
"Aku tidak akan pulang sebelum kita bicara." kata Devita dengan suara yang parau. Devita menggigit bibir bawahnya, dia berusaha mengatasi perasaannya. Meski Brayen mengusir dirinya sekalipun, Devita tidak akan pergi.
"Katakan sekarang, apa yang ingin kau bicarakan!" Brayen mengatakannya dengan tegas. Tatapannya terus menatap dingin Devita.
"A-Aku." Devita sedikit menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya.
"Aku tidak ingin membuang waktuku Devita! Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan!" Tukas Brayen menekankan.
Hingga akhirnya, Devita memberanikan diri membalas tatapan Brayen. Terlihat begitu jelas raut wajah marah Brayen dan tatapan dingin ke arahnya. Meski demikian, Devita tetap menatap lembut Brayen, dia berusaha untuk tidak menangis.
"Aku minta maaf, karena aku telah menyembunyikan semuanya darimu. Aku tahu, kau mungkin tidak bisa memaafkanku. Ini bukan pertama kalinya aku menyembunyikan sesuatu padamu. Sungguh Brayen, aku bukannya tidak mau menceritakannya, hanya saja aku sudah berjanji pada Laretta. Aku sangat menyayangi Laretta dan aku pun tidak mungkin mengingkari janjiku Brayen. Tapi aku tahu, aku salah. Seharusnya aku tetap menceritakan ini padamu. Jika saja aku menceritakannya padamu, ini pasti tidak akan pernah terjadi. Aku sungguh minta maaf,Brayen."
Setelah mengatakan ini, Devita menundukkan kepalanya. Pada akhirnya air matanya berlinang membasahi pipinya. Hati Devita begitu sesak, dia sungguh sangat tersiksa berada jauh dari Brayen.
"Berapa kali kau sudah menutupi sesuatu dariku Devita?" suara Brayen terdengar begitu dingin, dia terlihat menahan amarahnya.
"Aku menutupi ini, karena kau sering lepas kendali ketika marah. Aku tidak menginginkan kau marah Brayen." Devita menjawab dengan suaranya terisak oleh tangis yang tertahan.
"Pada akhirnya, ketika aku tahu kau menutupi itu aku jauh lebih marah? Berapa lama lagi kau harus mengerti dengan sikapku, Devita?" balas Brayen tajam. "Kau itu istriku, kau sangat mengenal sifatku. Harusnya kau tahu, jika kau menutupi sesuatu dariku, hanya akan membuat aku semakin marah padamu. Tidak hanya marah, tapi aku juga sangat kecewa dengan janjimu. Kau selalu berjanji untuk mengatakan semuanya padaku, tapi kenyataannya kau selalu memilih untuk menutupinya."
"Maaf..." Isak Devita, matanya memerah. Air matanya terus berlinang membasahi pipinya. Tatapannya memohon agar suaminya mau memaafkan dirinya.
"Bukannya selama ini aku selalu memaafkanmu, Devita? Dan ini bukan pertama kalinya aku memaafkanmu. Tapi kau tetap sama, kau terus berulang kali melakukan kesalahan itu. Aku sudah berkali-kali mengatakan padamu jangan menutupi sesuatu dariku Devita. Sekarang kau datang dan meminta maaf. Jika aku memaafkanmu kali ini, kedepannya kau pasti akan melakukan hal yang sama. Bukankah semua itu percuma?"
Suara Brayen berseru dengan menahan geraman. Bahkan Brayen tetap menatap dingin Devita yang kini tengah menangis di hadapannya.
"Aku tahu, aku salah Brayen. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku. Aku juga berjanji akan mendengarkan semua perkataanmu, Brayen." balas Devita yang masih terisak tangis tertahan. Devita sesegukan, napasnya begitu sesak dan sakit ketika mendengar perkataan suaminya.
"Pulanglah, dan jangan membahas ini sekarang. Lebih baik kau berpikir sebelum mengucapkan janji kepadaku. Karena aku tidak ingin lagi kau mengingkari janjimu." jawab Brayen dingin.
"Aku tidak mau pulang," ucap Devita lirih. "Aku ingin kau juga pulang bersama denganku. Aku sangat merindukanmu!"
"Sekarang aku minta kau mendengarkanku! Aku memintamu untuk pulang Devita Mahendra!" Tegas Brayen.
Devita menatap sendu Brayen, air matanya terus berlinang. Dan tidak ada pilihan lain akhirnya Devita menganggukkan kepalanya lalu berjalan meninggalkan ruang kerja Brayen.
Sedangkan Brayen, masih terus menatap kepergian Devita hingga wanita itu menghilang dari pandangannya. Meski Devita telah meminta maaf tapi Brayen masih sangat kecewa dengan istrinya. Karena sebelumnya, Brayen telah memaafkan, namun Devita kembali memilih untuk menutupi masalah darinya.
Brayen menekan tombol interkom menghubungi Albert, dia meminta Albert untuk mengikuti Devita hingga istrinya masuk ke dalam mobil.
...***...
Brayen menuangkan wine ke gelas slokinya. Kemudian dia menyesap wine yang ada di tangannya. Dia mengambil rokok yang ada di atas meja, dan menghidupkan rokok itu. Lalu menghisap rokoknya dan menghembuskannya ke udara. Terakhir Brayen merokok saat dirinya masih kuliah, tapi kini Brayen membutuhkan nikotin untuk menenangkan pikirannya.
"Kau sudah mengantar istriku?" tanya Brayen datar.
Albert mengangguk. "Sudah Tuan, Nyonya sudah pulang."
"Minta Dokter Keira untuk memeriksa kandungan istriku. Aku lihat tubuh istriku terlihat kurus," ujar Brayen. "Dan katakan pada Nagita, untuk memperhatikan asupan makan istriku."
"Maaf Tuan, tapi kenapa Tuan belum juga pulang? Saya rasa Nyonya seperti itu karena memikirkan Tuan," kata Albert hati - hati.
Brayen kembali menyesap winenya. "Aku tidak ingin salah dalam mengambil keputusan saat aku marah. Aku juga tidak ingin menyakiti hati Devita lebih dalam karena perkataanku. Istriku sedang hamil, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada istri dan juga anakku."
"Tuan, menurut saya ini tidak sepenuhnya salah Nyonya." balas Albert. "Jika Nyonya mengatakan tentang Alena Nakamura, itu sama saja Nyonya membuat Nona Laretta kecewa padanya. Saya tahu Tuan, seharusnya Nyonya mengatakan ini pada anda. Tapi, di sisi lain posisi Nyonya itu sulit karena bagaimanapun pun Nyonya Devita dan Nona Laretta itu sangat dekat. Nyonya pasti tidak ingin mengecewakan Nona Laretta."
"Ini bukan hanya tentang Laretta!" Seru Brayen. "Tapi ini karena Istriku yang sudah terlalu banyak menyembunyikan sesuatu padaku. Padahal dia sudah berjanji tidak akan menutupi sesuatu dariku, tapi pada akhirnya dia tetap memilih untuk menutupinya."
"Albert, kau pergilah kosongkan jadwalku dua jam kedepan. Aku tidak ingin di ganggu," tukas Brayen.
"Baik Tuan," Albert menundukkan kepalanya lalu undur diri dari hadapan Brayen.
Brayen menyadarkan punggungnya di kursi, dia menghisap kuat rokoknya, dan menghembuskan ke udara. Pikirannya sedang tidak dalam keadaan yang baik, beruntung Devita mau menurutinya untuk pulang. Jika tidak, mungkin Brayen akan mengatakan perkataan yang lebih kasar dan bisa melukai istrinya itu.
...***...
Devita turun dari mobil, dia melangkah masuk kedalam rumah. Matanya masih sembab dan hatinya begitu terluka mendengar semua perkataan dari Brayen. Tapi, sebisa mungkin Devita menerimanya. Devita tahu dirinya memang sering mengingkari janji dan selalu tidak pernah dia tepati. Devita memang menutupi masalah, karena Devita tidak ingin Brayen marah. Mengingat Brayen tidak pernah bisa mengendalikan emosinya, itu yang membuat Devita memilih untuk menutupi masalah darinya.
Devita berusaha untuk melupakan perkataan Brayen, namun kenyataannya tidak bisa. Devita terus mengingat Brayen mengatakan dirinya menggangu. Selama ini, semarah apapun Brayen padanya, suaminya itu tidak pernah mengatakan perkataan kasar.
"Devita?" Laretta yang baru saja turun dari tangga, dia menatap Devita yang masuk kedalam rumah.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.