Love And Contract

Love And Contract
Perdebatan Masalah Gaun



Sinar matahari begitu cerah menembus tirai - tirai. Devita melihat dari jendela di dalam kamarnya, mobil Brayen kini sudah meninggalkan rumah. Pagi ini Brayen berangkat jauh lebih pagi dari sebelumnya. Devita mengikat asal rambutnya dan berjalan langsung keluar kamar menuju ke ruang makan.


Beruntung, Laretta tinggal bersama dengannya. Itu yang membuat Devita tidak kesepian. Mungkin saat nanti Laretta menikah dengan Angkasa, Devita akan sedikit kehilangan Laretta. Tapi meski demikian Devita akan menunggu dimana Laretta dan juga Angkasa akan menikah. Devita ingin sekali melihat Laretta bahagia dengan Angkasa.


"Morning Devita," sapa Laretta saat melihat Devita melangkah masuk kedalam ruang makan.


"Morning Laretta," balas Devita. Dia langsung duduk di hadapan Laretta. Tidak lama kemudian pelayan membawakan omlete dan susu kacang untuk Devita.


"Laretta, malam ini pesta pertunangan Davin. Nanti, kau akan berangkat bersama dengan Angkasa?" tanya Devita sembari menikmati sarapannya.


Laretta mengangguk pelan, "Ya, malam ini Angkasa akan menjemputku. Tapi aku rasa keluarga Angkasa juga di undang."


"Oh ya? Davin juga mengenal keluarga Angkasa?" tanya Devita sambil mengambil susu kacang di atas meja, dan mulai meneguknya.


"Tadi malam, aku mulai menghubungi Angkasa. Dia bilang kepadaku keluarganya juga di undang di pesta pertunangan Davin. Tapi kemungkinan yang datang hanya Alena. Orang tua Angkasa tidak bisa ikut, karena kedua orang tuanya sedang berada di Kanada." ujar Laretta.


"Apa nanti kau akan berangkat dengan Alena?" Devita meletakkan gelas yang tadi di tempat yang semula.


"Tidak, Alena mana mungkin mau berangkat bersama denganku?" Laretta tersenyum pahit. "Jika dia berangkat bersama denganku, pasti Angkasa dan juga Alena akan bertengkar. Aku tidak menginginkan itu. Aku tidak mau, karena diriku mereka harus bertengkar."


Devita mendesah pelan, "Aku sangat yakin, suatu saat nanti Alena akan menyukai dirimu Laretta. Hanya saja kau masih membutuhkan waktu sedikit. Karena Alena memang sedikit keras kepala tapi percayalah, aslinya Alena adalah gadis yang baik dan juga penurut.


"Dulu Angkasa selalu berjuang mendapatkankan ku ketika Kak Brayen menolak dirinya. Sekarang, tidak masalah bagiku jika aku harus menunggu sedikit waktu," balas Laretta.


Devita tersenyum. "Segala penantian mu akan berbuah manis. Sama seperti Angkasa yang selalu menunggumu."


"Ya Devita, aku percaya itu."Laretta tersenyum hangat. "Devita, bagaimana dengan Olivia? Apa dia akan pergi ke pesta nanti malam? Aku belum mendapatkan kabar jika Felix sudah pulang?"


"Hm, aku juga tidak tahu apakah Felix sudah pulang atau belum. Karena Olivia juga belum mengatakan apapun padaku. Nanti mungkin aku akan menghubunginya." balas Devita.


Laretta menggangguk pelan. "Aku rasa Felix sudah pulang, tapi mungkin dia belum mengabari kita saja."


"Ya, aku rasa juga demikian."


Setelah selesai sarapan, Devita menuju ke arah kamar. Malam ini adalah pesta pertunangan Davin. Seperti biasa, Devita akan melakukan treatment kecantikan sebelum pergi ke sebuah pesta. Begitu pun dengan Laretta, dia pun melakukan rangkaian treatment kecantikan sebelum pergi ke sebuah pesta.


...***...


Devita mematut cermin, dia memoles wajahnya dengan make up tipis. Dan Devita memilih lipstik berwarna merah untuk penyempurnaan penampilannya. Kini tubuh Devita sudah terbalut dengan gaun berwarna gold, yang dia pilih untuk menghadiri pesta pertunangan Davin. Devita memang terlihat begitu menggoda dengan balutan gaun ini. Dengan rambut pirangnya yang tergerai begitu indah, membuat penampilan Devita sangat menawan.


Setelah selesai berdandan, Devita melangkah keluar dari walk in closetnya. Namun, seketika Brayen terkejut menatap Devita yang melangkah keluar dari walk in closet. Brayen melihat keseluruhan penampilan istrinya malam ini. Terlihat jelas tatapan tak suka dari Brayen menatap gaun yang sudah di pakai oleh istrinya itu.


"Apa Viona yang memilihkan gaun ini untukmu?" suara Brayen terdengar begitu dingin saat Devita sudah berdiri di hadapannya.


"Apa gaun ini tidak cantik,sayang?" tanya Devita.


"Aku yang memilih gaun ini Brayen." jawab Devita yang antusias. "Apa pilihanku bagus? Aku sudah jatuh cinta pada gaun ini ketika Viona menunjukkan gaun - gaun indah rancangannya?"


"Kenapa kau memilih gaun yang begitu terbuka seperti ini Devita? Apa kau ingin menjadi pusat perhatian di pesta pertunangan itu?" seru Brayen dengan nada penuh penekanan di akhir kalimatnya.


Devita mendengus, "Kau ini kenapa menuduhku seperti itu! Aku hanya menyukai gaun ini saja, itu kenapa aku memilih gaun ini!"


"Dan aku tidak menyukai gaun yang sekarang kau pakai itu! Lebih baik kau ganti sekarang!" Tukas Brayen dingin.


"Brayen, tidak ada waktu lagi untuk mengganti gaun ini. Nanti kita akan terlambat. Lagi pula, aku memakai gaun ini juga karena pergi bersama denganmu," kata Devita dengan nada membujuk suaminya itu.


Brayen membuang napas kasar. "Kita tidak akan pergi, jika kau masih menggunakan gaun seperti itu!"


Devita mengerutkan bibirnya, menatap Brayen tak suka. "Jadi kau tidak menghargai pilihanku, begitu! Sebentar lagi juga aku tidak bisa memakai gaun yang seperti ini! Ketika perutku sudah membuncit nanti, aku tidak bisa lagi memakai gaun ini!"


Brayen mendekat, dia menangkup kedua pipi Devita dan memberikan kecupan di bibir istrinya. "Bukan begitu, sayang. Aku hanya tidak suka jika ada orang lain yang melihat tubuh istriku."


"Aku mohon kali ini saja Brayen, gaun ini begitu indah..." Devita menatap suaminya dengan penuh permohonan. Dia berharap Brayen memperbolehkannya memakai gaun ini. Karena sejak awal, Devita sudah sangat menyukai gaun yang di pakainya ini.


"Dan kau membiarkan aku untuk menghajar para pria yang berani menatap istriku? Apa itu mau Nyonya Devita Mahendra?" seru Brayen.


Devita mengulum senyumannya, dia memeluk Brayen dan mendongakkan kepalanya, "Aku rasa di sana, tidak ada yang berani menganggu istri dari Brayen Adams Mahendra. Karena mereka pasti sudah tahu seperti apa dirimu. Jadi aku sangat yakin mereka tidak akan berani mengangguku."


Brayen tersenyum mendengar ucapan dari Devita. Dia menempelkan hidungnya ke hidung istrinya dan menggeseknya pelan. "Allright, untuk malam ini aku memperbolehkanmu. Tapi selanjutnya, kau harus meminta persetujuan dariku jika ingin memilih sebuah gaun."


Devita mengangguk patuh. "Lain kali aku pasti akan mengatakannya padamu."


"Baiklah, kita berangkat sekarang." Brayen menggenggam tangan Devita, dan berjalan meninggalkan kamar mereka.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.