
Kini Devita sudah tiba di mansion, dia melangkah masuk kedalam rumah. Langkahnya terhenti saat dirinya berpapasan dengan Angkasa. Sebelumnya Angkasa sudah meminta izin pada dirinya untuk menemui Laretta. Tentu saja Devita tidak terkejut saat melihat Angkasa berada di rumahnya. Devita senang jika Angkasa datang ingin menemui Laretta. Devita memang tidak meminta persetujuan dari Brayen, lagi pula dia adalah Nyonya di rumah ini. Jadi Devita berhak memperbolehkan siapa pun untuk masuk kedalam rumahnya.
"Devita," sapa Angkasa saat melihat Devita.
Devita tersenyum. " Hai Angkasa. Kau masih di sini?"
"Ya, aku baru saja mau pulang. Kau baru kembali dari kampus?" tanya Angkasa.
Devita mengangguk. " Ya, aku baru pulang. Kau sudah makan?"
"Sudah, Laretta memasak untukku. Dan masakannya itu sangat enak" ucap Angkasa.
"Bohong! Dia berlebihan Devita," Timpal Laretta.
Devita mengulum senyumannya. " Kau memang pandai memasak Laretta. Oh ya, apa chef yang baru sudah datang?"
"Belum, kemungkinan dua hari lagi dia baru akan datang." jawab Laretta.
"Devita, kenapa kau mempekerjakan chef lagi?" tanya Angkasa.
"Ini ulah Brayen. Sebelumnya aku ingin makan makanan Indonesia. Karena aku sangat merindukan masakan Ibuku. Mendengar keinginanku Brayen langsung meminta asistennya untuk mencari chef baru untukku."
"Suamimu terlihat begitu mencintaimu." balas Angkasa.
"Ya, seperti yang kau lihat. Dia memang memperdulikanku dengan sangat baik." jawab Devita.
Angkasa tersenyum. " Aku senang mendengarnya, ya sudah Devita aku harus segera pulang. Masih ada yang harus aku selesaikan."
"Hati - hati Angkasa," balas Devita.
"Laretta, aku pulang jaga kesehatanmu dan kandunganmu." pamit Angkasa, ia langsung mengecup kening Laretta dan berjalan meninggalkan Laretta dan Devita.
Tubuh Laretta mematung, bahkan dia tidak mampu untuk berkata - kata. Saat Angkasa mengecup keningnya. Pasalnya Angkasa tidak pernah mengecup keningnya. Entah kenapa saat Angkasa mengecup keningnya ada perasaan aneh di dalam hati Laretta.
Devita tersenyum melihat Angkasa dan juga Laretta. Ia langsung melangkah mendekat ke arah Laretta, dan menepuk pelan bahu Laretta. "Sepertinya cinta sudah mulai tumbuh di antara kalian." bisik Devita.
Wajah Laretta langsung memerah mendengar ucapan dari Devita. " Jangan menggodaku, Devita."
"Tidak, aku tidak menggodamu. Tapi aku senang melihat kalian berdua." balas Devita.
"Sudahlah lupakan, bagaimana dengan kuliahmu hari ini?" tanya Laretta yang mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin membalas Angkasa lagi.
Raut wajah Devita berubah, dia menghela napas berat. " Semuanya baik - baik." jawab Devita datar.
Laretta mengerti, dia tidak ingin memaksa Devita untuk bercerita. " Lebih baik kau beristirahat sekarang, Devita. Kau pasti lelah." kata Laretta mengingatkan.
Devita tersenyum lalu mengangguk. Kemudian Devita berjalan meninggalkan Laretta dan menuju kamarnya.
...***...
"Tuan." sapa Albert menundukkan kepalanya saat melihat Brayen keluar dari lift pribadi menuju ke ruang kerjanya.
"Albert, ikut aku kedalam. Ada yang ingin aku katakan padamu." tukas Brayen.
Albert mengangguk patuh, lalu berjalan mengikuti Brayen berjalan masuk kedalam ruang kerjanya. Brayen melangkah masuk kedalam ruang kerjanya dan langsung duduk di kursi kerjanya.
"Bagaimana meeting hari ini?" tanya Brayen pada Albert yang berdiri di hadapannya.
"Semua berjalan dengan baik, Tuan. Proyek kerjasama kita dengan Mr. Lee dan Mr. Nicholas semua berjalan dengan baik. Selain itu kerjasama kita dengan Smith Company semua sudah berjalan." ujar Albert.
"Good, aku ingin semuanya berjalan tanpa ada kesalahan." tukas Brayen.
"Baik Tuan. Saya akan menjalankan semuanya dengan baik." jawab Albert.
"Albert, aku ingin minta kau lakukan Tes DNA dari Ayah mertuaku dan anak Gelisa Wilson. Aku dengar nama salah satu anaknya bernama Lucia Wilson. Kau cari tahu anak dari Gelisa Wilson itu dan lakukan Tes DNA. Pastikan tidak orang yang mengetahuinya termasuk mertuaku." perintah Brayen.
"Tuan Brayen, sebelumya saya sudah mencari tahu tentang anak dari Gelisa Wilson." ucap Albert.
Brayen menaikkan sebelah alisnya. " Apa yang kau tahu?"
"Segeralah lakukan Tes DNA. Aku ingin mendapatkan hasilnya satu atau dua hari ini. Jangan sampai membuat kesalahan Albert. Aku tidak suka kalau kau bekerja lambat." tukas Brayen.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi." Albert menundukkan kepalanya lalu dia undur diri dari ruang kerja Brayen.
Brayen menyeringai puas. Rasanya dia masih ingat bagaimana wajah Gelisa yang terlihat begitu panik dengan ancamannya. Brayen menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya. Lalu memejamkan matanya sebentar. Belakangan ini terlalu banyak masalah yang datang setelah kembali dari Turkey.
...***...
Gelisa turun dari mobil, dia membanting kasar pintu mobilnya dan berjalan masuk kedalam rumah. Emosinya tidak bisa di kendalikan mengingat semua perkataan dari Brayen.
"Lucia!!" Suara teriakan Gelisa masuk ke dalam rumah begitu menggelar.
Lucia yang tengah menikmati waktunya bersantai langsung terkesiap mendengar suara teriakan Ibunya. Dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Ibunya.
"Mom? Ada apa? Kenapa kau berteriak?" Lucia berseru kesal karena Gelisa berteriak padanya.
"Kenapa kau berani menemui Devita?" tanya Gelisa meninggikan suaranya.
"Jadi Mommy berteriak hanya karena aku bertemu dengan Devita?" balas Lucia kesal.
Gelisa membuang napas kasar. " Jangan main - main dengan Devita. Dia itu istri dari Brayen Adams Mahendra. Apa kau mau hidupmu di hancurkan oleh Brayen? Jangan mencari masalah. Ayahmu saja belum menemuimu, Lucia!"
Lucia tersenyum sinis. " Aku yakin, jika Brayen melihatku dia akan jatuh hati padaku."
"Lucia!!" Bentak Gelisa keras.
"Sudah Mommy diam saja! Aku sangat yakin bisa merebut Brayen dari tangan Istrinya. Karena aku jauh lebih seksi dari wanita kurus itu!" Tukas Lucia
"Apa kau tidak mendengarkan? Mommy katakan kau jangan menganggu Devita! Kau tidak mengenal siapa Brayen!" Geram Gelisa
"Kalian masih memperdebatkan tentang Devita? Apa sebenarnya tujuan kalian!" suara Edgar berseru dengan nada tinggi, dia melangkah masuk dan mendapati Ibu dan adiknya tengah berdebat.
"Edgar kau jangan ikut campur!" Tukas Gelisa.
Edgar tersenyum miring. "Bagaimana bisa aku tidak ikut campur ketika kalian membuat masalah?"
"Kau jangan ikut campur Edgar!" Seru Lucia
"Aku harus ikut campur! Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua! Dan satu lagi Mom! Kenapa aku tidak melihat kemiripan antara Devita dan juga Lucia? Harusnya mereka itu mirip karena memiliki Ayah yang sama. Bukankah anak perempuan sangat mirip dengan Ayahnya. Tapi saat aku melihat Devita dan juga Lucia sama sekali tidak ada kemiripan! Apa Mommy menutupi sesuatu dariku?" ujar Edgar, dia menatap lekat Ibunya yang berdiri di hadapannya.
"Tidak! Kau ini bicara apa Edgar! Jelas tidak mirip karena Lucia itu anak Mommy! Sedangkan Devita lahir dari wanita yang tidak jelas!" Tukas Gelisa tajam.
Edgar terus menatap Gelisa. "Jika ada yang Mommy tutupi dariku, maka aku adalah orang pertama yang akan bertindak. Ingat Mom, jangan mencari masalah." ucap Edgar memberikan peringatan pada Ibunya.
Gelisa terdiam dan tidak menjawab apapun. Edgar langsung berjalan meninggalkan Gelisa dan juga Lucia.
"Mom, apa maksud dari Edgar?" tanya Lucia.
"Jangan dengarkan Kakakmu, lebih baik kau masuk ke dalam kamarmu." jawab Gelisa.
"Tapi-" belum selesai Lucia berbicara, Gelisa langsung menarik putrinya untuk masuk ke dalam kamar, dia tidak ingin putrinya mengajukan pertanyaan lagi.
...*************...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.