
Kemudian William, kembali menatap Devita. "Bagaimana kabarmu, Devita? Lama tidak bertemu?"
Devita tersenyum. "Aku baik. Bagaimana denganmu?"
"Ya, aku juga baik. Kau sudah mulai masuk kuliah, bukan?" tanya William.
"Aku sudah masuk kuliah, sebentar lagi aku akan lulus," jawab Devita.
"Aku senang mendengarnya. Apa rencanamu kedepannya, Devita? Apa kau akan meneruskan bisnis keluargamu?"
Devita mengangguk, "Aku akan meneruskan bisnis keluargaku, tapi Brayen yang akan membantuku,"
"Great, suamimu itu selalu bisa di andalkan dalam dunia bisnis." tukas William. Dan Devita membalasnya dengan senyuman.
"Baiklah, aku harus pergi sekarang. Aku harus kembali ke perusahaan." William melirik ke arah jam arlojinya, kemudian menatap Olivia dan Devita. " Senang bertemu dengan kalian berdua,"
"Hati - hati, William." balas Olivia dan juga Devita.
William mengangguk, kemudian dia berjalan meninggalkan, Devita dan juga Olivia.
"Devita, apa kau tidak penasaran dengan kabar Elena? Dia bukannya pernah berselingkuh dengan William, saat menjadi kekasih Brayen?" tanya Olivia saat melihat William sudah berjalan meninggalkan restoran.
Devita mendesah pelan, "Saat Richard Kemarin menemuiku, sebenarnya Richard sudah mengatakan bahwa Elena di bawa oleh William. Saat ini Elena mengandung anak William, aku rasa William menginginkan anak itu. Aku tidak bertanya karena aku tidak ingin mencampuri urusan mereka."
Olivia berdecak pelan, "Aku tetap tidak bisa tenang, jika wanita satu itu masih berada di kota B. Kau tahu, dia pernah menarik rambutku, saat Brayen bertengkar dengan Richard waktu itu di klub malam." ujarnya dengan kesal.
"Sudahlah lupakan, biarkan saja, aku yakin Elena juga tidak akan menganggu hubunganku lagi dengan Brayen," jawab Devita.
"Ya, semoga itu benar. Karena kalau dia berani menganggumu lagi. Aku akan mencekik lehernya sampai dia tidak bisa menghirup udara lagi." ucap Olivia sambil mengepalkan tangannya dengan kuat. Napasnya memburu jika mengingat tentang Elena.
"Jangan membahas itu lagi, lebih baik kita pulang. Brayen pasti akan marah padaku kalau aku pulang terlambat." Devita melirik arlojinya, kini sudah pukul tujuh malam, dia tidak ingin pulang terlalu malam. Brayen pasti akan marah jika dia terlambat pulang.
"Baiklah, kita pulang sekarang," balas Olivia.
Setelah Devita meminta bill dan membayar semua tagihan yang sudah di pesan dirinya dan Olivia. Mereka kini meninggalkan restoran dan langsung menuju ke arah parkiran mobil. Keduanya harus terpisah, karena Olivia dan Devita masing - masing membawa mobil.
"Devita, kau hati - hati sampai bertemu besok di kampus," ucap Olivia yang sudah tiba di depan mobilnya.
"Kau ini bagaimana Olivia! Besok itu weekend. Aku di rumah dan akan menghabiskan waktu dengan Brayen." Devita mendengus.
Olivia tersenyum lebar. "Aku lupa besok weekend baiklah sampai bertemu nanti di kampus. Happy Weekend" ucap Olivia .
Devita mengangguk, "Ya, see you."
Devita masuk ke dalam mobilnya begitu pun dengan Olivia. Kini mobil mereka berjalan beriringan meninggalkan parkiran mall.
...***...
"Dimana Devita?" tanya Brayen pada Laretta yang berjalan masuk ke dalam rumah. Dia baru saja tiba dan langsung bertanya keberadaan Istrinya, karena saat di depan dia belum melihat mobil Devita.
"Devita belum pulang, tadi dia kirim pesan padaku, dia sedang dalam perjalanan pulang," jawab Laretta apa adanya.
Brayen membuang napas kasar. Dia melirik arloji kini sudah pukul jam delapan malam. Padahal Devita mengatakan akan pulang jam tujuh malam. Tapi, hingga dia kembali, Devita masih belum juga pulang.
"Tenanglah, Kak. Devita hanya ke mall bersama dengan teman kuliahnya." Laretta berusaha menenangkan Kakaknya itu.
"Brayen, kau sudah pulang?" suara Devita menyapa. Dia baru saja tiba, saat dia masuk kedalam rumah, dia mendapati Laretta dan Brayen berada di ruang tamu.
"Ya," jawab Brayen singkat.
"Devita, aku masuk dulu ke kamar," ujar Laretta mengangguk pelan.
"Brayen, kita ke kamar." Devita mendekat, dia langsung memeluk lengan suaminya. Kemudian, dia mengajak Brayen masuk ke dalam kamar. Brayen masih diam, dia melangkah mengikuti Devita masuk ke dalam kamar.
"Kenapa kau pulang terlambat?" suara Brayen bertanya terdengar begitu dingin saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Maaf, tadi aku berbelanja dan keenakan makan seafood bersama dengan Olivia." kini Devita mulai membantu suaminya, melepaskan dasi dan jasnya.
Devita mengangguk, " Ya, maaf lain kali aku pasti akan menghubungimu."
"Brayen, maaf tadi saat aku sedang makan dengan Olivia. Aku tidak sengaja bertemu dengannya," ujar Devita yang tidak sengaja dirinya bertemu dengan William.
"Kau bertemu dengan William?" Brayen mengerutkan keningnya. "Apa yang dia katakan padamu?"
"Tidak, dia tidak mengatakan apa-apa. William hanya menyapaku dan bertanya, bagaimana kabarku? Dia juga bertanya, setelah aku lulus kuliah nanti, apa aku akan melanjutkan bisnis keluargaku atau tidak." jelas Devita.
"Jangan terlalu banyak bicara dengannya. Kau bisa langsung meninggalkannya, jika dia menghampirimu," tukas Brayen menekankan. Dia tidak suka, jika mendengar Devita berbicara dengan William.
Devita mendesah pelan. "Aku tidak mungkin melakukan itu, Brayen. Lagi pula dia hanya menanyakan kabarku"
"Meski hanya menanyakan kabarmu, aku tetap tidak suka dia berbicara denganmu," tukas Brayen dingin.
Devita berdecak " Kau ini berlebihan sekali,"
Brayen tersenyum, dia menarik dagu Devita, mencium dan ******* lembut bibir Istrinya itu.
"Brayen, aku ingin bertanya sesuatu," ucapnya dengan lembut saat Brayen melepaskan ciumannya.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Brayen mengelus lembut pipi Devita.
"Apa kau tahu bagaimana kabar tentang Elena?" tanya Devita.
"Aku tidak ada urusan dengan wanita itu. Untuk apa aku tahu tentang hidupnya," jawab Brayen yang tidak perduli. Dia memang sudah tidak memperdulikan bagaimana kabar Elena.
"Ya, kau benar. Tapi aku pikir kau masih tahu kabar tentang Elena," ucap Devita.
Brayen menangkup kedua pipi Devita. Dia memberikan kecupan bertubi - tubi di bibir Istrinya. "Aku tidak pernah peduli lagi dengan wanita itu. Jika aku boleh memilih lima tahun yang lalu, lebih baik aku menjalin hubungan denganmu. Aku menyesal meninggalkan kota B begitu lama, seharusnya sudah sejak dulu aku pulang ke kota B."
Devita langsung memukul lengan suaminya. "Kau yang benar saja, lima tahun yang lalu usiaku masih 16 tahun! Bagaimana bisa kau menjalin hubungan dengan gadis berusia 16 tahun! Kau ini!"
Brayen terkekeh pelan, " Aku lupa istriku masih kecil, tapi aku yakin meskipun usiamu masih 16 tahun, jika aku bertemu denganmu di awal aku akan tetap menyukaimu."
Devita mendengus, "Apa kau tidak ingat? Pertama kita bertemu kau langsung marah - marah denganku, karena baju mahalmu itu terkena kueku. Di awal pertemuan saja kau tidak menyukaiku!"
" Itu berbeda sayang, karena kau itu ceroboh sudah menumpahkan kuemu itu. Kau juga jalan tidak hati - hati, akhirnya menumpahkan kuemu ke bajuku. Jelas aku marah," balas Brayen membela diri.
Devita mencebikkan bibirnya. " Kau ini, pandai sekali beralasan! Kau membentakku begitu kencang di pertemuan pertama kita."
"Itu juga karenamu, sayang. Karena kau yang sudah memancing emosiku. Kau dengan berani menyebutku, Paman." balas Brayen yang masih terus membela diri.
"Lebih baik aku memanggilmu dengan sebutan Paman! Dari pada aku harus memanggilmu dengan sebutan Grandpa!" Seru Devita kesal.
"Kau..." Brayen langsung mencium bibir Devita berkali - kali. Istri kecilnya itu, benar - benar menggemaskan. Tanpa di duga Brayen langsung membopong tubuh Devita gaya bridal. Sontak Devita terkesiap saat Brayen membopong dirinya. " Brayen! Kenapa kau menggendongku!" Teriak Devita.
"Kita akan mandi bersama," balas Brayen seraya melangkah menuju ke arah kamar mandi.
"Tidak Brayen! Aku ingin mandi sendiri!" Seru Devita. Namun, Brayen tidak pernah memperdulikannya, dia tetap terus melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.