Love And Contract

Love And Contract
Mulai Mencintainya



"Memangnya kau itu bisa tahu apa yang ada di hati adikmu itu?" balas Angkasa tidak mau kalah.


Brayen menggerakkan gelas sloki berirama, pandangannya tetap menatap lekat Angkasa. "Kau pikir aku tidak bisa mengetahui perasaan adikku? Aku bisa melihatnya, dia belum memiliki perasaan besar padamu."


Angkasa mengedikkan bahunya acuh, "Kita lihat nanti Brayen, aku yakin Laretta akan mengatakan padamu kalau dia mencintaiku. Di saat waktu itu tiba. Kau tidak ada alasan untuk menolakku."


Brayen menganggukkan kepalanya, seolah mempercayai perkataan Angkasa. "Aku menunggu hari itu tiba."


"Allright, hanya sebentar lagi. Dan di saat itu tiba, kau harus menerima takdirmu untuk menjadi Kakak Iparku." balas Angkasa dengan seringai di wajahnya.


...***...


Devita duduk di samping Laretta sambil menatap Laretta yang tengah melukis. Rasanya sudah lama sekali tidak melihat Laretta melukis. Selama di rumah sakit meski dirinya sering di temani oleh Laretta, tetapi Devita sangat merindukan studio lukis milik Laretta ini. Tempat dimana Devita menunggu Laretta ketika selesai melukis.


"Devita," Laretta menghentikan melukis. Kini pandangannya ke arah Devita yang duduk di sampingnya.


"Ada apa Laretta?" Devita menatap lekat Laretta, terlihat raut wajah Laretta yang berubah menjadi muram.


"Menurutmu, apa orang tuaku akan menerima Angkasa?" Laretta menghela nafas dalam, ada ketakutan di dalam dirinya. Jika kedua orang tuanya akan menolak Angkasa. Karena Laretta sangat mengenal Ayahnya, dia cemas dengan apa yang akan di katakan Ayahnya nanti padanya.


Devita mendekat ke arah Laretta, dia menyentuh tangan Laretta. Devita sangat paham dan mengerti ketakutan yang di rasakan oleh Laretta saat ini. Bahkan Devita bisa melihat sangat jelas wajah Laretta berubah ketika membahas ini.


"Laretta, boleh aku tahu bagiamana perasaanmu dengan Angkasa?" Devita sengaja mengajukan pertanyaan ini. Paling tidak, Devita ingin tahu bagaimana perasaan Laretta pada Angkasa. Karena Devita ingin agar Laretta berjuang untuk pria yang dia cintai.


Laretta terdiam sebentar saat mendengar pertanyaan dari Devita. Sebelum kemudian, Laretta meyakinkan hatinya atas jawaban yang akan dia berikan pada Devita.


"Selama ini, aku mulai merasakan kenyamanan saat bersama dengan Angkasa. Aku juga mulai terbiasa dengan adanya Angkasa di sisiku. Aku tidak ingin menutupi jika aku mulai mencintainya. Terlebih ketika aku berada di sampingnya. Aku menyadari perasaanku padanya. Hanya saja, hingga detik ini Angkasa masih belum mengatakan perasannya padaku."


Devita tersenyum saat mendapatkan jawaban dari Laretta, paling tidak Devita tahu, jika Laretta sudah memiliki perasaan pada Angkasa. Dan hari ini, Devita yakin dengan perasaan Laretta pada Angkasa. Sejak awal Devita memang menganggap Angkasa dan Laretta adalah pasangan yang serasi.


"Laretta, kalau begitu kau bisa memperjuangkan perasaanmu ini pada Angkasa di hadapan kedua orang tuamu. Kau bisa menyakinkan Dad David dan Mom Rena. Jika Angkasa adalah pria yang paling tepat untukmu." balas Devita.


Laretta mendesah pelan. "Lalu bagaimana dengan Kakakku? Kau tahu bukan, jika Kak Brayen terlihat tidak begitu menyukai Angkasa."


"Kau tenang saja. Untuk urusan Kakakmu itu menjadi urusanku. Dia tidak mungkin tidak mengizinkanmu bersama dengan Angkasa." kata Devita dengan yakin. Kali ini, Devita harus membujuk suaminya itu. Paling tidak, di saat hamil seperti ini, Brayen selalu menuruti dirinya.


"Aku sangat beruntung memiliki Kakak Ipar seperti dirimu. Kau selalu membantuku, Devita." balas Laretta.


Devita tersenyum, "Sudah jangan di bahas. Aku harus segera kembali ke kamar, Brayen pasti sudah menungguku di kamar."


"Baiklah, terima kasih sudah menemaniku Devita." ucap Laretta.


"Tidak perlu berterima kasih, aku senang menemanimu," Devita beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan meninggalkan Laretta.


...***...


Devita berjalan mendekat ke arah Brayen, lalu duduk di samping suaminya yang masih tidak menyadari kedatangannya. "Kau terlihat sangat sibuk, Tuan Brayen? Apa Ipadmu itu berisi foto cantik?" sindir Devita.


Brayen mengalihkan pandangannya ke samping, lalu tersenyum saat melihat istrinya, dia langsung meletakkan Ipad-nya di atas meja. Kemudian menarik tangan Devita dan langsung membawanya ke dalam pelukannya. "Aku tidak akan sibuk, jika Nyonya Mahendra berada di sisiku. Dan sayangnya, aku tidak tertarik dengan wanita cantik lain. Karena aku sudah memiliki wanita yang sangat cantik, meski dia sangat berisik."


Devita mencubit perut Brayen dan menatap tajam suaminya itu. Beraninya Brayen mengatakan dia berisik. Benar - benar menyebalkan.


"Kau mengatakan aku ini berisik, Brayen! Sejak dulu, kau itu memang tidak berubah! Kau masih mengatakan jika aku ini berisik!" Devita mencebik kesal, dia tidak terima di katakan berisik oleh Brayen.


Brayen mengulum senyumannya dan semakin mengeratkan pelukannya. Dia mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali. "Apa kau tidak tahu? Dengan kau berisik itu membuatku semakin mencintaimu. Kau sangat berbeda dengan wanita yang lain. Dan aku menyukai perbedaan mu itu."


Devita mendengus tak suka. Bukannya senang mendengar ucapan suaminya, tapi Devita malah kesal. "Kau mengatakan berbeda? Maksudmu itu, aku tidak anggun dan menawan seperti banyak wanita lain? Begitu maksudmu, Brayen?"


Brayen terkekeh pelan, dia menangkup kedua pipi Devita dan memberikan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah istrinya. "Kenapa kau itu selalu menggemaskan, hm?"


"Jawab Brayen! Apa menurutmu ini, aku itu tidak anggun dan menawan?" seru Devita kesal.


Brayen terdiam seolah memikirkan jawaban yang tepat. Wajah Devita langsung berubah, ketika Brayen diam. Devita berusaha untuk melepaskan pelukan Brayen, dan hendak beranjak. Namun tangan Brayen melingkar kuat di pinggang Devita, hingga membuat Devita tidak bisa bergerak. Brayen semakin mengeratkan pelukannya.


Brayen menarik dagu Devita, dan menatap lekat Devita. "Kau masih bertanya kau anggun atau tidak? Bukankah aku sudah mengatakannya padamu, kalau kau adalah wanita yang sempurna? Kau adalah wanita sempurna yang pernah aku miliki."


Kemudian Brayen membawa tangannya mengelus perut Devita. "Dan sebentar lagi, kita akan jauh lebih bahagia." bisiknya.


Devita tersenyum haru, dia memang tahu jika Brayen sangat mencintainya. Tidak hanya Brayen, tetapi Devita juga mencintai suaminya itu. Di tambah kini dirinya tengah hamil. Devita memang sangat beruntung memiliki suami seperti Brayen.


Devita mengelus rahang Brayen, lalu mengecup dengan lembut bibir suaminya itu. "Aku mencintaimu."


Brayen menempelkan hidungnya pada hidung Devita, lalu menggesek pelan. "Aku lebih mencintaimu."


....**********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.