
Angkasa duduk di kursi kerjanya, ia terus menatap dokumen yang beratas nama Laretta Gisel Mahendra. Rasanya ini tidak mungkin, jika Brayen yang membantunya. Banyak hal yang dia pikirkan. Alasan kenapa dia membantunya, tapi jika memang benar Brayen yang membantunya pasti Brayen memiliki tujuan. Tidak mungkin Brayen membantu dirinya begitu saja. Meski Angkasa tahu, dua milyar dollar itu bukanlah arti yang besar bagi seorang Brayen Adams Mahendra.
Angkasa membuang napas kasar, dia menyandarkan punggungnya di kursinya lalu memejamkan matanya sebentar. Pikirannya kini sedang tidak bisa berpikir jernih. Di sisi lain perusahaannya sangat membutuhkan suntikan dana dari investor. Sebelumnya Angkasa juga sudah mencari investor lain, tapi itu tidak mudah karena perusahannya saat ini.
Terdengar suara ketukan pintu dan Angkasa pun menoleh ke arah pintu. Ia membuang napas kasar. Bahkan di malam hari masih saja ada yang menganggunya. Dengan suara yang begitu dingin, Angkasa langsung memintanya untuk masuk.
"Tuan," sapa Hendrick saat memasuki ruang kerja Angkasa.
"Ada apa?" tanya Angkasa dingin.
"Tuan, beberapa investor kita sudah mengancam, Tuan. Mereka akan mengadakan rapat pemegang saham. Mereka juga berusaha menggantikan posisi Tuan dengan orang lain," jelas Hendrick, ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Angkasa.
Angkasa mengumpat kasar, bisa - bisanya para pemegang saham berusaha ingin menggantikan posisinya. Tidak mungkin Angkasa hanya diam, perusahaan ini adalah milik keluarganya. Tidak akan di biarkan orang lain untuk memimpin perusahaan milik keluarganya.
"Kenapa mereka berpikir untuk menggantikan posisiku!" Geram Angkasa, ia mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Maaf Tuan, karena keputusan yang Tuan ambil terakhir kali membuat perusahaan merugi. Itu kenapa mereka ingin menggantikan posisi anda, Tuan." ujar Hendrick.
"Aku juga tidak ingin gagal!" Seru Angkasa. Ia berusaha mengendalikan emosinya.
"Tuan maaf, jika saya mengatakan ini. Tapi hanya ada satu cara, yaitu menerima Nona Laretta Gisel Mahendra sebagai investor kita. Dengan dua milyar dollar kita bisa mengembangkan perusahaan dengan baik. Bahkan saya yakin, perusahaan akan semakin berkembang." jelas Hendrick.
"Tetapi bukan Laretta yang menjadi investor. Karena aku sudah bertanya padanya dan investor itu adalah Brayen. Tapi aku tidak tahu rencana dari Brayen. Kenapa dia mau membantuku, terakhir dia yang mengajukan persyaratan. Harusnya dengan aku gagal dalam proyek ini bukankah seharusnya dia senang." balas Angkasa.
"Lalu apa tujuan dari Brayen Adams Mahendra, memakai nama Nona Laretta, Tuan?"
"Aku masih belum mengetahuinya. Besok aku akan langsung bertanya apa tuujuannya." ujar Angkasa.
"Tuan, saya ingin bertanya sesuatu pada anda Tuan. Maaf jika saya ingin bertanya tentang ini?" kata Hendrick.
Angkasa menautkan alisnya. "Memangnya apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apakah Tuan menikahi Nona Laretta karena Nona Laretta sedang hamil, Tuan?" tanya Hendrick.
"Maaf, jika saya seperti ini, Tuan. Saya hanya ingin mengaitkan ini dengan sifat Brayen Adams Mahendra yang selalu memberikan persyaratan kepada anda." lanjut Hendrick.
Angkasa membuang napas kasar, " Jika kau bertanya alasan kenapa aku menikahi Laretta. Ya, kau benar, karena dia sedang hamil anakku. Aku tidak mungkin membiarkan dia membesarkan anakku seorang diri. Tapi saat ini, memang aku sedang belajar untuk mencintai Laretta, meski hingga detik ini nama Devita tetap berada di hatiku."
"Aku senang kini melihat Devita yang sudah hidup bahagia. Kenyataannya aku memang tidak di takdirkan untuknya. Rasanya sangat aneh bukan, aku menikah dengan Laretta adik ipar dari wanita yang aku cintai" lanjut Angkasa.
"Tuan, apa nona Laretta tahu jika Tuan masih mencintai Nona Devita?" tanya Hendrick kembali.
"Devita memang ada di hatiku hingga detik ini. Tapi dia sudah ku letakkan di bagian masa laluku. Sekarang hanya ada Laretta dan anakku di masa depan. Aku akan berusaha mencintai Laretta. Dan Laretta juga sebenarnya memiliki pria yang dia cintai di masa lalu. Kami sama - sama belajar mencintai. Aku tahu, perasaan cinta tidak bisa langsung tumbuh, semua hanya membutuhkan waktu. Aku juga percaya kalau aku dan Laretta akan saling mencintai di masa depan." ujar Angkasa dengan penuh keyakinan.
Devita menatap cermin, ia memoles wajahnya dengan make up tipis. Ia melirik jam dinding kini sudah pukul jam delapan pagi. Seperti biasa, Brayen berangkat lebih awal. Bahkan saat Devita bangun, Brayen hanya memberikan note jika dia ada meeting di pagi hari. Devita membuang napas kasar, Brayen memang sangat menyebalkan. Berangkat di pagi hari dan pulang saat dirinya sudah tertidur. Dalam beberapa hari ini, Brayen memang di sibukkan dengan pekerjaannya.
Devita mengambil tasnya, lalu melangkah keluar kamar menuju ke arah ruang makan. Devita kini tersenyum, mengingat dirinya yang sebentar lagi akan segera lulus kuliah dan ia memang ingin segera menyelesaikan kuliahnya. Rasanya, ia mulai merasa bosan jika harus selalu belajar dan ujian.
"Morning Devita," sapa Laretta, saat melihat Devita melangkah masuk kedalam ruang makan.
"Morning Laretta," balas Devita.
"Kau kenapa tersenyum? Memangnya ada hal yang membuatmu bahagia?" tanya Laretta sejak ia menatap Devita yang tersenyum.
Devita duduk tepat di hadapan Laretta. " Tidak sepenuhnya senang, karena aku senang memikirkan sebentar lagi aku akan lulus kuliah. Tetapi aku juga sangat kesal, lihatlah Kakakmu sudah beberapa hari melewatkan sarapan dengan kita. Memangnya dia itu office boy datang di pagi hari. Aku bingung kenapa harus meeting di pagi - pagi sekali! Apa mereka mau membersihkan perusahaan?" ucap Devita ketus.
Laretta tidak tahan mendengarkan ucapan Devita, ia langsung terkekeh geli. " Kau ada - ada saja, Devita? Yang benar saja kau mengatakan Kakakku sebagai office boy?"
Devita mendengus kesal, " Kau pikirkan saja, dia pagi - pagi sekali sudah datang ke kantor. Padahal, dia sendiri sudah sangat kaya." keluh Devita.
"Itu karena Kakakku sedang bekerja keras dan yang dia lakukan juga demi dirimu, Devita." balas Laretta.
Devita mencebik. " Alasan saja. Dia saja pelit padaku,"
"Pelit? Mana mungkin Kakakku pelit. Apalagi dengan Istrinya sendiri." ucap Laretta yang tidak percaya.
"Lupakan saja. Aku hanya bercanda
Dia tidak pelit." balas Devita, hampir saja dia keceplosan karena kemarin dia meminta uang satu juta dollar pada Brayen. Padahal uang itu akan ia gunakan untuk membantu Angkasa. Devita kasihan pada Laretta dan juga Angkasa.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.