Love And Contract

Love And Contract
Kedatangan Rena



Keesokan hari Devita sudah lebih dulu bangun. Dia menyiapkan pakaian untuk suaminya. Jika biasanya Devita sering terlambat bangun, kali ini Devita bangun lebih awal dari Brayen. Devita memilih jas berwarna silver dengan arloji yang warnanya senada dengan jas yang dia pilih.


Senyum di bibir Brayen terukir, ketika melihat Devita yang tengah sibuk menyiapkan pakaian untuknya. Brayen melangkah masuk kedalam walk in closet, dia langsung memakai pakaian yang sudah di siapkan oleh istrinya itu.


"Brayen, apa malam ini kau akan pulang terlambat?" tanya Devita sambil memakaikan dasi untuk Brayen.


"Aku belum tahu, apa saja jadwalku hari ini." jawab Brayen kemudian mengecup kening Devita.


"Tapi, aku akan usahakan agar bisa pulang lebih awal."


"Ya sudah, jangan pulang terlalu larut malam." balas Devita mengingatkan. "Aku itu tidak suka tidur sendirian."


"Devita, hari ini kau jangan terlalu lelah. Jika kau membutuhkan sesuatu, minta Nagita untuk menyiapkan semuanya." kata Brayen mengingatkan.


Devita mengangguk patuh, dia mengelus lembut rahang suaminya. "Aku mengingat semua perintahmu, sayang. Jangan mencemaskanku, aku pasti akan baik - baik saja."


Brayen memeluk pinggang Devita,merapatkan tubuhnya pada tubuh Devita. "Aku tidak mungkin tidak mencemaskanmu. Karena seluruh pikiran ku selalu memikirkanmu dan juga anak kita."


Devita mengulum senyumannya. "Lebih baik kita sarapan sekarang. Anakmu pasti sudah lapar."


"Anakku sudah lapar?" Brayen menaikkan sebelah alisnya, suaranya sengaja meledek istrinya itu. "Anakku yang lapar atau Mommy-nya yang lapar?"


"Dua - duanya!" Tukas Devita.


Brayen mengusap rambut istrinya. "Kita makan sekarang."


Devita langsung memeluk lengan Brayen, dan berjalan meninggalkan kamar menuju ke arah ruang makan.


...***...


"Mommy?" Devita terkejut saat melihat Rena tengah duduk di kursi meja makan.


"Sayang," Rena beranjak dari tempat duduknya, dia langsung memeluk erat Devita.


"Apa selama ini Brayen membuatmu kesal?" Rena mengurai pelukannya, dia mengelus lembut pipi Devita. "Katakan pada Mommy, jika Brayen sudah melakukan sesuatu yang membuatmu kesal, sayang."


"Mom...." tegur Brayen dengan malas.


"Apa?" Rena melayangkan tatapan dingin pada putranya yang berdiri di hadapannya itu.


Brayen tidak menjawab, dia tidak ingin berdebat. Dia memilih langsung untuk duduk di kursi meja makan. Sedangkan Devita tersenyum ketika melihat Rena memarahi Brayen. Pasalnya sudah lama sekali Rena tidak memarahi Brayen. Terakhir Rena memarahi Brayen ketika, di awal - awal Brayen mengenal Devita. Karena saat ini Brayen bersikap dingin dan tidak peduli pada Devita.


"Mom, lebih baik kita sarapan. Aku sudah lapar." kata Devita.


"Ya sayang," Rena mengelus pipi Devita.


Kemudian Devita duduk di samping Brayen dan juga Rena duduk di samping Laretta yang sejak tadi hanya menahan tawanya. Karena Laretta sudah terbiasa melihat ini.


"Brayen, Mommy dengar kalau kamu itu sering pulang malam?" Rena memulai lebih dulu percakapannya ketika pelayan sudah mengantarkan sarapan.


"Aku sedang membangun Apartemen. Belakangan ini aku pulang malam, karena aku itu sedang sibuk dengan pekerjaanku," jawab Brayen datar sembari menyesap kopi yang ada di tangannya.


"Jangan hanya memikirkan tentang pekerjaan. Kau itu harus ingat, istrimu itu sedang hamil." tukas Rena memperingati.


"Mom... Brayen melakukan semua ini demi diriku dan juga anak kami. Aku itu tidak masalah, lagi pula aku juga mengerti jika Brayen memilki tanggung jawab di perusahaannya." ujar Devita menengahi. Devita tidak tega, jika Brayen terus di salahkan. Bagaimanapun, Devita mengerti dengan tanggung jawab Brayen pada perusahaannya.


Rena mendesah pelan. "Kau jangan membelanya Devita."


"Mom, aku mengerti dengan tanggung jawab, Brayen." jawab Devita. "Sebagai seorang istri, aku memang harus mengerti Brayen. Dia melakukan ini karena demi keluarga."


"Brayen, lihatlah. Kau itu sudah begitu beruntung memiliki Devita." ujar Rena.


Brayen tersenyum, dia mengelus lembut pipi istrinya. "Ya, aku begitu beruntung memilikinya."


Brayen melihat ke arah Albert yang berdiri di ambang pintu. "Kau sudah mempersiapkan meeting pagi ini?"


"Sudah Tuan," jawab Albert.


"Aku harus berangkat sekarang." Brayen beranjak dari tempat duduknya, dia mengecup kening Devita dan juga Laretta.


Brayen tidak menjawab, dia langsung mengecup puncak kepala Ibunya. Kemudian, dia langsung berjalan meninggalkan ruang makan.


Melihat Brayen sudah meninggalkan ruang makan, Albert langsung berpamitan pada Rena, Devita dan juga Laretta. Dan segera menyusul Brayen yang sudah berjalan lebih dulu meninggalkan ruang makan.


"Devita, hari ini kau ingin pergi kemana, sayang?" tanya Rena saat Brayen dan juga Albert sudah pergi.


"Sepertinya, aku hanya di rumah saja, Mom. Karena Brayen melarangku untuk banyak beraktivitas." jawab Devita.


"Bagaimana kalau kita pergi ke salon bersama?" Laretta memberikan usul.


"Mommy rasa itu adalah hal yang bagus. Mommy juga ingin pergi ke salon bersama kalian." balas Rena antusias.


"Tapi, bagaimana jika Brayen tidak memperbolehkan aku, Mom?" tanya Devita, dia kembali mengingat perkataan Brayen saat di kamar. Ini semua karena kemarin dirinya berpura - pura sakit. Hingga membuat Brayen melarangnya untuk keluar dari rumah.


"Kalau begitu, Mommy yang akan bicara dengan Brayen nanti." jawab Rena. "Tidak mungkin Brayen tidak memperbolehkanmu untuk pergi dengan Mommy."


"Ya Devita, sejak dulu Kakakku itu tidak mungkin berani menolak permintaan Mommy," sambung Laretta.


Devita mengangguk setuju. "Baiklah, aku juga ingin pergi ke salon, Mom."


Setelah selesai sarapan pagi Devita dan Laretta segera bersiap - siap untuk pergi ke salon. Devita beruntung, karena ibu mertuanya hari ini datang ke mansionnya. Paling tidak, Devita bisa keluar rumah.


...***...


Suasana hening tercipta saat berada di dalam mobil. Brayen mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Sedang Albert, yang sedang mengemudikan mobil dan tidak membuka suaranya. Hari ini, Brayen memang sengaja meminta Albert untuk menjemputnya. Karena banyak dokumen yang harus Brayen berikan padanya.


"Tuan, pagi ini setelah meeting dengan Mr. Lee. Anda masih memiliki meeting dengan pengusaha asal Rusia." kata Albert yang lebih dulu memulai percakapan.


"Minta Direktur pemasaran untuk menggantikan meetingku hari ini." tukas Brayen.


Albert tersentak, dia melihat Brayen dari kaca spion mobil. "Maaf Tuan? Maksudnya, meeting pada pagi ini mereka tidak akan bertemu dengan Anda, Tuan?" tanya Albert memastikan.


"Ya, minta Direktur pemasaran yang menggantikanku," jawab Brayen. "Sekarang, kita pergi ke Nakamura Company."


"Ke Nakamura Company, Tuan?" ulang Albert. Dia sedikit terkejut dengan permintaan Brayen. Pasalnya Brayen jarang pergi ke Nakamura Company.


"Apa pendengaranmu itu sekarang mulai rusak!" Tukas Brayen tajam.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.