
Tidak lama kemudian pelayan mengantarkan makanan yang sudah di pesan oleh Laretta. Kini mereka mulai menikmati makanan yang sudah tersedia di atas meja.
"Laretta, kapan rencananya kau akan menikah dengan Angkasa?" tanya Olivia sambil menikmati makanannya.
"Aku sebenarnya ragu untuk menikah, karena perutku yang sudah mulai membesar seperti ini," jawab Laretta. "Aku ingin menikah, setelah aku melahirkan nanti. Usia kandunganku sudah memasuki minggu ke tujuh belas. Jika aku menikah bulan depan, perutku pasti akan semakin membesar. Ini yang masih harus aku bicarakan dengan Angkasa."
"Menurutku, lebih baik kamu itu jangan menundanya Laretta. Tidak masalah kau menikah saat perutmu sudah membesar," sambung Devita yang memberikan saran agar Laretta tidak menunda pernikahannya.
"Benar apa yang di katakan oleh Devita. Jangan menunda pernikahanmu, Laretta." kata Olivia yang menyetujui ucapan Devita.
"Ya, semua masih aku pikirkan." Laretta mengambil hot lemon tea miliknya dan mulai menyesapnya.
"Baiklah, lebih baik kita langsung berbelanja. Aku sudah lama tidak berbelanja," seru Devita. Laretta dan Olivia mengagguk setuju.
Devita meminta pelayan untuk memberikan bill. Kemudian Devita mengeluarkan black card miliknya untuk membayar.
"Jangan Laretta, aku tidak mau. Biarkan Brayen yang membayar semua tagihannya. Kau sangat tahu, kalau kakakmu itu sangat kaya bukan. Jadi biarkan saja Brayen yang membayarnya." balas Devita.
Olivia terkekeh pelan, "Benar Laretta, biarkan Brayen yang membayarnya. Kakakmu itu sangat kaya."
Laretta menggeleng pelan dan tersenyum. "Ya sudah, lebih baik kita berbelanja sekarang."
"Ya, kau juga sudah tidak sabar." Olivia dan juga Devita beranjak berdiri. Kini mereka mulai berjalan meninggalkan kafe.
...***...
Tanpa terasa Olivia, Devita dan juga Laretta telah menghabiskan waktu berjam - jam di mall untuk berbelanja. Devita berbelanja cukup banyak, mulai dari dress yang ukurannya lebih besar dari pada biasanya dan juga flat shoes. Sekarang Devita sudah lebih banyak memakai flat shoes. Tidak jauh berbeda dengan Laretta yang membeli baju untuk ibu hamil. Hanya Olivia yang masih membeli gaun dan juga dress seksi.Mereka bertiga menikmati waktunya bersenang-senang. Devita kini sangat bahagia, sahabatnya sudah kembali seperti semula. Selain itu, Devita memiliki adik ipar yang sudah seperti sahabatnya sendiri.
Laretta dan Devita juga masuk kedalam mobil. Mereka harus terpisah dengan Olivia, karena Olivia membawa mobil sendiri. Dan Laretta memang sengaja tidak membawa mobil. Karena Laretta ingin pulang bersama dengan Devita. Kini mobil mereka beriringan meninggalkan CF. ION ORCHARD.
"Laretta, menurutmu Brayen kenapa?" tanya Devita yang sejak tadi tidak bisa tenang.
"Apa mungkin Kakakku itu terlalu lelah bekerja? Aku dengar belakangan ini, dia memiliki banyak proyek kerjasama, dengan perusahaan luar." Laretta berusaha menjawab dan berusaha memberikan pengertian.
Devita mendesah pelan, "Brayen tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku hanya merasa aneh, karena aku tidak melakukan sebuah kesalahan."
"Nanti saat pulang, kau bisa bertanya langsung pada Kakakku," balas Laretta. "Aku juga yakin, dia tidak akan lama mendiamkanmu Devita. Kau tahu sendiri, Kakakku itu tidak mungkin bisa jauh darimu, Devita. Jadi kau tenang saja."
"Ya semoga saja." jawab Devita, menyandarkan punggungnya di kursi dan memejamkan matanya lelah.
Tidak lama kemudian, mobil yang membawa Devita dan juga Laretta sudah tiba di mansion. Devita dan juga Laretta turun dari mobil. Pelayan datang membawakan barang belanjaan mereka. Karena terlalu lelah, Devita memutuskan untuk melangkah masuk kedalam kamar. Begitu pun dengan Laretta, dia juga ingin langsung berendam dan merilekskan tubuhnya.
Saat tiba di kamar, Devita melepaskan sepatunya. Dia duduk di sofa, rasanya berbelanja berjam - jam bersama dengan Laretta dan juga Olivia begitu melelahkan. Namun, meski sangat melelahkan tentu Devita sangat bahagia menghabiskan waktu bersama dengan sahabat dan juga adik Iparnya itu.
Devita melirik ke arah jama dinding kini sudah pukul enam sore. Brayen masih belum pulang, itu artinya Brayen akan kembali pulang larut malam seperti tadi malam. Devita mengambil ponselnya di dalam tas, dia mencoba untuk menghubungi Brayen. Terakhir dirinya mengirimkan pesan tapi Brayen hanya membalas pesannya dengan singkat.
Devita kemudian mulai menghubungi Brayen, satu, dua, hingga lima kali dirinya menghubungi Brayen tapi tidak ada satupun yang di jawab oleh suaminya itu. Devita mendengus kesal, dia paling tidak suka di diamkan tanpa tahu apa kesalahan dirinya. Kemudian Devita memilih untuk mengirimkan pesan pada Brayen.
Setelah mengirimkan pesan, Devita meletakkan ponselnya di atas nakas. Devita memilih untuk mandi dan berendam. Itu jauh lebih baik daripada dirinya harus memikirkan alasan yang membuat suaminya mendiamkannya.
Kali ini, Devita harus berbicara dengan Brayen, dia tidak ingin suaminya itu mendiamkannya lagi. Sudah cukup Brayen mendiamkannya satu hari. Devita tidak ingin Brayen mendiamkannya lebih dari itu. Terlebih Devita tidak pernah merasa melakukan sesuatu kesalahan pada suaminya.
Devita berjalan keluar dari walk in closet. Dia baru saja mengganti pakaiannya dengan gaun tidur berwarna putih bermotif brenda. Devita melangkah menuju ranjang, dia duduk di ranjang dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang. Menatap ke arah jam dinding yang kini sudah pukul delapan malam. Devita tidak ingin tidur, dia lebih memilih untuk menunggu Brayen pulang. Devita masih belum tenang karena Brayen mendiamkannya. Devita mengambil novel di atas nakas dan mulai membaca novel.
Sudah sejak tadi Brayen berdiri di ambang pintu. Dia menatap lekat Devita yang tengah membaca novel. Terakhir Devita memang mengirimkan pesan padanya, tapi memang Brayen tidak membalas pesan istrinya itu. Hingga kemudian Brayen melangkah masuk kedalam. Devita terkejut melihat Brayen melangkah masuk kedalam kamar. Devita meletakkan novel ke tempat semula. Devita beranjak dan berjalan menghampiri Brayen.
"Kau sudah pulang?" seperti biasa Devita membantu Brayen membuka jas dan dasi suaminya.
"Ya," jawab Brayen singkat. Dia mengecup kening Devita lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi.
Devita mendesah pelan. Menatap Brayen yang berjalan menuju ke arah kamar mandi. Tidak ada pilihan lain, selain menunggu suaminya itu selesai mandi. Baru Devita akan mengajaknya bicara. Devita mengambil jas dan dasi milik Brayen, lalu meletakkannya ke tempat pakaian kotor. Devita kembali menuju ranjang, dia duduk di ranjang dan melanjutkan lagi membaca novel.
Dua puluh menitan kemudian, Brayen berjalan keluar dari kamar mandi. Dia sudah mengganti pakaian yang tadi sudah di siapkan oleh Devita. Brayen mendekat ke arah ranjang dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Brayen," panggil Devita saat Brayen sudah membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Aku lelah, lebih baik kau beristirahat." Brayen membalikkan tubuhnya. Dia kembali memunggungi Devita.
Devita mendengus tidak suka, dia bangun dan duduk. Lalu menatap tajam Brayen yang memunggungi dirinya. "Brayen, sebenarnya kau ini kenapa? Apa aku sudah melakukan kesalahan? Kenapa kau mendiamkan aku seperti ini?"
Brayen tidak menjawab, dia lebih memilih untuk menutup matanya. Devita membuang napas kasar, rasanya kesabaran Devita sudah habis karena sikap suaminya itu.Meski Brayen tetap diam, Devita akan tetap berbicara padanya. Sudah cukup satu hari suaminya itu mendiamkannya. Devita tidak ingin Brayen mendiamkan dirinya lebih lama lagi.
"Brayen, jika kau tidak mau bicara padaku. Maka, malam ini aku akan pulang ke rumah orang tuaku!" Devita terpaksa mengeluarkan perkataan ini. Hanya ancaman ini yang Devita yakin untuk membuat Brayen akan berbicara dengannya.
Brayen membalikkan tubuhnya, dia menatap lekat Devita. "Aku sudah mengatakan padamu ini sudah malam. Kau ini sedang hamil Devita, istirahatlah!"
"Tidak!" Devita menggeleng keras kepalanya. "Bicara padaku, kenapa kau itu mendiamkan aku? Kalau kau masih tidak mau bicara denganku, malam ini aku benar-benar akan pulang ke rumah orang tuaku!"
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.