Love And Contract

Love And Contract
Bertemu Keluarga Angkasa



"Hubungan itu jauh lebih indah jika kita take and give Angkasa. Tidak selamanya kau hanya memberikanku barang - barang mewah karena aku juga ingin memberikan barang - barang untuk dirimu ataupun keluargamu," lanjut Laretta menjelaskan.


Seketika Angkasa terdiam mendengar ucapan dari Laretta. Angkasa tersenyum tipis. Betapa beruntungnya dia memiliki seorang wanita yang baik dan juga tulus.


"Bisakah kau membukakan kotaknya?" pinta Angkasa.


"Ya tentu," ucap Laretta dengan senang hati membukakan kotak jam tangan yang ada di tangannya itu. Kemudian Angkasa mengarahkan tangan kirinya meminta Laretta untuk memaikan jam tangan di pergelangan tangannya.


"Apa kau suka?" tanya Laretta yang baru saja selesai memakaikan jam tangan itu.


"Kau memiliki selera yang mengagumkan Laretta Gissel Mahendra," puji Angkasa dan Laretta hanya membalasnya dengan senyuman.


"Angkasa, ada hal yang ingin aku tanyakan padamu?" ucap Laretta dengan serius.


"Ada apa?" tanya Angkasa. Dia menoleh sebentar ke arah Laretta, lalu kembali menatap kedepan dan fokus mengemudikan mobilnya.


"Apa keluarga mu itu sudah tahu, kalau aku itu sedang hamil?" Akhirnya Laretta bertanya. Karena sejak dulu dia belum menanyakan hal seperti ini.


"Aku sudah memberitahu mereka sebelumnya. Tapi mereka belum tahu dirimu. Karena aku sengaja ingin mengenalkanmu langsung pada keluargaku."


Laretta mengagguk paham.


Angkasa menyentuh tangan Laretta dan meremasnya pelan. "Aku yakin, keluargaku akan menyukaimu."


...***...


Mobil Angkasa kini memasuki mansion keluarganya. Laretta menatap mansion milik keluarga Angkasa yang bernuansa gold. Setelah Angkasa memarkirkan mobilnya, Laretta dan Angkasa turun dari mobil dan masuk kedalam rumah. Para pelayan menundukkan kepala mereka dan menyapa ketika Angkasa dan juga Laretta melangkah masuk kedalam. Laretta membalas sapaan para pelayan dengan senyuman ramah yang ada di wajahnya.


Angkasa menggenggam tangan Laretta masuk menuju ke ruang keluarga. Jantung Laretta berdegup dengan kencang ketika Angkasa membawanya melangkah masuk kedalam rumah. Laretta mengatur napasnya berusaha untuk tenang.


"Pa... Maa..." sapa Angkasa ketika memasuki ruang keluarga.


"Angkasa?" Citra sang ibu beranjak dari tempat duduknya, dan mendekat ke arah putranya itu.


"Pa...Maa... perkenalkan ini Laretta Gissel Mahendra, calon istriku."ucap Angkasa yang memperkenalkan Laretta kepada orang tuanya.


"Laretta Gissel Mahendra? Adik dari Brayen Adams Mahendra?" Varell sang Ayah terkejut mendengar perkataan Angkasa, yang mengenalkan calon istri putranya itu.


"Jadi, calon istri yang kau bilang sedang hamil itu adalah Laretta Gissel Mahendra?" Citra menatap tak percaya pada Angkasa.


"Ya," jawab Angkasa. "Wanita yang aku ceritakan pada kalian adalah Laretta Gissel Mahendra. Dan kami akan segera menikahi dalam waktu dekat."


Citra tersenyum. "Laretta, kemarilah..."


Laretta tersenyum, lalu dia melangkah mendekat ke arah Citra.


"Kau sangat cantik, Laretta. Berapa usia kandunganmu?" Citra mengelus lembut pipi Laretta.


"Terima kasih Bibi. Usia kandunganku sudah delapan belas minggu." jawab Laretta. "Bibi, ini aku membelikan sesuatu untuk Bibi, Paman dan juga Alena."


Kemudian Laretta mengambil shopping bag yang ada di tangan Angkasa, kemudian memberikannya pada Bibi Citra.


"Sayang, seharusnya kau itu tidak perlu. Bibi tidak ingin menyusahkanmu," kata Citra yang merasa tidak enak ketika Laretta memberikan hadiah untuknya.


"Tidak apa-apa, Bibi. Aku berharap Bibi, Paman dan Alena menyukai hadiah dariku," balas Laretta.


"Terima kasih Laretta, kau adalah wanita yang sangat baik. Aku bisa melihat kau begitu anggun dan cantik." puji Varell.


"Itu sungguh berlebihan Paman, aku hanya memberikan hadiah kecil saja." Laretta tersenyum hangat.


Citra tersenyum, tatapannya tidak henti menatap calon menantunya itu. "Laretta, apa kau sudah menyiapkan pernikahanmu?"


"Belum Bibi, nanti aku akan menyerahkannya pada wedding organizer yang terakhir menangani pernikahan Kakakku." jawab Laretta.


"Laretta, apa keluargamu sudah mengetahui ini?" tanya Varell.


"Sudah Paman, semuanya sudah mengetahui rencana pernikahan kami." jawab Laretta.


Angkasa menoleh, menatap Alena adik bungsunya yang berlari ke arahnya. Alena langsung memeluk erat tubuh Angkasa. "Aku sangat merindukanmu, Kak!"


Angkasa membalas pelukan adiknya itu. "Tidak hanya dirimu. Aku juga merindukanmu."


Alena mengurai pelukannya, lalu mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang berada di dekat Ibunya. "Kakak dia siapa?" tanya Alena.


"Dia Laretta, calon istriku." jawab Angkasa. "Dan sebentar lagi dia akan menjadi Kakak Iparmu."


Kening Alena berkerut dalam, menatap seluruh penampilan Laretta. Lalu Alena kembali menoleh ke arah Angkasa. "Tunggu, kenapa dia yang harus menjadi Kakak Iparku? Harusnya yang jadi Kakak Iparku adalah Devita. Bukan dia! Bukankah Kakak sudah berjanji padaku akan menikahi Devita? Kenapa kau membohongiku, Kak?"


"Alena!" Citra dan Varell sama - sama menegur Alena.


"Alena! Jaga bicaramu!" Tukas Angkasa.


"Kakak sudah membohongiku! Kakak bilang akan menikah dengan Devita! Tapi kenapa harus menikah dengan wanita lain? Sampai kapanpun aku hanya ingin Devita yang menjadi Kakak Iparku!" Alena berseru dengan meninggikan suaranya.


Tanpa menunggu, Citra langsung menarik paksa tangan Alena keluar dari ruang keluarga. Alena memberontak namun, ketika Angkasa melayangkan tatapan tajamnya, membuat Alena dengan terpaksa ikut menurut pada Citra.


"Laretta, maafkan Alena? Dia belum dewasa, sifatnya masih seperti anak - anak," ucap Varell yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, Paman. Aku mengerti, lagi pula wajar saja jika Alena bersikap seperti itu. Karena dia cukup dekat dengan Devita bukan?" balas Laretta dengan senyuman tulus di wajahnya.


"Kau tahu Alena dekat Devita?" Varell sedikit terkejut dengan apa yang di katakan oleh Laretta.


"Devita adalah Kakak Iparku, kami sangat dekat. Aku sangat menyayangi Devita seperti saudara perempuanku sendiri. Devita bercerita dia sempat pernah dekat dengan Alena ketika Alena berada di Kanada," jelas Laretta.


Varell mengangguk paham. "Aku sampai lupa, aku sudah mendengar kabar Devita telah menikah dengan Brayen Adams Mahendra." balas Varell. "Ya sudah, lebih baik kita pergi ke ruang makan jangan di pikirkan. Alena akan baik - baik saja."


Kemudian, Angkasa memeluk bahu Laretta dan membawa wanita itu menuju ke ruang makan. Sesekali Angkasa melihat Laretta, dia sungguh tidak ingin melukai hati Laretta. Namun, terlihat di wajah Laretta tetap bersikap tenang dan tidak menunjukkan kemarahan.


...***...


"Alena! Dimana letak kesopanmu


bicara dengan orang lain!" Citra menghentakan tangan Alena dengan kasar. Tatapannya menatap dingin putrinya itu.


"Mama! Kak Angkasa pernah berjanji akan menikahi Devita. Kak Angkasa juga mengatakan akan membuat Devita menjadi Kakak Iparku!" Seru Alena.


"Alena, apa kau tidak ingat? Devita itu sudah menikah! Jangan seperti ini Alena. Meski Mama juga ingin Devita yang menjadi menantu Mama, tapi Laretta adalah wanita yang baik dan cantik. Tidak ada salahnya kita menerima kenyataan ini. Terlebih Laretta sedang hamil, jadi Mama minta kau harus jaga sikapmu Alena." jelas Citra.


"Wanita itu sedang hamil?" Alena tersenyum sinis. "Jika dia itu wanita baik - baik, tidak mungkin dia hamil di luar nikah! Dia pasti hanya menjebak Kakakku saja!"


"Alena!" Peringat Citra. "Wanita yang kau sebut itu adalah Laretta Gissel Mahendra. Jaga bicaramu padanya. Jangan membuatnya tersinggung."


"Aku tidak perduli! Meski dia adalah putri dari Keluarga Mahendra, tapi aku hanya ingin Devita yang menjadi Kakak Iparku!" Tukas Alena menekankan.


"Alena, jika kau masih tidak mau menjaga sikapmu, Maka Mama akan kembali mengirimmu ke Jepang!" Balas Citra mengancam dengan sengaja putrinya itu.


"Mama jahat! Mama tidak mengerti perasaanku!" Sentak Alena. Menghentakkan kakinya, lalu berjalan meninggalkan Citra.


Sedangkan Citra, hanya menggeleng pelan dan menghela nafas dalam melihat Alena putri bungsunya itu. Kini Citra menghampiri Angkasa dan juga Laretta, dia ingin segera meminta maaf pada Laretta. Sungguh, saat ini Citra merasa tidak enak dengan Laretta.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.