
Perlahan Devita sudah mulai membuka matanya, dia menatap sebuah ruangan putih. Devita memijat pelipisnya. Devita mengedarkan pandangannya, keseluruh ruangan. Kening Devita berkerut dalam melihat ruangan yang sudah tertata dengan bunga mawar dan bunga lily. Devita beranjak dari ranjang. Dia kembali mengingat alasan dirinya bisa ada di sini. Seketika saat Devita berusaha mengingat alasan dirinya berada di sini, wajah Devita langsung menegang. Ingatan Devita kembali ketika ada orang yang membekapnya hingga membuat dia tidak sadarkan diri.
"Siapa yang membawa aku kesini?" gumam Devita.
Devita mengatur napasnya, sebisa mungkin Devita bersikap tenang. Meski terlihat jelas kepanikan dan rasa takut di wajah Devita. Kemudian, Devita memberanikan diri untuk melangkah menuju ke arah pintu, dia langsung membuka pintu kamar itu. Namun, saat Devita membuka pintu kamar. Devita sedikit terkejut karena pintu kamar tidak terkunci. Tanpa menunggu lama, Devita langsung berjalan keluar.
Seketika langkah Devita langsung terhenti saat melihat sosok pria yang kini berada di hadapannya. "B-Brayen? Kau bagaimana-" Devita tidak mampu berkata-kata, pasalnya dia bingung, kenapa bisa suaminya ada di hadapannya.
"Kau sudah bangun?" Brayen mendekat, dia menarik dagu Devita dan ********** dengan lembut bibir Istrinya itu. Devita tidak bergeming, dia membiarkan Brayen menciumnya.
"Kenapa kau bisa ada di sini? Tadi aku-"
"Kita kedalam," Brayen langsung memotong ucapan Devita. Dia menarik tangan Devita kembali masuk kedalam kamar. Sedangkan Devita hanya menurut dan mengikuti Brayen masuk kembali kedalam kamar.
"Brayen? Ini rumah siapa? Lalu kenapa kau ada di sini?" tanya Devita yang sejak tadi bingung. Dia sungguh tidak mengerti bagaimana bisa dia berada di sini.
"Aku baru membelinya." jawab Brayen, sembari mengelus lembut pipi Devita.
"Tunggu," sela Devita cepat. "Tadi aku ada di rumah Olivia, lalu rumah Olivia mati lampu. Setelah itu, ada orang yang membius ku hingga aku pingsan. Jadi, ini semua ulahmu Brayen?"
Devita melayangkan tatapan dingin. Menuntut jawaban dari suaminya itu. Brayen tidak menjawab, di mendekat ke arah Devita. Kemudian Brayen menangkup kedua pipi Devita, memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir Devita.
"Maaf sayang," bisik Brayen tepat di bibir Devita. "Aku tidak memiliki pilihan yang lain, aku takut kau itu tidak mau pulang denganku. Aku takut, jika memaksamu, akan membebani pikiranmu. Maaf sayang, sudah cukup kau menjauh dariku. Aku tidak sanggup lagi berjauhan denganmu. Kau boleh menghukumku dengan cara apapun, tapi tidak dengan berjauhan denganku."
Devita menjauhkan diri dari Brayen, dia membuang napas kasar. Kepalanya pusing, jika mendengar pengakuan dari suaminya. Devita tidak habis pikir dengan cara yang Brayen lakukan ini. Bagaimana bisa suaminya itu menculiknya.
"Kau gila Brayen! Aku ini sedang hamil! Kau membius ku dan sudah membuatku pingsan?" seru Devita kesal. "Bagaimana jika terjadi sesuatu pada kandunganku?"
"Aku tidak mungkin membahayakanmu dan anak kita." jawab Brayen. "Semuanya sudah aku konsultasikan dengan Dokter Keira. Jadi tidak akan berbahaya untuk anak kita."
Brayen mendekat dia memeluk pinggang Istrinya. "Aku sungguh merindukanmu Devita."
Devita terdiam, dia menggelengkan kepalanya. Menatap tak percaya apa yang telah di lakukan oleh suaminya itu.
"Apa kau ingin melihatku mati muda? Kau membuatku hampir terkena serangan jantung! Aku berpikir aku di culik!" Devita mendengus tidak suka. "Aku mohon, jangan melakukan hal seperti ini lagi, Brayen! Kau membuatku jantungan."
Brayen mengulum senyumannya, dia merapatkan tubuhnya pada tubuh istrinya. "Maaf sayang, jika aku tidak melakukan ini. Kau pasti tidak mau ikut pulang bersama denganku."
"Siapa yang bilang, aku tidak mau ikut pulang denganmu?" Seru Devita. "Memangnya kau itu sudah mengajakku pulang? Bahkan kau tidak mengatakan apapun, dan kau langsung menculik istrimu!"
"Kemarin aku menghubungimu, tapi kau tidak menjawab teleponku." balas Brayen.
Devita membuang napas kasar, dia memijat pelipisnya. "Kau ini menghubungiku di malam hari! Aku sudah tidur Brayen!"
Brayen menangkup kedua pipi Devita, dia kembali memberikan kecupan yang bertubi-tubi di bibir istrinya itu. "Aku sungguh merindukanmu. Aku itu hampir gila, karena kau tidak ada sisiku."
"Kau hanya aku tinggal satu hari saja, sudah seperti ini. Lalu bagaimana denganku yang sudah kau tinggal selama tiga minggu?" tukas Devita dengan penuh sindiran.
"Maaf sayang...." Brayen menarik dagu Devita. ******* dengan lembut bibir Istrinya itu. "Kau bisa menghukumku, tapi aku mohon jangan pernah menjauh dariku. Aku berjanji, aku tidak akan pernah lagi melakukan kesalahanku."
Devita mendesah pelan. "Sekarang katakan padaku, siapa yang memberikanmu saran untuk menculikku?"
"Aku meminta saran pada Albert." jawab Brayen datar.
Devita pun langsung mengambil ponsel milik Brayen, dia menghubungi Albert untuk segera masuk kedalam kamar. Tidak lama kemudian, Albert melangkah masuk kedalam.
"Tuan.... Nyonya?" Albert menundukkan kepalanya saat berhadapan dengan Brayen dan juga Devita.
"Albert! Apa maksudmu memberikan saran untuk menculikku?" Devita melayangkan tatapan dingin pada Albert. "Kau ingin membuatku terkena serangan jantung? Kau itu sudah gila ya Albert!"
"M- maafkan saya Nyonya. Saya tidak bermaksud seperti itu." jawab Albert dia terus menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Devita.
"Katakan kepadaku! Kenapa bisa ada ide untuk menculikku itu muncul di pikiranmu?" seru Devita.
"Nyonya, Tuan yang meminta saran pada saya. Dan jujur saja, saya itu kurang tahu bagaimana caranya memberikan sebuah kejutan manis untuk pasangan. Saya hanya menyarankan agar terlihat berbeda Nyonya. Saya pikir, Nyonya akan terkesan dengan semua ini." kata Albert hati - hati.
"Kau memang membuatku terkesan! Sekaligus membuatku hampir terkena serangan jantung, Albert!"
Devita membuang napas kasar, dia tidak habis pikir bagaimana Albert bisa berpikir seperti ini. Jika bukan karena Albert yang sudah lama menjadi asisten dari Brayen, sudah pasti Devita akan memecatnya.
"Maaf Nyonya." Albert terus menunduk tidak berani menatap Devita.
"Albert, kau pergilah. Selesaikan pekerjaanmu." perintah Brayen.
Albert mengangguk patuh, kemudian dia undur diri dari hadapan Brayen dan juga Devita.
"Brayen! Kenapa kau menyuruh Albert untuk pergi?" cebik Devita kesal. "Aku itu belum selesai memarahinya! Yang benar saja dia sudah beraninya memberikan ide padamu untuk menculikku!"
Brayen memeluk Devita dari belakang, di membawa tangannya mengusap lembut perut istrinya. " Jangan memarahi Albert. Karena aku yang sudah berani meminta saran padanya. Tadinya aku ingin mengajakmu untuk dinner romantis. Tapi aku tidak yakin kau akan mau. Karena kau itu masih marah dan lebih memilih untuk menjauh dariku. Dan hanya cara ini yang membuatmu bisa berada di pelukanku seperti sekarang. Kau boleh memukulku setelah ini. Terpenting bagiku, kau itu selalu berada di sisiku."
Senyuman di bibir Devita terukir ketika mendengar perkataan dari Brayen. Hatinya begitu terharu dan tidak bisa di pungkiri, dirinya juga begitu merindukan suaminya.
Devita membalikkan tubuhnya, kini dia saling menatap satu sama lain dengan Brayen. Devita mengelus dengan lembut rahang suaminya itu. "Jangan pernah lagi mengecewakanku. Sama sepertimu, aku juga tidak bisa jauh darimu. Sekarang kau itu sudah tahu rasanya bukan? Kau itu telah menyiksa istri dan juga anakmu selama tiga minggu. Itu bukan waktu yang sebentar Tuan Brayen Adams Mahendra. Kau sama saja membunuku secara perlahan."
"Maaf..." Brayen menempelkan keningnya pada kening Devita. "Aku berjanji tidak akan pernah lagi melakukan hal yang seperti itu. Kau dan anak kita, terlalu berharga di hidupku. Aku tidak sanggup menjauh darimu. Aku minta maaf, sayang."
Devita tersenyum hangat, dia menangkup kedua pipi Brayen dan memberikan kecupan di bibir suaminya. "Kau sangat tahu, maafku selalu ada untukmu. Aku akan tetap kembali padamu, sebesar apapun masalah yang terjadi pada kita. Aku itu akan selalu kembali padamu."
"Aku sangat mencintaimu." Brayen menarik dagu Devita, memagut dengan lembut bibir Istrinya itu. Devita memejamkan matanya. Tidak hanya diam, Devita juga membalas pagutan yang di berikan oleh suaminya.
"Aku juga mencintaimu." bisik Devita tepat di depan bibir Brayen.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.