Love And Contract

Love And Contract
Aku Tidak Apa - Apa



Suasana hening di dalam mobil, baik Laretta dan juga Angkasa mereka tidak bicara sepatah kata pun. Setelah pertemuan dengan keluarga Angkasa, Laretta lebih memilih untuk diam dan tidak mengatakan apapun. Sedangkan Angkasa, sesekali melihat ke arah Laretta yang lebih memilih untuk menatap keluar arah jendela.


"Laretta?" panggil Angkasa yang sudah sejak tadi tidak tahan ingin berbicara dengan Laretta.


Laretta mengalihkan pandangannya, lalu menoleh ke arah Angkasa. "Ada apa?"


"Aku sungguh minta maaf apa yang sudah di katakan oleh adikku. Alena begitu dekat dengan Devita. Tapi aku yakin, Alena juga akan dekat denganmu. Kau adalah wanita yang baik, pasti adikku akan menyukaimu ketika dia berada di dekatmu."


Laretta tersenyum. "Ya Angkasa, aku akan bersabar untuk itu. Kau saja begitu sabar ketika mendapatkan penolakan dari Kakakku dan juga Daddyku. Jika hanya karena adikmu saja, tentu kita tidak akan mempermasalahkannya."


Mendengar ucapan dari Laretta, membuat Angkasa tersentuh. Angkasa menyadari, wanita yang dia pilih adalah wanita yang sangat baik. Meski terlahir di keluarga yang sangat hebat, Laretta juga memiliki sikap yang sangat baik dan rendah hati. Harus Angkasa akui, sifat Laretta tidak jauh berbeda dengan Devita. Dan ini yang membuat Angkasa begitu beruntung mendapatkan Laretta. Di mata Angkasa, Laretta adalah wanita yang paling tepat untuk menjadi ibu dari anak-anaknya.


Tidak lama kemudian mobil Angkasa memasuki mansion rumah Brayen. Sementara ini Laretta memang tinggal di sini karena memang permintaan langsung dari Brayen. Lepas dari itu, Laretta juga lebih nyaman ketika berada di mansion milik Brayen.


"Nanti kalau aku sudah sampai di rumah, aku akan menghubungimu," kata Angkasa saat mereka sudah tiba di halaman parkir.


"Ya, aku akan menunggunya." jawab Laretta.


Angkasa mengecup kening Laretta dan Laretta tersenyum, lalu dia turun dari mobil. Ketika Laretta hendak masuk ke dalam rumah, Laretta melihat mobil Devita baru saja memasuki halaman parkir. Mobil Devita masuk ke dalam halaman parkir, tepat ketika mobil Angkasa baru saja keluar.


Laretta masih berdiri di depan pintu rumah, dia melihat Devita yang kini turun dari mobil. Devita tersenyum ketika melihat Laretta berada di depan pintu rumah.


"Laretta, kau sudah pulang?" tanya Devita ketika sudah berada di hadapan Laretta.


"Sudah," jawab Laretta. "Kau baru pulang dari kampus?"


"Iya? aku baru pulang dari kampus. Lebih baik kita makan sekarang, Laretta. Tadi aku sudah kirim pesan ke Chef Della untuk menyiapkan steak, aku sudah lapar sekali," kata Devita. Seperti biasa, hamil membuat Devita mudah sekali merasakan lapar.


Laretta mengulum senyumannya dan mengangguk. "Kita masuk kedalam," Laretta langsung memeluk lengan Devita berjalan menuju ke arah ruang makan.


Kini Laretta dan juga Devita sudah tiba di ruang makan. Mereka sudah melihat makanan yang sudah di hidangkan di atas meja. Tanpa menunggu lama, Laretta dan Devita mengambil tempat duduk mereka dan mulai menikmati makanannya yang sudah di hidangkan itu.


"Bagaimana kabar Alena dan orang tua Angkasa?" tanya Devita sembari menikmati makanannya.


"Mereka baik," jawab Laretta. "Tapi Alena kecewa karena aku yang menjadi Kakak Iparnya. Alena menginginkan dirimu yang menjadi Kakak Iparnya dan bukannya diriku."


Devita tersedak, dia terbatuk mendengar perkataan Laretta. Dengan cepat Laretta langsung memberikan air putih pada Devita.


"Pelan - pelan Devita." ucap Laretta ketika menyerahkan gelas itu.


"Terima kasih," Devita meletakkan kembali gelasnya ke tempat semula.


"Laretta, jangan menghiraukan ucapan dari Alena. Aku dan Alena dulu sering bermain bersama. Aku rasa dia masih belum bisa bersikap dewasa," ujar Devita menjelaskan. Devita sungguh merasa tidak enak pada Laretta. Padahal, hari ini adalah pertemuan pertama Laretta dengan keluarga Angkasa.


Laretta tersenyum. "Aku tidak apa-apa Devita, jangan di ambil pusing. Aku memaklumi Alena, dia pasti menginginkanmu menjadi Kakak Iparnya. Bagaimanapun kalian teman masa kecil."


"Terima kasih Laretta, kau sudah mengerti. Alena sangat keras kepala, aku yakin dia akan segera menyukaimu," kata Devita yang berusaha meyakinkan adik iparnya itu.


"Ya, aku yakin lambat laun Alena akan menerimaku," balas Laretta. "Kau kenapa hari ini ke kampus? Bukannya kau hanya tinggal menunggu hari ini kelulusanmu?"


"Ya benar, tapi ada beberapa penelitian yang minta di tambah oleh dosenku. Aku tidak tahu alasannya apa, tapi aku sudah kirimkan. Sebelumnya, aku memang memiliki beberapa cadangan penelitian perusahaan teknologi terbesar di kota B. Jadi saat dosen meminta untuk menambah penelitian, untungnya aku memilikinya," jelas Devita.


"Kau sungguh hebat Devita, pantas saja aku sering mendengar kau adalah salah satu mahasiswa yang sangat cerdas." kata Laretta dengan tatapan bangga pada Devita.


Setelah selesai makan, Devita langsung berpamitan masuk kedalam kamar. Begitu pun dengan Laretta, yang juga ingin segera masuk kedalam kamar.


...***...


Devita meletakkan tasnya di atas meja dan melepaskan sepatunya. Kemudian dia melangkah menuju ke arah sofa lalu menjatuhkan pelan tubuhnya di atas sofa yang empuk di kamarnya. Devita menyandarkan punggungnya, memejamkan mata lelah. Baru saja sebentar di tinggal oleh Brayen tapi dirinya sudah begitu merindukan suaminya itu. Dan tidak bisa di pungkiri, Devita selalu terbiasa dengan kehadiran Brayen.


Devita menatap jam dinding yang kini sudah pukul delapan malam. Devita sudah biasa tidur dengan Brayen. Jika dirinya tidak tidur dengan suaminya, dia sungguh merasa tidak nyaman. Devita selalu tidur dalam pelukkan Brayen, dan malam ini dia tidak bisa memeluk suaminya itu.


Perbedaan waktu antara Madrid dan Indonesia sekitar enam jam. Devita mengambil ponselnya, dia menatap ke layar ponsel. Senyum di bibir Devita terukir ketika melihat foto dirinya dan juga Brayen di layar ponselnya.


Devita memeriksa ponselnya, tapi belum ada satu pun pesan atau pun telepon dari Brayen. Jika saja Devita sedang tidak hamil, pasti dirinya akan ikut dengan Brayen. Rasanya Devita tidak ingin jika dirinya tidak menemani Brayen selama perjalanan bisnis suaminya itu.


Dulu ketika Edwin Ayahnya melakukan perjalanan bisnis, Nadia selalu menemani. Sekarang Devita mengerti, tidak mungkin ada seorang istri yang bisa di tinggal oleh suaminya lama.


Suara dering ponsel terdengar, Devita langsung menatap ke layar. Senyum di bibir nya memudar, dia pikir Brayen yang menghubunginya tapi ternyata Olivia. Devita menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan telepon itu, sebelum kemudian menempelkan ketelinganya.


"Ya Olivia?" jawab Devita saat panggilannya terhubung.


"Devita, kau sedang apa? Apakah aku sudah menganggumu?" tanya Olivia dari sebrang telepon.


"Tidak Olivia, ada apa?"


Helaan napas berat Olivia dari balik telepon. "Aku sedang bosan, Felix sudah berangkat ke Madrid. Dia berangkat lebih awal, Felix bilang ada masalah dan tidak mungkin membiarkan Brayen menanginya sendiri."


"Apa masalahnya begitu berat?" suara Devita cemas dan khawatir setelah mendengar ucapan dari Olivia.


"Aku tidak tahu Devita, Felix tidak mengatakan apapun. Felix hanya bilang, dia harus segera menyusul Brayen. Jika dia terlambat, perusahaannya akan mengalami kerugian. Aku berharap masalah mereka cepat selesai dan segera kembali ke Indonesia.


Devita mendesah pelan, "Aku juga berharap demikian, aku tidak suka jika harus berjauhan dengan Brayen."


"Ya sudah, aku ingin berendam. Kepalaku pusing, berendam akan membuatku jauh lebih tenang."


"Aku juga, sepertinya aku juga ingin berendam."


"Baiklah, sampai nanti." panggilan terputus Devita meletakkan ponselnya di atas mejanya. Sebenarnya hati Devita tidak tenang mendengar ucapan dari Olivia. Brayen memang tidak pernah membagi masalah perusahaan pada dirinya. Entah kenapa, Brayen lebih memilih untuk menyimpan semuanya sendiri.


Devita beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah kamar mandi. Berendam jauh lebih baik untuk menenangkan pikirannya. Setelah berendam nanti, Devita akan langsung beristirahat. Dan terpaksa, dia harus tidur tanpa pelukan dari suaminya.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.