
"Devita kita ke kelas sekarang. Mr. Gerald pasti sudah menunggu kita." Olivia menarik tangan Devita untuk meninggalkan tempat itu.
"Tunggu sebentar," balas Devita.
Devita mengalihkan pandangannya pada Brayen yang berada di sampingnya. "Brayen, aku harus masuk ke kelas. Aku sudah ada janji bertemu dengan dosen. Kau tidak usah menungguku, aku takut kau akan menunggu lama."
"Aku akan menunggumu," Brayen mengecup kening Devita. "Masuklah, dan kirimkan pesan padaku, jika kau sudah selesai."
Devita tersenyum, lalu dia membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan Brayen dan juga Felix bersama dengan Olivia yang sejak tadi sudah mengajaknya masuk kedalam kelas.
"Brayen, kau akan menunggu Devita?" tanya Felix memastikan, rasanya dia tidak percaya apa yang telah dia dengar. Selama ini Brayen selalu sibuk dengan pekerjaannya. Tidak mungkin Brayen mau menunggu Devita di kampus.
"Bukan urusanmu." tukas Brayen dingin.
Felix mengumpat di dalam hati mendengar ucapan sepupunya itu. Tidak memperdulikan Felix, Brayen berjalan meninggalkan Felix. Saat Brayen sudah berjalan, Felix langsung berlari menuju Brayen.
"Sialan kau Brayen! Kenapa kau langsung pergi! Jika kau menunggu Devita, aku juga akan menunggu Olivia. Kita bisa menunggu mereka bersama!" Kata Felix menggeram menahan emosinya.
Brayen tidak menjawab, dia terus berjalan keluar dari lobby kampus, Felix terus mengumpat di dalam hati, mau tidak mau dia menyusul Brayen. Saat Brayen dan juga Felix berjalan keluar. Banyak wanita yang mengedipkan mata dan menyapa Brayen dan juga Felix. Jika Felix membalas wanita yang tersenyum padanya, tidak bagi Brayen, dia tetap berjalan keluar tanpa menoleh sedikitpun pada wanita itu.
...***...
"Hi kau Devita bukan?" sapa seorang wanita yang tiba - tiba menghampiri Devita.
"Maaf, apa kita pernah mengenal sebelumnya?" Devita menautkan alisnya. Dia berusaha mengingat wanita yang ada di hadapannya ini, tapi dia tetap tidak mengenal wanita ini.
"Aku Carla, anak design tingkat akhir. Kebetulan aku kesini, karena aku ingin bertemu dengan temanku." kata wanita yang bernama Carla itu. " Tapi saat aku datang, aku melihat Brayen Adams Mahendra bersama denganmu. Apa kau mengenalnya?" tanyanya.
"Untuk apa kau bertanya itu?" tanya Olivia menyalang menatap tajam wanita yang ada di hadapannya.
"Ssst. Olivia jangan seperti itu." Devita melerai, dia tidak ingin jika Olivia membuat keributan.
"Memangnya salah, jika aku bertemu dengan Brayen?" ucap Carla sinis.
Devita tersenyum, " Tidak, kau tidak salah. Ya, aku tentu mengenal Brayen dengan baik. Dia suamiku."
Carla tergelak, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. " B- Brayen suamimu?"
"Apa pendengaranmu sakit? Sahabatku sudah mengatakan jika Brayen adalah suaminya! Kenapa kau seolah tidak percaya?" seru Olivia kesal.
"Kenapa kau yang selalu menjawab? Aku tidak bertanya padamu!" Balas Carla meninggikan suaranya.
"Sudah cukup, lebih baik kita bertemu dengan Mr. Gerald sekarang Olivia." Devita langsung menarik tangan Olivia, menghindari sahabatnya itu bertengkar. Devita tidak habis pikir dengan sahabatnya itu kenapa cepat sekali emosi. Padahal Devita masih bisa menahan diri. Meski Devita tahu, Carla menunjukkan diri jika dia menyukai Brayen.
"Devita, kenapa kau menarikku seperti ini?" keluh Olivia saat tiba di kelas. Devita melepaskan cengkraman tangannya.
"Olivia, kenapa kau mencari keributan dengan wanita yang bernama Carla tadi?" dengus Devita, dia tidak suka jika Olivia mencari keributan.
"Wanita itu terkenal disini Devita. Apa kau tidak mengenal Carla? Dia itu selalu terobsesi mendapatkan pria yang hebat! Harusnya kau itu berterima kasih padaku! Aku tidak ingin dia akan merusak kehidupan rumah tanggamu. Kalau sampai dia berani, aku bersumpah akan mencekik lehernya hingga dia tidak bisa menghirup udara segar." tukas Olivia menekankan.
Devita menggeleng pelan, dia mengulum senyumannya. " Aku sangat berterima kasih padamu tapi aku percaya, jika Brayen tidak akan tertarik dengan wanita lain."
Olivia membuang napas kasar. "Percaya itu memang penting. Tapi waspada tidak kalah penting juga, Devita. Aku tidak ingin bibit-bibit seperti Elena muncul di kehidupan rumah tangga kalian lagi."
Devita terkekeh pelan. " Kau benar, aku rasa Felix nanti tidak akan berani berselingkuh darimu. Karena kau akan menghabisi wanita yang berani menggodanya."
"Devita, hentikan omong kosongmu kenapa kau selalu menyambungkan aku dengan Felix." balas Olivia ketus.
Olivia menarik napas panjang, dia terdiam mendengarkan perkataan dari Devita. Rasanya dia tidak tahu harus membalas apa, jika Devita sudah mengingatkan ini padanya.
...***...
Devita berlari keluar kelas, dia melirik arlojinya kini sudah pukul sebelas siang. Tadi, dia sudah mendapatkan pesan dari Brayen, jika suaminya itu menunggunya di kafe terdekat dengan kampus. Tidak hanya sendiri, Devita juga menarik Olivia untuk ikut dengannya. Alasannya karena Felix juga bersama dengan Brayen. Kali ini Olivia hanya menurut dan pasrah pada Devita. Olivia tidak lagi memberontak sejak perkataan Devita yang mengatakan setiap orang memiliki batas kesabaran.
Devita dan Olivia berjalan cepat keluar dari kampus menuju ke kafe dimana Brayen dan juga Felix menunggu. Devita mengulum senyumannya. Mengingat ini pertama kalinya Brayen menunggunya di kampus. Biasanya Brayen mengantar Devita cukup hanya sampai lobby kampus saja. Dan hari ini Brayen benar - benar sangat manis.
Saat Devita dan Olivia sudah di tiba di kafe. Mereka sudah melihat Brayen dan Felix duduk di sudut sebelah kanan. Devita kembali menarik tangan Olivia agar wanita itu mempercepat langkahnya.
"Maaf kau sudah menunggu lama," ucap Devita sambil memberikan kecupan di pipi suaminya.
Brayen tersenyum tipis. " Kau sudah selesai?"
Devita mengangguk lalu dia duduk di samping Brayen, sedangkan Olivia dia duduk di samping Felix. Tidak ada pilihan lain lagi bagi Olivia untuk duduk di samping Felix.
"Hi Olivia. Apa kau tahu, aku sudah menunggumu?" kata Felix, saat melihat Olivia duduk di sampingnya.
Devita menajamkan matanya pada Olivia, hingga membuat Olivia tersenyum kaku dan tidak melawan. " Terima kasih," jawab Olivia singkat.
Felix tersenyum puas mendengar ucapan dari Olivia, "Anything for you my Olivia."
Olivia tidak bergeming, dia lebih memilih untuk diam saat mendengar perkataan dari Felix. Dia juga tidak ingin membuat keributan di hadapan Brayen dan juga Devita.
"Devita, apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Brayen pada Devita yang duduk di sampingnya.
Devita menggeleng pelan. " Siang ini, akan ada chef Della bukan? Dia pasti sudah banyak memasak untuk kita. Tadi aku sudah mengirimkan pesan pada pelayan, makanan apa saja yang aku inginkan. Jadi, lebih baik aku makan di rumah. Aku sudah tidak sabar untuk mencoba masakan chef Della."
Brayen mengangguk singkat, dia mengusap pelan puncak kepala Devita. " Kalau begitu kita harus segera pulang, karena kau pasti sudah lapar."
"Sebentar Brayen," Devita menoleh menatap Felix dan Olivia yang duduk di hadapannya. "Hari ini chef asal Indonesia yang aku ceritakan pada kalian akan memasak makanan yang sudah aku pesan. Aku mau kalian harus datang dan aku tidak menerima penolakan." kata Devita pada Felix dan Olivia memaksa.
"Well, aku tidak mungkin menolaknya Kakak Ipar. Aku pasti sangat senang untuk mencoba makanan asal Indonesia. Terlebih calon istriku juga memiliki darah campuran Indonesia." balas Felix dengan santai dan melirik ke arah Olivia.
Olivia tersedak, dia langsung batuk mendengar ucapan Felix. Dengan cepat, Felix memberikan air putih untuk Olivia. Entah apa yang di pikirkan oleh Felix hingga mengatakan hal itu di hadapan Devita dan juga Brayen. Olivia beruntung karena Brayen, tipe pria yang dingin dan tidak memperdulikan masalah orang lain.
"Pelan - pelan sayang." kata Felix yang kini menatap Olivia yang wajahnya memerah karena tersedak.
Devita mengulum senyumannya, "Lebih baik kita berangkat sekarang. Aku sudah lapar."
Olivia membuang napas kasar, dia tidak memiliki pilihan untuk mengikuti keinginan sahabatnya itu. Brayen membayar bill atas minuman. Setelah membayar Brayen mengenggam tangan Devita berjalan meninggalkan kafe. Termasuk Felix dengan Olivia yang juga mengikuti mereka.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.