin membuat Laretta jadi membencinya. Devita tahu, apa yang di lakukan oleh Brayen untuk membahagiakan adiknya itu. Tapi, tidak semua apa yang kita pikirkan itu sesuai dengan apa yang orang lain harapkan. Devita tidak ingin melihat hubungan Brayen dan Laretta jadi meregang.
Brayen terdiam, dia tidak langsung menjawab. Dia membiarkan segala pemikiran istrinya, di tuangkan semua pada dirinya. Hingga kemudian Brayen mengeratkan pelukannya. Memberi banyak kecupan di puncak kepala Devita. Segala masalah, akan tenang jika bersama dengan Devita. Itu yang dia rasakan. Memeluk, mencium, dan merasakan sentuhan lembut dari istrinya dan membuat dirinya begitu jauh lebih baik.
"Aku tahu, apa yang kau cemaskan Devita. Mungkin di matamu dan juga Laretta aku bersikap kejam dan bukan orang yang mudah memaafkan. Tapi memang itu kenyataannya. Tujuanku melakukan ini demi adikku. Aku juga ingin menunjukkan pada Angkasa, dia tidak mudah mendapatkan adikku. Selama ini, aku menginginkan Laretta mendapatkan yang terbaik di hidupnya."
"Sejak kecil, aku selalu melindungi adikku.Aku akan menjadi orang yang pertama yang maju ke depan, ketika adikku mendapatkan masalah. Aku membenci dimana adikku di hina. Aku selalu berjanji untuk menjaga dan melindunginya dengan baik. Bahkan meskipun adikku tinggal di Australia ataupun di Korea, aku selalu meminta anak buahku untuk selalu mengawasi adikku. Tapi kenyataannya, aku sendiri yang telah gagal menjaganya hingga kejadian buruk menimpa adikku."
Brayen mengatakannya dengan tenang, namun tegas. Kemudian, dia menyentuh tangan Devita, membawanya mendekat ke bibirnya dan mengecup punggung tangan istrinya itu. Tatapannya tidak lepas menatap manik mata Devita. "Sekarang, apa kau bisa percaya padaku? Aku tahu apa yang aku lakukan. Aku sudah merencanakan semuanya demi Laretta. Untuk sekarang, biarkan semua membenciku atas sikapku ini. Aku hanya ingin menginginkanmu percaya dan tidak membenciku. Aku tidak peduli pada orang yang membenciku. Bagiku, melihatmu percaya dan tidak melihatku seperti orang lain melihatku, itu sudah lebih dari cukup. Aku hanya menginginkanmu percaya padaku Devita."
Devita mengulas senyuman hangat di wajahnya, kemudian dia mengelus lembut rahang Brayen. "Aku percaya padamu, aku yakin, kau telah melakukan hal yang terbaik untuk Laretta. Aku juga yakin, di balik ini kau telah menyusun rencana yang terbaik. Maafkan aku yang selalu meragukanmu. Aku tidak akan pernah memandangmu seperti orang lain menilai dirimu."
Devita memeluk leher Brayen, dia merapatkan tubuhnya pada tubuh Brayen. Tatapannya menatap lembut suaminya itu. "Aku mencintaimu."
Brayen tersenyum, dia menarik pelan dagu Devita, mencium dan ******* dengan lembut bibir istrinya itu. Tidak hanya diam, Devita memejamkan matanya dan membalas pagutan yang di berikan oleh suaminya.
...***...
Ke esokan hari, Devita sudah terbiasa untuk bangun lebih awal. Dia tidak ingin ketika bangun tidur, suaminya itu sudah tidak berada di sampingnya. Biasanya di malam hari, Devita selalu bertanya suaminya itu memilki meeting pagi atau tidak. Karena jika Brayen memilki meeting di pagi hari, Brayen akan berangkat jauh lebih awal.
Kini Devita tengah memilih pakaian yang akan di pakai oleh Brayen. Pilihannya jatuh pada jas berwarna navy dan dasi yang senada dengan warna jasnya.
Tidak lama kemudian, Brayen melangkah masuk kedalam walk in closet. Dia mendapati istrinya sudah menyiapkan pakaian untuknya. Dia langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian yang telah di siapkan oleh istrinya itu.
"Hari ini kau mau kemana?" tanya Brayen sambil memberikan kecupan di kening istrinya.
"Aku di rumah saja." jawab Devita.
"Aku sedikit pulang terlambat malam ini, kau tidurlah lebih awal." ucap Brayen.
"Apa hari ini kau banyak pekerjaan?" Devita mendongakkan wajahnya memberikan kecupan di rahang suaminya.
"Aku akan usahakan untuk pulang lebih awal." jawab Brayen. "Tapi jangan menungguku, kau tidurlah lebih awal."
Devita menggangguk. "Ya sudah, lebih baik kita sarapan."
Brayen menarik dagu Devita, mencium badan ******* dengan lembut bibir Istrinya itu. "Ya, kita sarapan sekarang."
Devita tersenyum, dia memeluk lengan Brayen dan berjalan meninggalkan kamar menuju ke arah ruang makan.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.