
Olivia berdecak kesal, ternyata dia mendapatkan pesan dari Felix. Tapi darimana Felix mendapatkan nomer ponselnya. Seingat Olivia dia tidak pernah mendapatkan nomer ponselnya dari Felix.
Olivia : Bagaimana bisa kau mendapatkan nomer ponselku?
Felix : Tempat tinggalmu di Kanada saja aku tahu, apalagi hanya untuk nomer ponselmu.
Olivia : Kau penguntit!
Felix : Pencinta Olivia, aku bukan penguntit.
Olivia : Kau gila Felix.
Felix : Ya, kau benar itu tapi itu karena mu jadi kau harus bertanggung jawab.
Olivia mendengus kesal, kenapa Felix yang kehilangan akal sehatnya dia yang harus bertanggung jawab? Memangnya apa yang telah di lakukan dirinya. Olivia tidak habis pikir
dengan penguntit satu ini.
Olivia : Memangnya kau hamil? Kenapa aku yang harus bertanggung jawab.
Felix : Aku mana mungkin hamil Olivia! Yang ada kau akan hamil anakku.
Olivia : Kau bermimpi! Sudah ku katakan. Aku tidak ingin masuk dalam permainanmu. Kau bisa mencari wanita dewasa yang ingin kau kencani.
Felix : Usiamu sudah 21 tahun, kau sudah dewasa Olivia. You are not a kids anymore!
Olivia : Tapi tetap saja, kau lebih cocok mencari wanita dewasa.
Felix : Tidak, aku tidak suka tua. Aku hanya suka kau. Aku harus kembali bekerja. Nanti sore aku akan menjemputmu.
Olivia mencebik kesal, ia memilih tidak membalas pesan Felix yang terakhir. Olivia menyimpan ponselnya kembali di dalam tas, lalu melihat ke arah arlojinya kini sudah pukul dua belas siang tapi Devita belum juga muncul.
Tidak lama kemudian, Devita berjalan keluar kelas. Olivia tersenyum lebar melihat Devita yang sudah berjalan ke arahnya. Akhirnya Devita datang juga. Karena sudah sejak tadi Olivia menunggu sahabatnya itu.
"Astaga Devita! Kenapa kau lama sekali. Aku ini sudah sangat lapar." keluh Olivia saat Devita sudah tiba di hadapannya.
Devita terkekeh " Kau menungguku lama, itu yang membuatmu lapar. Kenapa kau tidak makan duluan Olivia?"
"Aku tidak mungkin makan duluan. Kau saja selalu menungguku. Tidak mungkin aku meninggalkamu." dengus Olivia.
"Oke, baiklah kita makan sekarang. Aku juga sudah sangat lapar." ajak Devita. Olivia langsung memeluk lengan Devita lalu mereka berjalan meninggalkan kampus. Seperti biasa, mereka memilih restoran dekat dengan kampus.
Devita dan Olivia tiba di restaurant. Mereka mau memesan menu yang sama. Pasta dan Salmon, serta dessert mereka memilih tiramisu cake dan juga cheese cake. Devita dan Olivia memang sama - sama menyukai cake.
"Jadi, kenapa tadi pagi aku tidak melihatmu, Devita? Apa kau terlambat hari ini?" tanya Olivia, tadi pagi memang saat Olivia tiba lebih dulu. Tapi dia tidak melihat Devita.
"Ya, aku kesiangan pagi ini. Tadi malam aku terlalu lelah," jawab Devita.
Olivia memincingkan matanya " Tadi malam kau lelah? Memang apa yang kau lakukan?"
"CK! Singkirkan pikiran kotormu itu, Olivia!" Tukas Devita.
Olivia terkekeh geli. "Memang apa yang aku pikirkan? Aku tidak memikirkan apapun."
"Sekarang, kau ceritakan kepadaku, kenapa kau datang ke kampus terlambat? Biasanya kau selalu datang pagi. Ya, memang kau pergi terlambat tapi tidak separah hari ini." ujar Olivia.
Devita mendesah pelan. "Tadi malam Elena hampir mencelakaiku. Ternyata Ruby, asistenku adalah sepupu Elena. Mereka bekerja sama untuk mencelakaiku." jelas Devita.
"Apa? Mereka berdua bekerja sama untuk mencelakaimu? Dimana dia sekarang Devita! Aku akan mencekik mereka berdua!" Seru Olivia dengan penuh emosi.
"Aku tidak apa - apa, Olivia. Brayen sudah mengurusnya. Mereka berdua sudah mendapatkan pelajaran dari apa yang telah mereka lakukan." balas Devita.
"Aku sudah mengatakan padamu, Devita. Mantan kekasih Brayen itu, wanita yang sudah kehilangan akal sehatnya. Sungguh menjijikkan." tukas Olivia.
"Ya, lupakanlah. Mereka berdua juga sudah mendapatkan balasannya. Lagi pula, sejak awal aku juga tidak menginginkan seorang asistent. Aku ini masih kuliah. Brayen saja yang berlebihan." kata Devita dengan kesal. Ia memang tidak pernah membutuhkan asisten. Tapi suaminya itu selalu saja memaksa dirinya
"Tidak menolak? Tapi kau selalu menolak Felix." ucap Devita yang sengaja meledek sahabatnya itu.
Olivia mendengus tak suka. " Aku bukannya menolak. Tapi, aku rasa aku ini tidak cocok untuknya. Dia bisa mencari wanita dewasa. Kau tahu, sejak dulu sampai sekarang duniaku masih bermain dengan games. Aku tidak ingin dia nanti mengeluh karena memiliki kekasih yang seperti anak kecil. Itu kenapa aku membiarkannya memilih wanita yang lebih dewasa"
"Aku rasa kau sudah gila Olivia. Bagaimana cara berpikirmu sependek itu? Memangnya kau hidup hanya bermain games saja? Kau ini sudah 21 tahun. Itu bukan lagi usia anak kecil Olivia. Kau bukan gadis berusia 17 tahun." seru Devita.
"Sudahlah Devita, kau tahu, aku memang belum berniat memiliki kekasih." balas Olivia yang enggan untuk berdebat dengan sahabatnya itu. Ia memang belum menginginkan kekasih saat ini.
"Olivia aku mengingatkan padamu, seseorang akan menunggumu but everyone has limits! Felix masih berusia 25 tahun. Bahkan suamiku jauh lebih dewasa dari Felix. Felix tampan dan juga mapan. Kau tahu, bersama dengan Felix kau bisa memiliki masa depan yang baik. Tapi dia juga memiliki batasan untuk menunggu Olivia. Jika memang kau benar - benar tidak menyukainya lebih baik kau menolaknya dengan tegas." ujar Devita.
"Ingat Olivia, ketika kau sudah menolak jangan menyesal jika di masa depan kau menyadari Felix adalah yang terbaik untukmu. Aku tidak ingin kau salah dalam mengambil sebuah keputusan. Kau harus ingat, ketika kau sudah memilih untuk menolak maka kau tidak bisa lagi berbalik." lanjut Devita. Ia sengaja memberikan peringatan pada Olivia. Setidaknya itu bisa membuatnya sadar.
Olivia terdiam, dia tidak bergeming mendengar semua ucapan Devita. Hatinya sendiri bingung dengan apa yang dia rasakan. Felix memang sangat tampan dan juga mapan. Pria yang selama ini Olivia impikan, tapi entah kenapa Olivia merasa dirinya tidak pantas untuk Felix.
"Aku tidak tahu, Devita." balas Olivia singkat.
"Jika kau tidak tahu, maka bukalah hatimu. Mulailah mengenal Felix dan pastikan perasaanmu. Aku hanya tidak ingin kau menyesal Olivia. Karena jika kau sudah salah mengambil keputusan kau tidak bisa berbalik lagi pada orang yang telah kau tinggalkan." jelas Devita.
"Aku mengerti, dan aku akan memikirkannya." jawab Olivia.
...***...
Devita memarkirkan mobilnya kedalam mansion. Hari ini dia pulang lebih cepat karena tadi, Olivia sudah di jemput oleh Felix. Ia tidak mungkin menganggu Olivia dan Felix. Devita ingin memberikan ruang bagi Olivia agar bisa lebih mengenal dekat dengan Felix.
Devita melangkah masuk kedalam rumah, ia langsung menuju ke studio lukis Laretta. Tadi sebelumnya Laretta sudah mengirimkan pesan padanya jika ia sudah berada di rumah.
"Laretta," panggil Devita, ia melangkah masuk kedalam studio lukis.
Laretta menoleh dan tersenyum. " Kau sudah pulang dari kampus, Devita?"
"Ya, aku sudah pulang. Kau sedang melukis apa?" Devita mendekat dan duduk di samping Laretta.
"Coba tebak, aku sedang melukis apa?" ucap Laretta.
Devita menatap lukisan Laretta. " Ah, kau sedang melukis kota Venice." jawab Devita.
"Kau benar. Aku sudah lama sekali tidak mendatangi kota yang indah itu." ujar Laretta.
"Hem, bagaimana saat kau berbulan madu dengan Angkasa, kau mendatangi kota Venice?" tawar Devita
Laretta mendesah pelan "Apa Angkasa berhasil di persyaratan yang kedua? Waktunya tinggal sedikit lagi Devita, belakangan ini perasaanku selalu tidak enak."
"Kau tenang saja, Angkasa pasti akan lolos persyaratan yang kedua dari Brayen. Aku yakin itu" balas Devita.
"Semoga demikian. aku juga berharap seperti itu." ucap Laretta.
"Tenanglah, aku yakin pasti Angkasa bisa menanganinya. Sekarang katakan padaku, bagaimana kabar keponakanku? Apa dia sehat?" tanya Devita
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.