
"Hmmmmptt.." Laretta berusaha memberontak, dia ingin berteriak tapi tidak bisa.
"Ssst, Laretta ini aku Angkasa." Ucap Angkasa pelan, Angkasa kemudian melepas tangannya yang tadi membekap Laretta, dia langsung memutar tubuh Laretta, agar wanita itu melihat dirinya.
"Astaga Angkasa, kau membuatku jantungan saja! Bagaimana kau bisa ada di sini? Jika Kakakku melihatmu, maka sudah pasti kau akan mati di tangannya!" Seru Laretta. Dia sungguh tidak percaya, jika Angkasa akan berani datang ke kamarnya.
Angkasa menarik tangan Laretta dan mengajak wanita itu duduk di sofa. " Tenang, aku sudah mengunci kamarmu, Laretta. Apa di kamarmu ada CCTV?" tanyanya seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Laretta.
Laretta mendesah pelan, " Tidak ada CCTV di kamarku, tapi di depan kamarku ada CCTV dan tadi di depan balkon juga ada CCTV. Kau masuk darimana? Aku yakin, kau pasti sudah terlacak oleh CCTV di rumah Kakakku."
"Aku tadi menerobos masuk, anak buahku sedang berada di bawah. Mereka akan menghapus CCTV yang merekam diriku berada di sini," ujar Angkasa meyakinkan.
"Kau gila, Angkasa! Bagaimana caramu menerobos masuk? Penjagaan di mansion ini begitu ketat. Puluhan anak buah Kakakku selalu berkeliling, mereka pasti akan menangkapmu dan anak buahmu!" Laretta tidak habis pikir dengan apa yang di pikirkan oleh Angkasa ini. Kenapa dia begitu berani menerobos masuk mansion Kakaknya.
"Aku hanya memiliki waktu dua puluh menit, kau tenang saja aku sudah mengaturnya dengan baik. Aku pastikan Kakakmu itu, tidak akan tahu, aku datang kerumahnya." balas Angkasa.
Laretta menggeleng tak percaya, dengan apa yang telah di lakukan oleh Angkasa. "Baiklah, sekarang katakan padaku. Kenapa kau kesini?" tanyanya penasaran.
"Aku ingin melihatmu dan menanyakan kandunganmu?" kini Laretta menatap lekat manik mata Angkasa.
Laretta mendesah pelan. "Kau bisa menghubungiku Angkasa, tidak perlu datang kesini. Aku tidak ingin Kakakku melihatmu, dan jika itu terjadi pasti-"
Ucapan Laretta terpotong, kala Angkasa menempelkan telunjuknya di bibir wanita itu, "Ssst, aku memang harus melakukan ini. Kakakmu terlalu keras kepala Laretta. Tidak ada cara lain selain melakukan ini."
Laretta mengangguk paham. " Baiklah, lalu apa rencanamu, Angkasa? Kau tahu, Kakakku memang seperti itu," ucapnya dengan nada yang begitu putus asa.
"Kau tidak perlu khawatir, Kakakmu pasti akan mengizinkan kita menikah," tukas Angkasa meyakinkan.
"Kenapa kau begitu yakin? Kakakku sangat keras kepala. Aku sangat mengenal bagaimana sifatnya," jawab Laretta dengan helaan nafas berat.
Kemudian Angkasa membawa tangannya, menyentuh tangan Laretta. " Percayalah padaku, tidak akan lama lagi, aku pastikan dia akan mengizinkan kita untuk menikah. Weekend ini, aku akan datang kesini lagi. Aku akan datang menemui Kakakmu."
"Weekend ini kau akan kesini? Apa kau yakin?" tanya Laretta, dia bukannya tidak percaya, hanya saja dia tidak ingin Angkasa harus di hajar oleh Kakaknya.
Angkasa pun mengangguk, " Ya, aku akan kesini. Aku akan bicara dengannya. Kau percayakan semuanya padaku. Aku pasti bisa mengatasi Kakakmu."
Laretta mendesah pelan, " Kalau begitu kau harus menyiapkan dirimu, Angkasa."
Angkasa tersenyum. "Ya, aku pastikan. Aku akan mempersiapkan diriku saat bertemu dengannya nanti."
"Laretta, aku harus pergi sekarang. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu darimu?" pinta Angkasa dengan tatapan yang tak lepas menatap Laretta.
Laretta mengerutkan keningnya. " Apa yang kau minta dariku?"
"Bolehkah aku mengelus perutmu dan menciumnya?" tanya Angkasa hati - hati.
Senyum di bibir Laretta terukir, kala mendengar permintaan Angkasa. Kemudian dia menjawab. " Ya, tentu saja boleh. Dia ini anakmu, dia pasti sangat menginginkan sentuhan Ayahnya juga,"
Angkasa tersenyum, dia langsung bersimpuh di depan Laretta. Mengusap dengan lembut perut Laretta dan mengecupi dengan lembut perut Laretta. Ada perasaan aneh di dirinya, saat mengecupi perut Laretta. Perasaan bahagia karena dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah. Meski berawal dari sebuah kecelakaan, tapi bagi Angkasa anaknya hadir karena dirinya juga menginginkannya.
"Laretta, aku pergi. Jaga dirimu dan kandunganmu baik - baik," pamit Angkasa.
Laretta mengangguk, " Ya, kau juga harus hati - hati. Pastikan anak buah Kakakku tidak melihatmu."
Kemudian Angkasa melangkah mendekat meninggalkan kamar Laretta. Sedangkan, Laretta, dia terus menatap punggung Angkasa, hingga menghilang dari pandangannya. Ternyata Angkasa benar - benar pria yang sangat bertanggung jawab. Setidaknya, kini Laretta semakin yakin. Dirinya tidak akan menikah dengan pria yang salah.
...***...
Kini Devita sedang duduk di taman kampusnya. Dia duduk bersantai sambil menunggu mata kuliahnya. Pagi ini, dia tidak bersama dengan Olivia, karena sahabatnya itu harus mengulang mata kuliah, itu kenapa Devita duduk menyendiri di taman.
Saat Devita tengah membaca novel, terdengar suara dering ponsel miliknya. Devita langsung mengalihkan pandangannya, dia meletakkan novel di tangannya, lalu mengambil ponselnya di dalam tas. Tatapan Devita terlalih pada layar ponselnya. Dia mendesah pelan saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya adalah Angkasa. Devita menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari Angkasa, sebelum kemudian meletakkan di telinganya.
"Hallo, Angkasa?" sapa Devita. Saat panggilannya terhubung.
"Devita, apa aku menganggumu?" tanya Angkasa dari sebrang telepon.
"Tidak, aku masih bersantai. Aku belum masuk ke kelas. Ada apa Angkasa?"
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukmu, Devita. Maaf, aku baru mengucapkannya sekarang. Aku tidak ingin mengucapkannya tepat di hari ulang tahunmu, dan membuat suamimu salah paham."
Devita tersenyum. " Terima kasih, kau sudah mengingat ulang tahunku, Angkasa."
"Aku tidak mungkin melupakan hari ulang tahunmu, Devita. Sekarang, kau sudah bahagia dengan suamimu. Aku sangat senang melihatmu sudah bahagia, Devita."
"Aku juga berdoa, agar dirimu bahagia dengan Laretta,"
"Itu yang sedang aku perjuangkan. Aku tidak akan pernah menyerah, meski suamimu berusaha menghalangiku."
Devita terkekeh, " Sepertinya, kau sudah sangat mencintainya Laretta,"
"Lebih tepatnya, aku memilih untuk menerima takdirku. Aku belajar untuk mencintainya. Laretta adalah Ibu dari anakku, aku tidak ingin anakku tahu bahwa aku tidak mencintai Ibunya. Itu adalah alasan kenapa aku belajar mencintai Laretta."
Devita tersenyum. "Aku senang mendengarnya, aku selalu berdoa yang terbaik untukmu,"
"Terima kasih, aku juga demikian. Aku juga selalu mendoakan yang terbaik untukmu."
"Baiklah Devita, aku harus tutup dulu. Terima kasih sudah menjawab telepon dariku.
"Aku juga sangat berterima kasih, karena kau masih mengingat ulang tahunku,"
Panggilan tertutup, Devita kembali menyimpan ponselnya di dalam tas. Devita tersenyum, saat mengingat perkataan Angkasa. Devita sangat senang ketika mendengar bahwa Angkasa akan mulai belajar mencintai, Laretta. Setidaknya Devita tahu, bersama dengan Angkasa, adik iparnya itu akan hidup bahagia.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.