
"Aku ingin lihat itu." tunjuk Devita pada sebuah jam tangan yang sudah sejak tadi menjadi pusat perhatiannya.
Pelayan itu tersenyum, dia langsung mengambil jam tangan yang di tunjuk oleh Devita. Kemudian, pelayan itu menunjukkannya kepada Devita. "Nona, pilihan Nona sangat hebat. Patek Philppe Grandmaster Chime ini adalah keluaran terbaru. Dan memiliki edisi terbatas."
"Devita, jam tangan yang kau pilih itu sangat mewah." Ucap Olivia yang terus menatap jama tangan yang di pilih oleh Devita.
"Baiklah, aku ingin itu." balas Devita.
"Berapa harga jam tangan itu." tanya Olivia pada pelayan. Sejak tadi dia menunggu Devita untuk bertanya harga jama tangan itu.
"Lima puluh juta dollar, Nona." jawab pelayan tersebut.
Olivia tergelak, dia menelan salivanya dengan kasar. Lima puluh juta dollar dan Devita sama sekali tidak bertanya dulu harga untuk jam tangan itu. Olivia menoleh ke arah Devita yang kini telah mengeluarkan black cardnya. Olivia pun menggeleng tak percaya. Dulu, saat mereka masih kuliah, Olivia ingat Devita tidak pernah suka membeli barang yang terlalu mahal. Jika Devita memiliki barang yang mahal, itu pasti pemberian dari Nadia, Ibunya.
Hingga kemudian Olivia mendekatkan bibirnya ke telinga Devita dan berbisik. "Devita, apa kau ini sudah gila? Jam tanganmu itu sangat mahal sekali."
"Diamlah Olivia, aku tidak mungkin membelikan jam tangan Brayen yang murah. Kau ini bagaimana, kau sangat tahu sendiri bagaimana sifat dari suamiku itu." balas Devita dengan suara pelan.
"Jika Felix berulang tahun, aku tidak mungkin mampu membeli jam tangan yang kau pilih itu untuk Brayen." Olivia menggelengkan kepalanya dan seketika kepalanya sakit tetapi menjadi semakin sakit melihat Devita yang dengan mudahnya membeli jam tangan itu. Mendengar harganya sudah membuat Olivia sakit perut.
"Kalau aku, akan memberikan Felix cukup dengan cinta saja. Karena uangnya sudah banyak, jadi tidak perlu lagi hadiah dariku." gumam Olivia.
Devita mengulum senyumnya mendengar ucapan dari Olivia.
"Nona, maaf apa anda istri dari Tuan Brayen Adams Mahendra?" tanya pelan pelayan itu saat menyerahkan black card milik Devita.
Devita mengangguk. "Ya, kenapa?"
"Maaf sebelumnya, karena saya tidak tahu kalau Nyonya adalah istri dari Tuan Brayen. Tuan Brayen Adams Mahendra adalah salah satu tamu VVIP kami. Biasanya Tuan Albert, asisten dari Tuan Brayen yang mengambil jam tangan yang sudah di pesan oleh Tuan Brayen." jawab pelayan itu.
"Apa suamiku sudah memiliki jam tangan jenis ini? Karena seingatku, suamiku itu dia tidak memiliki tipe jam tangan yang aku pilih tadi." ujar Devita.
"Belum Nyonya, karena jam yang Nyonya pilih ini adalah yang paling terbaru. Dan edisi terbatas, dan saya pastikan Tuan Brayen belum memiliki ini," balas pelayan itu.
"Baiklah terima kasih," Devita terseyum, dia mengambil shopping bag yang berisikan jam tangan yang dia beli untuk Brayen. Kemudian mengajak Olivia untuk meninggalkan toko jam itu.
"Hi, kita bertemu lagi." suara bariton menyapa membuat langkah kaki Olivia dan juga Devita terhenti.
Devita dan Olivia menoleh ke sumber suara itu. Devita mengerutkan keningnya menatap sosok pria yang menyapa dirinya dan juga Olivia.
"Devita, kau mengenalnya?" tanya Olivia dengan suara pelan.
"Tidak," tukas Devita.
Pria itu melangkah mendekat ke arah Devita, dia menyunggingkan senyuman di wajahnya. "Aku rasa, kau itu tidak mungkin tidak mengingatku,"
"Maaf, aku harus pergi." Devita menarik tangan Olivia, dan hendak meninggalkan pria itu. Namun, langkahnya kembali terhenti ketika pria itu menghadang dirinya.
"Hey! Kau minggirlah! Kau menghalangi jalan kami!" Seru Olivia kesal.
"Tuan, lebih baik kau pergi dari hadapanku." tukas Devita dingin.
Pria itu mengedikkan bahunya acuh, "Aku hanya ingin menyambut pelangganku dan berkenalan langsung dengan pelangganku."
"Maksudmu?" Devita mengerutkan keningnya, menatap bingung pria yang ada di hadapannya itu.
"Tuan Raymond," seorang wanita menundukkan kepalanya menghampiri Raymond.
"Lili, siapa pelanggan ini?" tanya pria yang bernama Raymond itu dengan tatapan yang tidak henti menatap Devita.
"Nyonya Devita," Lili menundukkan kepalanya ketika melihat Devita.
Devita mengangguk singkat dan terseyum.
"Tuan Raymond, ini adalah Nyonya Devita Mahendra Istri dari Tuan Brayen Adams Mahendra yang menjadi salah satu pelanggan VVIP kita," ujar Lili.
Raymond menyeringai. "Jadi, pria yang menjadi suamimu itu adalah Brayen Adams Mahendra? Sayang sekali aku tidak terlalu mengingat wajah seorang Brayen Adams Mahendra. Aku sudah lama menghabiskan hidupku di Las Vegas."
Kening Olivia berkerut dalam ketika mendengar perkataan pria yang ada di hadapannya ini. Seketika dia langsung mengingat pria yang menganggu Devita saat mereka tengah berlibur di Las Vegas.
"Tunggu," Olivia menjeda cepat. "Kau pria yang menganggu temanku itu?'
"Well, lebih tepatnya bukan menganggu. Tapi aku ingin berkenalan." jawab Raymond dengan santai.
"Tidak waras!" Tukas Olivia. "Kau ini mengajak berkenalan dengan seseorang yang sudah bersuami. Apa kau ini sudah kehilangan akal sehatmu?"
"Aku hanya ingin berkenalan. Dan aku rasa itu bukanlah sebuah masalah yang besar. Mengingat istri dari Brayen Adams Mahendra ini sekarang tengah menjadi pelangganku," balas pria itu dengan melirik ke arah Devita.
Devita menatap bingung pria yang ada di hadapannya ini. "Pelangganmu? Apa maksudmu?"
"Nyonya Devita maaf, Tuan Raymond adalah pemilik perusahaan ini. Karena Tuan Raymond berada di Las Vegas, perusahaan ini di kelola Tuan Davin, adik dari Tuan Raymond." jelas Lili.
Devita terdiam sebentar setelah mendengar ucapan dari Lili. Hingga kemudian, Devita sedikit menoleh ke arah Lili. "Thanks for your information," tukas Devita dingin.
"Listen to me, Tuan Raymond. Menyingkirlah dari hadapanku jika kau sudah tahu aku istri dari Brayen Adams Mahendra." Devita kini melayangkan tatapan dingin pada Raymond.
"Aku tidak ingin membuang waktuku. Sekarang aku harus pulang, suamiku sudah menungguku di rumah. Dan aku memberikanmu waktu satu menit padamu untuk menyingkir dari hadapanku."
"Allright," Raymond melangkah sedikit menjauh, namun dia tetap menatap Devita. "Senang berkenalan denganmu Nyonya Devita Mahendra,"
Devita tidak menjawab, dia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Tapi tidak untuk Olivia yang masih diam di tempat dan menoleh ke arah Raymond. Olivia langsung melayangkan tatapan tajam. "Kau itu pria yang tidak waras! Jagan menganggu temanku! Kau tidak ingin perusahaanmu itu tutup bukan? Jadi lebih baik kau jangan menganggu lagi istri dari Brayen Adams Mahendra!" Peringat Olivia tajam.
Setelah mengantakan itu, Olivia membalikkan tubuhnya mengejar Devita yang sudah berjalan keluar. Sedangkan Raymond hanya tersenyum tipis mendengar ancaman dari Olivia.
"Devita kenapa jalanmu itu cepat sekali? Kau ini sebenarnya ibu hamil atau bukan? Biasanya ibu hamil itu jalannya lambat, kenapa kau ini jalannya cepat sekali!" Keluh Olivia. Napasnya masih tersengal-sengal karena mengejar Devita.
Devita menghentikkan langkahnya lalu menoleh ke arah Olivia, "Aku sengaja menjauh, kau tidak tahu saat Brayen melihat pria itu mengajakku untuk berkenalan. Dia mendiamkan ku. Karena belakangan ini Brayen itu seperti anak kecil. Jadi lebih baik aku segera pergi."
Olivia menggeleng pelan dan tersenyum. "Rupanya kau begitu setia pada Brayen. Apa kau ini sudah cinta mati dengan suamimu itu, hm?" Olivia dengan sengaja menggoda sahabatnya itu.
Devita mendengus kesal mendengar ucapan dari Olivia. "Jangan bicara yang tidak-tidak, Olivia. Aku hanya tidak ingin ribut dengan Brayen. Sudah dua kali ketika berlibur di Las Vegas, Brayen mendiamkan ku. Kau tahu karena apa alasannya?"
"Memangnya karena apa?" Olivia mengerutkan keningnya.
"Pertama karena pria yang mengajakku berkenalan dan yang kedua karena salah paham dengan Angkasa." kata Devita dengan helaan nafas berat.
Olivia terkekeh geli. "Ternyata di balik sifat arrogantnya Brayen, dia itu begitu mencintai dirimu Devita."
"Sudahlah, lebih baik kita makan, dan setelah itu kita pulang," ujar Devita.
"Kau benar sekali. Aku juga sudah sangat lapar," balas Olivia yang langsung memeluk lengan Devita menuju ke salah restoran yang tidak jauh dari mereka.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.