
Devita tersenyum, dia menangkup kedua pipi Brayen dan memberikan kecupan bertubi - tubi di bibir suaminya itu.
"Aku berjanji akan membahagiakanmu. Aku tidak akan pernah membiarkanmu menangis. Meski pada akhirnya kau menangis, aku pastikan itu adalah tangisan kebahagiaan. Aku akan selalu melindungimu seumur hidupku. Terima kasih karena telah menerimaku," bisik Brayen sembari mengecup bibir Istrinya.
Devita tersenyum haru, saat mendengar suaminya ini. Sungguh dia tidak pernah menyangka, ini akan terjadi. Rasanya dia masih tidak bisa percaya, tapi ini sungguh kenyataan dan terjadi pada dirinya. Kini Devita sangat yakin, Brayen adalah pria yang terbaik di hidupnya.
"Aku juga berjanji akan selalu menemanimu, bagaimanapun keadaanmu, aku akan selalu mencintaimu dan menyayangimu seumur hidupku," jawab Devita dengan tatapan lembut pada suaminya itu.
Brayen tersenyum, " Aku mencintaimu, Devita Mahendra,"
"Aku juga mencintaimu, Brayen Adams Mahendra," balas Devita dengan senyuman hangat di wajahnya.
Kemudian, Brayen mendekatkan bibirnya pada bibir Devita. Dia memagut dengan lembut bibir Istrinya itu. Tidak hanya diam, Devita mengaitkan tangannya ke leher Brayen. Dia membalas pagutan yang di berikan oleh suaminya itu. Suara decapan terdengar, bibir mereka saling ******* satu sama lain. Ciuman itu begitu lembut dan penuh dengan cinta di antara mereka.
...***...
Olivia melangkah keluar dari kelas, hari ini Devita tidak masuk ke kampus. Tentu Olivia tahu alasannya, karena hari ini adalah hari ulang tahun sahabatnya itu. Waktu berjalan begitu cepat, biasanya Olivia selalu datang ke rumah keluarga Devita, saat Devita ulang tahun di setiap tahunnya, Olivia selalu merayakan ulang tahun bersama dengan Devita, tetapi kini, Devita sedang merayakannya dengan suaminya. Bagi Olivia, yang terpenting bisa melihat Devita bahagia.
Kini Olivia sedang berjalan menuju ke arah parkiran mobil, dia melirik arlojinya sudah pukul tiga sore. Seperti hati biasanya, Olivia akan menghabiskan waktunya dengan membaca Novel atau menonton film kesukaannya.
"Olivia!" Suara bariton kembali berteriak memanggil nama Olivia. Langkah kaki Olivia langsung terhenti, mendengarkan ada yang memanggilnya. Kemudian dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara itu.
Kening Olivia berkerut melihat sosok laki-laki tampan yang terbalut jas formal berwarna hitam. Dia mencoba mengingat pria yang ada di hadapannya. " Kau..."
"Apa kau lupa denganku?" tanya pria itu, saat sudah tiba di hadapan Olivia. Senyum di bibir pria itu terukir melihat Olivia yang mencoba mengingat dirinya.
"Ah, aku mengingatnya! Kau bukannya, Felix? Sepupunya Brayen?" seru Olivia yang akhirnya mengingat pria yang ada di hadapannya ini adalah Felix.
Felix terkekeh pelan, " Akhirnya kau mengingat aku juga. Apa wajahku tidak mudah kau ingat?" tanya Felix.
Olivia tersenyum lebar, memperlihatkan dirinya. " Maaf, aku mengingatnya sepertinya aku pernah bertemu denganmu. Hanya saja aku takut salah mengenali orang. Lagi pula, untuk apa kau datang ke kampusku? Apa kau kuliah di sini"
Felix menggelengkan kepalanya, " Tidak, aku tidak datang kesini untuk kuliah,Olivia" jawabnya seraya mengulum senyumannya.
"Lalu kalau kau tidak datang, untuk kuliah, kau datang kesini untuk apa? Mendaftarkan sepupumu masuk kuliah di sini?" tanya Olivia memastikan. Dia masih bingung kenapa Felix
bisa ada di kampusnya. Jika di lihat dari wajah, pasti Felix ini lebih tua darinya. Itu juga sudah pasti, dia sudah menyelesaikan pendidikannya.
"Tidak, aku tidak memiliki sepupu yang masih kuliah. Aku hanya memiliki satu orang kakak Ipar, yang masih kuliah yaitu, Devita." jawab Felix. Tatapannya terus menatap Olivia wanita yang ada di hadapannya itu tampak begitu menggemaskan, kala menebak - nebak tujuan kedatangannya.
"Ah, jadi kau mencari Devita? Devita tidak masuk kuliah hari ini. Karena hari ini dia berulang tahun, aku yakin dia sedang merayakan ulang tahunnya bersama dengan Brayen, suaminya." ujar Olivia.
Felix terkekeh, "Aku tidak mencari Devita, untuk apa aku mencarinya. Jika aku sering mencari Devita, suaminya yang memiliki emosi yang tinggi itu, akan membunuhku."
Olivia mendesah pelan, "Jadi, kau datang kemari untuk mencari siapa Felix?"
"Aku mencarimu," jawab Felix dengan santai.
"Mencariku? Untuk apa kau mencariku? Apa kita memiliki urusan sebelumnya?" tanya Olivia, sambil menautkan alisnya dan menatap bingung Felix.
"Ya, Kita memiliki urusan sebelumnya, itu kenapa aku datang ke kampusmu dan menemuimu," balas Felix dengan seringai di wajahnya.
"Urusan apa, aku tidak mengingat kita memiliki urusan sebelumnya," Olivia pun semakin bingung dengan apa yang diucapkan oleh Felix, pasalnya dia tidak merasa memiliki urusan dengan pria yang ada di hadapannya itu.
Felix membuang napas kasar, " Kau ikut aku sekarang, aku akan mengatakan, urusan apa yang kita punya," Tanpa menunggu jawaban dari Olivia, Felix langsung menarik tangan Olivia masuk kedalam mobilnya.
Mata Olivia membulat sempurna, saat Felix menarik dirinya masuk ke dalam mobil, "Felix, bagaimana dengan mobilku? Aku ke kampus membawa mobil!" Seru Olivia.
"Felix, ini namanya penculikan!" Seru Olivia, seraya menatap Felix yang tengah menyetir.
"Kalau aku menculikmu, aku pasti akan membekapmu dan tidak menyapamu seperti tadi," jawab Felix, pandangannya tetap ke depan dan fokus untuk menyetir.
Olivia mencebikkan bibirnya. " Bagaimana dengan mobilku, Felix? Memangnya kau tahu alamat mansionku?".
"Aku tahu Olivia. Aku tahu alamat mansionmu, bahkan aku juga tahu alamat rumahmu yang ada di Kanada," jawab Felix sangat santai.
Kening Olivia berkerut, dia menatap Felix tidak percaya " Apa kau ini seorang penguntit?" tukas Olivia yang langsung menunduh.
Felix tertawa, " Lebih tepatnya pecinta bukan penguntit," Koreksi Felix.
Olivia memutar bola matanya malas. " Felix, aku tidak memiliki waktu banyak. Cepatlah, aku ingin pulang,"
"Apa kau tidak lapar?" tanya Felix.
"Tentu saja aku lapar. Aku ini baru pulang kuliah," jawab Olivia ketus.
"Oke, kita sekarang menuju ke restoran. Jadi kau bisa menunggu sebentar lagi dan kita sudah sampai," balas Felix.
Kini mereka sudah sampai di Alo Restaurant, salah satu French Restoran di kota B inilah yang di pilih oleh Felix. Kini Felix memarkirkan mobilnya, lalu dia, mengajak Olivia turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam restoran.
Felix lebih memilih untuk duduk di sebelah kanan. Saat pelayan mengantarkan menu padanya, dia langsung memesan Foie Gras dan Confit de Carnard untuknya dan Olivia. Foie Gras terbuat dari hati angsa biasanya, bisa di sajikan di goreng, di bakar atau pun di panggang. Sedangkan Felix lebih memilih untuk di sajikan di panggang. Confit de Carnard adalah daging bebek panggang yang sangat empuk. Biasanya kaki bebek ini di matangkan dulu selama tiga puluh enam jam. Bebek panggang ini di bumbui dengan garam, bawang putih dan tyhme.
Tidak lama kemudian pelayan mengantarkan makanan yang baru saja di pesan oleh Felix. Olivia menatap hidangan piring yang sudah berada di atas meja rasanya dia sudah tidak sabar untuk menikmati makanan yang tampak begitu lezat.
"Makanlah," ucap Felix yang sudah melihat Olivia begitu tidak sabar ingin menikmati makanan yang sudah di hidangkan di atas meja.
"Terima kasih, karena sudah mengajakku untuk makan," Olivia langsung memakan Foie Gras dan langsung menikmatinya.
"Felix, sebenarnya kenapa kau mengajakku kesini? Memangnya kita memiliki urusan apa?" tanya Olivia yang sejak tadi masih penasaran kenapa Felix mengajaknya.
"Ya, aku ini memiliki urusan denganmu. Urusannya adalah, sejak kau muncul dari pandanganku, kau tidak langsung hilang dari pikiranku. Maka kau harus terbiasa, jika aku menganggu hidupmu," jawab Felix santai.
Olivia mengerutkan keningnya. " Apa kau ini sakit Felix?"
Felix berdecak pelan, " Kenapa kau mengatakan aku sakit!" Tukasnya kesal.
"Kau itu sungguh aneh, kau datang ke kampusku, dan membawaku paksa, lalu mengantakan aku sulit menghilang dari pikiranmu," jawab Olivia yang masih tidak mengerti.
Felix membuang napas kasar, "Olivia Roberto. Itu artinya aku tertarik dan ingin mengenal dekat denganmu."
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.