
Setibanya di hotel Devita terlebih dahulu berjalan ke arah kamar mandi. Dia ingin berendam duluan, merilekskan tubuhnya seharian pergi bersama dengan Brayen sangat melelahkan.
Tidak lama kemudian, setelah Devita selesai mandi. Bergantian dengan Brayen yang kini sedang berjalan menuju ke arah kamar mandi. Devita mengganti baju tidurnya dengan gaun tidur berwarna maroon tanpa lengan.
Suara dering ponsel, membuat Devita melangkah maju menuju tasnya yang berada di atas meja. Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Lalu menatap kelayar tertera nomor nama Ibu Mertuanya mengirimkan pesan padanya. Devita mengusap layar untuk membuka pesan dan dia langsung membaca pesan masuk dari Ibu Mertuanya itu.
Mommy Rena : Devita, Mom sudah tahu, kau sedang ada di Berlin. Mommy berharap saat kau pulang dari Berlin, kamu sudah hamil ya sayang. Mommy sangat menginginkan cucu darimu.
Devita menelan salivanya susah payah setelah membaca pesan dari Mom Rena, nafasnya memberat, dia seperti kesulitan untuk bernafas. Bagaimana tidak? Ibu mertuanya itu sudah menanyakan cucu kepadanya. Padahal pernikahannya dengan Brayen hanya memiliki kontrak selama tiga tahun. Astaga sekarang Devita sangat takut jika harus bertemu dengan ibu mertuanya nanti.
Devita meletakkan kembali ponselnya dan membalikkan tubuhnya dan hendak menuju ke arah ranjang. Namun, ketika Devita melangkah kakinya terpeleset.
Bruk!
Brayen yang baru saja keluar dari kamar mandi, dia yang menangkap tubuh Devita yang terpeleset. Kini posisinya Devita yang berada di atas tubuh Brayen. Jantung Devita berdegup dengan kencang. Bukan Hanya Devita tapi jantung Brayen pun berpacu dengan kencang.
Saat Devita hendak bangun tiba - tiba sebuah tangan menahan tengkuknya. Seketika Brayen membalikkan tubuhnya. Kini posisi Brayen berada di atas tubuh Devita. Entah apa yang di pikirkan oleh Brayen, dia mencium dan ******* bibir Devita. Menghisap dan mencecap bibir ranum Devita. Devita terbuai dengan ciuman yang di berikan oleh Brayen. Hingga kemudian, Devita membuka mulutnya. Membiarkan Brayen menyapu rongga mulutnya. Lidah mereka saling berpagutan dan Devita membalas setiap ciuman dari Brayen.
Terdengar deringan ponsel milik Devita yang membuat mereka tersadar. Brayen langsung bangun dan Devita yang langsung berlari menuju ke arah kamar mandi. Devita mengunci kamar mandi dengan rapat.
"Damn it! Apa yang sudah aku lakukan!" Umpat Brayen. Pandangannya melihat Devita yang masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Devita duduk di lantai.Menyentuh bibir dan dadanya yang berdegup dengan kencang, ini sungguh gila. Devita membalas ciuman dari Brayen.
"Astaga tadi aku berciuman sangat panas dengan Brayen," gumam Devita.
Devita keluar dari kamar mandi, dan berjalan menuju ke ranjang. Dia melihat Brayen yang tengah berkutat dengan Ipad-nya. Devita langsung segera melupakan kejadian tadi. Astaga, padahal Devita belum bisa melupakan jantungnya yang masih berdegup dengan kencang saat mencium Brayen. Tapi tidak boleh, dia harus bisa untuk bersikap biasa saja.
Kemudian Devita membaringkan tubuhnya di samping Brayen. Pandangan Brayen melirik ke arah Devita yang sudah membaringkan tubuhnya. Lalu dia kembali berkutat pada Ipad-nya seolah tidak terjadi apapun.
"Besok aku ada meeting dan dua hari lagi kita sudah kembali kota B. Banyak yang harus aku kerjakan. Aku masih harus mengurus proyek dengan perusahaan Ayahmu," kata Brayen yang lebih dulu memulai percakapan.
"Apa kau memintaku untuk ikut meeting lagi denganmu di tempat sebelumnya?" tanya Devita dia mencoba melupakan kejadian tadi.Dia menganggap itu sebuah ketidaksengajaan. Meskipun jantungnya kini masih berdegup dengan kencang ketika berada di samping Brayen.
"Ya, kau akan ikut tapi, kau jangan pergi lagi seperti saat sebelumnya. Aku tidak ingin mendengar kalau kau kehilangan ponsel dan dompetmu lagi. Jika kau, pergi lagi seperti yang sebelumnya, aku akan memblokir semua kartu yang kamu pegang." tukas Brayen dengan nada yang mengancam.
"Astaga,kau sungguh mengerikan! Jika kau memblokirnya aku makan apa Brayen? Kau ingin aku hanya makan nasi putih saja?!"Devita mendengus kesal.
Brayen menyunggingkan senyumnya ketika mendengar ucapan Devita. Dan berkata, "Sepertinya kedengarannya akan bagus, kalau kamu hanya makan nasi saja,"
"Pulang dari Berlin, aku akan meminta Ayahku untuk tetap mentransfer uang bulanan kepadaku! Jadi, jika kau menghukumku, aku bisa aman tetap memiliki uang!" Cebik Devita. Dia mengerutkan bibirnya.
Brayen langsung menyentil dahi Devita dan berkata, " Kau jangan membuatku malu! Apa yang akan di katakan oleh Ayahmu, jika kau meminta uang padanya! Ayahmu akan berpikir kalau aku tidak akan memberikanmu uang!"
Brayen meletakkan iPad ke atas nakas, lalu pandangannya teralih ke Devita, " Aku tidak akan memblokir kartumu tapi jika kau menurut padaku!"
"Sepertinya aku harus menyimpan uangmu di rekening pribadiku. Uang yang kemarin kau berikan padaku masih sangat banyak. Aku tidak akan menggunakannya aku akan menyimpannya di rekeningku. Lalu, saat kita tiba di kota B, aku akan memindahkan uangmu, ke beberapa rekening pribadiku. Jadi, jika sewaktu - waktu kau menghukumku, aku masih memiliki uang," gumam Devita.
Brayen tertawa, dia tidak bisa menahan tawanya ketika mendengar ucapan Istri kecilnya itu. Hingga kemudian Brayen menjawab, " Kau memang sangat cerdas, Devita Mahendra. Pantas saja, Mommyku memilihmu,"
"Aku memang cerdas!" Tukas Devita percaya diri.
Brayen menggelengkan kepalanya, "Sudahlah, lebih baik kita tidur sekarang,"
"Ya, baiklah." jawab Devita.
Kemudian Devita menarik selimut, dia memunggungi Brayen. Lalu perlahan, dia mulai memejamkan matanya. Napas teratur dan halus milik Devita terdengar. Brayen ikut membaringkan dirinya.Namun, tiba - tiba dia memilih untuk melingkarkan tangannya memeluk tubuh Istri kecilnya itu.
...***...
Sinar matahari pagi, perlahan membuat Devita membuka matanya. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Pandangannya kini menatap tubuh Brayen yang sudah terbalut oleh jas berwarna hitam. Lengan yang kokoh miliknya serta dada bidang yang tercetak jelas membuat Devita tidak bisa berhenti melihat Brayen. Devita langsung menepis pemikirannya. Dia hampir kehilangan akal sehatnya karena selalu mengagumi tubuh suaminya yang menyebalkan itu.
"Kau sudah bangun?" tanya Brayen sambil mengancingkan jas.
"Ya," jawab Devita datar. Dia langsung mengalihkan pandangannya dan tidak lagi melihat ke arah Brayen.
Devita mengangguk, lalu beranjak dari ranjang, menuju ke arah kamar mandi, dan Devita sudah mengganti pakaiannya. Dia langsung menghampiri Brayen yang sedang duduk di sofa. Sarapan sudah terhidang kan di atas meja. Devita mengambil Pasta Agio Olio dan langsung menikmati makanannya. Sedangkan Brayen lebih memilih untuk menikmati Kopi Espresso dan Roti Gandum.
Ketika Devita sudah selesai sarapan Devita dan Brayen keluar dari kamar. Seperti biasa, sopir telah menunggu mereka di lobby. Mereka masuk kedalam mobil. Tidak lama kemudian mobil yang membawa Devita dan Brayen mulai meninggalkan lobby hotel.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.