
Brayen turun dari mobil bersamaan dengan Felix. Albert dan juga Monika. Tatapan Brayen menatap tajam sebuah gedung kosong yang tidak pernah terpakai itu. Namun, saat Brayen turun dari mobil, anak buah Ivana langsung berhamburan menyerang Brayen.
Brayen menggerakkan kepalanya, memberikan isyarat pada anak buahnya untuk melawan anak buah Ivana. Tidak hanya Brayen, tapi Felix juga langsung memberi isyarat pada anak buahnya untuk membantu anak buah Brayen.
"Brayen! Anak buah Ivana ternyata sangat banyak!" Tukas Felix. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Tatapannya menatap beberapa anak buahnya yang tersungkur di lantai.
"Kita tidak akan kalah!" Jawab Brayen dingin. Pandangan Brayen mencari jalan masuk kedalam gedung itu. Dan dia harus berhati - hati karena ada puluhan anak buah Ivana di hadapannya.
Braak.
Seorang pria hendak memukul Brayen dari belakang, namun Albert lebih dulu menendang pria itu hingga tersungkur di lantai. Kini ketiga orang hendak menyerang Brayen dan juga Felix. Albert langsung mengambil alih dan dia melawan ketiga pria itu.
"Brayen! Kenapa kau tidak membantu Albert!" Felix menatap lekat Brayen.
"Albert tidak mungkin kalah!" Jawab Brayen dingin.
"Felix awas!" Teriak Monika, ketika ada yang menyerang Felix dari belakang.
Belum sempat Felix melawan, Brayen sudah lebih dulu memukul pria yang hendak menyerang Felix dari belakang.
"Lihat sekelilingmu baik - baik!" Seru Brayen penuh peringatan pada Felix.
Felix lebih memilih diam dan tidak menjawab. Tatapan Felix kini teralih pada sebuah lorong kecil yang ada di ujung sebelah kiri. "Brayen, sepertinya kita bisa lewat sana." Felix berkata seraya menunjukkan jalan yang bisa di lewati.
Brayen mengangguk singkat. "Ya, kita kesana."
Saat Brayen dan Felix melangkah masuk. Albert menyusul dari belakang. Monika pun tampak ragu untuk ikut dengan Felix dan juga Brayen. Tapi Monika tetap memilih untuk ikut. Karena sejak awal, Monika ingin bertemu dengan Ivana.
...***...
Ivana menundukkan tubuhnya, dia menangkup kedua pipi Devita dengan kasar. "Jangan pernah sebut Brayen dengan milikmu. Karena dia hanya milikku! Sejak dulu, dia adalah milikku."
"Tempatmu itu harusnya berada di rumah sakit jiwa Ivana! Karena kau sudah kehilangan akal sehatmu!" Devita berusaha melepaskan cengkraman tangan Ivana di pipinya.
"Ini semua karenamu, kau telah merebut Brayen! Sejak dulu aku berusaha untuk menyingkirkan kekasih Brayen! Dan sekarang, aku pastikan aku akan menyingkirkanmu juga!" Seru Ivana penuh dengan kemarahan. Tatapannya begitu menatap benci Devita.
"Menyingkirkan kekasih Brayen? Apa maksudmu?" seru Devita dengan tatapan yang begitu tajam ke arah Ivana.
Ivana tersenyum sinis. "Banyak hal yang kau tidak tahu tentangku, Devita. Kau sama sekali tidak tahu tentangku!"
"Sebenarnya siapa kau!" Seru Devita.
Ivana menarik keras rambut Devita, hingga membuat Devita meringis kesakitan. "Kau tidak perlu tahu! Jika bukan aku yang memilki Brayen, maka kau tidak bisa memilikinya!"
"Wanita gila! Lepaskan Devita! Temanku itu sedang mengandung, jangan berbuat kasar padanya!" Teriak Olivia dengan keras.
Ivana menggerakkan kepalanya, meminta pengawalnya untuk menutup mulut Olivia. Pengawal Ivana pun langsung menutup Olivia dengan kain. Namun, Olivia terus memberontak, hingga pengawal Ivana memberikan tamparan pada Olivia. Kepala Olivia mulai memberat. Perlahan dia menutup matanya dan sudah tidak sadarkan diri.
"Olivia!" Teriak Devita, melihat Olivia yang sudah tidak sadarkan diri.
"Ivana, aku mohon lepaskan temanku! Jika kau memiliki masalah denganku, maka kau harus berurusan denganku! Bukan dengan Olivia!" Seru Devita meninggikan suaranya.
Plaaakkk.
Ivana mendaratkan dua kali tamparan, Devita kembali tersungkur. Sudut bibirnya di penuh dengan darah. Devita terus memeluk perutnya, melindungi perutnya. Devita berusaha ingin melawan, tapi tubuhnya begitu lemas.
"Kau tidak tahu bagaimana menjadi diriku Devita! Aku berjuang mendapatkan Brayen tapi tidak pernah sekalipun dia melihatku. Aku membuat Brayen berpisah dengan Veronica, tapi tetap dia tidak menyukaiku! Aku merubah fisik burukku, tapi tetap Brayen tidak pernah melihatku!" Suara Ivana bergetar ketika mengatakan itu. Matanya berkaca-kaca tersirat kesedihan yang begitu mendalam.
"Sebenarnya siapa dirimu, Ivana?" Devita bersuara dengan pelan.
Ivana menggelengkan kepalanya dengan tegas. Ketika air matanya berlinang, dengan segera Ivana menghapusnya. "Kau tidak perlu tahu siapa diriku! Yang kau harus tahu, aku adalah wanita yang sangat mencintai Brayen Adams Mahendra!"
"Kau tidak mengerti menjadi diriku Devita! Aku berkali - kali ingin mengakhiri hidupku hanya karena Brayen!" Mata Ivana memerah, air matanya kembali berlinang. Terlihat jelas kesedihan di diri Ivana. Hati yang begitu hancur dan rapuh terlihat begitu jelas.
"Nona Ivana." seorang pengawal berlari menghampiri Ivana, terlihat begitu panik dan tergesa-gesa.
"Ada apa?" seru Ivana.
"T-Tuan Brayen Adams Mahendra datang, Nona. Para pengawal lain, berhasil di kalahkan oleh pengawal Tuan Brayen." kata seorang pengawal lain dengan gugup.
Ivana tersenyum sinis. "Minta yang tersisa untuk berjaga di depan."
"Baik Nona," pengawal itu menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari hadapan Ivana.
"Ivana, lebih baik kau menyerah. Aku yakin, suamiku tidak akan melukaimu." ujar Devita yang berusaha membujuk Ivana untuk tidak menyerah.
"Diam kau!" Bentak Ivana. Dia langsung menarik rambut Devita, memaksa Devita untuk berdiri.
Devita meringis kesakitan. Dia hendak memberontak, namun ketika Devita memberontak sebuah pisau dari balik jaket Ivana di arahkan ke perutnya. Devita memilih diam dan menurut pada Ivana. Hingga kemudian, Ivana membawanya ke tepi atap gedung. Devita tidak berani melihat ke bawah gedung yang begitu tinggi itu. Devita berusaha untuk mengatasi rasa takutnya.
"I- Ivana lepaskan aku." Devita bersuara pelan, dia berusaha membujuk. Tubuhnya kini begitu lemas, pukulan yang Ivana layangkan padanya membuat wajah Devita masih begitu perih.
"Diam! Atau aku akan membunuhmu dan juga anakmu!" Tukas Ivana penuh dengan ancaman.
Seketika tatapan Ivana menatap sosok yang masuk kedalam. Sosok pria yang telah dia nantikan. "Lama tidak bertemu Brayen!" Seru Ivana, ketika melihat Brayen melangkah masuk.
"Lepaskan istriku! Aku bersumpah akan membunuhmu!" Suara Brayen terdengar begitu tajam, dan penuh dengan peringatan.
Olivia!" Felix hendak maju berlari ke arah Olivia yang sudah tidak sadarkan diri. Namun, langkah Felix langsung terhenti ketika anak buah Ivana mengarahkan pistol kepadanya.
"Mundur Brayen! Minta anak buahmu untuk mundur. Atau aku akan melukai istrimu." Ivana mengarahkan sebuah pisau tepat ke leher Devita.
"Ivana hentikan Ivana, aku mohon!" Monika mulai terisak, dia menatap sedih dengan apa yang telah di lakukan oleh Ivana.
"Diam Monika!" Tukas Ivana tajam.
Mata Brayen menatap tajam ke arah Ivana. Tatapannya penuh dengan kemarahan. Tapi Brayen tidak memilki pilihan lain. Jika dia tidak menuruti Ivana, istrinya akan terluka. Hingga kemudian, Brayen mengangkat tangannya, meminta anak buahnya untuk berhenti melawan. Albert yang mengarahkan pistol ke arah anak buah Ivana harus menjatuhkan pistolnya.
"Jika kau memilki urusan denganku, maka kau harus berurusan denganku! Lepaskan istriku! Jangan berani kau menyentuhnya!" Brayen melangkah mendekat, kilat matanya begitu tajam. Brayen melihat, Devita meringis kesakitan membuat rahangnya mengetat. Dia menggeram, penuh dengan kemarahan.
Ivana tertawa sinis. "Apa kau ingat dulu, ketika aku berusaha untuk mengajakmu berbicara, tapi kau selalu bersikap dingin padaku."
"Apa yang kau inginkan, Ivana! Aku sudah menikah, kau bisa mendapatkan lelaki yang terbaik di hidupmu." Brayen berusaha untuk mengendalikan emosinya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Devita. Lebih baik bagi Brayen, dia mengalah.
"Brayen, aku yakin kau sudah tahu siapa diriku. Monika pasti sudah menceritakan siapa diriku. Sejak dulu, kau tidak pernah melihatku. Tapi aku tidak pernah menyerah. Apa kau masih ingat mantan kekasihmu Veronica? Akulah yang sudah menghancurkan hubunganmu dengan Veronica. Aku tahu, William juga menyukai Veronica. Aku menjebak Veronica. Aku yang sudah memasukkan obat di minuman Veronica dan William. Aku juga yang sudah mengirimkan foto Veronica dan William sedang tidur bersama. Semua adalah ulahku! Akulah yang melakukannya!"
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.