Love And Contract

Love And Contract
Kedatangan Laretta



Devita mematut cermin, dia mengoleskan wajahnya dengan make up tipis. Kemudian dia mengusap lembut perutnya yang kian membuncit. Dia menatap bentuk tubuhnya yang mulai berubah dan pipinya yang terlihat gemuk. Begitupun dengan pinggangnya. Meski ada ketakutan di dalam diri Devita, jika Brayen akan berpaling darinya. Namun dia segera menepis ketakutannya. Devita tahu, suaminya itu tidak akan pernah meninggalkannya.


Suara ketukan pintu terdengar, membuat Devita mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Dia langsung menginterupsi untuk masuk.


"Nyonya...." seorang pelayan melangkah mendekat ke arah Devita.


Devita tersenyum hangat. "Ada apa?"


"Maaf menganggu waktu Nyonya. Tapi saya hanya ingin memberitahu, di bawah ada Nona Laretta." jawab pelayan itu.


"Laretta ada di bawah?" Devita terkejut melihat Laretta datang, karena terakhir Laretta menelepon Devita, saat Laretta sedang berlibur di negara M.


"Benar Nyonya, di bawah ada Nona Laretta." jawab pelayan itu.


"Aku kesana." Devita langsung beranjak dari tempat duduknya, dan segera menemui Laretta. Sudah hampir dua bulan lebih Devita tidak bertemu dengan Laretta. Jika dulu dia selalu bertemu dengan Laretta setiap hari, tapi kini setelah Laretta menikah, mereka di sibukkan dengan kehidupan mereka masing-masing.


...***...


"Devita?" seru Laretta ketika melihat Devita. Dia langsung memeluk Devita. "Aku sangat merindukanmu, Devita."


Devita tersenyum, dia mengurai pelukannya. "Aku juga merindukanmu. Bagaimana liburan di negara M? Dua bulan lebih berlibur, membuatmu terlihat begitu sangat fresh dan sangat cantik."


Laretta mendengus. "Kau jangan meledekku, apa kau tidak melihat perutku ini sudah sangat besar."


Devita terkekeh, dia menyentuh perut buncit Laretta. "Kandunganmu bulan ini sudah memasuki delapan bulan bukan? Apa kau sudah tahu, keponakanku laki - laki atau perempuan?"


"Aku tidak ingin memeriksanya. Aku ingin membuat kejutan untukku dan juga Angkasa," balas Laretta. "Bagaimana denganmu? Bulan ini kandunganmu enam bulan bukan?"


Devita mengangguk. "Ya, bulan ini kandunganku enam bulan. Aku juga selalu rajin memeriksa kandunganku dan keponakanmu itu laki - laki, Laretta."


"Aku yakin, keponakanku itu pasti akan sangat tampan seperti Kakakku." seru Laretta antusias.


"Sama denganmu. Nanti, kalau anakmu lahir aku yakin dia akan sangat cantik sepertimu. Dan jika laki - laki akan tampan seperti Angkasa," balas Devita yang tak kalah antusias.


Laretta tersenyum, "Devita, aku sudah membelikanmu oleh - oleh dan aku sudah meminta pelayan, meletakkan di dalam kamarmu."


"Terima kasih. Sekarang lebih baik kita duduk di taman. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu kita di taman," ujar Devita yang merindukan masa-masa dia dan Laretta menghabiskan waktu di taman.


Laretta menggangguk setuju. "Kau benar, sudah lama kita tidak menghabiskan waktu di taman bersama." Laretta langsung memeluk lengan Devita berjalan menuju ke arah taman.


...***...


Cuaca begitu cerah, membuat Devita mengajak Laretta untuk duduk bersantai di taman. Sebelumnya, pelayan telah mengantarkan dua teh hangat untuk mereka.


"Laretta, bagaimana keadaan Angkasa?" Devita mengambil cangkir yang berisikan teh, lalu menyesapnya.


"Baik, saat ini Angkasa sedang sibuk. Itu kenapa aku hanya sendiri kesini. Dia sedang tidak bisa mengantarku." jawab Laretta sambil memejamkan matanya sebentar, ketika hembusan angin menyentuh kulitnya.


"Aku senang mendengarnya." Devita meletakkan kembali gelas cangkir yang berisikan teh itu, ke tempat semula.


"Devita?"


"Ya? Kenapa Laretta?"


"Aku sudah mendengar tentang Ivana Wilson?"


"Ya, aku sudah tahu. Jujur aku tidak menyangka dengan apa yang di lakukan Ivana. Tapi aku bersyukur, tidak terjadi apapun padamu, Devita." Laretta mengelus lengan Devita, dan memberikan tatapan lembut pada Devita.


"Brayen menjagaku dengan baik. Aku yakin tidak terjadi apapun padaku dan juga anakku." jawab Devita dengan senyuman hangat di wajahnya.


"Kau benar, Kakakku akan menjagamu dengan baik." balas Laretta dengan yakin.


Sepanjang sore, Devita dan juga Laretta membahas tentang masa - masa mereka bersama. Suara tawa dan canda keduanya memenuhi tempat itu. Ketika hari menjelang malam, Laretta langsung berpamitan untuk pulang. Rasanya, Devita begitu masih merindukan adik iparnya itu. Tapi tidak ada pilihan lain. Karena kini Laretta telah menjadi seorang istri. Tidak mungkin Laretta akan pulang terlambat karena sekarang, Laretta telah memiliki Angkasa yang menunggunya di rumah.


...***...


Malam semakin larut, hujan turun begitu deras. Kilatan petir membuat Devita meringkuk memeluk bantal. Hal yang Devita takutkan adalah suara petir. Jika dulu sebelum menikah, Devita akan tidur bersama dengan kedua orang tuanya jika mendengar suara petir. Tapi kini Devita tidak bisa melakukan apapun selain menutup bantal dan selimut. Sebelumnya Devita sudah menghubungi Brayen, tapi suaminya itu tidak menjawab.


Ceklek.


Suara pintu terbuka, dan Devita langsung membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Senyum di bibir terukir ketika melihat Brayen sudah pulang. Dengan cepat, Devita langsung beranjak dari ranjang dan berjalan cepat menghampiri Brayen.


Brayen terkejut melihat jalan Devita yang sangat cepat ke arahnya. Brayen langsung mendekat dan memeluk tubuh Devita. Tatapan Brayen langsung menatap dingin Devita. "Aku sudah mengatakan, perhatikan langkahmu Devita." Brayen menegur dengan nada penuh peringatan.


Devita mencebik, dia mengerutkan bibirnya dan langsung memeluk erat Brayen. "Aku tadi sudah menghubungimu, tapi kau tidak menjawab. Kau tahu bukan, aku itu sangat takut petir!"


Brayen mengecup puncak kepala Devita, dia mengeratkan pelukannya. "Maaf, tadi ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa aku tunda. Felix sedang sibuk dengan pembangunan hotel yang ada di Negara R dan M. Albert sibuk meeting dengan Mr. Lee. Aku terpaksa harus menyelesaikan pekerjaanku. Hari ini aku ada meeting dengan pengusaha asal negara D."


Devita mendesah pelan, dia mendongak dari dalam pelukan Brayen. "Aku mengerti, belakangan ini kau selalu meluangkan waktumu untukku. Pasti kau memiliki pekerjaan yang tertunda sangat banyak."


Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* lembut bibir Istrinya. "Terima kasih sudah mengertiku. Aku berjanji, setelah pekerjaanku selesai, aku akan lebih banyak meluangkan waktuku untukmu."


Devita tersenyum, dia mengelus lembut rahang Brayen. "Aku percaya kau akan selalu meluangkan waktu untukku."


"Tapi ingat Devita, aku tidak ingin kau berjalan seperti tadi. Kau sedang hamil. Perutmu itu sudah besar, aku tidak ingin kau terjatuh." tukas Brayen penuh dengan peringatan.


Devita menggigit bibir bawahnya, dia membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen. "Maaf sayang, aku hanya takut dengan petir. Aku terlalu senang melihatmu pulang. Dulu, saat aku belum menikah denganmu, jika ada petir seperti ini aku akan selalu memeluk orang tuaku. Tapi sekarang aku sendiri."


Brayen menangkup kedua pipi Devita "Kau tidak sendiri. Kau memilikiku. Maaf, karena aku sudah pulang terlambat."


Devita mengangguk, dia memeluk erat tubuh Brayen. "Aku mengerti, sekarang kau mandilah."


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.