
Brayen menatap Devita yang belum sadarkan diri. Dia mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Tatapan Brayen begitu lembut menatap istrinya. Sungguh dia tidak menyangka, sudah tiga bulan kandungan istrinya itu. Brayen menundukkan wajahnya, dia memberikan kecupan bertubi-tubi di perut istrinya. Setelah tiga tahun Brayen menunggu, akhirnya dia kembali memilki anak. Dan kali ini, dia akan memperketat keamanan sang istri, mengingat kali ini istrinya mengandung bayi kembar.
Perlahan Devita mulai membuka matanya, dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Kemudian, dia merasakan sesuatu yang menyentuh perutnya, dia langsung mengalihkan pandangannya. Senyum di bibir Devita terukir saat melihat Brayen yang tengah mencium perutnya.
"Brayen? Kau sedang apa?" Devita membawa tangannya mengusap lembut rambut sang suami.
Brayen yang mendengar suara Devita, dia langsung menjauhkan wajahnya dan menatap istrinya yang kini sudah membuka matanya. Brayen langsung menangkup kedua pipi Devita, dia memagut dengan lembut bibir Istrinya. "Terima kasih," bisiknya tepat di depan bibir Devita.
"Terima kasih?" kening Devita berkerut, menatap bingung suaminya itu. "Terima kasih untuk apa, sayang?"
Brayen tersenyum, dia membawa tangannya mengelus lembut perut Devita. "Terima kasih, karena kau telah memberikan dua adik untuk Sean. Kali ini, orang tua kita tidak akan bertengkar lagi memperebutkan Sean."
Devita tersentak, dia terkejut mendengar apa yang di katakan oleh suaminya. "A-Apa maksudmu, Brayen?"
"Kau hamil, sayang..." Brayen menangkup kedua pipi Devita memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir Istrinya itu. "Dan anak kita kembar, sayang. Sean akan memiliki dua adik."
"K- kembar?" Devita menatap Brayen dengan tatapan yang tak percaya, dia tidak menyangka apa yang di dengarnya ini.
"Ya, kali ini kau hamil bayi kembar. Kau membuatku menjadi pria yang beruntung di dunia ini." Brayen menempelkan hidungnya ke hidung Devita dan menggeseknya pelan. "Terima kasih, sayang."
Senyum di bibir Devita terukir, mendengar apa yang di ucapkan oleh Brayen. Hatinya begitu menghangat. Wajahnya tampak begitu bahagia. Dan kali ini Tuhan kembali memberikannya anak. Tidak hanya itu, Devita pun tidak hentinya bersyukur karena kehamilannya ini mengandung bayi kembar.
"Brayen, berapa usia kandunganku?" tanya Devita dengan senyuman di wajahnya.
"Dua belas Minggu," Brayen terus mengelus lembut perut sang istri. "Kau tidak menyadari dirimu sudah hamil tiga bulan."
"Maaf Brayen, aku sungguh tidak menyadarinya." ujar Devita dengan raut wajah yang menyesal.
"Tidak perlu minta maaf, sayang." jawab Brayen. "Nanti setelah kita pulang, kau tidak perlu datang ke perusahaan keluargamu selama kau sedang hamil. Nanti aku yang akan mengurusnya. Aku akan memilihkan satu asisten lagi. Dan untuk Sean, kau tidak perlu begitu lelah. Aku juga akan menambah pengasuh untuk Sean."
"Brayen, tapi-"
"Tidak ada kata tapi, Devita. Kau harus menuruti perkataanku." tukas Brayen menekankan.
Devita mendesah pelan. "Baiklah, terserah kau saja." jawabnya yang memilih untuk mengalah. Karena apa yang sudah di putuskan oleh Brayen, tidak akan mungkin bisa ada yang mengubahnya.
"Maaf... apa kami menggangu?" Alvaro dan Marsha berjalan masuk ke dalam ruang rawat Devita.
"Alvaro, Marsha, masuklah...." tukas Devita dengan senyuman hangat di wajahnya.
"Selamat Kak Brayen, kau akan segera kembali memiliki anak," ucap Alvaro saat tiba di hadapan Brayen.
"Terima kasih, Al.." balas Brayen. "Lebih baik kita keluar, ada yang ingin aku sampaikan padamu."
Alvaro mengangguk kemudian dia dan Brayen berjalan meninggalkan ruang rawat Devita. Tepat di saat Alvaro dan Brayen pergi, Marsha langsung duduk di tepi ranjang.
"Devita, selama atas kehamilanmu. Aku tadi mendengar kau hamil bayi kembar." ujar Marsha dengan senyuman hangat di wajahnya. "Kau begitu beruntung, Devita. Tadi aku pun melihat Brayen begitu menunjukkan rasa cintanya padamu. Aku tidak pernah melihat seorang pria begitu dalam mencintai wanitanya."
"Terima kasih, Marsha. Aku juga yakin kalau Alvaro juga sangat mencintaimu," jawab Devita
Marsha tersenyum, "Kau benar, setiap pria menunjukkan caranya tersendiri mengekspresikan perasaannya. Tapi kau begitu beruntung, Brayen terlihat begitu mencintai dirimu."
"Aku juga begitu beruntung memiliki Brayen di hidupku, Marsha." jawab Devita sambil mengelus lembut perutnya.
...***...
Berita kehamilan Devita pun sudah tersebar ke keluarga sekaligus media. Kini mobil Brayen telah tiba di mansion milik Olivia dan Felix.
"Suprise...." suara teriakan Laretta dan Olivia begitu kencang membuat Devita terkejut.
"Astaga, Olivia... Laretta. Kalian mengejutkanku!" Seru Devita sambil menatap Laretta dan juga Olivia.
Olivia dan Laretta terkekeh. Kemudian mereka langsung memeluk erat tubuh Devita. "Selamat atas kehamilanmu kami senang, kau akan memilki anak kembar."
Devita mengulas senyuman hangat di wajahnya. "Terima kasih Laretta, Olivia..."
"Selamat Brayen.." Angkasa menepuk bahu Brayen. Begitu juga dengan Felix yang mengucapkan selamat. Brayen membalas ucapan selamat Felix dan Angkasa dengan anggukan singkat.
"Mommy.... Daddy..." Sean langsung berlari ke arah Brayen dan Devita. Kemudian Sean langsung duduk di pangkuan Brayen.
Brayen tersenyum. "Adikmu masih di perut Mommy."
"Di perut Mommy?" Sean menatap Brayen dengan mata yang berbinar bahagia.
"Ya, kedua adikmu masih berada di perut Mommy," jawab Brayen sambil mengecup pipi gemuk Sean.
Sean langsung beranjak dari pangkuan Brayen ke arah Devita, lalu tiba - tiba Sean menempelkan kepalanya di perut Devita. "Apa kau mendengarku? Aku ini Kakakmu. Kau cantik atau tidak? Kalau kau tidak cantik aku tidak akan menjadi Kakakmu." ucap Sean, sontak membuat seluruh orang yang ada di ruangan itu terkekeh geli mendengar ucapan Sean.
"Sean, adikmu masih belum tahu perempuan atau laki-laki, sayang." Devita mengusap lembut kepala putranya yang tengah berada di perutnya itu.
"Aku ingin adik perempuan yang cantik seperti Mommy." jawab Sean dengan suara polosnya.
"Adikmu pasti akan sangat cantik, Sean." balas Brayen.
"Yeay!" Sean memekik kegirangan dia langsung bangun dan memeluk Brayen. Terlihat Sean yang sangat bahagia karena akan memiliki dua adik.
"Daddy dengar kau tadi bermain bola? Apa kau menyukai bermain bola?" Brayen mengelus lembut pipi putranya itu sembari mengecup puncak kepala putranya.
Sean menggangguk antusias. "Benar Daddy, aku menyukainya. Tadi aku memiliki banyak teman baru, Daddy. Dan mereka bermain bola bersamaku."
"Saat kita pulang nanti, Daddy akan membuatkan tempat untukmu bermain bola. Nanti kau bisa bermain sepuasnya." Brayen mengecup kening Sean.
"Really, Daddy?" Sean memiringkan kepalanya menatap Brayen.
"Ya, Daddy tidak mungkin berbohong kepadamu."
"Mommy... Daddy..., tadi Paman Felix bilang padaku akan menikah dengan Bibi Olivia." ucap Sean dengan suara polosnya.
Devita dan Laretta terkejut mendengar ucapan Sean.
"Paman Felix sungguh berbicara seperti itu padamu?" tanya Laretta.
Sean menggangguk. "Iya Bibi Laretta. Aku tidak mungkin berbohong."
"Apa yang di katakan Sean memang benar, Laretta." ucap Felix.
"Jadi kalian berdua akan menikah?" tanya Devita dengan wajah yang tampak begitu bahagia.
"Ya, kami akan menikah bulan ini. Dan Minggu depan kami akan kembali ke negara K. Aku dan Olivia memutuskan ke negara K untuk menemui keluarga Olivia yang ada di sana."
"Kalian akan ke negara K?" tanya Devita yang begitu antusias. Tatapannya terlihat begitu bahagia pada Felix dan juga Olivia.
Olivia menggangguk, "Aku akan menikah di Negara K karena keluargaku ada di sana. Tapi aku tetap akan mengadakan pesta di kota B. Kami yakin, rekan bisnis Felix tidak semuanya bisa hadir itu kenapa aku dan Felix memutuskan untuk mengadakan pesta di kota B."
Senyum di bibir Devita dan Laretta terukir mendengar ucapan dari Felix dan Olivia. Akhirnya Olivia mau menerima Felix. Itu adalah hal yang di tunggu semua orang. Kemudian Brayen beranjak berdiri, Felix dan Angkasa langsung mengikuti Brayen menuju ke ruang kerja karena ada ingin Brayen bicarakan tentang pekerjaan.
"Kak Sean, kenapa kau mendiamkanku. Kata Bibi Olivia kau sangat merindukanku?" ucap Vania dengan suara polosnya. Tatapannya terus menatap Sean yang kini sedang bermain dengan robot.
Devita, Olivia dan Laretta kini mengalihkan pandangan mereka ketika mendengar suara Vania. Mereka terus melihat Vania yang terus mengajak Sean berbicara. Namun Sean tetap bermain dengan robotnya. Devita hendak menegur putranya tapi Laretta menahannya.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.