
**Stopp....✋ Para reader ku jangan lupa kasih like dan sajen votenya dong😢 Komentarnya juga jangan lupa di perbanyak dong😭😭Hadiah 🌷 dan ☕ Author tunggu ya. Ada nggak ya yang mau ngasih...😃
💐💐 Happy Reading**....
"Brayen kau sudah datang?" sapa Elena saat melihat Brayen berjalan masuk ke dalam Apartemen Elena.
"Ya," jawab Brayen singkat. Dia memilih duduk di sofa.
Elena tersenyum, dia mendekat dan langsung duduk di samping Brayen. " Apa kau mengingat film kesukaan kita?"
"The Avengers," jawab Brayen datar.
"Apa kau masih ingat warna kesukaanku?" Elena kembali bertanya, tatapannya tidak berhenti menatap Brayen.
"Navy, right?" Brayen mengerutkan keningnya. Dia sedikit bingung Elena bertanya seperti film kesukaan mereka dan warna kesukaan wanita itu.
Elena mengangguk, dia memeluk lengan Brayen. " Kau masih mengingatnya, aku sangat senang."
"Elena, bukankah kau mengatakan ingin menonton film denganku?" Brayen melayangkan tatapan dingin ke arah Elena. Dia berusaha melepas pelukan Elena di tangannya.
"Tidak, maafkan aku. Aku hanya ingin mencari alasan. Ada satu hal yang harus aku katakan padamu. Aku sebenarnya ingin memberikan kejutan untukmu. Tapi karena kau memilih untuk meninggalkan aku. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," kata Elena dengan tatapan yang begitu serius ke arah Brayen.
"Kau ingin menunjukkan apa?" jawab Brayen yang mulai malas menanggapi Elena.
"Ambillah dan Bukalah ini," ucap Elena sambil menyerahkan amplop putih kepada Brayen.
Brayen mengerutkan keningnya. Dia mengambil amplop itu dan membukanya. Namun, saat Brayen membaca selembaran kertas dalam amplop itu wajahnya menegang. Kemudian, tatapannya menatap Elena tajam. "Apa maksudnya ini Elena, Katakan!"
"Aku hamil,"
Brayen melempar kertas itu dan berkata "Bagaimana mungkin! Kita selalu memakai pengaman!"
"Maafkan aku, terakhir aku tidak suntik ke dokter. Aku sengaja melakukan itu agar aku bisa memiliki anak dan bisa segera menikah denganmu. Aku tidak ingin menunda pernikahan. Kandunganku sudah jalan tiga bulan. Kau bisa menghitungnya sendiri, terakhir kapan kita berhubungan. Kau ingat malam terakhir kau di Milan?" Elena menjelaskan dengan suara yang pelan, matanya berkaca-kaca menatap Brayen.
Brayen bangkit dan berdiri meremas rambutnya dengan kuat, " Bagaimana bisa Elena! Kenapa kandunganmu sudah tiga bulan, tapi kau tidak memberitahuku? Kenapa kau tidak mengatakan ini dari awal! Jika kau mengatakannya dari awal tidak akan seperti ini, Elena!"
Elena berdiri dia menatap dingin Brayen. "Aku sengaja membuat kejutan untukmu, Brayen! Aku juga tidak tahu, ketika aku datang ke kota B aku sudah di hadapkan dengan kenyataan kau sudah menikah! Dan kau memilih gadis itu daripada aku, kekasihmu yang sudah menemanimu!"
"Elena, bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan Devita? Dia adalah Istriku Elena! Aku tidak mungkin meninggalkannya;" Geram Brayen. Dia meremas kuat rambutnya. Terlihat jelas raut kemarahan di diri Brayen.
"Bukankah kau belum menyentuhnya? Kenapa kau sangat sulit meninggalkannya. Perasaanmu padanya itu hanya sesaat Brayen!" Seru Elena dengan tatapan menuntut pada Brayen agar meninggalkan Devita.
"Aku sudah tidur dengan Devita! Dia Istriku bagaimana mungkin aku tidak pernah tidur dengannya!" Balas Brayen dengan penuh emosi.
"A...Apa? Kau sudah tidur dengannya? Kau jahat Brayen! Kau menyakitiku!" Elena memukul dada Brayen dan menangis sesegukkan.
"Tinggalkan dia Brayen! Aku sedang mengandung anakmu! Ini anakmu Brayen! Tinggalkan Devita!" Sentak Elena dengan nada tinggi. Mantanya memerah air matanya terus berlinang,membasahi pipinya.
"Tidak bisa Elena! Aku tidak bisa meninggalkannya. Jika kau meminta pertanggungjawaban dariku maka aku akan menghidupi kalian. Aku tidak akan membiarkan kalian kekurangan. Tapi, jika kau meminta aku untuk meninggalkan Devita jawabannya adalah tidak mungkin!" Seru Brayen. Dia langsung berjalan meninggalkan Apartemen Elena, dengan penuh emosi Brayen membanting pintu Apartemen.
...***...
Suara dentuman musik terdengar hingga keluar, kini Brayen tengah berada di sebuah klub malam di kawasan King street. Brayen melangkah masuk menuju ke ruangan VVIP. Dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
Saat Brayen masuk kedalam, Felix tengah minum di temani oleh para wanita, dia langsung melihat Brayen. Kemudian dia langsung meletakkan slokinya di atas meja, dan langsung menyusul Brayen.
"Ya," Brayen menjawab singkat, lalu meneguk wine yang ada di tangannya.
"Sepertinya kau sedang dalam masalah berat, bertengkar dengan Devita?" tanya Felix dengan tatapan yang terus menatap lekat Brayen.
"Tidak,"
"Jika bukan Devita, siapa yang sudah membuatmu seperti ini? Kau masuk ke dalam klub dengan wajahmu yang di penuhi oleh amarah" kata Felix sambil menyesap wine yang ada di tangannya
"Elena hamil," jawab Brayen singkat.
Felix tertawa rendah, " Jika Elena hamil, kenapa? Aku rasa kau telah memilih Devita. Jika Elena hamil, minta saja pria itu untuk bertanggung jawab,"
"Damn it! Elena hamil anakku! Usia kandungannya sudah tiga bulan. Itu sesuai tanggal dengan tanggal terakhir kami berhubungan, saat terakhir aku di Milan!" Seru Brayen dengan menatap dingin Felix.
"Well, Brayen Adams Mahendra. Kau adalah pewaris Mahendra Enterprise, kenapa kau mudah sekali tertipu? Berapa puluh juta dollar kau habiskan untuk membelikan keinginan Elena? Jangan kau pikir aku tidak tahu apapun. Aku hanya diam, bukan berarti tidak membantumu. Kau terlalu di butakan oleh cinta palsu Elena padamu. Bahkan, kau tidak pernah mencari tahu apapun tentang pemberitaan di media. Kau begitu percaya pada wanita itu!" Tukas Felix dengan penuh sindiran.
"Hanya karena Elena hamil, kau begitu mudah mempercayai dia anakmu? Bagaimana bisa kau menjalin hubungan selama bertahun-tahun dengan wanita itu. Tapi kau tidak tahu apapun tentang hidupnya?" Felix melanjutkan perkataannya seraya terkekeh pelan.
Kemudian Felix menggerakkan tangannya memberikan isyarat agar asistennya mendekat ke arahnya.
"Ya Tuan," ucap Devin, asisten Felix yang kini berada di hadapan Felix.
"Berikan aku fotonya," tukas Felix dingin.
"Ini Tuan," Devin memberikan amplop coklat pada Felix.
"Kau boleh pergi sekarang," Felix mengambil amplop cokelat itu.
Devin menundukkan kepalanya lalu undur diri dari hadapan Felix.
"Buka, dan lihatlah aku harap kau bisa membuka otakmu, yang terlalu cerdas itu. Ingatlah bukan hanya dirimu yang memiliki nama belakang Mahendra. Aku juga sana sepertimu. Aku tidak ingin memiliki sepupu yang mudah di tipu oleh wanita," kata Felix dengan nada mengejek Brayen.
Brayen langsung mengambil amplop cokelat itu dan mulai membukanya. Dia melihat beberapa foto, seketika dia terkejut, karena setiap foto, memperlihatkan Elena yang sedang berpelukkan dan berciuman. Foto saat di Milan, Elena masuk bersama seorang pria ke dalam hotel. Tidak hanya satu tetapi beberapa pria saat Elena di Milan.
Brayen melempar kasar foto itu di atas meja, "Sialan! Jangan katakan kau selama ini memantau pergerakan Elena, Felix!"
Felix terkekeh, "Jika bukan karena nama belakang ku Mahendra. Aku tidak akan pernah melakukan itu. Aku melakukan itu karena Ibuku adalah adik dari Ayahmu. Jika tidak, mana mungkin aku Perduli, kau ini yang mudah di tipu oleh wanita? Come on Brayen, apa otak cedasmu itu bertambah kecerdasannya?"
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.