Love And Contract

Love And Contract
Pria Egois



"Brayen! Kau benar - benar kehilangan akal sehatmu! Turunkan aku!" Teriak Devita. Dia memukul punggung Brayen dengan keras. Namun Brayen tidak menghiraukan teriakan Devita.


Richard memilih untuk meninggalkan klub, dengan wajah yang penuh dengan luka. Dia memilih untuk meninggalkan klub. Rahangnya mengeras, dia memang tidak bisa menahan Devita untuk di bawa pergi. Bagaimana pun Brayen adalah suaminya.


Olivia tersenyum melihat Brayen membopong Devita. Olivia memang sudah yakin, jika mereka saling menyukai. Saat Brayen pergi, Elena hendak menyusul. Dengan cepat Olivia menahan tangan Elena.


"Lepaskan *****!" Sentak Elena. Dia tidak suka ada orang sembarangan yang menyentuhnya.


"*****? Harusnya itu tertuju padamu!" Desis Olivia.


"Jangan pernah menganggu rumah tangga sahabatku, atau kau akan tahu akibatnya. Dengarkan, aku adalah Olivia Roberto, aku bisa dengan mudahnya menghancurkan karir artismu itu. Tidak perduli kau di lindungi oleh seorang Brayen Adams Mahendra, maka aku akan tetap menghancurkan hidupmu. Jika kau berani merusak kehidupan sahabatku!" Seru Olivia.


"Dengar! Sahabatmu yang sudah merebut kekasihku! Brayen adalah milikku! Dan aku sudah lebih dulu bersamanya!" Sentak Elena.


"Ah begitu? Tapi kau harus tahu, kau hanyalah seorang kekasih. Tetapi sahabatku, Devita. Di belakang namanya sudah tertera nama Mahendra. Dan dia jauh lebih berhak!" Tukas Olivia sarkas.


Elena terpancing emosi, dia menarik rambut Olivia. Tidak tinggal diam, Olivia membalas Elena. Felix yang melihat keributan dua wanita yang ada di hadapannya, dia langsung memisahkan mereka. Felix menarik tubuh Olivia.


"Elena, pulanglah. Jangan mencari masalah. Devita adalah Istri Brayen," tukas Felix dingin.


"Kau lihatlah, kau sedang berhadapan dengan siapa!" Sentak Elena pada Olivia. Dia langsung meninggalkan klub malam.


"Lepaskan aku!" Bentak Olivia, saat Felix masih memeluknya.


"Maafkan aku," kata Felix.


Olivia yang masih emosi, dia memilih untuk meninggalkan pria yang sudah berani memeluk dirinya.


...***...


Devita turun dari mobil, dia turun dari mobil, dan berlari masuk ke dalam mansion. Kali ini sudah cukup kesabarannya, Brayen terlalu ikut campur masalahnya. Sudah jelas, bahkan Brayen berciuman dengan wanita lain. Devita tidak ikut campur dalam masalah pribadi Brayen. Tapi ini, hanya karena Devita berdansa dengan Richard, Brayen sudah menghajar Richard. Bukan hanya sekedar menghajar tapi hampir membunuh Richard.


Devita berlari masuk ke dalam kamar, dia tidak memperdulikan dengan teriakan Brayen yang memanggilnya. Tidak hanya diam, Brayen langsung mengejar Devita masuk ke dalam kamar. Rahangnya mengeras mengingat Devita berdansa dengan pria lain bahkan mereka berpelukan.


"Devita, berhenti!" Bentak Brayen. Dia berhasil menarik tangan Devita dengan kasar.


"Lepaskan aku Brayen!" Seru Devita. Dia berusaha melepaskan cengkraman tangan Brayen. Namun sia - sia karena Brayen mencengkram kuat lengannya.


"Apa maksudmu pergi ke klub malam dengan pakaian seperti ini Devita! Dan kenapa, kau berani - beraninya berdansa dengan pria itu!" Geram Brayen.


"Hari ini adalah hari ulang tahun Olivia. Aku hanya datang ke ulang tahun sahabatku! Dan kenapa aku berdansa dengan Richard, itu bukan urusanmu Brayen. Kau tidak berhak mengatur hidupku! Kau tidak berhak!" Tukas Devita dengan nada penuh penekanan.


"Tidak berhak? Hebat, kau bahkan melupakan nama belakangmu yang sudah berganti nama dengan nama keluargaku. Bagaimana bisa aku tidak berhak? Aku berhak atas hidupmu! Aku berhak atas segala dirimu!" Desis Brayen.


Devita tersenyum sinis. "Begitu? Kau berhak atas hidupku? Kenapa kau mempermasalahkan pakaianku? Kenapa kau mempermasalahkan aku berdansa dengan Richard? Kau saja berciuman, kenapa aku tidak bisa? Kenapa?"


"Elena adalah berbeda Devita! Bisakah kau mengerti keadaanku saat ini! Bisakah kau memahami semua ini Devita!" Geram Brayen. Dia berusaha menahan emosinya.


Brayen menggeram. "Beraninya kau Devita! Aku akan membunuh pria itu!"


"Jika kau membunuh pria yang menjadi kekasihku. Maka aku akan membunuh kekasihmu juga, kita harus adil Brayen!" Tukas Devita.


"Berhenti melawanku Devita. Kau akan tahu akibatnya jika melawanku!" Seru Brayen.


"Kau yang berhenti mengaturku Brayen! Berhenti bersikap tidak adil. Aku bukan boneka mu!" Sentak Devita.


Brayen mengusap wajahnya dengan kasar. "Kenapa kau tidak pernah memahami situasi kita saat ini Devita? Kenapa?"


"Aku tidak memahami situasimu? Kau yang bertindak tidak adil. Berikan aku penjelasan kenapa kau melarangku dekat dengan pria? Apa kau takut skandal? Tenanglah aku akan bermain di belakangmu. Sama seperti cara yang kau lakukan dengan kekasihmu itu!" Balas Devita dingin.


"Devita berhentilah melawanku. Sudah ku katakan, jangan melawanku!" Geram Brayen.


"Katakan padaku! Apa alasan kau melarangku dekat dengan pria lain! Katakan Brayen!" Teriak Devita dengan kencang. Napasnya memburu. Dia meluapkan emosinya pada Brayen.


"Karena aku tidak bisa melihatnya Devita! Kenapa kau tidak mengertiku! Aku tidak bisa melihatmu bersama dengan pria lain! Aku terlihat seperti orang gila jika kau bersama dengan pria lain! Kau milikku Devita! Kau milikku!" Seru Brayen meninggikan suaranya, hingga membuat Devita terkejut. Devita terdiam mendengar ucapan Brayen.


"Tidakkah kau mengerti! Ini terlalu rumit untukku! Aku tidak tega meninggalkan Elena.Tapi aku tidak bisa melihatmu dengan pria lain. Sejak kau ada di hidupku, bahkan aku tidak ingin menyentuh Elena. Aku menyadari aku lemah di hadapanmu. Aku berusaha menghindar dari ini semua, tapi semakin aku berusaha menghindar aku terus memikirkan mu. Kau boleh mengatakan aku egois, tapi aku tidak bisa melihatmu dengan pria lain Devita," suara Brayen mulai melemah di hadapan Devita.


Devita tersenyum sinis, "Kau begitu egois Brayen. Kau tidak tega meninggalkan Elena. Tapi kau tidak bisa melihatku bersama dengan pria lain. Apa ku tidak mengerti perasaanku? Brayen, aku adalah Istrimu. Aku bahkan tahu, kau menginap di tempat Elena. Aku tahu itu. Tapi apa aku menunjukkan amarahku padamu? Aku memilih diam Brayen, hingga malam ini, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kau berciuman dengan kekasihmu itu. Lantas menurutmu aku harus bagaimana? Harus memukul kekasihmu seperti kau memukul Richard? Tell me Brayen Adams Mahendra!"


"Jika kau mengasihani kekasihmu karena dia terlahir dari keluarga sederhana, ini adalah alasan yang tidak masuk akal. Dia memiliki karir yang bagus. Dia seorang artis bukan? Dia tidak akan hidup miskin. Tapi jika alasanmu tidak bisa meninggalkannya karena masih mencintainya. Lebih baik kau menyerah padaku Brayen. Perasaanmu yang tidak bisa melihatku bersama dengan pria lain hanya perasaan sementara. Tidak sebesar perasaanmu dengan kekasihmu itu,"


Devita mengatakan dengan suara tenang namun tegas. Dia berusaha mengendalikan dirinya. Dia tidak ingin menangis di depan Brayen.


"Demi Tuhan, jika kau bertanya padaku sekarang apa aku mencintai Elena. Jawaban aku tidak Devita! Sejak kau masuk dalam hidupku, kau merubah segalanya! Bahkan aku selalu menolak jika Elena ingin tidur denganku. Dengar Devita, kau menikah dengan pria dewasa, ketika Elena menciumku, yang ada di pikiranmu hanya dirimu, Devita! Hanya kau!" Seru Brayen.


"Brayen, aku tidak bisa bersama dengan pria egois seperti ini. Kau menginginkanku tapi kau masih tidak bisa meninggalkan kekasihmu. Maka lebih baik kita menyerah dengan pernikahan ini. Aku lelah Brayen. Lebih baik kita akhiri semua ini Brayen." tukas Devita, dia sungguh tidak mengerti dengan perkataan Brayen. Lebih baik bagi Devita untuk merelakan Brayen.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.