
Devita melangkah masuk kedalam kamar. Dia menatap Brayen yang tengah berkutat dengan iPad yang berada di tangannya. Devita mendesah kasar, bahkan ketika di rumah saja Brayen tetap memikirkan pekerjaannya.Devita mendekat dia duduk di samping suaminya.
"Kau masih sibuk? Kenapa kalau kau masih sibuk sudah pulang kerumah?" Devita bertanya tersirat nada tak suka. Dia tidak suka jika suaminya itu masih tetap bekerja ketika sudah pulang ke rumah.
Brayen mengalihkan pandangannya, dia meletakkan Ipadnya di atas meja. Lalu menarik tangan istrinya kedalam pelukannya. "Aku hanya sedikit membalas email, sayang. Kau sudah selesai bicara dengan Laretta?"
"Sudah," Devita mendongakkan kepalanya dari dalam pelukan Brayen. "Besok, aku akan meminta Olivia untuk datang ke rumah. Aku ingin memilih gaun bersama dengan Laretta dan juga Olivia."
"Ya, lakukanlah sesukamu." Brayen mengelus lembut pipi Devita. "Besok, Nagita asisten barumu akan datang, dia tidak tinggal jauh dari rumah kita. Mulai besok Nagita akan terus mengikutimu kemanapun kau pergi."
Devita mendesah pelan, "Baiklah, aku akan menurutimu. Aku tidak memiliki pilihan untuk menolak, bukan?"
Brayen tersenyum, dia mendekatkan hidungnya ke hidung Devita lalu menggeseknya pelan. "Kau memang tidak bisa membantahku, Devita. Karena sepenuhnya kau adalah milikku. Aku tidak ingin sesuatu terjadi kepada milikku.
"Kau ini terlalu berlebihan, Brayen." Devita mencibir kesal. "Lebih baik aku hamil satu kali saja! Aku tidak ingin hamil lagi. Jika aku hamil, kau terlalu bersikap berlebihan."
"Tidak bisa sayang, minimal kita itu memiliki anak lima. Aku tidak ingin jika hanya satu." tukas Brayen.
Devita mendelik, menatap suaminya tak percaya. "Aku hamil satu kali saja, Brayen. Sisanya kau saja yang hamil dan melahirkan."
"Lalu kalau aku hamil, siapa yang akan membayar tagihanmu yang banyak itu Nyonya Mahendra? Belakangan ini kau itu berbelanja sangat banyak. Aku melihat bill tagihan kartu kreditmu berkali - kali lipat. Kalau aku hamil siapa yang akan membayarnya?" Brayen tersenyum miring. "Setiap bulannya, tagihanmu itu selalu bertambah. Kalau aku tidak bekerja siapa yang akan membayar tagihanmu? Tidak mungkin kau meminta Ayahmu bukan?"
Devita mendengus kesal, dia menepuk dada suaminya. "Kau ini bagaimana? Sudah jelas kalau kau itu suamiku! Jadi sudah jelas bukan, kalau semua belanjaanku tentu saja kau yang harus membayarnya! Sejak kapan kau perhitungan dengan istrimu sendiri!"
Brayen mengulum senyumannya, dia mengeratkan pelukannya. "Allright, aku akan menjalankan tanggung jawabku. Tapi kau juga harus menjalankan tanggung jawabmu."
"Tanggung jawab? Maksudmu menjadi istrimu yang baik? Selama ini aku sudah berusaha untuk menurutimu?" seru Devita.
Brayen menggelengkan kepalanya. "Bukan hanya menjadi istri yang baik dan juga penurut. Tapi ada hal yang jauh lebih penting."
"Lalu apa saja tanggung jawabku yang lainnya?" Devita menautkan alisnya, menatap bingung Brayen.
Brayen mendekatkan bibirnya ke telinga Devita dan berbisik. "Tanggung jawabmu sebagai istri adalah memuaskan suamimu, termasuk mengandung banyak anak untukku. Aku ingin menghamili mu setiap tahunnya. Aku ingin mansion kita ramai dengan anak - anak kita nanti."
Devita melayangkan tatapan dingin. "Brayen! Hamil setiap tahun? Kau yang benar saja! Aku tidak mau! Pasti badanku akan gemuk! Satu atau dua anak saja sudah cukup Brayen."
"Tidak sayang, minimal harus lima." balas Brayen.
"Kau saja yang hamil!" Dengus Devita kesal. Dia beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan menuju ke arah kamar mandi. Sedangkan Brayen hanya tersenyum menatap wajah istrinya yang kesal.
...***...
Pagi hari Devita sudah bangun untuk mempersiapkan pakaian yang akan di pakai oleh suaminya. Beruntung, pagi ini Devita bangun lebih awal, jadi dia bisa membantu Brayen mempersiapkan pakaian yang di pakai hari ini. Jika saja Devita bangun terlambat seperti biasanya, pasti Brayen akan lebih dulu untuk berangkat dan hanya meninggalkan sebuah note padanya. Seperti kebiasaan Brayen yang beralasan tidak tega membangunkan dirinya.
"selesai," Devita menepuk pelan dada Brayen setelah selesai memasangkan dasi suaminya itu.
Brayen memeluk pinggang istrinya. "Hari ini aku akan pulang sedikit terlambat. Kau tidurlah lebih awal."
Devita mendengus. "Kemarin kau pulang cepat, pasti karena aku ikut ke kantor bersama denganmu. Sekarang, aku tidak akan ikut ke kantor kau pasti akan pulang terlambat. Menyebalkan sekali."
"Kau ini! Jangan selau memecat orang begitu saja! Aku tidak mungkin langsung tidak menyukai seseorang." Devita mencebik kesal. Brayen memang seperti itu, tidak memperdulikan perasaan orang lain. Bagi Brayen, yang terpenting adalah kenyamanan Devita. Tapi mana mungkin, Devita bisa bersikap seperti itu? Devita tidak mungkin langsung tidak menyukai seseorang dan secara tiba-tiba langsung memecatnya. Devita tidak sekejam itu pada orang yang baru saja bekerja padanya.
Brayen tersenyum, dia memilih untuk tidak menjawab ucapan dari Devita. Karena Brayen sudah tahu respon dari istrinya akan seperti ini.
"Aku harus berangkat, Albert sudah menungguku di bawah."
"Kau tidak sarapan dulu?"
"Tidak, aku ada meeting lagi hari ini." Brayen mengecup kening Devita, lalu berjalan keluar meninggalkan kamar. Devita ikut menemani Brayen hingga kedepan pintu kamar. Melihat Brayen sudah pergi, Devita melangkah menuju ke arah ruangan makan.
...***...
"Morning Devita," sapa Laretta saat Devita masuk kedalam ruang makan.
"Morning Laretta," balas Devita menyeret kursi dia duduk di hadapan Laretta. Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan sandwich tuna dan susu kacang untuknya.
"Nyonya Devita, selamat pagi...." sapa seorang perempuan melangkah masuk kedalam ruang makan.
Devita dan Laretta sama - sama menoleh ke arah sumber suara itu. Devita tersenyum ketika melihat Nagita sudah datang. Kemarin Devita berpapasan dengan Nagita, itu kenapa dia masih mengingat wajah asisten barunya.
"Kau Nagita bukan?" sapa Devita.
Wanita itu mengangguk, "Benar Nyonya, saya Nagita asisten baru Nyonya."
"Baiklah, kenalkan itu Laretta adik iparku." Devita memperkenalkan Laretta pada Nagita.
"Dan Laretta, ini Nagita asistenku yang baru."
Laretta tersenyum hangat. "Salam kenal Nagita, semoga kau senang bekerja dengan kami."
"Terima kasih Nona Laretta, saya tentu senang bisa bekerja di keluarga Mahendra." balas Nagita.
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.