
"Apa kau percaya padaku?" Angkasa menatap Laretta penuh harap.
Seketika senyum di bibir Laretta terukir. Dia mengangguk pelan. "Maaf, aku seperti anak kecil. Aku minta maaf."
"Ssst, jangan mengatakan itu. Ini semua karena kesalahanku. Aku yang salah padamu karena tidak mengerti perasaanmu. Aku minta maaf." Angkasa menempelkan telunjuknya ke bibir Laretta.
Laretta tersenyum dan mengangguk pelan. Tanpa di duga, Angkasa menarik tangan Laretta dan membawa Laretta duduk di pangkuannya. Laretta terkesiap saat ini dirinya sudah berada di pangkuan Angkasa.
"Angkasa, turunkan aku." Laretta berusaha turun dari pangkuan Angkasa. Tapi pria itu tidak membiarkannya. Angkasa pun semakin erat memeluk pinggang Laretta
Kemudian Angkasa mendekatkan bibirnya ke telinga Laretta dan berbisik. " Biarkan seperti ini, karena aku ingin merasakan degup jantungmu saat ini ketika berada di dekatku."
Angkasa menyelipkan rambut Laretta ke belakang telinga wanita itu. Pipi Laretta merona merah ketika Angkasa memperlakukannya dengan begitu manis.
"Laretta, percayalah. Aku sudah jatuh hati padamu. Aku tidak mungkin untuk melukaimu." ujar Angkasa. "Mendapatkanmu tidak mudah, Laretta. Kau sangat tahu aku banyak sekali berjuang demi bisa meluluhkan hati Kakakmu itu. Aku tidak akan membiarkan kau terluka, aku tidak ingin Kakakmu itu mengambilmu dariku."
"Aku percaya padamu, Angkasa. Aku tidak akan pernah lagi meragukanmu." Laretta kembali tersenyum, dia mengelus dengan lembut rahang Angkasa. "Tapi, bagaimana kau bisa tahu aku sedang kesal? Karena di malam terakhir kita di Las Vegas, kau masih belum tahu?"
Angkasa menyentuh tangan Laretta yang terus mengelus rahangnya. Membawanya mendekat ke bibirnya dan mengecup punggung tangan wanita itu. "Aku sudah merasakannya sejak awal, kau itu terlihat berbeda dari biasanya. Dan kemarin saat kita pulang, Devita itu menghubungiku. Devita memberitahuku kalau kau sudah salah paham dengannya."
Laretta tersentak. "Devita mengetahuinya?"
"Ya, Devita tahu." balas Angkasa. "Dia juga tahu kalau Brayen juga salah paham denganku."
"Kakakku juga salah paham?" Laretta menatap Angkasa tak percaya.
Angkasa mengangguk. "Tapi Devita sudah menjelaskannya pada Kakakmu itu."
Laretta menghela nafas dalam. "Aku jadi tidak enak pada Devita. Pantas saja kemarin saat kita pulang, dia ingin berbicara denganku"
"Kau bisa berbicara nanti dengannya." Angkasa menangkup kedua pipi Laretta. Menatap lembut manik mata Laretta. "Caramu cemburu itu sangat menggemaskan."
Laretta mencebik. "Kau ini sengaja meledekku, ya?"
"Tidak sayang?" Angkasa menempelkan keningnya ke kening Laretta. "Aku hanya membicarakan fakta. Bukan meledekmu." bisiknya.
"Kau..."
Mata Laretta membulat sempurna, saat Angkasa memagut bibirnya. Bahkan Laretta tidak sempat menyelesaikan perkataannya. Angkasa ******* lembut bibir Laretta. Mendesak Laretta agar membuka mulutnya. Hingga kemudian, Laretta mengaitkan tangannya ke leher Angkasa dan memejamkan matanya.
Perlahan Laretta mulai membuka mulutnya. Bibir mereka saling mencecapi bergantian. Lidah mereka saling berpagutan. Laretta meremas kemeja Angkasa. Sentuhan dari Angkasa benar - benar menghipnotis dirinya.
"Percayalah, aku hanya mencintaimu." bisik Angkasa saat pagutannya terlepas
Laretta terseyum dan mengangguk pelan, "Aku percaya padamu. Dan aku juga sangat mencintaimu Angkasa."
"Aku harus pergi sekarang. Karena aku masih memiliki meeting dengan perusahaan asal Dubai." Angkasa mengelus dengan lembut pipi Laretta.
"Aku juga ingin bertemu dengan Devita. Aku merasa tidak enak padanya." balas Laretta.
Angkasa tersenyum. Lalu membantu Laretta untuk berdiri. Karena sejak tadi Laretta terus berada di pangkuannya. Kemudian Angkasa beranjak. "Aku pergi sekarang. Nanti, aku akan menghubungimu." pamit Angkasa.
"Ya, hati - hati." Laretta melangkah menemani Angkasa sampai kedepan pintu kamarnya. Angkasa mengecup kening Laretta, Lalu berjalan meninggalkan Laretta.
"Aku harus menemui Devita," gumam Laretta saat melihat Angkasa sudah menghilang dari pandangannya.
Tanpa menunggu lama Laretta langsung berjalan menuju ke kamar Devita. Mendengar penjelasan dari Angkasa, Laretta sungguh tidak enak pada Devita.
Laretta menarik napas panjang ketika dirinya sudah berada di depan kamar Devita. Laretta melangkah mendekat lalu mengetuk pelan pintu kamar Devita.
Ceklek.
Pintu terbuka, Devita sangat terkejut melihat Laretta yang berada di hadapannya.
"Devita, apa aku menganggumu?" tanya Laretta dengan senyuman hangat di wajahnya.
"Tidak," jawab Devita cepat. "Masuklah Laretta."
Laretta mengangguk kemudian, melangkah masuk kedalam kamar. Kini mereka duduk di sofa.
"Aku dengar kau demam." Laretta lebih dulu memulai percakapannya saat mereka duduk di sofa. Laretta berusaha mencairkan suasana di antara dirinya dan juga Devita.
"Hanya demam biasa, sekarang sudah jauh lebih baik." jawab Devita.
"Aku senang mendengarnya," balas Laretta "Hem.., Devita ada hal yang ingin aku katakan padamu?"
"Ada apa Laretta?" Devita menatap lekat Laretta yang duduk di sampingnya.
"Sebelumnya aku ingin minta maaf padamu. Aku minta maaf karena sudah mendiamkanmu," kata Laretta dengan penuh penyesalan. "Tadi, Angkasa datang dan sudah menjelaskan semuanya padaku. Harusnya aku sadar kalau kalian hanya teman masa kecil. Aku sungguh maaf Devita."
"Aku yang harusnya minta maaf. Lain kali, aku tidak akan membuatmu salah paham seperti ini lagi, Laretta." kata Devita. Dia menyentuh tangan Laretta dan terus menatap lekat manik mata Laretta. "Aku dan Angkasa hanya teman masa kecil. Tidak ada yang tersisa di antara kami. Aku berharap kau bisa melupakan masa laluku dengan Angkasa."
Laretta tersenyum. "Aku tahu Devita, aku benar - benar sudah melupakannya. Aku percaya pada Angkasa dan aku juga percaya padamu."
"Aku senang mendengarnya," balas Devita.
"Devita, aku juga dengar Kak Brayen juga salah paham dengan Angkasa?"
Devita menggeleng pelan dan tersenyum. "Kakakmu itu memang sungguh berlebihan. Tidak hanya dengan Angkasa, tapi dengan pria yang waktu itu mengajak aku berkenalan saja dia marah."
Laretta terkekeh pelan. "Itu artinya dia itu begitu mencintaimu."
"Sama seperti aku yang juga mencintainya." ujar Devita. "Lebih baik kita menonton film. Aku merasa sangat bosan jika menonton film sendirian. Apa kau mau?"
"Tentu aku mau?" jawab Laretta antusias.
Kemudian, Devita langsung mengambil remote televisi dan menekan tombol on untuk menghidupkan televisi. Devita mengambil ponselnya dan menghubungi pelayan untuk mengantarkan beberapa jenis ice cream dan cake.
Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan cake dan juga Ice cream yang di pesan oleh Devita. Kini Devita dan juga Laretta menikmati cake dan juga ice cream. Sembari menonton film drama romantis kesukaan mereka. Suara canda dan tawa langsung memenuhi ruangan. Devita pun tersenyum senang, akhirnya kesalahpahaman dengan Laretta tidak berlangsung lama.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.