
"Devita, kau dari mana saja? Kemana kau lama sekali makan siangnya!" Seru Olivia yang kesal. Dia sudah menunggu sejak tadi tapi Devita masih juga belum kembali.
"Maafkan, aku. Tadi aku mengobrol dengan William sampe aku lupa waktu," jawab Devita sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya.
"Kau harus mentraktirku makan, karena kau datang terlambat aku di minta Ms. Lauren untuk mengerjakan tugasmu!" Gerutu Olivia. Akibat Devita datang terlambat dia harus mengerjakan tugas Devita.
Devita terkekeh kecil, " Tenanglah, malam ini kau bebas memilih makanan apapun."
"Good, kau memang sahabat terbaikku!" Balas Olivia antusias.
"Olivia, nanti aku menginap di rumahmu ya," kata Devita, yang sontak membuat Olivia terkejut.
"Kau serius mau menginap di rumahku? Apa Brayen mengizinkanmu?" tanya Olivia memastikan. Pasalnya, dia tidak ingin mencari masalah dengan Brayen.
"Aku akan mengirim pesan padanya nanti. Lagi pula untuk apa dia memperdulikannya. Dia tidak memiliki hak apapun atas hidupku. Dia juga harus tahu batasannya." tukas Devita dia kembali mengingat perkataan Brayen yang begitu menyakitkan.
Olivia menghela nafas dalam. " Kau yakin akan menginap? Bagaimana jika Brayen marah nanti?" tanya Olivia.
"Aku tidak ingin pulang. Aku tidak ingin melihat wajah Brayen. Aku masih sakit hati mengingat perkataannya yang begitu menyakitkanku. Lebih baik aku menghindar. Lagi pula aku hanyalah Istri dalam perjanjiannya saja. Selebihnya kami tidak memiliki hubungan apapun. Jika perjanjian itu berakhir, maka aku sudah bukan lagi menjadi Istrinya," ujar Devita dengan nada penuh penekanan.
"Baiklah, jika itu maumu. Kau bisa menginap di rumahku. Rumahku pasti selalu terbuka untukmu. Kebetulan juga hari ini, aku tidak membawa mobil. Mobilku di bengkel" balas Olivia.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kita lanjutkan pekerjaan kita," kata Devita.
Olivia menganguk setuju dan berkata, "Kau benar, kepalaku sakit melihat pekerjaan yang begitu banyak."
...***...
Brayen duduk di kursi kebesarannya. Pikirannya kini tengah memikirkan Devita. Tadi malam, Devita mengunci diri di kamar tamu. Bahkan, paginya Devita sudah lebih dulu berangkat. Brayen merasa bersalah karena sudah berkata kasar pada Devita. Ya, memang sebenarnya Brayen sangat marah pada Devita, karena Devita mencampuri urusan pribadinya. Tapi tidak bisa di tutupi jika Brayen juga merasa bersalah karena terlalu kasar pada Devita.
Brayen melirik arlojinya, sekarang sudah pukul enam sore. Itu artinya Devita sedang di jalan pulang. Brayen memutuskan akan berbicara dengan Devita, saat dia sudah tiba di rumah. Tidak lama kemudian, terdengar suara dering ponsel, Brayen mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Dia menatap ke layar ternyata pesan masuk dari Devita. Dia mengusap layar ponsel untuk membuka pesan dan membaca pesan.
Devita : Brayen, aku akan menginap di rumah Olivia. Kau tidak perlu mencari ku. Aku baik - baik saja.
Brayen : Tidak boleh, aku tidak mengizinkanmu menginap.
Devita : Aku hanya memberitahumu. Bukan meminta izin padamu.
Brayen menggeram, karena Devita tidak menurutinya. Tanpa menunggu lama, Brayen langsung menghubungi Devita. Namun, satu, dua, hingga sampai lima kali Brayen menghubungi Devita, tapi Devita tetap tidak menjawab.
"****! Dia berani tidak mengangkat telepon dariku!" Geram Brayen.
Kemudian Brayen menghubungi Albert untuk datang ke ruang kerjanya. Tidak lama terdengar suara ketukan pintu. Brayen langsung memintanya untuk masuk.
"Tuan," sapa Albert,saat melangkah masuk ke ruang kerja Brayen.
"Kau cari nomor telepon dan alamat gadis yang bernama Olivia. Dia teman Devita, untuk wajahnya kau bisa lihat di sosial media milik Devita. Devita sering berfoto dengan temannya yang bernama Olivia itu," tukas Brayen dingin dengan sorot mata yang tajam. Terlihat jelas kemarahan di wajah Brayen.
"Baik Tuan," Albert menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari ruang kerja Brayen.
Brayen membuang napas kasar. Dia melonggarkan dasinya. Beraninya Istri kecilnya itu tidak menurut padanya. Tidak perduli Devita sudah izin dengannya. Tapi, dia tidak akan pernah mengizinkan Devita untuk menginap di rumah orang lain. Meskipun itu adalah rumah sahabatnya sendiri.
...***...
"Devita, kau sudah izin dengan Brayen?" tanya Olivia, sambil menatap Devita yang tengah menyetir.
"Sudah," jawab Devita singkat.
"Lalu dia menanyakan apa?" tanya Olivia memastikan. Entah kenapa perasaan Olivia tetap tidak enak. Olivia hanya takut Devita bertengkar dengan Brayen.
"Dia tidak mengizinkanku untuk menginap, tapi aku mengatakan padanya, jika aku tidak meminta izin," tukas Devita.
"Hah? Kau gila Devita! Berani sekali kau mengatakan itu pada Brayen?" seru Olivia, dia tidak menyangka, jika Devita begitu berani mengatakan itu pada Brayen.
"Aku hanya mengatakan apa adanya. Dia tidak berhak atas hidupku. Dia harus memiliki batasan, sama seperti dia yang mengatakan aku harus memiliki batasan." ujar Devita, hatinya masih terasa sakit dan sesak mengingat perkataan Brayen.
Mobil Devita, kini sudah tiba di mansion milik Olivia. Devita langsung memarkirkan mobilnya. Olivia tinggal sendiri, seluruh keluarganya tinggal di Kanada. Terkadang, orang tua Olivia sering datang ke Indonesia untuk menjenguk Olivia. Namun, tidak terlalu sering, karena Ayahnya pun di sibukkan dengan bisnisnya di Kanada. Dan terkadang Ayah Olivia harus melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.
Devita dan Olivia turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam mansion. untungnya Devita selalu memiliki baju cadangan di dalam mobil. Jadi, dia tidak perlu meminjam baju Olivia.
"Olivia, kau telepon restoran saja. Pesankan makanan untuk kita," kata Devita.
Olivia menganguk setuju, dia mengambil ponselnya dan mulai menghubungi restoran yang letaknya tidak terlalu jauh. Setelah Olivia memesan makanan dia berjalan menuju ke arah kamar mandi.
Setelah Olivia sudah selesai mandi, sekarang kini giliran Devita yang langsung berjalan ke arah kamar mandi, dia ingin segera berendam.
Olivia duduk di sofa. Sembari menghidupkan dan menonton televisi. Tidak lama kemudian, terdengar suara bunyi bel. Olivia beranjak dari tempat duduknya, dia langsung menuju ke arah pintu. Dia yakin,itu pasti kurir restoran yang mengantarkan makanan untuknya. Seketika Olivia tersentak, saat Olivia membuka pintu, Brayen yang berdiri di hadapannya.
"A...ada apa kau kesini?" tanya Olivia yang gugup.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Olivia. Brayen langsung berjalan masuk ke dalam rumah Olivia. Sedangkan, Olivia dia terkesiap karena Brayen langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya
"Dimana Devita?" tanya Brayen dingin.
"Brayen, lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan Devita menginap di rumahku," jawab Olivia.
Brayen melayangkan tatapan tajamnya pada Olivia. " Kau pikir, kau siapa berani memerintahku?!"
"Bukan begitu Brayen. Hanya saja, biarkan Devita menginap di rumahku," ujar Olivia dengan suara tenang.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.