
"Brayen? kau darimana saja? Apa kau ini lupa sudah memiliki istri? Kenapa pekerjaanmu itu selalu menjadi yang nomor satu?" gerutu Devita.
Brayen mengulum senyumannya dari balik telepon. "Maaf sayang, aku baru bisa menghubungimu sekarang. Kemarin banyak hal yang harus aku selesaikan."
Devita mendengus tak suka. "Apa sulit menghubungiku hanya dalam waktu lima menit? Atau paling tidak, kau kirimkan pesan untukku!"
"Aku sengaja tidak menghubungimu, karena aku sedang fokus menyelesaikan pekerjaanku di sini. Maaf sayang, aku berjanji akan pulang lebih awal."
Devita menghela nafas dalam. "Lalu bagaimana dengan perusahaan milikmu? Semuanya baik - baik saja kan?"
"Perusahaanku baik - baik saja. Aku sudah menyelesaikannya. Kau jangan khawatir, semuanya sudah aku tangani."
"Kau sedang tidak membohongiku, kan? Lalu bagaimana dengan perusahaan milik Felix?"
"Perusahaan milik Felix juga baik - baik saja. Aku tidak ingin kau memikirkan hal yang berat, Devita."
"Aku tidak apa-apa, Brayen. Aku hanya mencemaskan mu karena terlalu banyak pekerjaan di sana."
"Tidak perlu mencemaskanku. Ini semua sudah menjadi tanggung jawabku. Aku melakukan ini semua karena dirimu dan juga anak kita."
"Kau ini, selalu saja mengatakan demi diriku dan juga anak kita!" Devita mencibir kesal. "Tidak semua hal bisa di nilai dengan materi Brayen. Aku dan anak - anak kita juga membutuhkan waktumu!"
"Maaf sayang, setelah ini aku akan berusaha untuk lebih banyak meluangkan waktu untukmu dan juga anak - anak kita."
Devita mendesah pelan. "Cepatlah pulang Brayen, aku merindukanmu. Aku tidak bisa jika harus di tinggal lama olehmu."
"Aku berjanji akan pulang lebih awal, sayang. Nanti, aku akan menghubungimu lagi. Kau jangan lupa untuk minum vitaminmu dan jangan memikirkan hal yang berat."
"Baiklah, tapi cepatlah pulang. Aku sangat merindukanmu."
"Aku juga merindukan mu."
Panggilan terputus, Devita meletakkan kembali ponselnya yang ada di atas nakas. Kini hatinya jauh lebih tenang. Brayen sudah menghubunginya, paling tidak mendengar suara suaminya bisa membantu Devita sedikit mengusir perasaan rindu pada suaminya itu.
...***...
Devita keluar dari pintu lift langkah Devita terhenti ketika melihat Angkasa sedang berada di rumahnya. Angkasa tersenyum ketika melihat Devita.
"Angkasa? Kau di sini?" sapa Devita yang kini sudah berhadapan dengan Angkasa.
"Ya, aku datang ingin bertemu dengan Laretta. Tapi tadi aku lihat, Laretta sedang menerima telepon. Mungkin, aku akan menunggunya di taman." ujar Angkasa.
"Angkasa, bisa kita bicara sebentar?" tanya Devita.
Angkasa tersenyum. "Kau temanku, Devita. Tidak mungkin, aku tidak mau bicara denganmu. Kau ingin kita bicara dimana?"
"Di taman saja, lebih baik kita bicara di sana." balas Devita. Angkasa mengangguk setuju.
Kemudian, Angkasa dan juga Devita berjalan menuju ke arah taman. Namun, sebelum itu Devita meminta pelayan untuk membawakan dua orange juice dan cake.
Saat sudah tiba di taman, Devita dan Angkasa duduk sembari menikmati hembusan angin sore yang menyejukkan kulit. Pelayan datang membawakan minuman yang di pesan oleh Devita tadi.
"Bagaimana kabarmu, Devita?" tanya Angkasa ketika pelayan sudah pergi dari hadapan Angkasa dan Devita.
"Aku baik Angkasa," jawab Devita. "Bagaimana denganmu?"
"Aku juga baik," balas Angkasa. "Orang tuaku, menitipkan salam untukmu Devita. Sudah lama mereka tidak melihatmu."
Devita tersenyum, kemudian dia mengambil dua gelas berisikan orange juice. Lalu memberikan satu gelas di tangannya pada Angkasa.
"Terima kasih," ucap Angkasa. Saat menerima gelas yang berisikan orange juice itu.
"Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan orang tuamu. Aku yakin, Ibumu pasti bertambah cantik."
"Ya, harus akui itu benar. Dia usianya yang semakin bertambah ibuku menunjukkan kecantikannya."
"Bibi Citra memang sejak dulu sangat cantik." puji Devita.
"Sama seperti ibumu, Devita. Bibi Nadia adalah wanita Asia yang sangat cantik." balas Angkasa. Devita tersenyum.
"Hem, Angkasa. Ada hal penting yang ingin aku katakan padamu," ujar Devita.
"Ini tentang Alena," jawab Devita.
"Alena?" Angkasa menatap lekat wajah Devita. "Kenapa dengan Alena? Apa dia membuat suatu masalah denganmu?"
Devita menggeleng pelan. "Bukan denganku, tapi lebih tepatnya Alena memiliki masalah dengan Laretta. Masalah yang di timbulkan oleh Alena sendiri. Kemarin aku bertemu dengan Alena. Kami makan siang bersama. Aku sengaja bertemu dengan Alena, karena aku dengar Alena tidak menyambut Laretta dengan baik. Dan ini akan menjadi tugasmu yang cukup berat Angkasa. Adikmu itu begitu keras kepala. Alena menganggap aku memilih Brayen karena Brayen lebih kaya darimu."
"Alena juga banyak menilai Laretta dengan sudut pandang yang buruk. Padahal aku sangat tahu, seperti apa Laretta. Karena aku melihat dengan jelas dari cara Alena berbicara denganku dia terlihat begitu tidak menyukai Laretta. Aku sudah berusaha untuk menjelaskan dengan kenyataan yang sebenarnya. Aku juga mengatakan jika memang takdir tidak mempersatukan aku dan dirimu."
"Tapi Alena masih tidak mau mendengar itu Angkasa. Jujur aku kecewa dengan Alena yang menilai buruk Laretta hanya karena Laretta hamil di luar nikah. Karena ini adalah kesalahanmu dan juga kesalahan Laretta. Kalian melakukan kesalahan ini bersama dan sebenarnya, aku percaya ini semua terjadi karena takdir yang mempertemukan dirimu dengan Laretta."
Angkasa membuang napas kasar. "Biar aku yang mengurus Alena. Maafkan aku Devita, kau harus terlibat dengan masalahku ini. Aku berjanji tidak akan merepotkanmu."
"Aku temanmu, Angkasa. Tidak malasah bagiku, aku berharap Alena bisa menerima Laretta," ujar Devita.
"Aku pastikan, Alena akan menerima Laretta." balas Angkasa. "Aku harus pergi sekarang, Devita. Aku tidak ingin menunda lagi."
"Kau ingin pergi? Bukannya kau ingin bertemu dengan Laretta?" Devita menautkan alisnya.
"Aku akan menemuinya nanti, setelah masalahku selesai." jawab Angkasa yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Hati - hati, Angkasa." balas Devita.
Angkasa mengangguk singkat, lalu berjalan meninggalkan Devita. Namun, langkah Angkasa berhenti ketika melihat Laretta berjalan menghampirinya.
"Angkasa? Kau mau kemana?" tanya Laretta yang kini sudah berdiri di hadapan Angkasa.
"Ada masalah di perusahaan. Aku harus segera menyelesaikannya." jawab Angkasa sambil mengelus lembut pipi Laretta. "Aku akan datang kesini lagi nanti."
"Hati - hati, kabari aku jika terjadi sesuatu." ucap Laretta. Angkasa hanya tersenyum dan mengecup kening Laretta. Kemudian Angkasa melanjutkan langkahnya menuju ke arah mobilnya.
Sedangkan Laretta yang melihat Angkasa sudah pergi dia lebih memilih untuk berjalan menghampiri Devita yang tengah duduk di taman.
...***...
Angkasa turun dari mobil, dia membanting kasar pintu mobil. Wajah Angkasa terlihat begitu marah, dia masih mengingat semua perkataan Devita. Angkasa berjalan masuk ke dalam rumah. Bahkan saat masuk kedalam rumah, Angkasa tidak membalas sapaan dari para pelayan yang menyambut dirinya. Angkasa terus melangkah menuju ke arah ruang keluarga.
"Alena!" Suara Angkasa berteriak begitu keras. Hingga membuat semua orang yang ada di ruang keluarga terkejut, ketika melihat Angkasa masuk ke dalam ruang keluarga.
"Angkasa ada apa? Kenapa kau berteriak seperti ini?" Citra beranjak dari tempat duduknya, dia melangkah mendekat ke arah putranya.
Angkasa tidak menjawab, tatapannya menatap tajam ke arah Alena yang masih tidak jauh darinya.
"Kak, kenapa kau berteriak dan memanggilku seperti itu?" seru Alena kesal. Dia paling tidak suka jika di panggil keras seperti ini.
"Kau masih bertanya kenapa setelah ulah yang kau berbuat Alena? Sejak kapan kau memandang seseorang dari sudut pandangmu yang buruk itu?" Angkasa melayangkan tatapan dingin pada Alena yang kini berdiri di hadapannya. "Bisa kau jelaskan kenapa kau memandang buruk calon Kakak Iparmu itu."
"Ada apa ini Angkasa?" Varell mengerutkan keningnya, menatap bingung pada putranya.
Seketika wajah Alena berubah menjadi pucat. Seumur hidup, Alena belum pernah melihat raut wajah marah Angkasa. Dan ini pertama kalinya Kakaknya menatap dirinya penuh dengan amarah.
"A- Apa maksudnya, Kak?" Alena memberanikan diri untuk mendongakkan wajahnya dan membalas tatapan Angkasa.
"Kau masih bertanya apa maksudku? Sepertinya kau bukan orang yang berpura-pura tidak mengerti," balas Angkasa dingin. "Kau tidak menyukai Laretta dan memandang Laretta buruk hanya karena Laretta hamil? Begitu Alena? Bahkan kau belum bisa menilai seseorang dengan baik! Kenapa bisa kau mengatakan hal yang buruk tentang Laretta!"
"Jadi Devita mengadukan semuanya kepada Kakak?" raut wajah Alena berubah, terlihat menunjukkan kemarahan dan kekecewaan.
...***********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.