Love And Contract

Love And Contract
Menatap Tak Percaya



Brayen duduk di kursi kepimpinannya. Tatapannya menatap Nicholas yang tengah membahas proyek pembangunan hotel di Roma. Kemudian, dia kembali membaca kembali dokumen yang ada di hadapannya.


"Tuan Brayen pembangunan hotel di Roma dan di Milan semua persiapannya telah selesai." kata Nicholas yang baru saja menjelaskan tentang proyek pembangunan hotel.


Brayen menganggukan kepalanya. "Aku sudah membacanya. Semua persiapan juga telah selesai. Hanya tinggal memulai pembangunan. Dokumen semua telah lengkap. Kalau begitu meeting cukup sampai di sini." Brayen beranjak dari tempat duduknya. "Meeting selanjutnya akan di informasikan oleh asistenku." Brayen melangkah meninggalkan ruang meeting menuju ke ruang kerjanya.


Suara dering ponsel membuat langkah Brayen terhenti. Dia mengambil ponsel dari dalam jasnya, lalu menatap ke layar. Brayen mengerutkan keningnya menatap nomor yang tidak di kenal menghubunginya. Meski Brayen tidak menyukai jika ada nomor asing yang menghubunginya, tapi jika masih jam kantor tidak mungkin jika Brayen tidak menjawabnya. Dia langsung mengusap layar ponsel untuk menerima panggilan. Sebelum kemudian meletakkan di telinganya.


"Ya?" jawab Brayen dingin saat panggilan terhubung.


"Aku merindukanmu." suara wanita terisak begitu pilu terdengar dari sebrang telepon.


Brayen tersentak dia menatap kembali ke layar untuk memastikan nomor yang yang menghubunginya. Dan benar saja, dia tidak mengenal pemilik nomor ini.


"Kau siapa?" seru Brayen.


"Aku merindukanmu, Brayen." Isak suara tangisan seorang wanita terdengar di telinga Brayen, membuat Brayen terdiam seketika.


"Kau siapa?" Brayen kembali bertanya, suaranya tetap dingin dan menunjukkan rasa ketidaksukaannya.


"Aku selalu menunggumu dulu hingga sekarang," Isak wanita itu semakin keras.


"Kau-"


Panggilan terputus, wanita itu terlebih dulu memutuskan sambungan teleponnya. Brayen menatap ke layar memastikan nomor itu. Dan dia benar-benar tidak mengenal nomor itu.


Brayen melanjutkan langkahnya, masuk kedalam ruang kerjanya. Dia langsung duduk di kursi kerjanya, dan menekan tombol interkom, meminta Albert untuk ke ruang kerjanya.


"Tuan," sapa Albert menundukkan kepalanya saat masuk kedalam ruang kerja Brayen.


"Albert, tolong cari tahu nomor asing yang sudah menghubungiku." tukas Brayen dingin.


"Maaf Tuan, nomor asing yang menghubungi anda? Apa nomor asing itu sama dengan nomor asing yang sudah menggangu Nyonya?"tanya Albert memastikan.


"Tidak, nomornya tidak sama. Kau pastikan apakah orang yang menghubungiku, adalah orang yang sama dengan orang yang meganggu istriku atau tidak." balas Brayen dengan sorot mata tajam.


Albert mengangguk. "Baik Tuan, saya akan segera mencari tahu."


"Apa Felix sudah berhasil menemukan lokasi orang yang sudah menggangu istriku?" Brayen menatap lekat Albert. Raut wajahnya terlihat begitu marah.


"Maaf Tuan, tapi tuan Felix bilang dia tengah mencari sesuatu. Besok, dia akan memberikan lokasi pemilik dari nomor telepon yang menganggu Nyonya." ujar Albert.


"Cepat temukan orang yang menggangu istriku. Sepertinya aku rasa, tadi yang menghubungiku adalah orang yang sama." tukas Brayen dingin.


Seketika, senyum di bibir Brayen terukir membentuk seringai. Pandangan Brayen kini lurus kedepan, pikirannya kini telah menangkap sesuatu hal yang telah di ketahui. "Well, Albert aku yakin pelaku ini semuanya ini adalah seorang wanita."


"Seorang wanita? Maaf Tuan, apa tadi nomor yang menghubungi anda dia bersuara?" tanya Albert.


Brayen menyandarkan punggungnya di kursi. Dia menyilangkan kakinya. "Ya, dia bersuara. Suara tangis seorang wanita. Dan aku sangat yakin, dia adalah orang yang sama yang sudah menggangu istriku."


...***...


"Ivana!" Suara teriakan Monika begitu menggelegar saat masuk kedalam Apartemen milik Ivana.


Monika membuang napas kasar, dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut Apartemen milik Ivana. Monika mengumpat kasar, melihat Apartemen milik Ivana di penuhi oleh wajah Brayen. Monika menggelengkan kepalanya, menatap tak percaya foto Brayen sejak kuliah hingga detik ini, semuanya berada di Apartemen milik Ivana.


"Apa kau ini sudah kehilangan akal sehatmu, Ivana?" seru Monika dia melayangkan tatapan dingin pada Ivana.


"Apa maksudmu?" tukas Ivana dingin. Wajahnya menunjukkan ketidakpedulian dengan apa yang di katakan oleh Monika.


"Kau lihat seluruh Apartemenmu? Kau benar - benar kehilangan akal sehatmu, Ivana! Kau memasang foto Brayen sejak dari dia kuliah hingga sekarang!" Monika meremas rambutnya frustasi. Dia mondar-mandir di hadapan Ivana dengan begitu gelisah.


"Sebenarnya ada apa Monika? Kenapa kau begitu panik dan terlihat gelisah begini?" Ivana mengerutkan keningnya, menatap bingung ke arah Monika.


Monika melayangkan tatapan tajamnya dan terlihat kemarahan di wajah wanita itu. "Kau sudah gila Ivana! Apa kau tahu, sekarang Brayen sendang menyelidiki mobil yang sudah membututinya! Dia juga menyelidiki nomor telepon yang kau pakai untuk menggangu Devita!"


Ivan tersenyum sinis. "Kau tenang saja, dia tidak mungkin bisa menemukan aku."


"For god sake! Tidak mungkin seorang Brayen Adams Mahendra, tidak mampu menemukanmu, Ivana!" Seru Monika penuh dengan kemarahan. "Apa kau tidak tahu, Brayen memilki sepupu Felix Jordy Mahendra? Sepupunya itu sudah terkenal begitu cerdas dalam meretas sistem keamanan perusahaan! Jika hanya mencarimu, itu tidak akan sulit!"


Ivana membuang napas kasar, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. "Beberapa hari yang lalu, saat aku meeting dengan Felix. Dia sepertinya mulai mengingatku."


"Hentikan semua ini Ivana! Kau lihat? Sekarang Felix Jordy Mahendra mulai mengingatmu. Kau sudah berjuang merubah fisikmu. Dan kau telah berhasil menjadi sosok wanita yang sangat cantik." Monika mendekat, dia mengelus lengan Ivana. Suaranya terdengar begitu lembut. "Aku mohon lupakanlah Brayen. Dia tidak mungkin menjadi milikmu. Jika kau terus seperti ini, kau akan kehilangan segalanya, Ivana. Dan aku tidak ingin terjadi apapun denganmu. Jika kau terus seperti ini, aku yakin Brayen akan bertindak dan pasti nantinya akan melukaimu."


Ivana menggelengkan kepalanya dengan tegas. Matanya penuh dengan kesedihan. Namun, dia lebih memilih untuk menutupi kesedihannya. "Aku tidak akan bisa melupakan Brayen! Sampai kapanpun, dia harus menjadi milikku! Tidak akan ada yang bisa menghalangiku! Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi di depan! Selamanya Brayen akan menjadi milikku!"


"Ivana Wilson! Apa kau ini sudah benar-benar tidak mencintai hidupmu? Kau sudah berjuang untuk merubah dirimu, tapi kenyataannya Brayen tidak pernah melirikmu! Penampilanmu dulu, yang selalu di hina oleh banyak orang telah kau buang. Tapi tetap saja, kau tidak bisa memiliki Brayen, bukan? Kenyataanya dulu Brayen menolakmu bukan karena fisikmu, Ivana!" Seru Monika meninggikan suaranya. Terdengar geraman, menahan amarah. Napasnya memburu, dia berusaha untuk mengendalikan emosinya.


"Kau tidak mengerti Monika! Aku akan tetap berusaha! Dan jika memang aku tetap tidak bisa mendapatkan Brayen, maka tidak akan ada wanita lain yang bisa mendapatkannya! Lebih baik, wanita itu mati bersama denganku!" Bentak Ivana penuh dengan kemarahan. Kilat matanya begitu tajam.


Seketika Monika terdiam, mendengar ucapan dari Ivana. "Apa maksud ucapanmu Ivana? Kau berencana melukai Devita?"


"Ya! Tidak hanya Devita! Aku juga akan membunuh diriku sendiri jika aku tidak bisa mendapatkan Brayen! Lebih baik aku mati daripada aku tidak bisa mendapatkan Brayen!" Ivana berteriak histeris. Matanya kini memerah. Wajahnya menunjukkan dirinya begitu rapuh dan hancur.


"Ivana kendalikan dirimu! Aku tidak ingin kau terluka! Aku mohon, jangan lukai Devita. Dia sama sekali tidak bersalah Ivana." kata Monika dengan nada permohonan, tatapannya lembut ke arah Ivana.


"Tidak! Aku sama sekali tidak perduli dengannya! Jika aku tidak bisa mendapatkannya, maka dia juga tidak boleh mendapatkan Brayen!" Geram Ivana. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Sorot mata tajam dan penuh dengan kebencian yang kini begitu terlihat.


"Ivana, aku adalah sahabatmu sejak kita kuliah. Ketika semua orang menghina dan menertawakanmu dengan fisikmu, aku tetap menjadi sahabat yang selalu berada di sisimu. Aku mendukungmu merubah penampilanmu hingga kau begitu sempurna seperti sekarang ini. Tapi aku minta maaf, aku tidak mungkin hanya diam ketika kau berniat akan melukai wanita yang tidak bersalah. Terlebih Devita sedang hamil. Bagaimana bisa aku membiarkan kau melukai seorang wanita yang sedang mengandung? Tidak, aku tidak akan hanya diam!" Suara Monika terdengar begitu tenang, namun penuh dengan peringatan.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.