Love And Contract

Love And Contract
Menjaga Jarak



"Kau tidak perlu meminta maaf, karena apa yang kau katakan itu benar Brayen. Kau tidak salah, dan masalah kau membentakku, aku sudah melupakannya." balas Devita dengan suara tenang. Dia berusaha untuk menurunkan emosinya. Dia terlalu lelah untuk berdebat dengan Brayen.


Brayen membuang napas kasar, " Aku sungguh minta maaf padamu. Aku tidak bermaksud melukai hatimu,"


"Aku sudah memaafkan kamu, tanpa harus kau meminta maaf padaku. Tapi aku mohon kepadamu, lebih baik sekarang kita menjaga jarak," tukas Devita dingin. "Sekarang aku ingin bertanya padamu, siapa itu Elena? Kenapa kau sangat marah sekali ketika aku menjawab panggilan telepon di ponselmu?" tanya Devita.


"Dia hanya temanku," ucap Brayen yang berbohong. Namun, Devita tersenyum mengejek padanya.


"Brayen, aku bisa melihat itu adalah kekasihmu bukan? Tenanglah untuk apa aku marah. Aku tidak memiliki hak untuk itu. Sama sepertimu yang tidak memiliki atas diriku. Kau katakan saja jika Elena adalah kekasihmu," ujar Devita dia sudah yakin jika Elena adalah kekasih Brayen.Jika tidak, mana mungkin Brayen membentaknya seperti kemarin.


Brayen terdiam, hantinya sangat tidak suka mendengar ucapan Devita yang mengatakan jika dirinya tidak berhak atas Devita.


"Ya, Elena adalah kekasihku. Dia tinggal di Milan." kata Brayen yang akhirnya jujur. Dia tidak ingin membohongi Devita, lagi pula untuk apa berbohong kepada Devita.


"Kalau begitu aku minta maaf padamu. Aku sungguh minta maaf pada kekasihmu, karena dia harus salah paham padaku. Katakan padanya kita tidak memiliki hubungan apapun. Aku juga tidak melarang hubungan kalian," balas Devita dengan suara tenang. Namun, entah kenapa hatinya merasakan sangat sakit. Dia tidak tahu kenapa hatinya sangat terluka mendengar Elena adalah kekasih dari Brayen. Tidak boleh, Devita langsung menepis perasaannya. Dia tidak boleh menyukai Brayen.


"Aku akan menjelaskan kepada Elena saat dia sudah tiba di Kota B. Besok dia akan tiba Indonesia, dia juga akan menetap di kota B. Aku sudah menjalin hubungan dengannya cukup lama. Aku ingin melamarnya tahun depan, tapi karena perjodohan ini, jadi aku membatalkannya. Mungkin, setelah berpisah denganmu nanti, aku akan melamar Elena," jelas Brayen. Dia ingin menceritakan semuanya pada Devita. Tapi entah kenapa hatinya merasakan tidak nyaman. Dia merasa jika telah melukai hati Devita.


Devita memaksakan senyuman di wajahnya. "Good, aku pun sama seperti mu. Aku menunggu Angkasa kembali ke Indonesia. Dia sudah berjanji akan kembali ke kota B, mungkin setelah kita berpisah nanti, aku akan bisa bersama dengan Angkasa," Devita menceritakan pada Brayen perasaannya yang dulu. Bukan yang sekarang. Devita yang sekarang sungguh sudah melupakan tentang Angkasa. Perlahan rasa cintanya pada Angkasa mulai hilang.


"Ya, aku berharap Angkasa adalah pria yang baik untukmu. Aku akan menuruti keinginanmu untuk menjaga jarak. Aku juga akan memberitahu pada Elena. Aku harus pergi, ada hal yang harus aku kerjakan," balas Brayen. Lalu dia langsung pergi meninggalkan Devita.


Saat Brayen pergi, tanpa di duga air matanya mulai menetes. Hatinya sangat terluka mendengar ucapan Brayen. Tapi dia pun tidak memiliki hak untuk marah. Brayen sudah memiliki kekasih, jelas Elena jauh lebih berhak atas Brayen dari pada dirinya.


...***...


Keesokan harinya, setelah pertengakaran dengan Brayen. Devita berusaha untuk melupakan hatinya yang terluka. Tidak tahu kenapa, Devita merasa sungguh tidak nyaman. Dia sangat tidak suka ketika Brayen mengakui padanya jika dia sudah memiliki kekasih. Dengan cepat, dia langsung menepis perasannya. Devita harus mengingat jika pernikahannya dengan Brayen hanyalah sebatas kontrak perjanjian.


Kali ini Devita berusaha hanya memikirkan Angkasa. Namun, tidak bisa di pungkiri, dia tidak bisa lagi memikirkan Angkasa. Padahal dulunya, Devita selalu memikirkan Angkasa. Devita berusaha untuk melupakan dan menepis perasaan yang tidak masuk akal ini. Tidak mungkin Devita membiarkan dirinya jatuh cinta pada Brayen. Dia harus tahu, jika yang Brayen cintai adalah Elena. Brayen sudah memiliki kekasih. Devita yakin, Elena adalah wanita dewasa yang cantik. Berbeda dengan dirinya yang masih muda.


Devita berjalan menuju ke arah ruang makan. Dia melihat Brayen yang tengah menikmati sarapan. Tanpa menyapa sedikit pun, dia langsung duduk di kursi dan berusaha untuk tidak terjadi apapun di antara dirinya dan juga Brayen.


"Devita, hari ini aku akan pulang terlambat," tukas Brayen. Saat Devita sudah duduk di sampingnya.


Devita mengangguk.


"Mobilmu sudah ada di depan, tadi malam aku sudah meminta pada Alberlt untuk mengambil mobilmu di rumah temanmu," ucapa Brayen sambil membaca koran yang ada di hadapannya, dia sama sekali tidak melihat ke arah Devita.


"Terima kasih," balas Devita dingin.


Brayen melipat korannya, lalu dia melihat sebentar ke arah Devita. " Aku berangkat. Hari ini aku sangat sibuk, kau tidurlah duluan."


Devita mengangguk samar, " Ya hati - hati."


Kemudian Brayen berjalan meninggalkan Devita. Tanpa sadar, air mata Devita kembali menetes membasahi pipinya. Dengan cepat, Devita langsung menghapus air matanya. Dia segera menepis perasaan sedihnya. Dia tidak boleh bersedih sama sekali. Brayen memiliki kekasih, dia harus memiliki batasan. Meski dirinya seorang istri, tapi hanya sebatas kontrak perjanjian saja, kekasih Brayen jauh lebih berhak atas Brayen.


...***...


Devita membelokkan mobilnya di halaman parkir Dixon' s Group. Devita turun dari mobil, namun saat hendak melangkah masuk kedalam lobby. Langkah Devita terhenti ketika berpapasan dengan Olivia.


"Devita, kau sudah datang?" tanya Olivia yang melangkah mendekat ke arah Devita.


Devita tersenyum dan menjawab, " Ya, aku sengaja datang lebih awal."


"Kita masih memiliki waktu dua jam sebelum memulai bekerja. Lebih baik kita ke cafe, aku ingin minum hot chocolate dan chocolate cake," kata Olivia yang sengaja mengajak sahabatnya untuk ikut bersantai.


Devita mengangguk setuju.


Olivia memeluk lengan Devita, dia berjalan meninggalkan parkiran menuju ke cafe terdekat dengan perusahaan. Saat tiba di cafe, Olivia langsung memesan hot chocolate dan chocolate cake untuknya dan juga Devita. Seperti biasa mereka memilih duduk di ujung jendela.


"Kau kenapa Devita?" tanya Olivia sambil menyerahkan hot chocolate di tangannya Devita. Sudah sejak tadi, Olivia melihat Devita yang terlihat muram. Itu kenapa Olivia mengajak Devita untuk bersantai di cafe.


"Aku tidak apa - apa ,Vi." Devita memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. Dia menerima hot chocolate pemberian Olivia, lalu menyesap hot chocolate itu.


Olivia mendesah pelan. Dia membawa tangannya menyentuh tangan Devita.


"Kau jangan menutupi sesuatu dariku. Aku tahu, kau pasti memiliki hal yang menganggu pikiranmu. Setidaknya, jika kau bercerita padaku, hatimu jauh lebih tenang," ucap Olivia.


"Tadi malam aku bertengkar dengan Brayen." kata Devita dengan suara lemah. "Aku sudah tahu, siapa gadis kemarin yang menghubungi Brayen. Dia adalah kekasih Brayen, namanya Elena. Brayen, akhirnya mengakui jika itu kekasihnya,"


Mata Devita berkaca - kaca, dia berusaha untuk tidak menangis. Dia menahan air matanya untuk berlinang membasahi pipinya.


"Devita, jika menangis membuat hatimu tenang, maka menangis lah. Itu akan membuat bebanmu lebih ringan." kata Olivia dengan suara lembut.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.