
Satu Bulan Kemudian...
"Brayen, kita jadi kan kerumah sakit?" tanya Devita saat melihat Brayen masuk kedalam kamar.
Brayen mendekat, lalu memeluk pinggang Devita. "Ya, hari ini kita akan kerumah sakit, kau bersiaplah."
Devita tersenyum, dia mengecup bibir Brayen dan langsung menuju ke arah walk in closetnya. Kehamilan Devita sudah memasuki usia ke tujuh bulan.Kandungannya, kian membesar. Seluruh gaun milik Devita sebelumnya sudah tidak ada lagi yang muat di tubuhnya. Meski Brayen selalu mengatakan jika dirinya sangat cantik dan seksi, nyatanya Devita terkadang masih kurang percaya diri. Namun, dia selalu mementingkan kesehatan bayi di dalam kandungannya.
Tidak lama kemudian, Devita sudah mengganti pakaiannya dengan dress khusus wanita hamil berwarna biru. Dia memoles wajahnya dengan make up tipis. Kini Devita mematut cermin, dia baru saja selesai berias. Dia mengusap pelan perutnya yang kian membuncit. Hanya tinggal dua bulan lagi anaknya akan segera lahir. Sungguh saat ini, Devita sudah tidak sabar untuk melihat buah hatinya lahir.
Brayen yang sedang berdiri di ambang pintu, dia tersenyum melihat istrinya yang tengah mengelus perut buncitnya itu. Brayen mendekat, lalu memeluk Devita dari arah belakang. Dia membawa tangannya untuk mengusap lembut perut Devita yang membuncit itu, dan berbisik. "Kau semakin cantik sayang."
Devita mendengus, "Kau itu sedang memuji atau sedang menghinaku, Brayen? Kau tahu kan, tubuhku sangat gemuk sekarang ini." Devita mengerutkan bibirnya, setiap saat Brayen selalu mengatakan dirinya cantik. Namun, dia merasa tubuhnya benar - benar sangat gemuk.
Brayen mengulum senyumannya, dia membalikkan tubuh Devita menghadap ke arah dirinya. Kemudian dia mengelus lembut pipi Devita. "Kau memang sangat cantik, sayang."
Devita mencebik. "Sudah jangan memujiku. Aku ingin segera menemui Laretta dan bayinya. Karena aku sudah melihat foto bayi Laretta dan Angkasa dia sangat cantik."
"Nanti kita juga akan memiliki anak perempuan, sayang." Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* lembut bibir istrinya itu. "Anak perempuan kita juga akan sangat cantik."
Devita mendesah pelan. "Brayen, bayi laki-laki kita saja belum lahir, kau sudah berbicara tentang anak perempuan."
Brayen menangkup kedua pipi Devita, dan memberikan kecupan bertubi-tubi. "Kau tahu jawabannya, sayang."
"Sudahlah Brayen, lebih baik kita temui Laretta. Aku ingin kesana." ucap Devita sambil mengerutkan bibirnya
"Tapi kau harus ingat, aku tidak ingin kau kelelahan." Brayen menyelipkan rambut Devita ke daun telinganya.
Devita mengangguk, "Baik, sayang."
Brayen tersenyum, dia mengecup kening Devita. Kemudian, Brayen mengambil kunci mobilnya yang ada di atas meja lalu menggenggam tangan Devita meninggalkan kamar.
Sepanjang perjalanan Devita menatap keluar jendela, dia menikmati cuaca musim panas di kota B. Sedangkan Brayen kini tengah fokus mengendarai mobil. Ya seperti biasa Brayen tidak memakai sopir. Karena sejak dulu, Brayen lebih menyukai membawa mobil sendiri.
...***...
Angkasa menatap lembut bayi perempuan yang tengah berada di dalam pelukannya. "Lihatlah putri kita ini sangat cantik, sama sepertimu," ujar Angkasa di telinga Laretta seraya memberikan kecupan di pipinya itu. "Terima kasih sayang, terima kasih karena sudah memberikanku hadiah yang luar biasa."
Laretta tersenyum, dia terus mengusap lembut kepala bayi perempuannya itu. "Aku juga sangat bahagia sekali, Angkasa. Karena, melahirkan buah cinta kita adalah hal yang terindah yang pernah aku alami dalam hidupku."
Ceklek
Suara pintu terbuka, Laretta dan juga Angkasa langsung mengalihkan pandangannya saat mereka mendengar suara pintu terbuka.
"Olivia?" sapa Angkasa, saat melihat Olivia masuk kedalam ruang rawat Laretta.
"Hi Angkasa, maaf aku baru bisa menjenguk Laretta. Selamat atas kelahiran putri kalian." ucap Olivia dengan wajah yang begitu bahagia.
"Terima kasih, sudah menjenguk." balas Angkasa.
"Aku membawa beberapa jenis buah, aku harap kau menyukainya Laretta."
"Ya, aku menyukainya. Terima kasih, Olivia." jawab Laretta.
"Apa kau datang sendiri kesini? Dimana Felix?" tanya Angkasa.
Olivia mengangguk, "Ya aku sendiri. Aku juga tidak tahu, sejak kemarin handphone Felix susah untuk di hubungi. Ah ya, Angkasa apa nama bayi perempuan kalian.
"Vania Nakamura Grace," ujar Angkasa
Dia terlihat begitu bangga dan bahagia menyebutkan nama putrinya
Olivia tersenyum dan berkata "Nama yang sangat indah dan cantik. Aku yakin putrimu akan tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik."
"Terima kasih, Olivia." ucap Angkasa tulus.
"Laretta, apa aku boleh menggendong putrimu."
Suara pintu kembali terbuka, Olivia, Angkasa dan Laretta langsung mengalihkan pandangan mereka saat mendengar suara pintu kembali terbuka.
"Devita.... Brayen...." sapa Olivia saat Brayen dan Devita masuk kedalam ruang rawat Laretta.
"Olivia, kau di sini?" seru Devita yang tampak begitu bahagia melihat Olivia. Dia mendekat lalu memeluk erat tubuh sahabatnya itu. "Aku sangat merindukanmu, Olivia."
Olivia tersenyum, dia membalas pelukan Devita. "Aku juga sangat merindukanmu, Devita. Kau terlihat sangat cantik dengan perutmu yang bertambah membuncit itu."
Devita mengurai pelukannya, dia mencebikkan bibirnya. "Kau pasti sedang menghinaku dan bukan sedang memujiku."
"Kau memang sangat cantik, Devita." ucap Olivia tidak berbohong.
Kemudian Devita mengalihkan pandangannya ke arah Laretta.
"Selamat, Laretta." ucap Devita sambil tersenyum.
"Terima kasih, Devita." balas Laretta
"Selamat Laretta, kau sekarang sudah menjadi seorang ibu dan putrimu juga sangat cantik seperti dirimu."
Laretta tersenyum dan mengangguk "Terima kasih Kak Brayen."
"Apa kau sudah memberikan nama untuk bayimu perempuanmu, Angkasa?" tanya Devita.
Angkasa mengangguk. "Vania Nakamura Grace."
"Siapa nama panggilannya, Angkasa?" kali ini Brayen bertanya sembari melirik keponakannya yang berada di pelukan Angkasa.
"Vania." jawab Angkasa
Devita tersenyum. "Nama yang sangat indah, Angkasa. Putrimu pasti akan tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik."
"Terima kasih Devita," balas Angkasa dengan senyuman di wajahnya.
"Angkasa, aku ingin menggendong Vania," ucap Devita yang hendak mengambil Vania.
"Devita, tapi tadi aku yang sudah lebih dulu meminta pada Laretta, untuk menggendong, Vania." balas Olivia.
"Tapi aku juga sudah meminta pada Angkasa." balas Devita yang tidak mau kalah.
Laretta hanya tersenyum melihat perdebatan Devita dengan Olivia. Kemudian Brayen melangkah mendekat, dia yang mengambil Vania dan menggendong keponakannya.
"Brayen, harusnya aku yang menggendong, Vania." seru Devita kesal.
"Diamlah, sayang.Nanti Vania terbangun." tegur Brayen dengan tatapan dingin pada Devita.
Seluruh orang yang ada di sana tertawa mendengar perdebatan Brayen dan Devita. Terlihat wajah Devita menatap kesal sang suami. Tidak lama kemudian, semua orang yang ada di sana pun berpamitan untuk pulang. Mereka memberikan ruang untuk Laretta agar bisa beristirahat. Bagaimana pun Laretta masih baru saja melahirkan dan membutuhkan banyak istirahat. Beruntung, Vania yang tadi di gendong oleh Pamannya dan Bibinya dia sama sekali tidak terbangun. Tidak hanya dengan Devita dan Brayen. Olivia juga menggendong Vania.
Setelah semua orang berpamitan, Vania langsung di gendong oleh Angkasa. Putrinya itu tetap terlihat tenang. Angkasa tidak berhenti mengecupi pipi gemuk Vania. Dia tidak menyangka, menjadi seorang Ayah adalah hal yang paling bahagia yang pernah dia dapatkan dalam hidup.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.