Love And Contract

Love And Contract
Merahasiakan



Saat tiba di dalam kamar, Devita meminta Brayen untuk lebih dulu mandi, Devita duduk di sofa, pikirannya kini tidak tenang memikirkan Laretta. Devita bisa melihat raut wajah kesedihan di wajah adik iparnya itu. Selama ini Devita mengenal Laretta dengan sangat baik. Kebiasaan Laretta, bahkan Devita sangat tahu.


Devita menyandarkan punggungnya di kursi, dia merasa ada terjadi sesuatu dengan Laretta. Terlebih, jika Laretta pergi kerumah Angkasa. Jika biasanya Laretta menunjukkan keceriaan dan kebahagiaannya setelah bertemu dengan Angkasa, tapi tadi sangat jauh berbeda. Laretta sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.


Brayen yang baru saja keluar dari kamar mandi, dia memakai celana training panjang tanpa memakai kaos, dan seperti biasa Brayen lebih menyukai bertelanjang dada jika sudah berada di dalam kamar. Kening Brayen berkerut dalam menatap istrinya yang tengah melamun.


"Devita?" dia melangkah mendekat, dia duduk di samping istrinya. "Kau sedang memikirkan apa, sayang?"


"Eh? Kau sudah selesai mandi?" Devita tidak menyadari kini suaminya sudah berada di sampingnya.


"Kau sedang memikirkan apa?" Brayen menautkan alisnya, dia menatap curiga ke arah Devita.


"Tidak ada Brayen, aku hanya lelah saja." jawab Devita.


"Kau sedang tidak berbohong kepadaku kan?" Brayen memincingkan matanya menatap dengan penuh selidik.


Devita mendesah pelan, "Tidak sayang, aku hanya sedang lelah saja."


"Aku tidak suka jika kau menutupi sesuatu dariku, Devita. Kau masih ingat perkataanku tadi bukan?" Brayen menarik dagu Devita, menatap lekat manik mata istrinya.


"Aku tidak akan berbohong atau menutupi sesuatu darimu." balas Devita. "Ya sudah, aku ingin mandi dan berendam."


Brayen mengangguk kepalanya. Kemudian Devita beranjak dan berjalan menuju ke arah kamar mandi. Devita bukannya ingin menutupi sesuatu, hanya saja Devita masih belum yakin dengan apa yang ada di pikirannya saat ini.


...***...


"Brayen, ingat nanti kau harus menghubungiku kalau malam ini pulang terlambat," kata Devita sembari membantu Brayen memasang dasi.


Brayen menunduk dan mengecup bibir singkat Devita. "Ya, sayang. Nanti aku akan menghubungimu kalau aku pulang terlambat."


"Apa hari ini kau sangat sibuk?" tanya Devita yang kini sudah selesai memasangkan dasi suaminya.


"Hari ini aku ada meeting dengan Mr. Lee dan Mr. Nicholas," jawab Brayen sambil mengusap kepala Devita.


Devita mendengus kesal. "Kau belakangan ini selalu sibuk!"


"Maaf, aku akan usahakan lebih banyak waktu untukmu." Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* bibir istrinya. "Aku harus berangkat sekarang, kalau kau ingin berbelanja, ingat kau harus bersama dengan sopir dan juga Nagita."


Devita mengangguk patuh. "Aku ingat Brayen, tanpa kau minta pun sopir dan asistent yang kau berikan itu akan selalu mengikutiku.


"Ya, itu memang tugas mereka." tukas Brayen.


"Brayen, apa kau tidak sarapan dulu? Ini masih sangat pagi Brayen," ujar Devita.


"Aku akan sarapan di kantor. Aku ada meeting pagi ini." balas Brayen.


"Baiklah, aku akan mengantarmu ke depan." Devita memeluk lengan Brayen dan berjalan meninggalkan kamar.


Saat sudah tiba di depan, Brayen mengecup kening Devita lalu berjalan masuk kedalam mobil. Devita masih menatap mobil suaminya itu, hingga menghilang dari pandangannya. Setelah mobil Brayen sudah berjalan meninggalkan mansion, Devita masuk kembali kedalam rumah.


"Selamat pagi Nyonya." sapa seorang pelayan ketika melihat Devita masuk ke dalam rumah.


"Pagi, apa kau melihat Laretta?" tanya Devita sambil menatap pelayan itu.


"Nona Laretta sedang berenang, Nyonya." jawab pelayan itu.


"Laretta sudah selesai sarapan?"


"Sudah Nyonya, setelah sarapan Nona Laretta langsung berenang."


"Baiklah, tolong bawakan aku tuna sandwich dan susu kacang. Aku akan menyusul Laretta."


"Baik Nyonya, saya akan segera siapkan."


...***...


"Laretta?" sapa Devita yang kini duduk di tepi kolam.


Laretta yang sudah melihat Devita, dia langsung menghampiri Devita. Lalu naik ke atas, dan duduk di samping Devita. "Kak Brayen sudah berangkat?"


"Sudah," jawab Devita. "Oh ya, Laretta. Bagaimana kabar Bibi Citra?"


"Baik Devita, Bibi Citra ternyata seorang wanita yang sangat baik dan lemah lembut."


"Ya kau benar. Bibi Citra memang wanita sangat baik."


"Aku benar - benar bersyukur Bibi Citra mau menerimaku."


Devita menyentuh tangan Laretta, dan menatap lembut adik iparnya itu. "Tidak mungkin Bibi Citra tidak menerimamu Laretta, kau adalah wanita yang sangat baik. Aku sudah yakin, Bibi Citra pasti akan menyukaimu."


Laretta tersenyum getir. "Tapi Alena begitu membenciku. Terkadang aku ingin menyerah karena Alena. Tapi aku kembali selalu mengingat perjuangan Angkasa yang tidak mudah menyerah demi mendapatkanku"


"Laretta, percayalah. Bahwa Alena pasti akan menerimamu suatu saat nanti." balas Devita. "Apa tadi malam kau terlihat muram karena Alena?" sambung Devita.


"Ya, Alena mengataiku wanita rendahan. Bahkan Alena sampai mengatakan bayi yang ada di kandunganku bukan anak Angkasa." ujar Laretta. "Tidak ada wanita yang tidak tersakiti mendengar perkataan itu, Devita. Tapi aku akan terus memilih untuk tetap bertahan. Aku tidak akan menyerah, meskipun Alena terus menghina diriku."


Devita mendesah pelan, ternyata memang benar apa yang sudah dia duga. Alena mengeluarkan kata - kata yang sangat menyakiti perasaan Laretta. Devita sudah mendengar perkataan Alena itu. Dan memang benar, tidak ada seorang wanita pun yang tidak tersakiti mendengar perkataan dari Laretta.


"Laretta, aku hanya sangat takut jika Brayen tahu tentang ini. Kau sangat tahu sifat Kakakmu itu bukan? Brayen tidak mungkin hanya diam jika ada yang berani menghina keluarganya. Terlebih itu dirimu, Laretta." balas Devita. "Apa Angkasa juga sudah tahu tentang masalah ini?"


"Devita, bisakah kau berjanji untuk tidak memberitahu Kak Brayen tentang masalah ini?" pinta Laretta dengan nada penuh permohonan.


"Tapi Laretta-"


"Aku mohon Devita, kau tahu bukan sifat keras Kakakku itu. Kemarahan Kak Brayen akan menghancurkan kesabaranku selama ini," potong Laretta cepat. "Aku hanya ingin menyelesaikan masalahku sendiri Devita. Aku yakin, aku bisa mengatasinya sendiri."


"Baiklah, aku tidak akan memberitahu Brayen tentang masalahmu. Tapi tetap saja aku sangat takut Laretta jika Brayen pada akhirnya akan mengetahui masalahmu. Sungguh aku tidak pernah bisa membayangkan kemarahan seperti apa yang akan dia lakukan pada Alena." balas Devita. "Tapi apakah Angkasa juga sudah mengetahui ini? Biarkan Angkasa membantumu Laretta. Bagaimanapun Laretta adalah adiknya. Karena hanya Angkasa yang bisa mengatasi Alena. Setidaknya Angkasa akan menyelesaikan masalahmu."


"Kau tenang saja Devita aku yakin Kak Brayen tidak akan pernah mengetahui masalahku ini. Dan untuk Angkasa, Angkasa sebenarnya tidak tahu masalah kemarin Devita." jawab Laretta. "Jadi biarkan dulu seperti ini dulu Devita, aku kasihan pada Alena jika harus mendapatkan hukuman dari Angkasa."


"Kau itu sangat baik Laretta, andai Alena bisa melihat sisi kebaikanmu," ujar Devita dengan helaan nafas yang berat.


Laretta tersenyum, "Lupakanlah Devita, aku tidak ingin membahas tentang itu. Lebih baik kita ke salon hari ini. Apa kau mau menemaniku?"


"Aku tentu sangat mau Laretta." Devita mengangguk dengan penuh antusias. "Kemarin aku juga belum puas ke salon, akan lebih menyenangkan jika pergi ke salon bersama denganmu."


"Oke, kita siap - siap sekarang." balas Laretta.


Devita dan juga Laretta pun bangkit berdiri, mereka kemudian melangkah masuk kedalam rumah untuk bersiap-siap, setidaknya Devita begitu beruntung memiliki Laretta. Jika Devita merasa bosan Laretta selalu menemani dirinya.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.