
Beberapa hari kemudian....
kesehatan Devita kini sudah lebih pulih. Pagi ini, Devita sudah bersiap - siap untuk menuju kampus. Rasanya sudah lama sekali, Devita tidak datang ke kampus. Dia sangat merindukan suasana kampus. Devita menatap cermin, memoles make up tipis di wajahnya. Sejak hamil, Devita sudah tidak lagi memakai heels. Setiap hari, Devita selalu memakai flat shoes. Jika Devita berani memakai heels, sudah pasti suaminya itu akan marah padanya.
Devita melangkah keluar dari walk in closet, dia menatap Brayen yang sudah rapih dengan pakaian kantor. Devita berjalan mendekat ke arah Brayen, dan langsung membantu merapihkan dasi Brayen yang tadi terlihat sedikit berantakan.
"Hari ini aku akan pulang terlambat, kau tidurlah duluan." Brayen menangkup pipi Devita, kemudian mengecup bibir Istrinya itu.
"Kenapa kau selalu pulang terlambat, Brayen!" Devita mengerutkan bibirnya. Dia tidak suka jika harus tidur tanpa suaminya.
"Sebelumnya pekerjaanku sudah di tangani oleh Albert. Perusahaanku masih memiliki banyak kerja sama dengan perusahaan asing. Aku akan usahakan untuk pulang lebih awal." Brayen mengecup kening Devita dan membawa istrinya masuk kedalam pelukannya. "Lebih baik kita breakfast, aku tidak ingin kau terlambat makan."
Devita mengagguk pelan, dia langsung memeluk lengan Brayen berjalan meninggalkan kamar menuju ruang makan. Meski Devita sebenarnya begitu enggan membiarkan Brayen pulang larut malam, tapi Devita tidak memiliki pilihan lain. Devita harus mengerti karena memang perusahaan sudah menjadi tanggung jawab dari suaminya itu.
"Morning," sapa Laretta saat melihat Devita dan juga Brayen melangkah menuju ke ruang makan.
"Morning," balas Laretta. Dia langsung duduk di samping Brayen. Tidak lama kemudian pelayan mengantarkan sandwich dan susu kacang untuk Devita.
"Devita, sebentar lagi kau lulus bukan?" tanya Laretta sembari menikmati sarapannya.
"Ya," jawab Devita. "Semua penelitian tentang beberapa perusahaan di kota B sudah selesai. Hari ini, aku hanya bertemu dengan dosen, untuk membahas sedikit tentang penelitianku."
"Aku senang mendengarnya. Sekarang apa rencanamu? Apa kau akan tetap memimpin perusahaan keluargamu?" Laretta menatap lekat Devita yang duduk di hadapannya.
"Tidak," Brayen sudah lebih dulu menjawab. "Selama Devita hamil, dia tidak boleh bekerja. Smith Company aku yang akan menanganinya."
"Brayen, kau serius aku hanya di rumah saja? Devita mengerutkan keningnya, menatap suaminya tidak percaya. "Aku akan bosan, jika hanya di rumah Brayen."
"Kau bisa berbelanja atau pergi ke mall untuk menghilangkan rasa bosanmu. Sementara selama kau hamil, kau tidak bisa mengambil alih perusahaan keluargamu. Aku yang akan mengurusnya." balas Brayen.
Devita berdecak kesal. "Kalau begitu, kau akan semakin sibuk Brayen! Kau harus mengurus perusahaan keluargamu. Sekarang kau harus membantuku mengurus perusahaan keluargaku. Itu sama saja kau tidak akan memiliki banyak waktu bersama denganku!"
"Kau sedang hamil Devita, meski dokter mengatakan kondisimu sudah membaik , tapi aku tidak ingin kau di bebani dengan tanggung jawab perusahaan." Brayen menatap lekat istrinya. Perkataan Brayen tersirat menekankan dan tidak ingin di bantah.
"Terserah kau saja!" Degus Devita kesal.
"Aku berangkat," Brayen beranjak dari tempat duduknya, lalu mengecup kening Devita dan juga adiknya. Kemudian dia berjalan meninggalkan ruang makan.
"Devita, lebih baik kau menurut saja. Ini semua demi kebaikan mu dan bayi yang ada di dalam kandunganmu." kata Laretta yang berusaha untuk memberikan pengertian.
"Lebih baik aku berangkat ke kampus," pamit Devita dan Laretta mengangguk pelan.
Devita beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan meninggalkan Laretta. Devita hanya terlalu malas untuk berdebat tentang suaminya itu. Apa yang sudah di putuskan Brayen, tentu tidak mungkin bisa berubah.
Saat Devita berjalan menuju mobilnya. Devita menatap sosok pria yang sudah berdiri di hadapannya. Devita mengerutkan keningnya, menatap pria itu karena dia tidak mengenal pria yang ada di hadapannya ini.
"Selamat pagi, Nyonya Devita." sapa pria itu.
"Maaf, kau siapa?" Devita menatap pria yang berdiri di hadapannya ini.
"Nyonya, perkenalkan saya Bagas. Tuan Brayen meminta saya untuk menjadi sopir pribadi Nyonya Devita." ujar Bagas.
"Tunggu, suamiku meminta kau untuk menjadi sopir pribadiku?" Devita pun bertanya untuk memastikan, nadanya tersirat kesal.
"Benar Nyonya," jawab Bagas. "Tuan Brayen mengatakan, Nyonya hari ini akan berangkat ke kampus. Mari Nyonya, saya antar."
Devita mengumpat di dalam hati. Devita pikir, Brayen tidak jadi memberikannya supir. Dia sengaja tidak bertanya lagi tapi rupanya suaminya itu malah memberikannya sopir tanpa memberitahukan dirinya.
"Maaf Nyonya? Apa Nyonya ingin berangkat sekarang?" tanya Bagas dengan hati - hati.
"Ya," jawab Devita singkat. Bagas membuka pintu mobil, dengan kesal Devita pun masuk kedalam mobil. Kini mobil Devita mulai berjalan meninggalkan mansion.
...***...
Olivia melangkah masuk kedalam lobby kampus. Langkah Olivia terhenti ketika melihat mobil Rolls Royce memasuki lobby kampus. Olivia menatap sosok perempuan yang turun dari mobil. Olivia mengernyitkan dahinya, saat menatap Olivia turun dari mobil. Tidak biasanya Devita bersama dengan sopir. Jelas Olivia tahu yang mengantar Devita bukanlah Brayen. Karena biasanya Brayen akan selalu datang dengan mobil sportnya.
"Devita?" panggil Olivia saat Devita mendekat ke arahnya.
Devita tersenyum. "Olivia, bagaimana dengan kabarmu?"
"Aku sudah lebih baik." jawab Olivia. "Kau di antar dengan sopir?"
Devita mendesah pelan, " Ya."
"Kau itu seperti tidak suka jika di antar oleh sopir?" Olivia menautkan alisnya. Menatap bingung sahabatnya itu.
"Sejak dulu, kapan aku memakai sopir. Aku tidak pernah suka memakai sopir! Bahkan Brayen tidak membicarakan apapun padaku!" Dengus Devita kesal.
"Mungkin karena kau sedang hamil, Devita?" Olivia mengelus lengan sahabatnya itu. "Menurutku, bersama dengan sopir jauh lebih enak daripada kau harus mengendarai mobil sendiri."
"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya. Kepalaku sakit jika mendengar segala aturan yang di berikan oleh suamiku itu! Dia itu terlalu berlebihan! Memangnya aku ini sakit? Aku ini cuma sedang hamil bukannya sakit!" Balas Devita. Dan Olivia mengulum senyumannya.
"Bagaimana kabarmu, Olivia? Apa kata dokter yang memeriksamu?" Devita memilih untuk membahas kesehatan Olivia. Jika membahas aturan yang di berikan oleh suaminya, hanya membuat Devita sakit kepala.
"Aku sudah jauh lebih baik Devita. Suamimu memberikan dokter yang terbaik. Kesehatanku sudah lebih baik dari sebelumnya," jawab Olivia. "Dokter mengatakan, aku masih memiliki kemungkinan untuk bisa hamil. Rahimku sudah jauh lebih baik."
Devita tersenyum, "Aku sudah tahu, kau pasti akan segera pulih. Aku juga yakin, kau pasti bisa memiliki anak nantinya."
"Ya, aku harap demikian." balas Olivia.
"Lalu, apa kau sudah merencanakan pernikahan dengan Felix?" tanya Devita.
"Aku masih belum ingin menikah, Devita." jawab Olivia.
"Kau masih ingin belum menikah? Kenapa? Jangan katakan padaku, karena usiamu masih sangat muda."
"Aku hanya belum siap untuk menikah. Mungkin tunggu hingga satu atau dua tahun lagi. Aku tidak ingin buru-buru."
"Apa Felix tidak mempermasalahkan tentang itu?" tanya Devita.
"Aku harap dia mengerti. Tapi sebelumnya aku sudah memberitahunya, aku belum ingin menikah di tahun ini."
Devita menghela nafas, "Baiklah, itu keputusanmu. Aku juga berharap kau tidak terlalu lama untuk menundanya. Karena Felix adalah pria yang baik, Olivia."
"Ya, aku akan memikirkannya lagi." Olivia memeluk lengan Devita. "Lebih baik kita langsung masuk kedalam, aku yakin Mr. Gerald sudah merindukan kita."
Devita tersenyum, "Tapi aku rasa dia merindukanmu, karena kau yang selalu mengulang mata kuliahnya."
"Kau ini kenapa menghinaku!" Dengus Olivia.
Devita mengulum senyumannya, lalu mengajak Olivia untuk masuk ke dalam. Kini perasaan Devita sudah jauh lebih bahagia. Kesehatan Olivia dan juga dirinya sudah membaik. Dan Devita yakin, sahabatnya itu pasti akan hidup bahagia dengan Felix."
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.