
Hari ini Devita habis mengunjungi kedua orang tuanya, dia pergi dengan sopir. Pagi tadi, Brayen tidak bisa mengantar Devita ke rumah kedua orang tuanya di karenakan ada meeting pagi dengan pengusaha asal negara A.
Devita kini sedang melihat keluar jendela mobilnya, karena cuacanya begitu cerah.
"Nyonya, apa kita akan langsung pulang kerumah?" tanya sopir dari depan.
"Ya, kita langsung pulang saja. Tapi nanti, kau tolong pesankan tiramisu cake di toko kue langgananku," jawab Devita.
"Baik Nyonya,"
Devita mengambil ponselnya di dalam tas.Dia memilih untuk melihat social media. Kemarin malam, dia baru saja mengupload fotonya dengan Brayen. Dia tahu akan ada banyak komentar dari para wanita. Senyum di bibir Devita terukir ketika melihat banyak yang berkomentar di social medianya. Terutama fotonya dengan Brayen, akan banyak memberikan komentar.
Brakkk.
Devita tersentak, ketika mobilnya menabrak mobil yang ada di hadapannya.
"Kenapa kau tidak berhati - hati!" Seru Devita pada sopirnya itu.
"Ma - maaf Nyonya. Mobil di depan rem mendadak," jawab sopirnya yang gugup.
Devita membuang napas kasar. "Kau di sini, biar aku yang turun. Dia pasti akan meminta ganti rugi."
"N-Nyonya biarkan saya saja yang turun."
"Dia pasti akan meminta ganti rugi, kalau kau mau turun cukup temani aku menemani pemilik mobil yang kau tabrak." Devita mengambil tasnya yang berada di sampingnya. Kemudian, dia turun dari mobil dan melangkah menuju ke arah mobil yang telah di tabrak oleh supirnya itu.
Namun, seketika saat sosok pria yang keluar dari mobil, Devita begitu terkejut melihat sosok pria itu. Dia melangkah mendekat ke arah Devita yang tidak bergeming dari tempatnya.
"W - William?" mata Devita terbelalak terkejut, melihat mobil yang di tabrak oleh sopirnya adalah mobil milik William.
William mendekat, dia mengulas senyuman di wajahnya. Tatapan William, kini teralih pada perut Devita yang sudah membuncit. "Apa kabar Devita? Lama tidak bertemu, kau terlihat semakin cantik saat sedang hamil."
Devita membalas senyuman William. "Aku baik William, lalu bagaimana denganmu? Sebelumnya aku minta maaf pada sopirku yang sudah menabrakmu. Aku akan mengganti kerusakan mobilmu."
"Tidak perlu di pikirkan Devita. Aku yang salah karena tadi rem mendadak." jawab William. "Apa kau punya waktu sebentar, Devita? Aku rasa ada coffe shop di dekat sini. Kita sudah lama tidak bertemu. Jika kau tidak keberatan tentunya, aku tidak mungkin memaksamu."
Devita terlihat tampak ragu dan di sisi lain, Devita juga tidak enak menolak William. Bagaimana pun Devita sudah menganggap William sebagai temannya. Bahkan dulu, William juga ikut membantunya saat Elena berusaha untuk mencelakai dirinya. Tapi, jika Brayen tahu dia berbicara dengan William pasti Brayen akan marah.
"Devita?" panggil William, ketika Devita hanya diam membisu tidak menjawab tawarannya.
"William, aku sebenarnya..."
"Kau takut jika Brayen akan marah padamu, bukan?" belum sempat Devita menyelesaikan ucapannya. William sudah langsung menjawab.
Devita mendesah pelan. "Maafkan aku William. Aku hanya takut Brayen akan salah paham. Aku tidak ingin membuatnya marah."
"Kita hanya sebentar di coffe shop Devita," balas William meyakinkan.
Devita kembali terdiam, dia memikirkan sebelum mengambil keputusan. Hal yang Devita takutkan adalah Brayen marah padanya. Hingga kemudian, Devita mengangguk dan menjawab. "Baiklah, William. Tapi aku tidak bisa lama. Aku juga tidak ingin membuat Brayen marah padaku."
William tersenyum, "Kau tenang saja, aku berjanji kita hanya berbicara sebentar."
Kemudian William dan Devita langsung berjalan menuju coffe shop terdekat dari mereka. Namun, sebelum Devita berjalan menuju ke arah coffe shop, dia juga meminta sopirnya untuk mengurus mobilnya dan mobil William.
...***...
"Kau sudah tahu jenis kelamin anakmu Devita?" tanya William, sambil menyesap kopi yang ada di tangannya.
"Sudah William," jawab Devita.
"Laki - laki atau perempuan?" Alis William terangkat, dia menatap penasaran Devita.
"Laki - laki," Devita tersenyum. "Sebenarnya aku ingin perempuan, tapi tidak apa - apa anak laki-laki bisa menjagaku."
William mengangguk setuju. "Kau benar, anak laki-laki pasti tentu bisa menjagamu."
"Devita, dimana Brayen? Apa hari ini dia tidak bersamamu?" William bertanya.
"Brayen sedang ada meeting pagi. Jadi dia tidak bisa mengantarku ke rumah kedua orang tuaku." balas Devita. "William, apa kau akan tinggal menetap di kota B?"
"Tidak, aku hanya melihat perusahaanku. Lebih tepatnya, tidak hanya melihat perusahaanku. Aku juga ingin menemui Brayen." jawab William dengan tatapan yang menatap lekat Devita.
"Kau sengaja kembali ke kota B, apa hanya ingin menemui Brayen?" Devita mengerutkan keningnya, menatap bingung ke arah William. Pasalnya, hubungan Brayen dengan William tidak pernah baik.
"Kau pasti terkejut, aku menemui Brayen. Tapi salah satu tujuanku kembali adalah menemui suamimu." jawab William dengan santai.
"Maaf, apa aku boleh tahu apa tujuanmu itu menemui suamiku?" Devita menatap serius ke arah William. Tatapannya penuh dengan kecurigaan, dia masih tidak mengerti untuk apa William bertemu dengan Brayen.
"Tentang Beatrice Ivana Wilson." William kembali menyesap kopi di tangannya. "Aku rasa Brayen pasti sudah menceritakan tentang aku yang sudah tahu Beatrice menjebakku dengan Veronica."
"Aku sangat tahu Brayen sudah tidak lagi memperdulikan masa lalunya," jawab Devita dengan suara tenang dan lembut.
William tersenyum, lalu mengangguk setuju. "Ya, kau benar. Brayen tentu sudah melupakan masa lalunya. Tujuanku datang, aku hanya ingin Brayen tahu, bahwa sebenarnya aku sudah mengetahui sejak awal Beatrice menjebakku dengan Veronica. Saat kejadian, Brayen melihat fotoku tidur dengan Veronica. Brayen sama sekali tidak langsung mencari kebenarannya. Brayen lebih memilih untuk langsung meninggalkan Veronica."
"Sedangkan aku sejak dulu sangat membenci Brayen. Aku sering berusaha mendekati Veronica. Tapi aku tidak mungkin melakukan cara yang rendah hanya bisa memilki Veronica. Saat dulu aku terbangun dengan Veronica yang sudah tidur di sampingku, di detik itu aku sudah tahu aku sudah di jebak. Karena Veronica tidak pernah mungkin mengkhianati Brayen."
"Tetapi Veronica itu berbeda dengan Elena. Elena adalah wanita yang mencintai uang. Elena hanya melakukan apapun dengan uang. Tapi Veronica, bukan wanita yang seperti itu. Veronica selalu di kagumi di kuliahku. Dan banyak sekali pria yang menyukainya. Aku sering mendengar Veronica dan juga Brayen adalah pasangan yang sempurna. Aku berpikir, Brayen akan hancur ketika dia berpisah dengan Veronica. Kenyataannya tidak sama sekali. Brayen lebih cenderung untuk diam, dan menjauh dari teman - temannya. Aku sudah menyadari, Brayen tidak begitu mencintai Veronica. Karena jika dia sangat mencintai Veronica, seharusnya dia akan mencari tahu kebenarannya."
Devita terdiam sesaat, ketika William menceritakan masa lalunya. Jujur, saat ini Devita sangat kasihan pada Veronica. Bagaimana pun Veronica adalah korban. Namun, Devita berpikir, mungkin ini sudah menjadi takdirnya. Devita masih mengingat ketika pertemuannya secara tidak sengaja dengan Veronica ketika dia berbulan di Turkey. Veronica telah menikah dan memiliki kehidupan yang bahagia.
"Aku pernah bertemu dengan Veronica. Dan ya, kau benar. Dia itu wanita yang sangat cantik," balas Devita yang sontak membuat William terkejut.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.