
Brayen melangkah masuk kedalam ruang rawat Olivia. Dia menatap Felix tengah duduk di samping ranjang Olivia dengan wajahnya yang terlihat muram. Brayen terdiam sebelum mendekati sepupunya itu. Dia masih melihat Felix yang berusaha untuk mengajak bicara Olivia sama seperti dirinya pada Devita. Kemarin Brayen, sudah meminta Albert untuk membawa Dokter dari Rusia dan Spain untuk pengobatan Olivia. Meski Devita sudah sadar, tapi Brayen tetap memikirkan Felix. Terlebih mengingat perkataan Felix kemarin.
Brayen berjalan mendekat ke arah Felix, "Apa kita bisa bicara?" suara datar Brayen menegur Felix, hingga membuat Felix menoleh dan menatap Brayen. Felix tidak menyadari kehadiran dari Brayen. Karena sejak tadi, Felix sibuk mengajak Olivia berbicara.
Felix mengangguk singkat, kemudian Felix menitipkan Olivia pada perawat karena tadi, orang tua Olivia baru saja pulang untuk beristirahat. Felix dan juga Brayen kini berjalan meninggalkan ruang rawat Olivia. Mereka ke ruangan yang sebelumnya di sewa oleh Brayen tepat berada di samping ruang rawat Devita. Tujuan Brayen menyewa ruangan di samping ruang rawat Devita ini tentu karena dia tidak ingin sampai menganggu Devita.
"Aku dengar, Devita sudah sadar." Felix lebih dulu memulai percakapan saat mereka sudah masuk kedalam ruangan.
"Ya, Devita sudah sadar." jawab Brayen singkat.
Felix tersenyum tipis, "Bagaimana kabarnya? Aku senang mendengar dia sudah sadar."
"Sudah lebih baik. Tapi Dokter menyarankan Devita untuk tidak memikirkan banyak hal demi kesehatannya. Luka di kepalanya cukup parah. Devita masih memerlukan waktu dalam pemulihan." balas Brayen yang menceritakan keadaan Devita saat ini.
"Aku senang mendengarnya. Aku berharap Olivia juga bisa cepat sadar seperti Devita." kata Felix dengan senyuman lirih.
Brayen menepuk bahu Felix. "Di akan segera sadar, aku sudah berjanji padamu. Dia akan selamat. Aku sudah meminta Dokter dari Rusia dan Spain datang. Aku yakin dia akan segera pulih."
"Terima kasih," ucap Felix menatap Brayen.
"Ada hal yang ingin aku katakan padamu." kata Brayen menatap lekat Felix yang berada di hadapannya.
"Apa kau ingin mengatakan tentang berita kematian Edgar? Aku sudah melihat beritanya pagi ini." Felix menebak dari raut wajah Brayen. Karena memang pagi ini, Felix sudah melihat berita tentang kematian Edgar.
"Dia masih hidup." jawab Brayen, sontak membuat Felix sangat terkejut.
"Masih hidup? Maksudmu dia menipumu?" wajah Felix terlihat menahan emosinya. Sama seperti Brayen, Felix juga tidak suka jika ada yang berusaha untuk menipu keluarganya.
"Aku masih belum tahu, apa tujuan dari Edgar.
Tadi, aku bertemu dengan Dokter yang bekerja sama dengannya. Dokter itu mengatakan padaku, jika Edgar memiliki alasan sendiri. Dan dia akan berbicara padaku jika kesehatannya sudah mulai pulih." jelas Brayen.
Felix membuang napas kasar, "Lalu apa yang akan kau rencanakan setelah ini?"
"Aku harus menanyakan kepada Edgar, apa tujuannya menipu publik tentang kematiannya." jawab Brayen. "Lucia sudah di bawa oleh anak buahku, besok kita bisa menemui wanita itu." sambung Brayen.
"Ya, aku pun sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita itu. Karena dia, hidup Olivia menjadi hancur. Dia juga harus mendapatkan penderitaan sama seperti Olivia." tukas Felix dengan sorot mata kemarahan. "Kau tahu Brayen, saat aku membaca berita tentang kematian Edgar. Aku berpikir kau akan membebaskan Lucia karena rasa balas budimu dengan apa yang telah di lakukan oleh Edgar yang telah menyelamatkanmu."
Brayen tersenyum sinis, "Aku rasa kau sangat mengenal diriku dengan baik. Aku tidak memiliki hati sebaik itu. Tidak mungkin aku melepaskan seseorang yang telah menghancurkan kehidupan istri dan juga keluargaku. Meski kenyataannya Edgar menyelamatkan hidupku tapi itu tidak akan membuat aku merubah keputusanku. Lucia akan tetap mendapatkan balasan dari apa yang telah dia lakukan."
"Sejak dulu itu yang aku suka darimu, Brayen. Kau tidak penah merubah apa yang menjadi keputusanmu. Satu lagi, aku suka dengan sikapmu yang terlihat kejam. Aku lebih menyukai sifatmu yang seperti ini daripada kau harus menunjukkan kebaikanmu pada seseorang." balas Felix dengan seringai di wajahnya.
"Aku tidak membutuhkan pujianmu." tukas Brayen.
Felix menggeleng pelan dan tersenyum. "Kau masih tetap sama."
"Aku tidak suka menjadi orang yang mudah berubah," jawab Brayen dingin.
"Ya, kau benar. Sekarang lebih baik kita kembali. Aku tidak ingin meninggalkan Olivia lebih lama lagi." kata Felix, dia kembali mengingat Olivia yang hanya di temani oleh perawat. Brayen pun mengangguk singkat. Kemudian mereka berjalan meninggalkan ruangan.
Laretta menatap Devita yang masih tertidur pulas. Sebelumnya, dia sudah mendengar dari Brayen jika Devita sudah sadar. Tentu saja dengan senang hati Laretta mau menjaga Devita. Karena dia tahu, sekarang orang tua Devita masih dalam banyak masalah. Sedangkan orang tuanya sendiri juga mengalami hal yang sama. Kesehatan David menurun dan membuat Rena harus selalu menemani David Ayahnya.
Tidak lama kemudian, Devita mulai membuka matanya. Dia menatap Laretta yang tengah duduk di samping ranjang. Devita pun tersenyum melihat Laretta. Memang sudah lama sekali Devita tidak menatap Laretta.
"Devita, kau sudah bangun?" Laretta sedikit terkejut jika Devita sudah bangun.
"Ya, sudah." jawab Devita. "Aku sangat senang sekali bisa melihatmu, Laretta. Sudah lama sekali rasanya tidak melihatmu."
Laretta tersenyum, "Aku juga senang melihatmu, Devita. Sekarang, kau bisa selalu menemaniku ke Dokter kandungan. Karena sekarang aku tidak hamil sendirian."
"Setelah aku keluar dari rumah sakit, kita akan memeriksa kandungan kita bersama," balas Devita.
Laretta mengangguk. "Aku sudah tidak sabar menunggu itu."
"Hmm ... Laretta, apa Olivia sudah sadar? Aku ingin sekali menemui Olivia?" raut wajah Devita terlihat begitu muram. Dia masih belum tenang jika belum bertemu dan melihat Olivia langsung.
"Olivia? Ah, dia pasti baik - baik saja. Kau bisa melihatnya nanti. Sekarang Dokter memintamu untuk lebih banyak beristirahat Devita. Ingat kau sedang hamil. Kesehatamu dan juga bayi di kandunganmu lebih utama." kata Laretta yang terpaksa berbohong. Sebelumnya Brayen, sudah memberikan pesan pada Laretta, jika kondisi Devita masih dalam tahap pemulihan. Brayen melarang Laretta untuk bercerita tentang masalah yang membebani pikiran Devita. Itu kenapa Laretta berbohong karena ini semua, dengan kebaikan Devita.
Devita mendesah pelan. "Tapi aku hanya ingin melihat keadaan Olivia. Terakhir aku mengingat dia yang menolongku. Aku tidak bisa tenang, jika belum melihatnya."
"Aku mengerti Devita. Aku juga yakin, Olivia akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Karena Dokter menyarankan untuk kamu lebih banyak beristirahat. Kau tahu bukan? Ibu hamil harus banyak beristirahat dan tidak boleh memikirkan hal berat. Jika kau seperti ini terus, itu akan berdampak pada bayi di kandunganmu." ujar Laretta mengingatkan.
"Kau benar Laretta. Tapi aku sangat berharap semoga Olivia benar tidak apa - apa.Karena jujur aku merasa khawatir padanya. Beberapa kali saat aku belum sadar, aku sering bermimpi. Di dalam mimpiku, Olivia sedang merintih kesakitan dan menatapku dengan raut wajah yang sedih. Itu kenapa aku selalu takut. Sungguh Laretta, aku tidak bisa tenang karena mimpi itu. Apakah kau dan Brayen sungguh tidak berbohong mengenai keadaan Olivia?"
Laretta terdiam mendengar ucapan dari Devita, sebisa mungkin Laretta berusaha terseyum untuk menutupi semuanya. "Devita, mimpi adalah bunga tidur. Jangan dipikirkan. Karena Olivia akan baik - baik saja. Percayalah."
Devita mengangguk pelan. "Aku harap demikian."
"Lebih baik kita makan, aku sudah membelikanmu salmon steak dengan pasta aglio olio." Laretta langsung beranjak dan mengambil makanan yang tadi dia beli untuk Devita. Kemudian Laretta duduk di tepi ranjang. Kini Devita dan juga Laretta mulai menikmati makanan yang sudah tersedia.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.