
Brayen terseyum sinis, "Apa yang ingin kau bicarakan padaku?"
"Aku rasa kau sangat tahu apa yang ingin aku katakan padamu," jawab Angkasa tegas.
"Katakan, apa yang ingin kau bicarakan padaku?" Brayen menghunuskan tatapan tajamnya ke arah Angkasa.
"Alright, tentu aku datang kesini untuk membahas pernikahanku dengan Laretta, adikmu," Angkasa semakin mendekat ke arah Brayen. Jarak di antara keduanya begitu dekat. Terlihat Angkasa masih bersikap tenang. Namun, tidak untuk Brayen. Brayen menggeram kala mendengar ucapan dari Angkasa.
Laretta menelan salivanya susah payah ketika mendengar ucapan Angkasa. Seketika, tubuhnya menegang, saat dia melihat wajah Brayen yang terlihat begitu marah.
"Angkasa Nakamura, aku harus mengakui keberanianmu datang kesini. Terlebih kau memaksa untuk masuk dan membawa banyak anak buahmu," tukas Brayen sinis. "Tapi, jika tujuan kedatanganmu itu untuk bermimpi membicarakan pernikahan. Lebih baik kau pergi dari sini, sebelum aku benar-benar melenyapkanmu dengan tanganku." sorot mata Brayen begitu tajam, dia menatap Angkasa dengan tatapan penuh peringatan.
Angkasa terseyum miring. "Aku pernah mengatakan padamu, Brayen Adams Mahendra. Singkirkan egomu itu."
Seluruh orang di ruangan itu terus memperhatikan Brayen dan juga Angkasa. Tidak hanya Laretta yang wajahnya memucat, tapi Devita juga memucat. Felix yang berada di sana, dia lebih untuk diam dan tidak ikut campur.
"Kau pikir siapa dirimu, hingga berniat menikahi adikku?" tukas Brayen sarkas. " Kau bahkan sangat tidak pantas menjadi suami dari adikku!"
"Ya, kau benar. Aku mungkin tidak pantas menikahi putri dari keluarga Mahendra. Tapi kau tentu tidak mungkin melupakan bahwa Laretta sedang hamil anakku. Aku menginginkan untuk membesarkan anakku bersama dengan adikmu," jawab Angkasa tegas.
"Meski aku tahu, kau adalah Ayah dari bayi yang di kandung adikku, aku tidak perduli!" Seru Brayen dengan nada meninggi.
"Brayen," Devita berusaha menegur pelan sang suami. Dia tidak ingin mendengar perdebatan antara Brayen dan juga Angkasa.
"Devita, ini urusanku dengan pria ini. Biarkan aku yang menyelesaikannya."
Brayen menghunuskan tatapan penuh peringatan pada istrinya agar tidak ikut campur.
Devita pun lebih memilih untuk diam, dan tidak lagi menjawab. Dia membiarkan sang suami menyelesaikan urusannya.
"Sekarang lebih baik kau pergi dari hadapanku, sebelum aku benar-benar melenyapkanmu," Brayen kembali menatap tajam Angkasa. Terlihat Angkasa yang masih terlihat tenang.
"Aku sudah mengatakan dengan jelas, tujuanku datang kesini ingin membahas pernikahanku dan Laretta," tukas Angkasa menekankan.
"Apa kau itu tuli? Adikku hamil, bukan alasanku untuk menerimamu! Meski adikku sekarang sedang hamil anakmu, aku tetap tidak akan semudah itu memberikan adikku untuk seorang pria! Terlebih pria itu, hanya seperti dirimu!" Ucap Brayen sarkas.
Angkasa terseyum tipis " Aku harus mengakui, jika kau ini adalah Kakak yang sangat baik. Tapi meski kau terus mengusirku dari sini, aku akan tetap kembali kesini."
"Bagaimana jika kau memberikan aku syarat? Setidaknya kau bisa memberikan aku beberapa syarat dan aku yakin, aku pasti bisa memenuhi semua persyaratanmu." Angkasa melanjutkan perkataannya dengan penuh percaya diri.
"Syarat? Sepertinya itu menarik?" Brayen menyunggingkan senyuman sinis. " Tapi aku yakin, kau tidak akan mampu untuk memenuhinya."
"Kalau begitu, mari kita buktikan, aku mampu atau tidak. Katakan persyaratan apa yang kau mau untuk mengujiku?" tantang Angkasa.
Brayen mengangkat bahunya, "Well, rasa percaya dirimu sangat tinggi."
"Alright, persyaratan pertama, lawan aku. Tunjukkan kemampuanmu. Aku tidak akan menggunakan anak buahku dan kau juga di larang menggunakan anak buahmu. Selama ini, aku lihat kau hanya diam saja saat aku menghajarmu. Sekarang lawan aku dan tunjukkan seberapa besar kemampuanmu. Aku ingin melihat pria seperti apa yang berada di hadapanku. Jika kau kalah, aku rasa kau memang tidak pantas bersama dengan adikku." ucap Brayen mengajukkan persyaratan pertamanya. Dia tersenyum sinis menatap Angkasa.
"Devita, kau diam. Aku tidak akan terluka." jawab Brayen menekankan.
"Kakak jangan!" Laretta berusaha menghentikkan Brayen. Sejujurnya bukan hanya Brayen yang dia khawatirkan. Tentu dia juga mengkhawatirkan keadaan Angkasa.
"Jangan ikut campur Laretta!" Seru Brayen memberikan peringatan pada adiknya. Kemudian dia meminta semua orang yang ada di sana untuk menyingkir.
Devita, Laretta dan juga Felix pun menjauh dari Brayen dan Angkasa. Felix menepuk bahu Devita, dia memberikan keyakinan pada Devita untuk jangan mengkhawatirkan Brayen.
Kini Brayen dan Angkasa saling melayangkan tatapan tajam satu sama lain. Kali ini Angkasa menatap Brayen dengan penuh hati - hati.
"Let's play the game, Angkasa Nakamura," tukas Brayen dengan seringai di wajahnya.
"Yes, let's play the game, Brayen Adams Mahendra," jawab Angkasa menantang.
BUGH.
Brayen melayangkan pukulannya ke arah pelipis Angkasa. Angkasa mundur perlahan setelah mendapatkan pukulan pertama dari Brayen. Kemudian, Brayen kembali menyerang Angkasa, dia melayangkan pukulan keduanya ke hidung Angkasa hingga mengeluarkan darah.
Devita dan Laretta saling berpegangan, wajah mereka berdua terlihat begitu pucat. Terlebih Laretta saat melihat dengan mudahnya Brayen memukul wajah Angkasa. Meski Angkasa masih bisa berdiri, tetapi Laretta masih sangat cemas dan takut.
BUGH.
Angkasa kali ini berhasil membalas pukulan dari Brayen, dia berhasil memukul hidung Brayen hingga mengeluarkan darah. Brayen pun mundur perlahan saat mendapatkan pukulan dari Angkasa. Namun, di detik selanjutnya Brayen kembali menyerang dengan pukulan bertubi-tubi di wajah Angkasa.
"Astaga, Brayen! Sudah hentikan!" Seru Devita. Terlihat dari wajahnya begitu takut dan cemas.
"Kak, aku mohon sudah hentikan perkelahian ini," Laretta berusaha memohon agar Kakaknya itu mau menghentikkan perkelahiannya dengan Angkasa. Dia tidak tahan melihat Angkasa yang di hajar oleh Brayen. Meski Angkasa mampu melawannya. Tapi Laretta juga tidak ingin keduanya terluka.
Namun Brayen masih terus memukul hidung dan pelipis Angkasa. Dengan gerakan tangan kanan Angkasa dia berhasil menahan pukulan dari Brayen. Kini Angkasa kembali membalas pukulan dari Brayen. Mendapatkan balasan dari Angkasa. Brayen langsung menendang perut Angkasa, hingga membuat pria itu tersungkur ke lantai. Bukan hanya Angkasa tapi Brayen juga ikut tersungkur karena dirinya hampir kehabisan tenaga. Mereka berdua memang tidak memperdulikan teriakan dari Devita dan juga Laretta yang meminta dan memohon kepada mereka untuk berhenti.
Felix berdecak saat melihat Brayen tersungkur di lantai. " Brayen jika kau kalah, sahammu di perusahaanku, harus kau lepas. Itu akan menjadi milikku."
"Felix!" Devita menghunuskan tatapan tajamnya.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.