Love And Contract

Love And Contract
Keberanian Felix



Angkasa yang baru saja tiba di taman dia menatap Laretta dan juga Olivia tengah mengobrol. Dia berjalan mendekat arah Laretta dan Olivia. " Apa aku menganggu kalian?" tanya Angkasa saat berada di hadapan Olivia dan juga Laretta.


Laretta sedikit terkejut, saat melihat Angkasa, karena tadi Angkasa tengah bersama dengan Brayen. " Kau sudah selesai berbicara dengan Kakakku?"


"Ya, aku sudah selesai." jawab Angkasa, dia duduk di samping Laretta.


"Hi, Olivia. Apa kabar?" sapa Angkasa menoleh ke arah Olivia.


Olivia tersenyum. " Aku baik Angkasa. Bagaimana denganmu?"


"Aku juga baik. Lama tidak bertemu, kau sekarang sudah tinggi Olivia." Angkasa sengaja menggoda Olivia.


Olivia mencebik, " Memangnya aku akan selamanya pendek?"


"Sepertinya kalian menikmati cuaca yang cerah," suara bariton melangkah masuk ke taman. Mendekat ke arah Laretta, Olivia dan juga Angkasa.


Olivia dan Laretta menoleh, mereka bersamaan melihat Felix yang ternyata datang menghampiri mereka. Laretta tentu tahu, Felix datang untuk Olivia. Beruntung di samping Laretta ada Angkasa yang menemani dirinya.


"Felix, kau ingin mengajak Olivia pulang?" tanya Laretta sambil menatapa Felix.


"Ya, ini sudah sore aku harus segera membawanya pulang." jawab Felix dia mengalihkan pandangannya dan menatap Olivia. " Apa kau ingin pulang sekarang, sweetheart?" tanya Felix.


Olivia mengganguk singkat, " Aku ingin pulang sekarang," jawab Olivia ketus, dia beranjak dari tempat duduknya.


"Laretta, aku harus segera pulang. Senang berkenalan denganmu. Aku berharap kita sering berjalan bersama." kata Olivia dengan senyuman hangat di wajahnya.


"Tentu Olivia, aku juga senang berkenalan denganmu. Hati - hati di jalan Olivia."balas Laretta.


"Angkasa aku pulang. Tolong jaga Laretta. Dia wanita yang baik." Olivia mengalihkan pandangannya menatap Angkasa yang duduk di samping Laretta.


Angkasa tersenyum. "Aku pasti akan menjaganya."


Felix menepuk pelan bahu Angkasa. "Aku percaya kau bisa melindungi sepupuku dengan baik. Jika Brayen menghalanginya, maka yang harus kau lakukan adalah membuatnya percaya. Kalau kau adalah orang yang tepat untuk Laretta. Aku bisa melihat kau pasti mampu membuat Brayen yakin atas dirimu."


"Kau tenang saja, aku pastikan Brayen akan mendukung hubunganku dengan Laretta. Dan aku rasa memiliki Kakak Ipar arrogant seperti Brayen Adams Mahendra sangat mengangumkan." balas Angkasa.


Felix terkekeh pelan. " Well, mengangumkan? Hebat, bahkan aku yang menjadi sepupunya harus bersabar untuk menghadapinya. Kau belum tahu saja ancaman seorang Brayen Adams Mahendra ketika dia sudah bertingkah sangat menyebalkan."


Angkasa mengulum senyumannya. " I know, tenang saja aku pasti bisa mengatasinya."


"Kalian ini sepertinya bahagia sekali membicarakan Kakakku!" Tegur Laretta kesal.


"Well, tenang saja. Meskipun Kakakmu itu memang menyebalkan tetapi dia tetap sepupuku." balas Felix dengan kekehan kecil.


"Aku harus pergi mengantar Olivia. Angkasa, aku minta tolong jaga dan lindungi Laretta, sepupuku yang paling cantik ini."


"Aku tentu akan menjaganya."


Felix tersenyum tipis, dia menggenggam tangan Olivia berjalan meninggalkan Angkasa dan juga Laretta. Sedangkan Olivia mau tidak mau membiarkan tangannya di genggam oleh Felix.


...***...


Sepanjang perjalanan, suasana hening. Olivia menatap keluar jendela. Felix tetap menyetir dengan kecepatan sedang. Lebih tepatnya Felix tidak ingin terburu-buru mengantarkan Olivia. Itu yang membuat Felix melajukan mobilnya pelan. Dia masih ingin melihat Olivia yang dengan wajah yang begitu menggemaskan.


"Tidak, aku masih kenyang," jawab Olivia singkat tanpa menoleh ke arah Felix, dia masih menatap keluar jendela.


"Tadi kau yang sengaja memberikan aku makanan pedas, kan? Apa kau senang melihat wajahku yang memerah dan harus bolak-balik masuk ke kamar mandi?" Felix bertanya tentang kejadian yang terjadi tadi siang, dia sengaja menyindir dan menggoda Olivia.


Olivia berusaha untuk tenang, pandangannya tetap menoleh ke arah jendela. "Aku tidak mengerjaimu, lagi pula makanan itu sama sekali tidak pedas. Kau saja yang berlebihan Felix. Aku saja makan itu biasa saja."


Felix menggeleng pelan dan tersenyum. " Jika aku sama sepertimu menyukai makanan pedas mungkin aku tidak akan seperti itu. Tapi sayangnya aku sama seperti sepupuku, Brayen. Aku tidak bisa makan makanan pedas. Tapi tidak masalah, cukup kau mengambilkan makanan untukku seperti tadi, sudah membuatku sangat senang sekali."


" Dia ini benar - benar sudah gila!" Batin Olivia dia mengumpat di dalam hati, bahkan Felix tidak menunjukkan kemarahannya. Harusnya Felix itu marah karena dia begitu berani mengerjai Felix.


Felix melirik ke arah Olivia sekilas, dia menatap Olivia yang menggeram dan seperti tengah mengumpat. Felix mengulum senyumannya, gadis yang ada di sampingnya ini selalu membuatnya tersenyum. Bahkan berada di samping Olivia hari - harinya menjadi jauh lebih baik.


"Mengumpat lah di depanku langsung, jangan di dalam hatimu, sweetheart. Aku juga tahu apa yang ada di dalam pikiranmu, Olivia Roberto." balas Felix dengan kekehan pelan.


Olivia mendengus kesal. " Aku itu tidak mengumpat! Kau pikir kau bisa tahu, apa yang ada di dalam hatiku? Memangnya kau ini peramal?"


"Well, lebih tepatnya aku ini berada di dalam hatimu. Jadi, aku tahu apa saja yang sedang kau pikirkan? Bahkan umpatanmu yang ada di dalam hatimu juga aku tahu." balas Felix dengan santai.


"Diamlah Felix! Kepalaku semakin pusing karenamu. Bisa - bisa aku akan semakin sakit kepala jika berbicara denganmu!" Ucap Olivia ketus.


Felix menahan tawanya, dia memang selalu suka jika Olivia menggemaskan seperti ini. Felix membelokkan mobilnya memasuki halaman parkir mansion milik Olivia. Jarak mansion milik Devita dan mansion milik Olivia memang cukup jauh.


"Terima kasih, sudah mengantarku." saat tiba di mansion. Olivia segera turun dari mobil. Namun ternyata, bukan hanya Olivia saja yang turun dari mobil. Felix juga ikut turun dari mobil. Hingga membuat Olivia tersentak melihat Felix juga ikut turun dari mobil.


Olivia menajamkan matanya pada Felix. "Untuk apa aku ikut turun! Aku tidak menawarkan mu untuk masuk ke dalam rumahku!"


Felix mengedikkan bahunya tidak perduli. "Aku hanya ingin masuk kerumah kekasihku, tidak salah, bukan?"


Olivia membuang napas kasar. "Pulanglah Felix. Hentikan kekonyolanmu ini. Lebih baik, sekarang kau pulang dan beristirahat! Aku lelah ingin segera tidur!"


Tanpa memperdulikan ucapan dari Olivia. Felix melangkah mendekat ke arah Olivia dan menggenggam tangan wanita itu masuk kedalam rumah. Olivia terkesiap saat Felix menarik tangannya masuk kedalam rumah. Dia membulatkan matanya tidak percaya atas keberanian Felix ini. Bahkan dirinya tidak meminta Felix untuk masuk, tapi pria itu tetap masuk kedalam rumah. Mau tidak mau, Olivia terpaksa mengikuti keinginan pria yang menarik tangannya ini.


Felix dan Olivia masuk kedalam rumah. Saat Felix bertemu dengan pelayan yang tengah menyapa, Felix meminta pelayan untuk membawakan minuman untuknya. Kemudian dia menarik tangan Olivia menuju ke arah sofa di ujung yang terdekat dengan mereka.


"Felix, apa kau ini sudah gila! Menarikku seperti ini?" seru Olivia meninggikan suaranya.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.