
Pagi hari Devita dan Brayen sudah bersiap. Devita kini tengah membantu Brayen untuk memasangkan dasi. Seperti biasa, Devita selalu menyiapkan pakaian yang akan di pakai oleh Brayen di kantor. Tubuh Brayen sudah terbalut jas berwarna navy yang Devita pilihkan untuknya. Arloji rolex penyempurna penampilan Brayen. Devita memang cerdas dalam memilih pakaian untuk suaminya itu.
Sedangkan, Devita hari ini memilih mini leather skirt dengan atasan yang berwarna putih dan di padukan dengan leather jaket. Devita memoles make up tipis di wajahnya. Ia juga membiarkan rambut pirangnya tergerai dengan indah.
"Brayen, ayo kita breakfast. Aku sudah lapar " ucap Devita.
"Ya, kita ke bawah sekarang." jawab Brayen sambil memeluk pinggang Istrinya.
Kemudian mereka berjalan meninggalkan kamar, menuju ruang makan. Semenjak Laretta tinggal di mansion mereka, Brayen sudah tidak meminta lagi breakfast di kamar. Brayen dan Devita selalu breakfast di ruang makan bersama dengan Laretta.
"Morning," sapa Laretta saat melihat Brayen dan Devita melangkah masuk ke ruang makan.
"Morning Laretta," sayap Devita ia duduk tepat di samping Brayen.
Pelayan kini mengantarkan dua sandwich untuk Laretta dan juga Devita. Lalu kopi dan roti gandum untuk Brayen.
"Kak, aku ingin bicara denganmu?" ucap Laretta yang menatap Brayen sedang meminum kopi.
"Ada apa?" tanya Brayen.
"Apa persyaratan yang kedua yang kau berikan pada Angkasa?" tanya Laretta menatap lekat Brayen.
"Syarat yang tepat untuk masa depanmu," jawab Brayen dingin.
Laretta membuang napas kasar. "Tepat bagaimana Kak. Apa semua orang itu harus hebat sepertimu? Bagaimana jika Angkasa gagal?"
"Jika dia gagal, dia bukan pria yang pantas untukmu." balas Brayen.
"Tunggu Brayen, persyaratan apalagi yang kau minta pada Angkasa?" tanya Devita menatap lekat Brayen.
"Kakakku yang hebat ini, meminta Angkasa untuk mengembangkan perusahaannya jauh lebih besar. Dan hanya memberikan waktu sampai akhir bulan ini. Kau bisa pikir Devita, bagaimana dalam waktu singkat bisa membuat perusahaan berkembang pesat. That is impossible!" Tukas Laretta kesal.
"Kau mengajukan syarat ini Brayen?" suara Devita bertanya terdengar begitu dingin.
"Ya, aku harus memang melakukan itu," jawab Brayen singkat
"Kau gila Brayen! Bagaimana bisa Angkasa melakukan itu dalam waktu yang singkat. Tidak semua orang seperti dirimu, Brayen Adams Mahendra!" Seru Devita.
"Aku hanya ingin melihat kemampuan pria itu. Sebatas mana dia mampu mengelola perusahaannya. Aku ingin melihat dalam waktu yang singkat, tindakan apa yang dia ambil. Kalian tidak mengerti tujuanku melakukan ini. Karena yang aku lakukan, untuk melihat bagaimana sikap pria itu ketika di hadapan waktu yang sangat singkat. Ini bukan karena hanya masalah kekuasaan, tapi masalah karakter yang di miliki oleh seorang Angkasa Nakamura." jelas Brayen dengan nada penuh penekanan.
"Dan kau Laretta kau tidak bisa menolak apa yang sudah menjadi keputusanku. Saat ini, aku yang mengatur semuanya. Kau ingat, kau tidak bisa melawanku. Jadi jangan membantah, karena semua yang aku lakukan itu demi masa depanmu. Aku tidak ingin kau ini salah memilih seorang pria. Aku memiliki tujuan sendiri. Dan persyaratan keduaku. Ini bukan hanya tentang kekuasaan. Aku juga tidak ingin, ketika kau bersamanya, kau merasakan hidup susah," kata Brayen tegas.
"Terkadang, aku tidak hanya melihat semuanya dari kekuasaan. Aku menilai pria yang ingin melamarmu itu, dari cara dia mengambil sebuah keputusan. Bagaimana dia bisa menangani sebuah masalah di waktu yang singkat. Aku ingin pria yang hebat, bisa berada di sampingmu. Jadi, kau jangan pernah membantah perkataanku," Brayen beranjak dari kursinya dan langsung meninggalkan ruang makan.
Devita mendesah pelan, Brayen langsung berangkat tanpa berpamitan pada Devita. Devita melihat ke arah Laretta yang wajahnya kini terlihat begitu muram. Devita beranjak dari tempat duduknya dan pindah tepat di samping Laretta.
"Laretta, aku harap kau tidak marah dengan Brayen." kata Devita yang menenangkan Laretta.
"Aku bukannya marah pada Kakakku, aku hanya kasihan pada Angkasa yang mendapatkan setiap syarat dari Brayen." ujar Laretta.
"Laretta, aku yakin Brayen melakukan ini bukan hanya menginginkan Angkasa untuk memiliki kekuasaan yang hebat. Tapi dia pasti memiliki tujuan yang lain dan itu yang terbaik untukmu," jelas Devita.
"Laretta, Brayen adalah suamiku. Aku juga memahami sifatnya. Aku memang tidak mengerti apa tujuannya. Tapi mungkin Brayen tahu, perusahaan Angkasa dulu pernah hampir bangkrut. Dan itu mungkin salah satu alasan kenapa Brayen meminta syarat ini, untuk Angkasa," jelas Devita.
"Ya, aku juga tidak mengerti dengan alasan Kakakku itu. Dan kau benar, Devita aku rasa ini memang bukan hanya sekedar kekuasaan. Semoga Angkasa bisa menangani ini." balas Laretta.
"Aku yakin, Angkasa pasti bisa menangani ini Laretta. Kau tenang saja. Sebagai teman kecil Angkasa, aku percaya dia pasti bisa memenuhi persyaratan dari Brayen," ujar Devita.
"Aku harap juga begitu Devita." ucap Laretta.
"Ya sudah, aku harus berangkat ke kampus. Nanti aku akan pulang cepat dan akan menemanimu melukis seperti kemarin," kata Devita.
Laretta terseyum, "Terima kasih, kau selalu menemaniku, aku jadi tidak merasa kesepian."
"Ya, aku berangkat dulu sampai bertemu nanti." pamit Devita.
Laretta mengangguk, "Hati - hati Devita."
Devita beranjak dari tempat duduknya, dia mengambil tas dan kunci mobilnya. Lalu ia berjalan meninggalkan ruang makan.
Saat Devita ingin masuk kedalam mobil langkahnya terhenti ketika ada yang menyapa dirinya.
"Nyonya," sapa Ruby kembali, saat Devita masuk ke dalam mobil.
"Ruby? Kau kenapa di sini?" tanya Devita.
"Maaf Nyonya. Apa Nyonya ingin saya temani ke kampus?" tawar Ruby.
"Tidak Ruby, aku tidak suka jika harus di ikuti. Aku akan membawamu, jika aku berbelanja. Sekarang, aku hanya ingin ke kampus. Lagi pula aku tidak akan lama di kampus." ujar Devita.
"Baik Nyonya." jawab Ruby.
"Ruby, lebih baik kau temani Laretta. Dia selalu merasa kesepian. Aku berangkat dulu." kata Devita.
Ruby menunduk, " Baik Nyonya, saya akan menemani Nona Laretta. Hati - hati di jalan Nyonya."
"Ya terima kasih," Devita masuk kedalam mobil. Kini mobil sportnya sudah berjalan meninggalkan mansion.
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.